
Beberapa jam kemudian, Dina dan Gara sudah bersiap untuk menikah. Gara saat itu menyiapkan mahar uang tunai sebesar Rp.500.000. Karena dalam dompetnya hanya terdapat uang tunai sebesar itu.
"Calon mempelai pria apa sudah siap?" tanya Penghulu
"Insyaallah siap," jawab Gara.
"Baiklah, kita mulai sekarang," saut Penghulu
Penghulu saat itu menuntun Gara mengucapkan ijab kabul. Dan beruntung, dengan hanya dapat mengucap tegas ijab qabul dengan satu tarikan nafas.
"Saya terima nikah dan kawinya dengan mahan tersebut dibayar tunai," ucap Gara
"Bagaimana saksi?" tanya Penghulu
"Sah..." jawab semua orang
++++++++++++
1 jam setelah menikah, Gara dan Dina sudah bersiap untuk pulang. Namun dalam perjalanan pulang, Din saat itu mengungkapkan keinginanya.
"Sesuai kesepakatan yang aku katakan tadi, kita bisa bercerai saat ini juga. aku tidak bisa menerima pernikahan ini, aku harap abang tidak melupakan itu," ucap Dina
"Siapa yang sepakat? abang tidak pernah bilang sepakat. abang akan buat agar kamu bisa menerima pernikahan ini," jawab Gara
"Abang egois, abang tidak memikirkan perasaanku. aku tadi sudah secara terang terangan tidak ingin adanya pernikahan ini," saut Dina
"Kamu salah, justru abang menikahimu karena memikirkan perasaanmu, jika tidak ada abang apa kamu ingin ditelantarkan pacarmu itu, mana dia sekarang?," tanya Gara
"Aku tidak peduli dia dimana sekarang. yang pasti semua pria bagiku sama saja. selalu saja kalau nggak uang ya ************ di otaknya. ujungnya yang ini nikah pasti juga yang diincer juga nggak jauh dari ************," jawab Dina
Gara yang mendengarkan ucapan Dina seketika menghentikan mobilnya. Dina yang mengetahui mobil tiba tiba berhenti langsung berpikiran Gara ingin menurunkanya
"Kok berhenti? baiklah aku turun. dan semoga kita tidak berjumpa lagi," ucap Dina
"Bisakah kamu memberi abang kesempatan. abang akan buktikan jika abang serius dengan pernikahan ini," jawab Gara
__ADS_1
Dina hanya terdiam
"Katakan apa syarat agar bisa abang dapat kesempatan darimu," ucap Gara
"Seandainya aku belum mencintai abang selama satu bulan dan aku menemukan pria yang pantas mendampingiku, apa abang bisa melepaskanku dan jauh dari hidupku?" tanya Dina
Dina saat itu yakin kalau dirinya tidak akan mencintai Gara. Dan terkait syarat menemukan pria yang pantas dalam hidupnya, Dina berpikiran bisa menyuruh Adit berpura pura nanti. Karena Nifa sudah memiliki prinsip tidak akan mau menikah dan dekat dengan pria. Tiga kali disakiti oleh pria membuatnya kapok dalan menjalankan hubungan
"Abang bersedia dengan syarat kita harus menjalani hubungan ini layaknya suami istri. kita sudah menikah dan tidak masalah kan? abang akan melakukan kewajiban abang menafkahimu lahir batin, begitu pun juga dengan kamu harus menjalankan kewajibanmu sebagai istri," jawab Gara
"Bisakah abang melakukan nafkah batin itu setelah keputusanku satu bulan, jika aku mencintai abang, aku pasti akan bersedia menjadi milik abang sepenuhnya," saut Dina
Gara masih terdiam.
"Dan aku ingin selama 1 bulan ini tidak ada yang mengetahui pernikahan kita. cukup kita berdua dan Bik Sri saja. karena tidak mungkin kan aku menemukan pria dengan mengakui statusku sudah menikah. lalu untuk tempat tinggal kita pisah dulu," ucap Dina
"Abang tidak setuju jika kita tinggal beda atap. Abang ingin kita tetap satu kamar. tapi kamu tenang, abang menyetujui pernyataan masalah nafkah batin yang kamu inginkan.abang tidak akan menjamahmu jika kamu tidak izinkan," jawab Gara
"Baiklah tunggu sebentar, aku ketik di ponselku lalu kirimkan ke abang," saut Dina
Beberapa menit kemudian ponsel Gara muncul notifikasi pesan dari Dina
- Dina dan Bang Gara menjalankan kewajiban suami istri kecuali ****nafkah**** batin/hubungan intim
- Dina dan Bang Gara tinggal satu rumah dan satu kamar di rumah Dina.
- Selama 1 bulan, jika Dina tidak mencintai Bang Gara dan Dina sudah menemukan pria idamanya, otomatis cerai.
- Pernikahan hanya diketahui oleh Bik Sri saja, dan di rahasiakan dari yang lain.
- Bang Gara tidak boleh cemburu jika Dina sedang mencari pria idamanya
Melihat pesan dari Dina, Gara menyetujuinya walaupun sangat berat di poin terakhir. Dengan adanya kesepakatan itu Gara bertekad semakin semangat mengejar cinta Dina
.
__ADS_1
"Abang akan buat kamu jatuh cinta dengan abang, kamu harus menerima pernikahan ini," batin Gara
+++++++++
2 jam kemudian, jam sudah menujukan pukul 16.30. Gara dan Dina sudah sampai rumah. Sesampainya di rumah, Gara dan Dina disambut oleh Bik Sri.
"Nona, apakah Nona baik baik saja?" tanya Bik Sri
"Baik Bi, aku mau masuk ke kamar dulu ya Bik," jawab Dina
Dina saat itu pergi meninggalkan Gara dan Bik Sri menuju kamarnya. Setelah kepergian Dina, Bik Sri mengucap terima kasih pada Gara.
"Terima kasih ya telah antar Nona sampai ke rumah," ucap Bik Sri
"Sama sama Bik, kamar Dina dimana ya Bi?" tanya Gara
"Loh kok anda mau ke kamar Nona? sebaiknya tunggu di teras sini saja. saya akan panggilkan" tanya Bik Sri
"Maaf Bi, sebenarnya tadi siang saya sudah menikah sirih dengan Dina," jawab Gara
"A...apa?" tanya Bik Sri syok
Gara kemudian menceritakan awal mula dirinya bisa menikahi Dina karena desakan warga. Selain itu Gara juga menjelaskan kesepakatan yang Dina buat di mobil tadi. Mendengar pengakuan Gara, Bik Sri saat itu bukanya mendukung Gara malah justru mendukung Dina.
"Demi kebahagiaan Nona, sebaiknya anda bisa merelakan Dina bersama pria idamanya kedepan. satu bulan ini, saya harap anda tidak mempersulit Dina untuk lepas dari anda," ucap Bik Sri
"Maaf Bi, saya tidak bisa mempermainkan pernikahan ini. saya berprinsip menikah sekali seumur hidup, saya akan berjuang membahagiakan Dina," jawab Gara
"Saya akan tetap membantu Nona mencarikan lelaki yang pantas untuk Nona. masa lalu Nona bersama anda sudah cukup menjadi kenangan pahit yang tak perlu di ulang. saya pribadi tak ingin ini terjadi," saut Bik Sri
Bik Sri kemudian masuk kedalam rumah meninggalkan Gara. Sementara Gara tidak ikut masuk kedalam rumah. Gara memilih duduk di teras memandang pemandangan senja di sore hari.
Semakin petang matahari terlihat nampak membenamkam wajahnya. Gara masih bertahan dalam lamunanya. Gara merasa dirinya sedang mendapat karma akan perbuatanya di masa lalu. Rasa sakit yang Dina rasakan dulu, mungkin seperti yang dialaminya sekarang.
"Jika ini adalah balasan dari kelakuanku di masa lalu, aku ikhlas selama itu bisa menyembuhkan luka di hati istriku. aku akan tetap pada tujuanku membuat istriku nyaman bersamaku," batin Gara
__ADS_1
Tak lama kemudian tiba tiba hujan datang. Gara tetap masih nyaman duduk di teras. Sebenarnya Gara ingin masuk langsung ke kamar Dina. Tap teringat tujuanya ingin Dina mencintainya, Gara jadi berharap sebuah perhatian kecil dari Dina. Misalnya, berharap Dina memanggilnya masuk ke dalam kamar.
"Aku menunggu perhatianmu, aku akan tetap menunggu," batin Gara