
"Jika itu anak abang, aku harap abang bertanggung jawab padanya.dan mulai detik ini aku bersedia menjalankan kewajibanku melayani abang ," saut Dina
"Maksudmu?" tanya Gara
"Aku sadar, aku menyuruh abang tanggung jawab otomatis aku juga harus melaksanakan apa yang seharusnya aku lakukan," jawab Dina
"Abang tidak ingin kamu tertekan. jangan merasa tertekan karena abang, abang sama sekali tak menuntutmu harus ini itu," ucap Gara
"Jika berhubungan intim bersama lawan jenis ketika tanpa adanya ikatan itu tidak bisa dibenarkan. bagaimana denganku yang sudah sah jadi istri abang tapi menolak melakukan hubungan intim? itu juga sama saja tidak dibenarkan. walaupun pernikahan ini atas dasar sepihak dan dilandasi kesepakatan. tapi tetap saja pernikahanku dengan abang ini sah. jadi karena itu aku putuskan mulai detik ini aku bersedia melakukan hubungan intim dengan abang," jawab Dina
"Aku akan melawan rasa takutku," batin Dina
Dina mengambil keputusan itu karena merasa sadar jika selama ini Gara tersiksa karena dirinya. Selama hampir sebulan ini, Gara sudah banyak menebar kebaikan pada dirinya. Rasanya tak elok jiia Dina terus menyimpan kebencianya terhadap Gara karena keburukan di masa lalu. Masa lalu Gara memang buruk, tapi bukan berarti Dina merasa masa lalunya baik. Dina juga memiliki kisah buruk yang tak patut dianut oleh banyak orang.
Dina menyuruh Gara bertanggung jawab jika anak Selly terbukti anak kandung Gara. Tak ingin asal menyuruh orang tanggung jawab, Dina merasa harus tanggung jawab atas tugasnya sebagai istri. Walaupun rasa trauma itu ada, Dina tidak boleh egois karena traumanya yang tidak wajar
"Apa malam ini? atau kapan? aku bersedia," ucap Dina
"Din, abang memang menginginkan hal itu darimu, tapi tidak dengan cara seperti ini, abang tidak ingin kamu tertekan melawan rasa traumamu itu," jawab Gara
Dina hanya diam
"Abang tahu kamu tak nyaman dengan kondisi seperti ini. kamu sebenarnya jijik kan mengingat ucapan Selly. abang sangat tahu itu. abang juga akan bertanggung jawab jika memang terbukti anak Selly itu anak abang," ucap Gara
"Abang tenang saja, urusan traumaku tidak masalah. jangan dipikirkan itu, lakukan saja apa yang abang inginkan padaku. bagiku yang terpenting aku tidak ingin tidak memenuhi kewajibanku, aku ingin kita berdua menjadi pribadi yang bertanggung jawab dengan apa kewajiban kita," jawab Dina
"Kita bicarakan di rumah, sekarang sudah malam. kita harus segera pulang," saut Gara
__ADS_1
Gara kemudian menuntun Dina masuk dalam mobil dan bersiap perjalanan pulang ke rumah
++++++++++++++
30 menit kemudian, mobil yang dikemudikan Gara sudah sampai di rumah. Sesampainya di rumah, Gara saat itu melihat Dina tertidur di dalam mobil. Tak ingin Dina terbangun, Gara saat menggendong Dina menuju kamar.
Sesampainya di kamar, Gara merebahkan tubuh Dina kasur. Namun baru saja tubuh Dina direbahkan, Dina saat itu terbangun dari tidurnya. Posisi Gara saat itu seperti hendak menindih Dina karena baru saja merebahkan tubuh Dina. Tapi sayangnya, Dina menganggap Gara meminta hak nya dilayani malam ini.
"Eh, abang mau sekarang ya, maaf aku ketiduran. aku akan lepaskan pakaianku," ucap Dina
"Din, jangan salah paham, abang tadi baru saja menidurkanmu," jawab Gara
"Nggak apa apa, ini sudah hak abang untuk aku layani," saut Dina
Dina sebenarnya takut saat hendak melepas bajunya.
"Stop !!! abang mohon jangan," ucap Gara.
Gara kemudian mengancingkan lagi baju Dina dengan cepat lalu mengatakan sesuatu.
"Tapi itu abang sudah tegak.abang pasti tersiksa," ucap Dina
"Abang tidak mau melihatmu gugup dan tertekan seperti ini, abang memang menginginkanmu, tapi bukan dengan cara dan di situasi yang seperti ini. abang hanya ingin melihatmu bahagia. melihatmu bahagia abang sudah cukup membuat abang senang," ucap Gara
Tak lama kemudian kepala Dina merasa pusing. Gara yang melihatnya langsung panik.
"Din, kamu nggak apa apa," tanya Gara
__ADS_1
"Nggak apa apa," saut Dina
"Ayo tidur," ucap Gara
Gara kemudian menyibak rambut Dina yang berantahkan lalu pelan pelan kembali menidurkan Dina. Setelah Dina tidur, Gara mencium kening Dina lalu berharap sesuatu.
"Bagimu memang pernikahan ini hanya bertahan sementara. tapi bagi abang tidak, setelah kata ijab abang ucapkan kamu resmi sah menjadi tanggung jawab abang. sampai kapan pun abang tidak akan meninggal mkan wanita sebaik dirimu," batin Gara.
++++++++++++
Tengah malam, seperti biasa Gara selalu terbangun karena Dina menangis. Semenjak kepergian Bu Gita, sudah 4 hari ini Dina selalu menangis di tengah malam hari. Untung Gara sudah mampu menjinakan tangisan Dina dengan cara mendekapnya.
"Ayah...mama...jangan tinggalin Dina, Dina takut sendirian, Dina sudah nggak punya siapa siapa ayah...mama..." ucap Dina menangis
Sudah beberapa hari ini Dina selalu bermimpi orangtuanya. Tangisan Dina di tengah malam selalu terngiang di telinga Gara. Dibalik ketegaran dan senyuman Dina di pagi hari, di malam hari Dina masih menyimpan banyak kesedihan. Gara rasanya ingin menangis melihat pilunya Dina selalu menangis bermimpi orangtuanya.
Gara saat itu terus mendekap Dina sembari membisikan kata agar Dina berhenti menangis.
"Kamu tidak akan pernah sendirian. jangan takut sendirian, tidak ada yang meninggalkanmu, rasakan kehadiran orangtuamu dengan pelukan ini, terus peluk hingga kamu menyadari kamu tidak sendirian," bisik Gara
Dina masih menangis
"Din peluk, jangan nangis, rasakan semuanya," ucap Gara
Dina kemudan semakin menyembunyikan kepalanya di dekapan Gara. Lebih tepatnya Dina menposisikan kepalanya di ketiak Gara. Entah mengapa setiap Dina bereda di dekat ketiak Gara, Dina langsung tertidur nyenyak.
"Ketiaku ada apan ya? selalu saja seperti ini. kamu nyenyak banget Din, besok besok aku akan coba pakai baju tanpa lengan saja," ucap Gara
__ADS_1
Setelah Dina nyenyak tertidur, Gara akhirnya ikut tertidur dengan posisi mendekap Dina