MENGEJAR CINTA IBU KOS MUDA

MENGEJAR CINTA IBU KOS MUDA
Episode 94 - SENGKETA PERUSAHAAN


__ADS_3

3 hari kemudian, suhu tubuh Gara tak kunjung reda. Sejak hari pertama sakit, Gara selalu mengatakan keadaanya baik baik saja. Awalnya Dina mengira Gara demam biasa. Namun karena sudah 3 hari, Dina memaksa Gara untuk berobat ke rumah sakit.


"Hari ini abang harus ke rumah sakit. abang sudah demam tiga hari. aku akan suruh satpam bantu antar abang ke rumah sakit," ucap Dina panik


"Abang nggak apa apa sayang, abang tadi habis kena air saja karena cuci muka tadi," jawab Gara


"Nggak, pokoknya abang harus ke rumah sakit. obat penurun demam kalau tiga hari masih demam harus diperiksakan. abang jangan lagi menolak dibawa ke rumah sakit," ucap Dina


"Abang nggak suka rumah sakit sayang, bau obat, nanti abang malah makin sakit dan nggak sembuh disana," jawab Gara


"Tidak ada sejarahnya orang berobat di rumah sakit malah makin sakit. buat apa ada rumah sakit jika orang yang berobat malah makin sakit dan nggak sembuh?" saut Dina


"Tapi kan banyak di berita. dokter yang malpraktek dan pasien nggak di urus," jawab Gara


"Itu oknum, abang jangan mikir aneh aneh. pokoknya abang harus ke rumah sakit," saut Dina


Dina sudah tahu tabiat Gara yang selalu tidak ingin membuat orang sekitarnya khawatir. Walaupun Gara terus masih menolaknya, keputusan Dina tetap bulat keputusannya untuk bawa Gara ke rumah sakit.


"Ayo sekarang abang ganti baju sebelum ke rumah sakit," ucap Dina


Dina langsung membantu Gara menggantikan pakaianya.


"Sayang, kamu nggak sabaran banget main buka pakaian abang. jangan cemberut begitu. kalau pingin pegang langsung pegang aja. kamu bisa pegang tubuh abang sepuasmu," goda Gara


Dalam kondisi sakit, Gara masih bisa melawak dengan menggoda Dina ketika menggantikan pakaianya. Hal itu membuat Dina ingin menangis karena merasa Gara ditengah kondisinya yang sakit masih berusaha menghibur dan tidak ingin membuatnya orang khawatir.


"Nih tubuh abang sudah panas begini masih ngaku baik baik saja? masih bisa gombal pula," ucap Dina


"Ah...ini panas gara gara cuci muka tadi. abang sudah sehat kok, kamu kalau mau main berapa ronde pun abang siap. mumpung abang kamu buka nih pakaianya," goda Gara

__ADS_1


"Jangan banyak gerak bang, diam dulu aku mau ganti pakaian abang," jawab Dina


Gara saat ini sudah kondisi tanpa sehelai benang. Tanpa malu, Gara saat itu memamerkan tubuhnya yang bugar


"Lihat sayang, ini sudah berdiri. abang ini sehat, mengapa buru buru dipakaikan pakaian? nanti kamu kepikiran bentuk tubuh abang loh. jangan berani main diem dieman pegang ini abang," goda Gara


Dina hanya diam tidak menanggapi ocehan Gara.


Gara terus menggoda Dina di tengah keadaanya yang masih demam dan wajahnya pucat. Dengan semangat Gara menantang Dina melakukan hubungan intim. Gara ingin membuktikan pada Dina kalau tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari kesehatan dirinya. Gara terus mengekspresikan wajahnya terlihat sehat dan kuat.


Namun, Dina bukan anak TK yang bisa dibohongi. Tubuh Gara yang panas, wajah Gara yang pucat dan mata Gara yang berkaca kaca sudah pertanda Gara saat ini sedang sakit.


"Udah, abang jangan banyak bicara. habis ini kita langsung ke dokter," ucap Dina


"Kita ke rumah sakit periksa kandunganmu ya? abang habis ini siapkan mobil," jawab Gara


"Ayo bang, kita ke rumah sakit. aku sudah minta tolong satpam kos untuk antar kita ke rumah sakit," ucap Dina


"Maaf, abang nyusahin kamu beberapa hari ini," jawab Gara


"Gak usah minta maaf, ini sudah tugasku," saut Dina


+++++++++++++


2 jam kemudian, Dokter memberikan kabar jika Gara saat ini memasuki fase kritis demam berdarah. Ketika penderita DBD di fase kritis, dokter mengatakan gejalanya sangat rawan terjadi dehidrasi dan kebocoran plasma jika tidak ditangani dengan benar. Untungnya, Gara masih bisa diselamatkan dengan diberikan penanganan intensif.


"Pasien harus rawat inap untuk pemantauan lebih intens perkembangan trombosit yang saat ini rendah. untuk sementara ini pasien harus hindari memakan makanan pedas yang memicu diare. karena diare dapat memicu dampak dehidrasi berkepanjangan," ucap Dokter


"Apakah suami saya saat ini baik baik saja?" tanya Dina

__ADS_1


"Pasien tadi membrontak saat diperiksa. pasien terus merasa dirinya sehat dan baik baik saja. sehingga terpaksa kami memberi obat penenang sesuai SOP untuk mempermudah penanganan. jika menjenguk pasien,tunjukan jika anda baik baik saja. pasien tadi terus memikirkan kondisi istrinya saat hendak di periksa" jawab Dokter


"Iya Dok," saut Dina


Dina kemudian masuk kedalaman ruangan tempat Gara di rawat. Sesampainya di ruangan, Dina saat itu mengelus wajah damai Gara yang tengah tertidur. Dina hanya bisa menangis tanpa mengeluarkan suara. Dalam hidupnya bersama Gara, Dina baru kali ini melihat Gara terbaring lemah tak berdaya.


"Abang cepat sembuh ya, maaf aku selalu buat abang susah. aku janji setelah ini tidak akan membuat abang susah lagi. aku akan berpikir dua kali sebelum meminta sesuatu lagi ke abang. abang sudah banyak sekali berkorban untuku. terima kasih untuk semuanya. aku mencintaimu bang," ucap Dina lirih


Tak lama kemudian, perut Dina berbunyi pertanda sedang lapar. Dina sebenarnya tak berselera makan, tapi Dina tidak boleh egois. Calon bayi di dalam kandungan Dina harus mendapatkan asupan nutrisi untuk perkembanganya kedepan.


"Aku cari makan dulu ya Bang," ucap Dina lirih


Dina saat itu keluar dari ruangan Gara. Namun baru keluar pintu, Dina terkejut melihat kedatangan dua wanita tak dikenal berpenampilan seperti pengacara.


"Maaf, kalian ada urusan apa kemari?" ucap Dina


"Perkenalkan, nama saya Ayunda Lestari, M.H. saya adalah pengacara dari Tuan Handoko selaku ahli waris perusahaan. Disini ada yang perlu saya sampaikan terkait hasil putusan pengadilan tentang sengketa kuasa pemlik perusahaan," jawab Ayunda


"Tuan Handoko? maaf saya tidak kenal. apakah ini ada urusanya dengan suami saya? kalau iya, saya minta waktu nya untuk membicarakan hal ini. karena suami saya masih sakit," ucap Dina


"Iya, Tuan Handoko adalah adik dari Tuan Umar. dan Tuan Umar adalah ayah tiri dari Bapak Gara. Satu bulan yang lalu Tuan Umar meninggal dunia di Belanda. Tuan Handoko sebagai ahli waris berhak atas perusahaan yang saat ini di pegang kendali oleh Bapak Gara." jawab Ayunda


"Inalillahi waiinna ilaihi rojiun, terus apa hubungannya hasil putuskan sengketa ini dengan suami saya?" jawan Dina


"Tentu saja ada. ini masalah sudah lama. sebelum perusahaan dipegang kendali Bapak Gara, perusahaan sudah menjadi sengketa kedua belah pihak. Bapak Handoko merasa tidak adil jika perusahaan Tuan Umar langsung di pegang kendali oleh Bapak Gara yang bukan merupakan garis keturunan kelusrga. Maka dari itu Bapak Handoko mengajukan gugatan dan dikabulkan majelis hakim," saut Ayunda


"Tapi Bu, saya merasa suami saya tidak pernah tahu tentang gugatan sengketa perusahaan itu. nanti saya akan coba tanyakan suami saya saat sadar," jawab Dina


"Nanti ibu bisa hubungi saya kalau Bapak Gara sudah bangun. saya akan kembali untuk menyampaikan informasi dari ibu ini ke Pak Handoko," jawab Ayunda

__ADS_1


__ADS_2