
3 hari kemudian, Dina saat itu bertemu dengan Adit di kantin. Di kantin, Adit tak sengaja melihat undangan pernikahan untuk Dina yang masih berada di meja kantin. Sejak kedatangan Vera dan Fabian di kantin, Dina entah sengaja atau lupa dirinya membiarkan undangan pernikahan Vera dan Fabian di meja.
"Mbak, ini undangan pernikahan teman Mbak?" tanya Adit
"Iya Adit," jawab Dina
"Kakaku juga dapat undangan nama teman Mbak ini, tapi aku disuruh mewakilkan. Mbak kesana bareng siapa?" tanya Adit
"Sendiri Dit," jawab Dina
"Kalau sama aku gimana Mbak? saya bonceng pakai motor saya Mbak, daripada kita disana nggak ada pasangan?" tanya Adit
"Aku pertimbangkan dulu ya Dit, nanti aku kabari," jawab Dina
"Siap Mbak," saut Adit
Tak lama kemudian Adit sudah selesai menuntaskan makan siangnya di kantin. Tak lupa Adit membayar makanan yang dirinya makan. Setelah kepergian Adit, Dina teringat kesepakatan pernikahanya dengan Gara point 3. Isi kesepakatan point 3 :
...Selama 1 bulan, jika Dina tidak mencintai Bang Gara dan Dina sudah menemukan pria idamanya, otomatis cerai....
Dina saat itu pernah menyusun rencananya mengajak Adit pura pura jadi pacarnya. Hanya saja Dina bingung kapan memulainya.
"Sekarang Adit sudah kode ajak aku hadir di pernikahan Vera dan Fabian, apa aku mulai saja ya rencanaku? lebih cepat lebih baik. aku ingin bebas menjalankan kehidupanku," batin Dina
++++++++++++++
Sore hari jam sudah menujukan pukul 15.00 WIB. Dina yang sudah berada di rumah saat itu memikirnya rencananya mengajak Adit pura pura jadi pacarnya. Namun terlebih dahulu, Dina memberi pesan pada Adit kalau dirinya ikut bareng ke pesta pernikahan Vera dan Fabian
📩 "Adit, aku memutuskan ingin kamu temani pas di undangan pernikahan, kamu nggak keberatan kan?" pesan Dina
📩 "Siap Mbak, aku mau, kita berangkatnya barang ya Mbak, aku bonceng Mbak naik motorku" balas Adit
📩 "Tapi aku tidak pernah naik motor gedemu Itu Dit," pesan Dina
📩 "Alah cuma naik saja Mbak, nanti Mbak bisa pegangan deh, kaya di film film," balas Adit
__ADS_1
📩 "Ah kamu bisa saja," pesan Dina
📩 "Loh ya bisa loh Mbak, kalau kita tiba tiba jodoh gunanya? haha...mungkin ya Mbak, kita berdua cinlok," balas Adit
📩 "Haha...kaya sinetron aja, kamu itu ya anak kosku tapi berani gombal, " pesan Dina
Dina kemudian tersenyum senyum menatap layar ponselnya karena balasan pesan dari Adit. Namun senyum Dina mendadak jadi kepanikan ketika melihat Gara menghampirinya pulang kerja.
"Assalamualaikum," ucap Gara
"Waalaimumsalam," jawab Dina
Dina kamudian meraih tangan kanan Gara untuk minta salim
"Tadi abang lihat kamu senyum senyum lihat ponsel, lihat apaan sih?" tanya Gara
"Lihat tiktok aja Bang," jawab Dina dusta
"Tapi kok tadi panik gitu pas abang salam, masa cuma gara gara tiktok senyum kaya gitu," saut Gara
"Oh, maaf ya kalau abang bikin kamu kaget. sekarang abang mau mandi. minta tolong ya siapkan air hangat," ucap Gara
"Baik Bang," jawab Dina.
Dina saat itu pergi ke kamar mandi lupa membawa ponselnya. Gara yang menyadari ponsel Dina tertinggal mencoba ingin tahu video tiktok yang dimaksud Dina.
"Video tiktok apaan sih yang bikin Dina tertawa," batin Gara
Gara kemudian membuka ponsel Dina yang kebetulan tidak terkunci. Namun ketika melihat riwayat pesan dari Adit pada Dina, Gara marah karena cemburu dengan Dina. Walaupun Adit dan Dina hanya sebatas anak kos dan ibu kos. Tetap saja Gara dilanda cemburu hebat dan tentunya merasakan sakit hatinya.
"Kamu milik abang seorang Din, abang akan terus membuatmu terbiasa dan nyaman sama abang. lihat saja nanti, kamu tak bisa lepas dari abang," batin Gara
+++++++++++++
Malam hari, Dina merasa Gara semakin berani mendekatinya. Jika di hari pertama menikah Gara diam diam membawa Dina tidur bersama. Sekarang di hari ke 6 pernikahanya, Gara dengan penampilan tidak memakai baju dan memakai celana training mengajak Dina tidur bersama.
__ADS_1
"Din, ayo tidur," ucap Gara
"Abang bisa nggak pakai baju. kalau abang nggak pakai baju aku nggak mau tidur dengan abang," jawab Dina
"Abang gerah Din, ayolah...abang tidak akan ngapa ngapain kamu," ucap Gara
"Bohong, tiap aku bangun tidur selalu saja abang peluk aku. abang juga semakin kesini semakin berani cium pipiku di pagi hari, apa abang pikir aku perempuan gampangan seperti diluaran sana yang bisa seenaknya saja abang gituin, aku bukan wanita penghangat ranjang yang berkeliaran di luar sana," jawab Dina
Degg
Gara memahami jika Dina masih marah padanya karena masa lalunya. Tapi Gara mulai terpancing saat Dina mulai mengatai dirinya seenaknya aja dan bebas
"Abang gituin kamu apa? seenaknya abang apa? kamu itu istri abang. coba jelaskan. mengapa kamu diam saja tak membrontak jika.kamu tak suka perlakuan abang," saut Gara tegas
"Abang tidak mengerti perasaanku," jawab Dina
"Kamu mau meninggalkan abang dan ingin menjalin hubungan dengan adit anak kosmu itu?" tanya Gara
"Emang kenapa? abang cemburu? jangan lupa kesepakatan yang kita buat," jawab Dina
"Iya abang cemburu, dan wajar abang cemburu jika istri abang berkontak dengan pria lain," saut Gara
Gara kemudian memegang lengan Dina lalu mengatakan sesuatu
"Kamu pernah bilang jika kamu sudah menutup hatimu untuk laki laki. kamu tidak ingin melihat laki laki bertelanjang dada didekatmu karena mengingat kejadian saat kamu hampir dilecehkan kan? dan juga mengingat perselingkuhan abang di masa itu?. sekarang abang datang untuk kamu, kita suami istri. pelan pelan abang ingin kamu terbiasa dan nyaman bersama abang. apa abang salah? abang mengemban amanat besar menjadi suami kamu," ucap Gara
Gara kemudian meneteskan air mata lalu mengatakan sesuatu.
"Kamu selalu berpikir jika abang menikahimu karena menjadikanmu penghangat ranjang. dan hanya sekadar menuntaskan hasrat abang. tapi mana? abang tanya sama kamu. apa abang pernah menjadikanmu seperti yang kamu omongkan? abang paham kamu belum mau dan belum siap menyerahkan dirimu seutuhnya untuk abang," ucap Gara
"Jika aku tidak siap? dan bersikukuh tidak ingin hidup sama abang, apakah abang memaksaku kedepanya?' tanya Dina pelan
"Abang tidak ingin kamu selamanya takut dengan sentuhan abang. abang melakukan ini karena abang peduli sama kamu. abang akan terus berikan kenyamanan untukmu. jika abang tidak peduli sama kamu buat apa abang rela tidur di lantai demi jaga kamu, buat apa abang rela bertengkar dengan mantanmu demi melindungimu, buat apa abang mau membiayai pengobatan mama. semua abang lakukan ikhlas karena kamu istri abang,." saut Gara.
Gara kemudian memakai kaosnya lalu tidur membelakangi Dina. Sementara Dina justru dilanda rasa bersalah karena menuduh Gara yang tidak tidak.
__ADS_1