
Malam ini, Gara tak bisa tidur jika kalung yang dibelinya tidak segera diberikan pada Dina. Tanpa berpikir panjang, Gara ingin diam diam masuk ke kamar Dina dan menakaian kalung.
"Sebaiknya aku diam diam menyelinap ke kamarnya lalu memakaikan ini," ucap Gara
Gara saat itu langsung berjalan menuju kamar Fia. Namun sesampainya di kamar Fia, Gara tak menemukan Dina di dalam.
"Loh? dimana Dina? bukannya Dina tidur di kamar Fia," batin Gara.
Gara saat itu mengecek setiap sudut rumah untuk mencari keberadaan Dina. Tempat pertama yang di telusuri Gara adalah dapur. Namun belum sampai langkah kakinya di dapur, Gara mendengar suara Dina menangis.
"Suara wanita menangis, ini pasti suara Dina. aku yakin ini suara Dina. mengapa Dina menangis? dimana Dina sekarang?" tanya Gara
Gara saat itu menyusuri sumber suara Dina menangis. Tak butuh waktu lama, Gara akhirnya menemukan sumber suara Dina menangis di kamar orangtuanya. Pintu kamar orangtua Dina tertutup dan terkunci. Tanpa berpikir panjang, Gara mengetuk pintu kamar agar Dina membukanya.
"Tok...Tok...Tok..."(suara ketukan pintu)
"Dina...buka pintunya..." ucap Gara
Gara melakukanya berulang ulang tapi tidak ada respons dari Dina. Sempat berpikiran ingin mendobrak, tapi takut Dina kaget dan makin marah padanya. Hingga akhirnya, Gara teringat masa masa sekolahnya dulu pernah membuka pintu terkunci menggunakan peniti. Tanpa berpikir panjang, Gara mencoba mencari peniti untuk membuka pintu kamar yang terkunci.
"Coba aku buka pintunya pakai peniti, Dina sepertinya punya banyak peniti di laci kamar,," ucap Gara
Gara saat itu langsung berlari menuju kamar untuk mengambil peniti di laci. Setelah mengambil peniti, Gara langsung kembali menuju pintu kamar lain yang di dalamnya terdapat Dina.
Gara saat itu memasukan peniti sebagai pencungkil pada lubang kunci pintu. Awalnya Gara nampak kesusahan, tapi setelah Gara memaksa peniti beputar-putar menggeser kunci, akhirnya terdengar suara gesekan pintu menjadi posisi terbuka.
"Ceklek" (suara pintu terbuka)
Gara saat itu masuk ke dalam untuk menemui Dina. Di dalam kamar orangtua Dina, Gara melihat Dina menatap langit malam sembari menempelkan foto keluarganya di jendela. Foto yang dipasang Dina adalah foto terakhir kali Dina merayakan ulang tahun bersama keluarganya.
Gara merasakan kesepian Dina
"Dina..." sapa Gara
Dina saat itu menoleh karena terkejut Gara memanggilnya.
"Mengapa abang disini? tadi kita sudah sepakat kan? saat ini aku butuh waktu sendiri. abang jangan salah paham. aku menangis hanya karena rindu ayah dan mamaku. semoga abang mengerti," ucap Dina
"Kamu menangis karena itu?" tanya Gara
"Ternyata abang lupa ulang tahunku, ya sudah nggak apa apa, ini sudah resiko keputusanku membuka hati untuk pria yang perah mempermainkanku. jika benar perselingkuhan terjadi aku harus tegas berpisah Bang Gara," batin Dina
Gara yang melihat Dina terdiam langsung maju dan memeluknya. Gara ingin memberikan penguatan pada Dina agar tidak merasa sendiri. Dina merasa nyaman ketika Gara memeluknya. Namun pikiran Gara menyelingkuhinya membuat Dina memaksakan diri untuk keluar dari pelukan Gara
__ADS_1
"Bang, aku mohon lepas," ucap Dina
Gara saat itu melepas pelukanya lalu menuntun Dina duduk di ranjang. Setelah mendudukan Dina, Gara bersimpuh di depan Dina dan mengatakan sesuatu.
"Selamat ulang tahun sayang, abang mencintaimu. semoga kebaikan selalu menyertaimu. jangan pernah berpikir abang pergi meninggalkanmu. dan sebaliknya jangan pernah berpikir kamu meninggalkan abang." ucap Gara
Gara kemudian mengusap air mata Dina yang dari tadi mengalir.
"Abang tidak mungkin lupa dengan hari istimewamu ini. abang tahu kamu pasti merindukan suasana kebersamaan keluargamu. tapi kamu tenang saja, ada abang sekarang. jangan pernah merasa sendiri. abang ingin merayakan ulangtahunmu," ucap Gara
"Aku tidak butuh itu, abang tak perlu memaksakan diri," jawab Dina
"Kamu istri abang, ini abang ada hadiah buat kamu," ucap Gara
"Tidak tidak, aku mohon abang jangan seperti ini," jawab Dina
"Loh? kenapa?" tanya Gara
"Aku tahu abang ingin aku lupa dengan semuanya. abang juga tahu kalau aku wanita gampang luluh jika kena bujuk rayu. aku tidak mau sakit hati lagi jika itu terjadi," ucap Dina
"Abang bukan pria brengsek dan pengecut lagi saat Ini, abang berani buktikan." jawab Gara
Gara saat itu tanpa izin memasangkan kalung di leher Dina. Setelah memasangkan kalung, Gara menceritakan alasan membelikan Dina kalung bermotif huruf G.
"Terima kasih, sekarang abang boleh pergi," saut Dina
Gara kemudian beranjak pergi meninggalkan Dina. Sementara Dina yang baru saja ditinggal pergi tiba tiba perutnya mual.
"Huk," (suara Dina mual)
Dina berkali kali terus mual tapi tidak bisa di muntankan. Dina berusaha menahan suara mualnya supaya suaranya tidak terdengar
"Sayang, kamu masuk angin," ucap Gara
"Tidak, aku baik baik saja, huk..." jawab Dina masih mual
"Loh kamu ngaku baik baik saja tapi kamu mual," saut Gara
"Ini hal biasa, tengah malam jika susah tidur aku mesti mual," jawab Dina
"Abang bukan Fia yang bisa kamu bohongi, kamu pasti masuk angin, abang oleskan minyak ya?" tanya Gara
Gara saat itu refleks menatap perut Dina
__ADS_1
"Mengapa aku berharap Dina hamil ya? nggak mungkin kan Dina hamil. Dina hari ini datang bulan,.." batin Gara
Sementara Dina yang merasa perutnya di tatap oleh Gara merasa tidak nyaman. Tanpa berpikir panjang, Dina langsung mengalihkan perhatian Gara..
"Abang sebaiknya balik ke kamar, tinggalkan aku sendirian di kamar orangtuaku," ucap Dina
"Tidak, abang tidak akan pergi sebelum kamu enakan," jawab Gara
"Terserah abang saja," jawab Dina
Gara kemudian mengambil minyak urut dan tak lupa membuatkan wedang jahe. Setelah semua siap, Gara menyuruh Dina melepaskan baju.
"Lepas bajumu, biar abang pijat pakai minyak," ucap Gara
"Ini sudah malam, dan aku...." jawab Dina
"Abang paham, kamu tenang saja, abang cuma pijatin kamu saja nggak lebih," saut Gara
Tangan Gara saat itu perlahan lahan memijat punggung Dina. Namun baru beberapa menit dipijat, Dina merasakan gejolak diperutnya kemudian memuntahkanya.
"Huekk..." (Dina memuntahkan isi perutnya)
Gara yang melihat Dina muntah langsung mengambilkan air putih dan mengolesi perut Dina dengan minyak kayu putih.
"Sudah enakan perutnya?" tanya Gara
Dina tak menjawab dan malah kembali memuntahkan isi perutnya. Muntahan Dina yang kedua terjadi secara spontan. Sehingga dengan Gara saat itu terkena muntahan Dina.
"Maaf bang, aku tidak sengaja. aku akan bantu abang bersihkan," ucap Dina
"Tidak usah, kamu disini saja. kalau mau muntah lagi, muntahkan saja biar perutnya enakan," jawab Gara
Dina saat itu lagi lagi memuntahkan isi perutnya hingga menangis. Sementara Gara yang melihat Dina menderita merasa tidak tega. Tanpa berpikir panjang, Gara saat itu mengajak Dina ke rumah sakit.
"Abang bawa kamu ke rumah sakit ya, sekarang abang bantu siap siap," ucap Gara
"Tidak usah ini tengah malam. besok saja, ini juga sudah mulai mendingan," jawab Dina
"Kamu yakin?" tanya Gara
"Iya, abang bisa pergi. untuk muntahanku ini akan segera aku bersihkan," jawab Dina
"Kamu sekarang istirahat saja. semua biar abang yang urus. jika nanti abang sudah selesai, abang baru pergi balik ke kamar," saut Gara
__ADS_1