
1 bulan kemudian, Gara sudah mulai merasakan padatnya jadwal menjadi seorang CEO. Gara bahkan sering keluar kota untuk urusan kerja sama perusahaan. Sarapan dan makan malam mulai jarang bersama. Waktu luangnya bersama Dina hanya ada di malam hari. Itu pun Dina sudah tertidur karena Gara pulang diatas pukul 9 malam.
Awalnya Gara masih memaklumi kesibukanya walau ada rasa yang berbeda dari kehidupanya sekarang. Gara dan Dina seperti sepasang suami istri yang tidak harmonis. Padahal rumah tangga Gara dan Dina tidak ada masalah apa apa.
Gara lebih fokus ke pekerjaanya, sementara Dina lebih fokus menjaga Fia. Perkembangan Dina saat ini sudah mulai bisa berjalan dengan penyangga. Dalam pikiran Gara seiring pulihnya keadaan Dina seharusnya bisa lebih dekat karena pernikahan sudah dilegalitaskan.
"Mengapa aku merasa hubunganku dan Dina renggang ya, padahal tidak terjadi apa apa, aku sibuk bekerja dan Dina sibuk di rumah. apa aku perlu mengajak Dina keluar ya? sudah lama sekali aku tidak ajak Dina keluar," batin Gara
Gara yang saat ini di kantor mencoba menghubungi Dina ingin ajak jalan jalan nanti malam.
📩 "Assalamualaikum Dina, kamu nanti malam siap siap ya, abang bermaksud ingin mengajak kamu keluar setelah pulang kerja," pesan Gara
📩"Waalaikumsalam, iya aku nanti akan bersiap siap," balas Gara
📩 "Baik, abang nanti pulang jam 5 sore, habis magrib setelah shalat, kita akan keluar cari makan malam," pesan Gara
📩 "Iya, aku akan kasih tahu pelayan agar tidak masak makan malam," balas Dina
Dari gaya Gara mengirim pesan pada Dina, Gara menyadari jika bahasanya maupun bahasa Dina terlalu formal. Sehingga Gara merasa seperti orang yang baru saling kenal sedang melakukan pendekatan. Padahal sebelumnya Gara selalu mengirimkan emotion ❤😘, kata kata romantis, dan dan memanggil sayang.
"Mengapa bahasaku begini ya? aku merasa canggung mau romantis. aku makin kesini merasa makin jauh dari Dina. aku deketan sama Dina mentok cuma tidur malam dan sarapan pagi. aku tidak nyaman dengan keadaan yang renggang begini. mungkin dengan ketemuan aku bisa memperbaiki semua," batin Gara
++++++++++++++
Sore hari, Gara sudah pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Gara langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan shalat maghrib. Namun di dalam kamar, Gara tak menjumpai Dina. Gara saat itu menduga kalau Dina sedang bermain bersama Fia.
"Mungkin Dina sedang bersama anak itu. Cih, aku sangat membenci anak itu. nanti aja deh setelah mandi, shalat aku akan temui Dina," ucap Gara.
Semakin hari, Gara memang membenci Fia karena merasa dijebak oleh Selly. Berbeda dengan Dina yang tak terpengaruh apapun. Dina malah terlihat semakin dekat dengan Fia. Bahkan foto di ponsel Dina saat ini dipenuhi foto Fia.
__ADS_1
20 menit kemudian, Gara sudah selesai mandi dan shalat. Setelah mandi dan shalat, Gara saat itu langsung menuju kamar tamu untuk menemui Dina. Namun baru saja keluar kamar, Gara tiba tiba melihat Dina di hadapanya.
"Abang sudah bersiap siap?" tanya Dina
"Iya, ayo cepat kamu siap siap, habis ini berangkat," jawab Gara
Dina saat itu terdiam khawatir seperti ada sesuatu yang terjadi. Gara yang menyadarinya ekspresi Dina langsung menanyainya.
"Apakah ada sesuatu?" tanya Gara
"Maaf Bang, hari ini tiba tiba Fia demam, aku memutuskan di tunda saja di hari lain kita keluarnya," jawab Dina
"Din, sudah ada suster disini. anak itu biar dijaga suster. kita berdua bisa pergi. abang susah cari waktu luang Din, pekerjaan abang sangat banyak dan sering keluar kota dan pulang malam," saut Gara
"Tapi aku tidak bisa meninggalkan Fia sendirian Bang, aku nggak tenang, kalau nanti Fia cari aku gimana? kalau dia menangis gimana?" jawab Dina
"Kita hanya keluar sebentar, cuma makan malam aja, sekalian beli obat untuk anak itu di apotek," saut Gara
"Baiklah," saut Gara
Gara akhirnya memilih mengalah dan menuruti keinginan Dina. Walaupun dalam hatinya kesal, Gara lebih mementingkan Dina tidak marah denganya. Sejak pertama kali Fia dititipkan Selly kepadanya, Gara tidak suka dengan Fia. Raut wajah mengemaskan Fia tak mampu menggoyahkan hatinya.
+++++++++
3 jam kemudian, Gara saat itu bersiap untuk tidur. Namun Gara tidak bisa tidur karena sendirian di kamarnya. Hari ini sejak Gara pulang kerja, Dina tidak pernah keluar dari kamar Fia. Bahkan makan malam tadi Gara sendirin tanpa ditemani Dina.
Semenjak menikah dengan Dina, Gara memang sudah terbiasa tidur dengan Dina. Bahkan saat kerja di luar kota, Gara tak nyenyak tidurnya karena tidak ada Dina. Tak ingin tidak tidur bersama Dina, Gara saat itu mencoba menemui Dina dan mengajaknya tidur bersama.
"Din, sudah malam, ayo kita tidur ke kamar?" bujuk Gara
__ADS_1
"Malam ini aku ijin tidur sama Fia ya Bang? aku tidak tenang jika meninggalkan Fia sakit," jawab Dina
"Dina, ada suster yang bersamanya, Fia pasti aman bersama suster," saut Gata
"Nggak Bang, aku malam ini tetap akan tidur bersama Fia. Malam ini aku akan berjaga untuk Fia, takutnya tengah malam Fia akan terbangun mencariku. aku jika tidur di kamar nanti jalan nggak bisa cepet saat ke kamar Fia," jawab Dina
"Din, mengapa kamu selalu mengkhawatirkan anak itu? kalau kasih perhatian sewajarnya saja. abang heran sama kamu, sejak ada anak ini kamu seperti lupa dengan abang," ucap Gara kesal
"Maksud abang aku lupa abang bagaimana? aku tiap hari masih ingatkan abang mandi, ingatkan.abang bangun, ingatkan abang makan. aku sadar jika aku tak bisa melayani abang sepenuhnya, abang ingin aku bagaimana?" tanya Dina
"Abang merasa kita semakin jauh, abang merasa kamu lupa sama abang karena anak itu. anak itu juga anak perempuan licik. kalau kamu seperti ini terus abang akan serahkan anak ini ke kepolisian," jawab Gara
"Sampai kapan pikiran abang berubah? kapan abang bisa berpikir jernih? anak ini masih balita dan tak tahu apa apa. orangtua anak ini buronan, bagaimana abang tega serahkan anak ini ke orangtuanya yang jelas jelas tak mau merawatnya," saut Dina
"Tapi itu bukan urusan kita, lagian anak itu bukan anak abang. kamu sudah lihat juga hasilnya. kamu paham kan kalau wanita itu sengaja menghancurkan rumah tangga kita," ucap Gara
"Aku nggak peduli, silahkan abang laporkan ada anak kehilangan ke polisi. tapi aku akan kukuh ingin merawatnya," jawab Dina
"abang merasa terbaikan melihatmu seperti ini terus. abang pulang kerja sering makan sendirian, sarapan sering sendirian, kita hanya bersama waktu tidur saja, dan sekarang kamu nggak mau tidur sama abang?" tanya Gara
Dina saat itu masih kesal dengan Gara yang sangat kekanakan. Tak ingin terus berdebat, Dina memberi Gara pilihan.
"Aku tidak mau banyak berdebat, sekarang abang pilih keluar atau kita bertiga tidur disini," ucap Dina
"Abang tidak mau tidur dengan anak itu, abang mohon mengertilah," jawab Gara
"Jika abang seperti ini terus? bagaimana masa depan kita bisa tertata? kita belum punya anak saja abang sudah seperti ini? apa akan seperti ini abang jika punya anak? seharusnya abang jangan kekanakan. masa kedepanya abang cemburu dengan anak sendiri?," saut Dina
"Tentu beda jika anak abang sendiri. dan pertanyaanya, apakah kamu sudah siap memiliki anak? apakah kamu memikirkan itu? abang mengerti kondisimu dan sampai saat ini abang sabar menunggumu. apakah kamu merasa sempurna sekarang? sampai sampai kamu mengatakan abang kekanakan?," jawab Gara
__ADS_1
Degg