
"Bang, siapa yang mengizinkanmu masuk, aku mohon keluarlah," ucap Dina
Gara hanya diam dan tak peduli dengan ucapan Dina. Gara saat itu justru mendekati Dina kemudian memeluk tubuh Dina. Dina hanya pasrah ketika Gara memeluk dirinya. Namun ketika Gara memeluk Dina, Dina merasakan Gara terisak tangis.
"Bang," ucap Dina
"Din, setelah ini jangan seperti ini lagi ya, mereka tidak pantas kamu tangisi. kamu harus kuat. abang tidak bisa melihatmu menangis. abang ikut keluar air mata ini karena merasakan deritamu Din, kesedihanmu itu juga kesedihan abang," jawab Gara
Dina hanya terdiam tak menjawab
"Abang tahu kamu marah. abang minta maaf, tapi percayalah abang melakukan hal tadi karena abang ingin membuktikan pada mereka. jika kamu juga pasti bahagia bersama abang," ucap Gara
Gara kemudian melepaskan pelukanya lalu mengatakan sesuatu.
"Kamu pasti bahagia. asal jangan takut membuka hatimu, abang pastikan tidak akan ada lagi satu orang pun yang bisa menyakitimu lagi termasuk diri abang sendiri," ucap Gara
"Abang tidak pernah merasakan menjadi diriku. abang tidak akan pernah bisa, jadi setelah kesepakatan selesai aku mohon abang tinggalkan aku," jawab Dina
"Meninggalkamu? abang tidak akan meninggalkanmu. beri abang waktu untuk membuktikan kepadamu kalau abang tulus mencintaimu. abang juga akan selalu ada untukmu dan setia sama kamu," saut Gara
Dina hanya terdiam
"Kamu tenang saja, di pernikahan mereka nanti abang akan temani kamu," jawab Gara
"Bang, aku sanggup datang sendiri tanpa abang temani," saut Dina
"Abang tetap akan temani kamu," jawab Gara tegas
"Tapi mereka tidak undang abang, abang hargai mereka," saut Dina
"Aku akan hadir dengan undangan. kamu jangan khawatirkan itu," jawab Gara
"Ya sudah terserah abang saja, aku mau ke rumah sakit jenguk mama. aku tidak pulang malam ini. abang nanti makan bisa disiapkan Bik Sri nanti," ucap Dina
++++++++++++
Sore hari, Dina sudah berada di rumah sakit menjenguk Bu Gita. Keadaan Bu Gita masih belum ada kemajuan dan masih koma. Sudah hampir 1 minggu Bu Gita mengalami koma. Dina sangat takut hal buruk terjadi pada Bu Gitar jika keadaan tidak ada kemajuan.
__ADS_1
"Ma, aku mohon cepat bangun. mama ingin lihat aku nikah kan? aku sudah nikah Ma," ucap Dina.
Tak lama kemudian, Dina menyadari ada pintu ruang ibunya terbuka. Dina sontak menoleh ke arah pintu ternyata Gara membawakanya makanan.
"Ini aku bawa bubur ayam, ayo makan," ucap Gara
"Aku sudah makan,"jawab Dina
"Kamu nggak bisa bohongin abang. kamu belum makan siang, isi perutmu. selera atau tidak selera jangan sampai perutmu kosong," saut Gara,
Gara tahu Dina belum makan karena saat keluar dari ruang kantornya, Dina langsung menyuruh Pak Suryo membereskan barang barangnya di kantin dan membawakanya pulang. Sementara Dina langsung berangkat menuju rumah sakit menggunakan taksi.
"Aku tidak berselera makan, aku takut terjadi sesuatu mama....: ucap Dina
"Heh, nggak boleh berpikiran buruk, ayo terus berdoa yang positif untuk mama, nanti habis shalat maghrib, kita baca al quran sama sama," jawab Gara
"Abang nggak langsung pulang? sebaiknya abang pulang saja, kasihan Bik Sri sendirian," saut Dina
"Urusan pulang gampang, sekarang abang mau kamu harus makan. kalau kamu tak selera biar abang suapi," jawab Gara
Gara kemudian membuka bungkus bubur ayam yang dibelinya lalu menuangkan kuah kaldunya di bubur. Setelah itu, Gara menyuapkan satu sendok bubur ayam ke mulut Dina.
"Aku bisa sendiri Mas," jawab Dina
"Kalau kamu makan sendiri nggak akan selesai selesai cuma kamu adukin aja, abang mau kamu nurut ayo, buka mulut aaakk.." saut Gara
Dina akhirnya terpaksa membuka mulutnya. Sementara Gara sangat senang bisa menyuapi Dina. Karena bagi Gara, perhatian kecilnya bisa membuat Dina nyaman bersamanya.
"Abang akan buat kamu semakin nyaman dengan kehadiran abang disisimu. abang ingin kamu bahagia,"batin Gara
Tak terasa, bubur ayam di bungkusan sudah tinggal beberapa suap saja tapi Dina sudah kenyang.
"Maaf, aku sudah kenyang, porsinya terlalu banyak," ucap Dina
"Baiklah, ini minumlah," jawab Gara
Dina kemudian meminum botol aqua kecil yang diberikan Ardian. Sementara Gara menghabiskan sisa porsi bubur ayam yang tidak dihabiskan Dina. Dina yang melihatnya Gara memakan bubur dengan sendok bekasnya hanya bisa menatap heran. Selama ini belum ada pria selain Gara yang memakan sendok bekas mulutnya.
__ADS_1
"Kok ngelihatin abang kaya gitu?" tanya Gara merasa ditatap
"Sendoknya...." jawab Dina terpotong
"Santai saja Din, yang penting bukan bekas sendok wanita lain kan, ini bekas istri abang," ucap Gara
Gara kemudian melanjutkan suapan terakhirnya lalu meminta botol aqua kecil yang dipegang Dina.
"Din abang minta minum," ucap Gara
Dina mengambilkan botol aqua kecil baru di dalam keresek tapi dicegah oleh Gara.
"Abang minum yang kamu bawa saja," jawab Gara
"Ini masih ada yang baru, sebaiknya abang minum botol yang baru saja. ini bekasku sisa separuh," ucap Dina
"Gak apa apa, kamu pikir abang jijik gitu? minum air di botol bekas istri abang sendiri ngapain abang jijik. abang hanya ingin selalu merasa dekat saja denganmu," jawab Gara
Gara kemudian merebut botol minum Dina lalu meminumnya. Setelah meminumnya hingga habis, Gara izin pergi ke toilet.
"Abang tinggal di toilet bentar," ucap Gara
Dina hanya mengangguk membiarkan Gara pergi ke toilet. Dina saat itu melihat jam sudah menunjukan pukul 17.15 WIB. Dina cukup terkejut melihat jam di dinding, karena tak terasa Dina merasakan kehadiran Gara selama 3 jam lebih menemaninya di rumah sakit.
"Wah, Bang Gara sudah tiga jam disini. aku harus menyuruhnya pulang keburu hujan," jawab Dina
Tak lama kemudian, Gara keluar dari toilet dengan mengganti celananya dengan sarung. Dina yang melihatnya sebenarnya terpanah melihat penampilan agamis Gara. Tapi prinsip Dina yang tak mau membuka hatinya membuat Dina terus tidak ingin terhanyut pesona Gara.
"Bang, ini sudah mau maghrib, sebaiknya abang pulang sebelum hujan," ucap Dina
"Loh kok abang di usir? kalau hujan ya gampang. abang bisa bermalam sama kamu disini," jawab Gara
"Disini tidak ada tempat untuk menginap. sofa di ruang ini hanya ada satu," saut Dina
"Abang bisa tidur dimana aja, bisa di lantai atau bisa diluar. abang kalau pulang malah justru tidak tenang membiarkanmu bermalam disini sendiri," jawab Gara
"Aku sudah biasa bermalam sendiri bang, abang tak perlu khawatir. sebelum ada abang aku sering bergantian bermalam jaga mama sama Bik Sri," saut Dina
__ADS_1
"Sekarang kamu sudah bersuami. dan abang suamimu. jadi sudah kewajiban abang untuk menjagamu. sebentar lagi magrib sebaiknya kamu mandi setelah itu kita persiapan salat jamaah," jawab Gara
Dina akhirnya hanya pasrah dan tidak mendebat Gara