
Pagi hari, jam sudah menujukan pukul 07.00. Gara dan Dina sudah duduk di meja makan bersiap untuk sarapan bersama. Gara saat itu melihat ada sayur kunci dan botokan di meja makan. Bagi Gara, Dina kemampuan memasaknya sudah tidak diragukan lagi. Pepaduan sayur kunci dan botokan sudah sangat cocok di lidah orang indonesia.
"Ini pasti enak sekali, sudah lama aku nggak makan botokan, istriku memang hebat, jadi tambah cinta saja," batin Gara
Tanpa berpikir panjang, Gara langsung mengambil satu botokan di piringnya. Namun baru saja Gara ingin membuka bungkus botokanya langsung di cegah Dina
"Eh, jangan ambil itu bang, abang tak boleh makan itu," ucap Dina
"Loh kenapa? kalau abang nggak ambil botokan ini, abang makanya pakai lauk apa? kamu ingin lihat abang cuma makan nasi pakai sayur kunci?" tanya Gara
"Bukan, botokan yang abang ambil itu botokan teri, ini aku sudah buatkan botokan yang tidak ada terinya, yang tidak ada ikan terinya aku kasih tanda steples di bungkus daun pisangnya," saut Dina
Degg
Gara terenyuh saat Dina membuat botokan khusus untuknya. Gara tak menyangka Dina masih mengingat makanan yang tidak disukainya semasa pacaran.
Gara memang tidak suka ikan teri karena rasanya yang dominan asin pahit mirip terasi. Gara juga termasuk tipikel orang yang tidak menyukai dunia ikan asinan sebangsa ikan pindang, klothok, teri, drejet dan lain lain.
"Din, kamu masih mengingatnya," ucap Gara
"Kebetulan saja," elak Dina
"Terima kasih, apapun alasanmu abang senang diperhatikan sama kamu," jawab Gara
"Jangan salah paham, aku melakukan ini sesuai kesepakatan. aku tidak mungkin memaksa abang memakan makanan yang abang tidak suka. aku masih punya nurani," saut Dina
"Abang tidak peduli, setidaknya kamu ingat abang tidak suka ikan teri saja abang sudah sangat senang," jawab Gara
"Mengapa aku bisa mengingat Bang Gara tidak suka ikan teri? mengapa juga aku tadi buatkan khusus untuk Bang Gara? seharusnya aku bodoh amat Bang Gara suka atau tidak," batin Dina
__ADS_1
30 menit kemudian, Dina dan Gara sudah selesai sarapan. setelah sarapan Dina membereskan meja makan kemudian berpamitan pada Gara.
"Bang, aku pamit pergi ke kantin," ucap Dina
"Abang antar ya? abang hari ini cuti kerja," jawab Gara
"Tidak tidak, aku tidak ingin orang orang disana curiga mengapa abang bisa kembali datang ke kos, sesuai kesepakatan pernikahan kita di rahasiakan," saut Dina
"Baiklah, boleh aku minta nomer rekeningmu?," jawab Gara
"Untuk apa?" tanya Dina panik
"Abang ingin menafkahimu, abang mau kirimkan uang ke rekeningmu," jawab Gara
Dina saat itu menggelengkan kepalanya karena tidak ingi Gara terbebani dengan kewajibanya.
"Tidak Bang, uang abang untuk keperluan abang saja, aku masih bisa memenuhi kebutuhanku sendiri," saut Dina
Dina akhirnya mengirimkan nomer rekeningnya pada Gara. Setelah nomer rekening terkirm, Gara langsung menstrasnfer uang ke rekening Dina melalui aplikasi mbanking.
"Sudah masuk?" tanya Gara
Dina mengecek ponselnya terkejut melihat Gara mentrasfer uang sebesar Rap.10.000.000.
"Itu untuk kebutuhanmu, jika nanti kurang bilang saja. kamu boleh minta kalau kehabisan uang. masalah biaya rumah sakit mama, kamu jangan khawatir. abang semua nanti yang menanggung," ucap Gara
"Maaf, abang sekarang kerja apa kok bisa transfer uang sebanyak ini? aku tidak mau jika uang ini hasil dari...." tanya Dina terpotong
"Hasil dari morotin orang, hasil dari nyuri, hasil dari ngutang, itu kan yang ada di pikiran kamu?" saut Gara
__ADS_1
"Maaf, jika abang tersinggung," jawab Dina
"Abang bekerja di kantor. kamu jangan khawatir, abang tidak seperti pria brengsek kaya kedua mantanmu itu. abang justru ingin kamu berhenti bekerja dan di rumah saja. abang ingin setiap berangkat atau pulang kerja disambut oleh kamu," saut Gara
"Baiklah, aku percaya sama abang. sekarang aku pergi dulu. nanti aku izin tidak pulang, karena aku mau ke rumah sakit jenguk mama," jawab Dina
Dina kemudian keluar dari rumah meninggalkan Gara. Sementara Gara tak ingin diam begitu saja. Walaupun pernikahanya di rahasiakan, Gara tidak ingin lepas kendali menjaga Dina.
++++++++++
Sesampainya di kantin, Dina melayani para pembeli yang membeli makananya. Namun ketika melayani pembeli, Dina mendapati pelanggan yang sangat tidak ingin dirinya temui. Pelanggan itu adalah Fabian dan Vera yang berkunjung di kantinya.
"Kalian mau pesan sesuatu?" tanya Dina
"Iya, kami pesan nasi pecel dua, sama es jeruk dua," jawab Vera
"Baik, kalian tunggu di lesehan situ ya, pesanan kalian akan saya antar," ucap Dina
Sementara di sisi lain, Gara saat itu baru saja sampai di Kos Ragina. Sesampainya di kos, Gara menemui Pak Hary, Pak Wahid dan Pak Surya di pos satpam. Awalnya para satpam kaget ketika Gara kembali, tapi Gara menjelaskan kalau kedatanganya hanya sekedar mampir. Gara juga menceritakan kalau dirinya sudah bekerja di kantor.
Setelah berbincang dengan para satpam, Gara melihat ke arah kantin kos. Di kantin, Gara melihat Vera bersama laki laki duduk di lesehan
"Loh? itu bukanya Vera sahabatnya Dina? apa pria itu cowoknya Vera? seingatku Pak Hary pernah bercerita kalau mantan kedua Dina selingkuh dengan sahabat Dina. apa cowok itu mantanya Dina?," batin Gara
Gara saat itu menatap raut wajah Dina yang nampak tidak nyaman melayani Vera dan Fabian. Tanpa berpikir panjang, Gara langsung menuju ke kantin untuk menemui Dina. Sesampainya Gara di kantin, Gara saat itu berpura pura menjadi pembeli.
"Kopi luwak white coffe nya satu," ucap Gara
Dina saat itu terkejut dengan kedatangan Gara di kantinya. Dina sebenarnya ingin mengusir Gara karena takut Gara membongkar pernikahanya. Tapi keinginanya itu harus Dina tahan demi supaya Gara tidak nekat.
__ADS_1
"Baik, di tunggu ya," jawab Dina
Dina kamudian melayani Gara seperti pembeli lain..Sementara Gara saat itu melirik remeh Vera yang sedang menatapnya penuh intimidasi. Bagi Gara, Vera adalah serigala berbulu domba di kehidupan Dina.