MENGEJAR CINTA IBU KOS MUDA

MENGEJAR CINTA IBU KOS MUDA
Episode 23 - MASUK ANGIN


__ADS_3

Jam sudah menujukan pukul 18.00. Malam ini hujan mulai lebat dan Gara masih belum masuk di dalam rumah. Cuaca juga sangat dingin, tetapi Gara menghiraukan itu semua demi menginginkan perhatian kecil dari Dina. Karena Gara yakin, cinta bisa tumbuh seiring banyaknya perhatian kecil yang dilakukan setiap pasangan


"Abang tetap menunggumu disini. menunggu dirimu memanggil nama abang masuk ke dalam, abang tak peduli disini dingin. waktu abang hanya satu bulan, abang harus bisa membuat Dina menerima abang sebagai suami," batin Gara


Tak lama kemudian Gara mendapatkan pesan dari Dina. Dalam pesanya, Dina menyuruh Gara masuk ke rumah.


📩 "Di luar hujan, masuklah," pesan Dina


Gara yang membaca pesan dari Dina sangat tidak puas. Bahasa dari pesanya saja sudah ketus, apalagi jika bicara secara langsung.


"Abang tidak ingin ajakan seperti ini, abang nantikan bujukannya mengajak abang masuk," batin Gara


Sementara di sisi lain, Dina kesal dengan Gara yang tidak membalas pesannya. Dina tahu di luar hujan lebat dan Gara masih di teras. Tetapi Dina sangat ogah memanggil Gara dan membujuknya masuk kedalam. Dalam pikiranya, Gara pasti kepedean dirinya perhatian jika dibujuk.


"Dia pikir dia siapa? suami? Gih, lidahku bahkan cadel mengucap dia suamiku. mantan adalah masa lalu, dia dulu selingkuh dariku dan sekarang menjadi pahlawan menolongku lalu ujungnya menikahiku? rencana apa ini? dia pikir aku akan luluh gitu? sorry ya, aku tidak mau sakit hati lagi kali ini," ucap Dina lirih


Sudah 15 menit menunggu, Gara masih belum masuk juga. Dina yang masih setia di kamarnya, saat itu ingin meminta tolong Bik Sri. Tetapi sayangnya Bik Sri hari ini menjaga Bu Gita di rumah sakit. Dina bingung dengan apa yang harus dilakukan. Antara kasihan dan gengsi mungkin saat ini menggambarkan perasaan Dina malam ini.


5 menit kemudian, Dina teringat belum masak untuk makan malam. Tersirat dipikiran Dina mengajak Gara masuk kedalam rumah untuk makan malam setidaknya masih dalam taraf manusiawi. Karena dalam kesepakatan, ada poin Gara dan Dina harus tinggal bersama di rumah Dina.


"Mungkin alasan ajak dia makan malam gak masalah kali ya, daripada bujuk dia masuk ke kamarku. astaga....selama satu bulan aku hidup bersama dia. hei waktu, cepatlah berlalu," batin Dina


Tak lama kemudian. Dina melajukan langkahnya menuju ke teras rumah. Sesampainya di teras rumah, Dina melihat Gara tertidur duduk dengan mengatubkan tangannya. Dina yang baru berdiri di teras saja sudah merasakan hawa dingin. Apalagi Gara yang sejak dari tadi berada di teras. Tanpa berpikir panjang, Dina yang tidak betah dengan angin dingin diluar mengajak Gara masuk.


"Bang, bangun....ayo masuk..." ucap Dina menepuk lengan Gara


Gara langsung terbangun saat merasakan ada suara orang membangunkanya dan menepuk lenganya. Ketka mata Gara terbuka, Gara melihat Dina yang membangunkanya. Gara tentu langsung sangat antusias saat Dina menyuruhnya masuk. Gara sangat senang hari ini mendapatkan perhatian kecil dari Dina. Penentianya melawan hawa dingin, akhirnya terbayarkan dengan perhatian kecil wanita yang dicintainya.

__ADS_1


"Iya, abang masuk," ucap Ardian


"Abang langsung ke kamar dulu saja, aku mau masak," jawab Dina


"Iya," saut Gara


+++++++++++++


20 menit kemudian, Gara dan Dina bersiap makan malam bersama. Menu makan malam hari ini adalah semur jamur dan nugget.


"Aku hanya masak ini, belum sempat belanja soalnya hujan," ucap Dina


"Kamu sangat pintar dalam memasak, abang yakin pasti masakanmu enak dan tidak pernah mengecewakan," jawab Gara


"Biasa saja kok, aku baru baru ini saja bisa masak. karena keadaan memang bisa membuat orang tidak bisa terpaksa untuk bisa," ucap Dina


"Kamu benar, keadaan memang bisa mengubah segala hal, satu bulan ini izinkan abang menjalankan peran abang sebagai suamimu, abang akan memperbaiki semua," jawab Gara


18 menit kemudian, Dina dan Gara sudah selesai makan. Setelah selesai makan Dina saat itu membereskan piring di meja makan. Gara yang melihat Dina membereskan piring tak ingin diam saja. Tanpa berpikir panjang, Gara ikut membantu Dina membereskan piring kotor.


"Abang saja yang mencuci piring, kamu tidurlah, abang lihat wajahmu terlihat letih," ucap Gara


"Aku tidak apa apa. ini sudah tugasku menjadi istri sesuai di kesepakatan. abang pergi ke kamar saja dulu, kamarku ada di sebalah sana yang terbuka," jawab Dina


"Dina, dalam mengarungi kehidupan rumah tangga, tidak ada yang namanya kewajiban suami itu sebagai majikan, dan kewajiban istri adalah budak suaminya. agama kita mengajarkan suami digambarkan sebagai sosok pemimpin keluarga dan pengambil keputusan. Peran istri tidak kalah penting, sebab istri akan menjadi penasihat dan teman bertukar pikiran yang akan mempengaruhi sebuah keputusan. terlepas adanya perbedaan mengenai bagaimana seorang istri menghabiskan waktunya dengan berkarier di luar atau mengurus rumah dan keluarga, seorang istri akan menjadi ibu sekaligus sekolah pertama bagi anak-anaknya," ucap Gara


Dina hanya terdiam

__ADS_1


"Istri memang diwajibkan mentaati perintah suami, melayani suaminya, menjaga harta, rumah, serta kehormatan suaminya. namun, abang minta sama kamu, kalau abang salah dan perilaku abang gak berkenan tolong tegur abang. karena tidak semua perintah suami harus ditaati, misalnya saat suami memerintahkan sesuatu yang dilarang dalam agama." ucap Gara


Dina masih terdiam karena bagaimana pun juga ucapan Gara bener


"Dan terakhir abang ingatkan, jangan terpaksa melakukan kewajiban ini itu karena kesepakatan. kita sama sama mencari ridha, menyempurnakan agama, melakukan kewajiban karena ibadah. urusan satu bulan nanti nasib pernikahan ini bagaimana, biar saja takdir yang menjawab, karena jodoh, rezeki, maut itu semua hanya kuasa tuhan," ucap Gara kemudian pergi


Setelah kepergian Gara, Dina merasa tersentuh dengan ucapan Gara. Dina tak menyangka Gara bisa berpikiran seluas itu masalah pernikahan. Padahal tiga tahun yang lalu Gara bisa dibilang jauh dari agama.


+++++++++++++


Setelah mencuci piring, Dina berjalan menuju ke kamarnya. Sesampai di kamar, Dina melihat Gara memerangi kepala dan perutnya. Posisi Gara saat itu duduk membelakanginya, jadi Gara tidak sadar kehadiran Dina dibelakangnya. Awalnya Dina cuek dengan keadaan Gara. Tapi melihat Gara berkeringat, sering bersendawa kecil dan nampak menggigil membiuat Dina khawatir.


"Bang, abang sakit?" tanya Dina


Gara langsung menoleh ke sumber suara sembari tersenyum karena Dina menanyakan keadaanya. Gara sangat senang mendapatkan perhatian kecil dari Dina. Walaupun Gara merasa tidak enak badan, Gara mengaku sehat karena tidak ingin Dina khawatir.


"Nggak, abang nggak apa apa. abang hanya perlu istirahat," ucap Gara


Gara kemudian kembali bersendawa kecil dan memegangi perutnya.


"Bang Gara sedang masuk angin?" tanya Dina


"Iya, tapi nggak apa apa kok, kamu mau tidur di ranjang ini ya? maaf jika kamu nggak nyaman abang bisa gelar tikar aja dibawah," jawab Gara


Gara kemudian beranjak berdiri tapi dicegah Dina


"Bang, aku buatin wedang jahe mau? biar perut dan badanya hangat dan enakan. itung itung balasan abang nolong aku kemarin," ucap Dina

__ADS_1


"Kamu bisa kerokin abang juga nggak? kalau nggak bisa nggak apa apa, cukup wedang jahe yang kamu tawarkan saja cukup," jawab Gara


Dina tak menjawab dan langsung bergegas menuju dapur.


__ADS_2