MENGEJAR CINTA IBU KOS MUDA

MENGEJAR CINTA IBU KOS MUDA
Episode 61 - MERASA TAK BERGUNA


__ADS_3

Malam hari, Gara dan Dina saat itu sudah sampai rumah. Sesampainya di rumah, Gara membaringkan tubuh Dina di ranjang kemudian bersiap menyeka tubuh Dina dengan air sabun.


"Badan kamu pasti lengket seharian ini nggak mandi. kata dokter kamu harus di seka dulu sampai kontrol minggu depan," ucap Gara


"Bang, bisakah Bik Sri saja yang mengurusku? aku tidak enak merepotkan abang seperti ini terus," jawab Dina


"Selama abang ada waktu mengurusmu, abang tidak akan melibatkan orang lain," saut Gara


"Bang, proses pemulihanku pasti lama, aku nggak tega lihat abang seperti ini terus, abang pasti tersiksa banget. aku sudah nggak bisa apa apa selain bicara, makan, dan buang air. jangan paksa diri abang. ini sudah satu bulan dan abang boleh pergi," ucap Dina


"Kamu masih bisa bernafas saja abang sudah bersyukur sekali. masalah kesepakatan itu, abang tidak peduli. tidak ada materai dan hanya ditulis diketikan ponsel, abang hanya senyum saja waktu kamu buat kesepakatan itu dulu,," jawab Gara.


Dina hanya terdiam


"Abang paham waktu itu kamu masih sulit menerima abang. jadi abang berpikir apapun persyaratanmu dulu pokoknya abang bisa sekamar denganmu itu saja sudah cukup," ucap Gara


"Karena abang ingin menjamahku bukan?" tanya Dina


"Urusan ranjang itu bukan prioritas. bagi abang ketika kita sekamar, abang perlahaan bisa mendekatimu. abang bisa pelan pelan membuatmu terbiasa dengan kehadiran abang. karena abang tahu kamu pasti takut dengan abang. prinsip abang saat itu saat sah menikamu, abang sudah bertekad untuk hidup bersamamu," ucap Gara


Gara kemudian melepaskan seluruh pakaian Dina lalu pelan pelan menyeka Dina.


"Abang sengaja pakai air hangat, agar kamu nggak kedinginan. soalnya udah malam juga. anggap aja abang ini orangtuamu yang serang merawatmu, karena bagaimana pun juga kewajiban orangtuamu sudah berpindah ke abang," ucap Gara


Gara saat itu menyeka tubuh Dina dengan sangat telaten. Bahkan ketika menyeka area sensitif Dina, Gara juga telaten membersihkanya.


"Abang lihat aku seperti ini apa nggak tersiksa Bang?" tanya Dina


"Iya nggak lah," jawab Gara


"Berarti abang gak normal? bukanya laki laki normal akan berpikiran mesum, abang bahkan berselingkuh gara gara aku menolak abang menciumku," saut Dina

__ADS_1


"Abang kan punya cinta Din, dan dari cinta itulah yang bisa mengontrol hasrat abang. abang kalau nggak ada cinta ya pasti akan nggak bisa ngontrol seperti ini. walaupun punya abang sudah tegak seperti ini, tapi pikiran dan hati abang masih bisa kontrol nafsu abang," jawab Gara


"Aku nggak larang jika abang ingin melakukan hubungan fisik dengan wanita lain. aku tidak ingin abang seperti ini terus. aku merasa abang berhak untuk bahagia," saut Dina


Gara kemudian menghentikan aktivitas sekanya sejenak lalu mengatakan sesuatu.


"Abang sudah tidak mau masuk ke dunia gelap itu lagi Din, abang sudah menikah denganmu, artinya dosa besar jika abang bermain di belakangmu. kamu harus ingat satu hal, apapun yang terjadi abang akan selalu ada untukmu dan abang tidak akan meninggalkanmu," ucap Gara


"Tapi masa depan abang masih panjang, saat ini aku hanya patung hidup yang hanya bisa makan, minum, buang air dan bicara. aku merasa tidak berguna. aku tidak bisa menjalankan kewajibanku sebagai istri abang," ucap Dina


"Kata siapa tidak bisa? menyenangkan hati suami itu saja kamu sudah menjalankan kewajibanmu. abang cukup melihat senyumanmu saja sudah senang," jawab Gara


15 menit kemudian, Gara sudah selesai menyeka Nifa. Setelah menyeka, Gara memakaikan kembali pakaian Dina lalu mengajaknya tidur.


"Ayo tidur, sudah malam," ucap Gara


"Bang, aku mau ke kamar mandi," jawab Dina


Dina hanya mengangguk


"Ya sudah, ayo abang bantu," jawab Gara


Gara saat itu menuntun Dina ke kursi roda lalu mengantarkannya ke kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi, Gara membantu Dina duduk di closet.


"Abang tinggal saja dulu, kakiku aman kok," ucap Dina


"Ini kakimu nggak boleh sampek kebentur sesuatu dan basah kena air. harus abang jaga ini. abang nggak mau ambil risiko. kita tunggu saja sampai minggu depan kamu kontrol dan ganti perban," jawab Gara


"Bang, tapi ini menjijikkan, abang jangan seperti ini, aku jadi merasa tak berguna," ucap Dina


"Sudah nggak apa apa, jangan mikir aneh aneh. abang fokus jaga kakimu, kalau kamu banyak bicara abang bisa melakukan hal yang tidak kamu duga," jawab Dina

__ADS_1


10 menit kemudian, Dina sudah selesai dengan aktivitasnya. Gara yang dari tadi fokus menjaga kaki Dina langsung bergegas membantu Dina duduk di kursi roda.


"Ayo, kalungkan tanganmu ke leher abang," ucap Gara


Dina mengalungkan tangannya ke leher Gara kemudian Gara langsung mengangkat Dina ke kursi roda. Setelah berhasil duduk di kursi roda, Gara mengantarkan Dina kembali menuju kamar. Namun ketika sampai kamar, Gara melihat Dina yang sepertinya tidak bisa tidur.


"Kamu nggak bisa tidur?" tanya Gara


"Aku hanya bingung memikirkan arah tujuan hidupku kedepanya" jawab Dina


"Tujuan hidupmu apa sebelumnya?" tanya Gara


"Damai, damai adalah tujuan hidupku," jawab Dina


"Sematkan bahagia dalam tujuan hidupmu. Jangan berputus asa dengan kehidupan, itu akan membuat hatimu menangis. abang paham, apa yang kamu rasakan saat ini. kamu merasa masa depanmu ini itu karena kakimu saat ini begini. kamu merasa tak ada harapan. tapi yang perlu kamu pikirkan adalah bagaimana kamu membuat orang sekitarmu senang. kamu harus yakin bisa sembuh, jangan pernah risau dengan masa depanmu." saut Gara


"Bang, aku sekarang nggak masalah masa depanku hancur atau bagaimana. aku hanya nggak ingin masa depan abang hancur karena aku, abang punya banyak mimpi dan harapan padaku tapi aku tidak bisa mengabulkannya," jawab Dina menangis


Gara saat itu langsung memeluk Dina yang menangis.


"Abang nggak pernah merasa masa depan abang hancur. abang malah bersyukur bisa dikasih kesepempatan menjadi pendampingmu. jujur abang senang perlahan hubungan kita ada kemajuan. kamu sudah nggak takut abang, kamu perhatian sama abang, kamu udah nggak benci abang," saut Gara


"Apa abang seperti ini karena kasihan padaku? aku tidak ingin di kasihani," jawab Dina


"Abang nggak kasihan sama kamu. tapi abang khawatir. jadi cepatlah sembuh supaya orang orang yang mengkhawatirkanmu tidak khawatir lagi," sautw Gara.


Tak lama kemudian Dina diam dalam tangisnya kemudian tidur di pelukan Gara. Setelah Dina tertidur, Gara mengelus rambut Dina supaya Dina bisa nyenyak dalam tidurnya.


Setelah melihat Dinas tertidur, Gara mulai memikirkan cara agar rumah tangganya terus kokoh. Gara berharap agar rumah tangganya abadi hingga ajal memisahkan.


"Semoga aku bisa menjaga keutuhan rumah tanggaku," batin Gara

__ADS_1


__ADS_2