
"Bang, apa abang nyaman bersamaku? abang bilang ya kalau abang nggak nyaman. jangan main diam diam," jawab Dina
Gara saat itu tidak ingin Dina berpikiran serba salah yang nyatanya bukan kesalahanya. Tanpa berpikir panjang, Gara terus meluapkan rasa cintanya dengan terus menciumi bibir Dina. Untung hujan lebat dan tak ada orang di taman.
"Perlu kamu ingat. abang selamanya akan merasa nyaman bersamamu. kamu gendut atau apa segala macam, abang nggak peduli. kamu tak perlu berpikir menjadi sempurna agar abang tidak berpaling darimu. cukup dengan kamu mencintai dan menerima masa lalu abang saja sudah membuat abang bahagia," ucap Gara
Gara saat itu tak mendapatkan respon dari Dina setelah berbicara panjang lebar. Namun Gara merasakan ada hembusan nafas teratur mendarat di dada bidangnya. Gara sontak menundukkan kepalanya untuk mengecek keadaan Dina di dalam dekapanya.
"Makanya gak ada respons ternyata tidur," ucap Gara
Gara sontak memposisikan Dina di tembok kayu gazebo yang tertutup. Tujuannya agar angin malam tidak berembus ke tubuh Dina. Setelah memindahkan posisi Dina, Gara langsung berbaring memeluk Dina untuk memberikan kehangatan. Gara sebenarnya merasa kedinginan karena angin malam mengenai punggung kekarnya yang menutupi tubuh Dina. Tapi Gara tak peduli dengan dinginya angin yang menusuk tubuhnya.
"Yang penting kamu baik baik ya sayang, selamat tidur sayangku," ucapan Gara
3 jam kemudian, hujan sudah mulai berhenti. Gara saat itu mengerjabkan matanya karena menyadari hujan sudah berhenti.
"Hujan sudah berhenti, sebaiknya aku ajak Dina pulang. sebenarnya repot juga kalau nggak bawa mobil. tapi ya mau gimana lagi, ini permintaan calon anaku di kandunganya" batin Gara
Jam sudah menujukan pukul 23.30 WIB. Gara yang melihat Dina tertidur pulas terpaksa harus membangunkanya. Seandainya naik mobil mungkin Gara tak akan mau mengganggu tidur istrinya.
"Sayang bangun, kita pulang. hujan sudah berhenti soalnya," ucap Gara
"Sudah berhenti?" tanya Dina memastikan
"Iya, kita harus cepat pulang sebelum hujan susulan mengguyur lagi," jawab Gara
"Aku kebelet pipis bang, tapi dimana aku pipisnya?" tanya Dina
"Tunggu sayang, abang lihat lihat dulu sekitar," jawab Gara
Gara saat itu bingung memikirkan tempat yang aman dan bersih untuk Dina buang air kecil. Jika seandainya Gara yang kebelet buang air kecil pasti mudah hanya tinggal berdiri dan buka resleting celana. Namun, bebeda dengan Dina yang harus ribet melepas pakaian bawahnya lalu berjongkok.
"Dimana ya?.kalau asal pipis kan nggak lucu Dina bisa bisa dilihat orang," batin Gara
Tak lama kemudian, Gara melihat semak semak di belakang gazebo yang ditempati. Selain itu, posisi semak semak juga dekat dengan air pancur. Tanpa berpikir panjang, Gara mengambil botol bekas dekat gazebo lalu mengisinya dengan air pancur.
"Bang, air di botol itu buat apa?" tanya Dina
"Ini untukmu nanti," jawab Gara
__ADS_1
"Hal? aku nggak paham. itu kan airnya dari air pancur. masa diminum?" tanya Dina kesal
"Yang suruh kamu minum siapa sayangku...ini buat kamu cebok nanti. sekarang ayo abang antar di belakang semak semak itu," jawab Gara
"Kayaknya aku tahan sampai rumah aja deh. aku nggak bisa pipis disita sepertinya," saut Dina
"Gak baik kebelet buang air ditahan. nanti bisa kena infeksi. ayo abang antar dan temani kamu pipis di belakang semak," jawab Gara
"Kalau ada orang lihat gimana? dan apa boleh pipis disitu?" tanya Dina
"Ini posisinya darurat, sudah malam gak mungkin ada orang kesini. ayo abang temani," jawab Gara
Mau tidak mau Dina saat itu menuruti ajakan Gara. Sesampainya di belakang semak, Gara tanpa disuruh langsung membantu Dina melepaskan dalamanya. Sebenarnya Dina mau protes, tapi sorot wajah Gara yang serius membuat Dina urungkan niatnya mau protes. Dina sudah sangat mengenal Gara, jika melihat wajah Gara serius artinya keputusan Gara sudah kode tak bisa dibantah.
"Tanganmu pegangkan ke bahu abang, biar nggak jatuh. tanahnya agak licin dan ambles habis kena hujan," ucap Gara
"Iya.." jawab Dina
"Jangan malu, rileks aja dan keluarkan saja buang air kecilnya. lagian kamu sedang sama abang sekarang," saut Gara
"Baiklah, tapi abang jangan lihat dibawah terus," jawab Dina
"Iya sayang, sekalipun abang lihat bawah nggak mungkin juga abang sergap kamu disini. abang saat ini mikir takut kamu jatuh saja nggak ada mikir aneh aneh," saut Gara
"Kaya kamu nolak aja abang mau nusuk, kamu pas abang tidur juga sering pegang pegang punya abang kan?," goda Gara
Dina hanya diam karena yang dikatakan Gara itu benar. Dina sedikit terkejut karena selama ini kelakuannya di sadari oleh Gara. Setiap tidur, Dina memang terkadang sering menyentuh pusaka Gara secara sengaja diam diam.
"Hahaha...gak apa apa sayang. itu namanya naluri kita sebagai pasangan jangan malu begitu kita suami istri. kecuali punya cowok lain kamu pegang ya abang ngamuk itu," ucap Gara
"Abang jangan menertawaiku," jawab Dina kesal
"Ya sayang, abang minta maaf. habisnya abang gemas punya istri lucu dan cantik kaya kamu," saut Gara
Tak lama kemudian, Dina sudah selesai dengan aktivitas buang air kecilnya. Setelah selesai, Gara langsung mengajak Dina pulang ke rumah.
+++++++++++++
30 menit kemudian, Gara dan Dina.sudah sampai rumah. Sesampainya di rumah, Gara terlebih dulu mengganti pakaian di kamar lalu langsung membuatkan Dina susu hamil sebelum tidur.
__ADS_1
"Jangan tidur dulu ya, abang mau buatkan susu hamil untukmu. kamu ganti dulu pakaianmu," ucap Gara
"Tapi ini sudah malam Bang," jawab Dina
"Gak apa apa, sudah jatahnya susu hamil di minum tiga kali sehari. kamu harus minum malam ini, apalagi tadi kamu susah makan. jangan lupa minum obat penurun panas," saut Gara
"Iya Bang," jawab Dina
10 menit kemudian, Gara sudah selesai membuatkan susu hamil untuk Dina. Selain susu hamil, Gara juga membuat wedang jahe untuk dirinya sendiri. Ketika Gara masuk dalam kamar, Dina langsung menanyakan wedang jahe yang dibuat Gara.
"Loh, abang kok buat wedang jahe?" tanya Dina
"Sekalian, abang mau hangatkan badan sebelum tidur," jawab Gara
"Iya Bang, terima kasih untuk hari ini," ucap Dina
"Iya sayang, tubuhmu rasanya gimana sekarang? masih pusing?sudah diminum obatnya?" jawab Gara
"Sudah," saut Dina
Setelah memastikan Dina minum obat, Gara lanjut meminum wedang jahenya. Namun ketika minum wenang jahe berkali kali Gara bersendawa seperti gejala masuk angin. Dina yang melihat Gara terus bersendawa khawatir.
"Abang nggak lagi sakit kan?" tanya Dina
"Nggak sayang, abang kuat," jawab Gara
"Tapi abang kaya orang gejala masuk angin," ucap Dina
"Ah nggak lah," jawab Gara
Tanpa berpikir panjang, Dina langsung menepuk pelan perut Gara menggunakan tanganya.
"Ada apa Din?" tanya Gara kaget
"Abang bohong. ini jelas abang sedang masuk angin ini, perut abang ditepuk keras dan bunyinya ngebas. pasti perut abang kembung," jawab Dina
"Iya sedikit, tapi sudah mendingan kok. kamu jangan khawatir. nanti kembungnya juga hilang," saut Gara
"Abang kalau sakit itu bilang. jangan disembunyikan gini. sekarang aku kerokin ya bang?" tanya Dina
__ADS_1
"Sudah malam sayang, abang baik baik saja," jawab Gara
Namun tak lama kemudian, Gara tiba tiba muntah karena perutnya merasa tidak enak.