MENGEJAR CINTA IBU KOS MUDA

MENGEJAR CINTA IBU KOS MUDA
Episode 89 - SALING PERCAYA


__ADS_3

"Sudah jangan dilihat, abang nggak mau lihat kamu meneteskan air mata seperti ini. abang nggak apa apa kamu marah, abang lebih baik kamu marahi dan kamu caci maki daripada kamu diam dan menangis seperti ini," ucap Gara


Gara kemudian menghapus air mata Dina yang terus menetes


"Sakit hatimu adalah sakit hatiku juga Dina. aku harap kamu tidak pergi meninggalkanku," batin Gara


"Tidak apa apa, itu hanya masa lalu abang. aku juga punya masa lalu buruk juga. dulu aku manja dan boros banget. pantas saja banyak pria yang tidak betah pacaran denganku," ucap Dina


"Wanita manja kepada lelakinya itu wajar. hanya saja abang yang keterlaluan sama kamu. abang hanya manfaatin kamu agar kamu bisa dongkrak nama baik abang di dunia model," jawab Gara


"Sebenarnya, ada banyak keraguan dalam diriku tentang nasib rumah tangga kita kedepan. aku takut abang membuatku kecewa sehingga aku memutuskan pergi dari kehidupan abang. aku sangat takut hal itu," saat Dina


Gara kemudian memeluk Dina lalu mengatakan sesuatu.


"Jangan ragu lagi, percayalah kita bisa menua bersama. abang lebih baik hidup gelandangan bersamamu daripada hidup mewah tanpa dirimu. abang nggak bisa jauh darimu," jawab Gara


"Aku juga tidak bisa jauh dari abang. tapi aku nggak tahu apakah keputusanku ini salah atau benar. yang pasti aku sudah terlanjur kembali mencintai abang. jika abang menyakitiku aku pasti mengalami hal yang lebih parah dari apa yang aku alami di masa lalu. mungkin aku bisa pergi jauh. dan tidak menutup kemungkinan aku akan memilih mengakhiri hidupku," ucap Dina


"Jangan bicara begitu, abang sudah berjanji tidak menyakitimu. kamu harus percaya sama abang. jangan takut abang meninggalkanmu. karena hal itu tidak mungkin abang lakukan," jawab Gara


Gara kemudian mengelus perut Dina yang masih datar.


"Disini ada calon anak kita, calon anak kita adalah buah dari cinta kita berdua. abang akan lakukan apapun demi calon anak kita ini. intinya kita berdua harus saling percaya. jangan saling mendiamkan jika ada uneg uneg," ucap Gara


"Apa mereka akan berhenti menganggu jika aku mempublikasikan kehamilanku? sepertinya mereka akan percaya jika kita punya komitmen dalam rumah tangga ini," jawab Dina


"Jangan, itu akan membahayakanmu dan calon anak kita. rahasiakan saja dan biar mereka tahu sendiri. selama kamu hamil, abang larang kamu banyak aktivitas," saut Gara


"Loh kok gitu? bukanya aku akan berjualan di kos cabang sesuai instruksi abang? aku sudah nurut loh, padahal sebenarnya aku lebih nyaman berjualan kos utama. karena semua mahasiswanya aku kenal semua," jawab Dina


"Kamu sekarang hamil muda. kamu abang izinkan bisa berjualan cuma hari sabtu minggu saja pas abang libur. abang akan temani kamu berjualan," saut Gara


Dina hanya diam dan menatap sinis Gara.


"Kok tatapanmu sinis gitu ke abang? kamu marah?" tanya Gara


"Mengapa abang buat keputusan ini? aku merasa tidak bebas. masa kemana mana harus sama abang? abang pikir aku peliharaan?," jawab Dina


"Abang kan nggak mau kamu kecapekan sayang," jawab Gara


"Tapi ibu hamil itu nggak boleh stress bang, kalau aku di rumah terus, yang ada aku jadi stress dan nggak baik untuk kehamilan. ibu hamil kurang gerak juga nggak bagus," ucap Dina

__ADS_1


"Tiap pagi abang ajak kamu jalan jalan pagi di komplels. lalu biar kamu nggak stress, abang daftarkan kamu ikut sekolah ibu hamil bagaimana? disana nanti ada kegiatan yang pastinya seru dan nggak bikin kamu stress," jawab Gara


"Aku nggak mau, aku suka masak dan berjualan. ikut sekolah ibu hamil mirip anak TK. aku pasti mudah bosen. kepalaku juga malah akan pening jika kebanyakan dengar penyuluhan," saut Dina


Gara kemudian menidurkan kepalanya di paha Dina


"Terus mau kamu gimana? apa kamu harus ikut abang ke kantor. abang kepikiran jika kamu di luar rumah tanpa abang. selain ikut kelas ibu hamil, abang merasa nggak tenang jika kamu keluar rumah tanpa abang," ucap Gara


"Aku tetap akan mau jualan di kantin. aku bukan anak kecil. aku sudah dewasa dan sudah tahu apa yang harus aku lakukan. jadi abang tak usah khawatir," jawab Dina


"Baiklah, tapi abang nggak setuju jika setiap hari," ucap Gara


"Senin sampai Jumat, untuk hari sabtu dan minggu aku akan habiskan waktuku di rumah," jawab Dina


"Abang nggak setuju. abang hanya izinkan 3 hari saja. jika kamu menolak, keputusan abang bulat akan sekolahkan kamu di kelas ibu hamil," saut Gara


Dina saat itu terpaksa menyetujuinya karena Gara sudah susah di lobi jika mode posesifnya keluar.


+++++++++++++++


Malam hari, Gara dan Dina saat itu bersiap makan malam bersama. Namun ketika hendak makan malam, Dina saat itu mendadak ingin makan sate ayam di luar.


"Tapi kamu dan pelayan sudah masak banyak ini. ada telur balado, tumis buncis, dan semur ayam. kalau tidak di makan mubazir nanti," jawab Gara


"Aku nggak mau makan makanan di meja makan. abang dan yang lain aja yang makan. setelah abang makan, antar aku ke tukang sate dekat taman," ucap Dina


"Baiklah, abang makan dulu sebentar. nanti abang belikan dan kamu cukup tunggu di rumah," jawab Gara


"Nggak mau, aku mau makan sate padang pakai ketupat di tempatnya langsung. dan piringnya harus kayu bercorak gitu. dan minumnya jus buah naga," saut Dina


"Pasti dia sedang ngidam," batin Gara


"Iya, abang makan dulu bentar buat ganjal perut. abang lapar sekarang, kalau kamu lapar makan sama abang dulu saja. setelah makan kita tetap cari sate padang," jawab Gara


"Abang tetap harus makan dulu. biar aku suapi abang makan, aku makanya nanti saja diluar rumah" ucap Dina


"Baiklah," jawab Gara


Dina kemudian mengambilkan nasi 3 centong nasi untuk Gara. Gara yang melihatnya langsung terkejut dengan tumpukan nasi di piring.


"Dina, nasi sebanyak itu untuk kita berdua makan kan?" tanya Gara

__ADS_1


"Nggak, aku sudah bilang kan, kalau aku makan makan sate padang pakai ketupat di luar rumah," jawab Dina


"Tapi kok nasinya banyak banget? abang nggak pernah makan sebanyak itu Din. ini juga sudah malam. kalau abang gendut dan nggak sixpack lagi gimana?" tanya Gara


"Abang nggak usah takut gendut. ini nasinya aku banyakin karena khawatir nanti mubazir. abang aja bilang nggak apa apa aku gendut. masa aku larang abang gendut?" saut Dina


"Tapi kalau abang nanti nggak habis gimana?" tanya Gara


"Kalau aku yang suapi, pasti habis. nggak habis pun tak masalah. bisa buat pakan ayam tetangga," jawab Dina


Dina saat itu langsung memulai suapan pertamanya ke mulut Gara pakai sendok. Namun Gara menolak menerima suapan jika tidak pakai tangan.


"Abang nggak mau di suapin pakai sendok. abang mau disuapin kamu pakai tangan," ucap Gara


"Abang manja sekali," jawab Gara


20 menit kemudian, secara mengejutkan nasi di piring sudah habis. Dina sangat senang melihat nasi di piring habis.


"Yeay, habis....bener kan aku bilang," ucap Dina


"Hah serius nasi sebanyak itu abang yang habiskan semua?" tanya Gara


"Abang main ponsel. makanya nggak sadar mulutnya kerasa enak jadi kebuka terus," jawab Dina


"Huh, abang kira bakal kekenyangan sampai muntah. tapi ini abang baru mulai kerasa kenyangnya sih, perut abang rasanya penuh," saut Gara


Gara kamudian menyingkap kaosnya memperlihatkan perutnya yang kekenyangan.


"Tunggu sebentar Din, tunggu abang sendawa dulu," ucap Gara


"Biar aku bantu, ikat pinggangnya longgarin biar enakan," jawab Dina


Dina saat itu hendak melonggarkan ikat pinggang Gara. Namun, kejadian tak terduga membuat Dina terkejut melihat sesuatu yang bergerak di celana Gara.


"Bang, kok langsung terangsang gini sih? baru juga mau longgarkan ikat pinggang sudah gerak gerak saja," ucap Dina


"Nggak tahu, kangen kehangatan masuk lobang kali," goda Gara


"Bang, aku sedang hamil. kemarin kan sudah. nggak boleh sering sering," jawab Dina


"Iya sayang, nggak usah khawatir. nurani abang masih jalan. sekarang kita bersiap siap cari sate untuk kamu makan," saut Gara

__ADS_1


__ADS_2