
Dina saat itu kembali ke kamarnya setelah Bu Hanim menyuruhnya. Namun sesampainya di kamar, Dina melihat Gara dengan tatapan marah. Dina tidak tahu apa kesalahanya pada Gara. Tanpa berpikir panjang, Dina bertanya pada Gara
"Bang, ada apa?" tanya Dina
"Mengapa kamu malam malam keluar?" tanya Gara
"Tadi aku lihat ada suara bising di luar. dan pas keluar aku lihat sumber kebisingan itu dari pohon belakang kos. aku mencoba mendekati pohon belakang kos itu kerena aku pikir. ..." jawab Dina terpotong
"Cukup !!! abang nggak suka dengan tindakanmu yang nekat seperti ini. kamu itu sedang hamil jadi jangan ceroboh sebelum bertindak," saut Gara
"Tapi Bang, pas aku dekati pohon itu ada bibi disana. aku nggak tahu apa yang dilakukan bibi. tapi aku curiga sama bibi," jawab Dina
"Sudah abang jelaskan berapa kali sama kamu. abang sudah nggak mau bahas kejadian penyebab Fia jatuh. hilangkan rasa curigamu itu. semua ini hanya salah paham saja. abang mengenal bibi dengan baik. bibi yang merawat abang ketika orangtua abang berpisah. jadi jangan pernah lagi bahas ini lagi," ucap Gara
"Sebagai orangtua kita harus siaga bang, apa salahnya aku curiga dengan bibi? aku pun sama kaya abang. Bik Sri sudah ada dalam kehidupanku sejak bayi. bahkan ketika aku terpuruk Bik Sri selalu ada untuku," jawab Dina
Gara saat itu memilih mengalah tidak meladeni ocehan Dina. Bagi Gara, Dina malam ini jadi emosional karena pengaruh hormon kehamilanya. Gara tentu tak ingin Dina stress karena terlalu banyak berpikir. Tanpa berpikir panjang, Gara saat itu memilih mengakhiri pembicaraanya dengan Dina.
"Baiklah, sekarang sudah malam. ayo tidur," ucap Gara
"Jadi abang setuju denganku?" tanya Dina
"Abang ngantuk, ini sudah malam. nggak baik loh ibu hamil tidur malam malam. ayo sini tidur," jawab Gara
Dina yang sudah mengantuk saat itu akhirnya memilih merebahkan tubuhnya di kasur.
+++++++++++++
Sementara diisi lain, Bu Hanum sedang berbincang dengan seorang pria misterius di luar kos. Bu Hanum saat itu marah marah pada pria misterius yang sepertinya mengecewakanya.
"Kamu itu gimana sih? masa nggak bisa melakukan tugas mudah begitu? saya sudah bayar kamu mahal tapi nggak bisa menjalankan rencana itu. awas aja ya, jika ada yang mencurigaiku besok," ucap Bu Hanum
"Salah ibu sendiri tak bagi tahu aku penghuni detail di kos kosan ini," jawab Pria Misterius
"Saya sudah bilang sejak awal bertemu tadi, kamu yang lupa. jangan salahkan saya," saut Bu Hanum
"Baik Bu, saya yang salah," jawab Pria Misterius
__ADS_1
"Pokoknya saya nggak mau tahu ya. orang itu harus cepat disingkirkan disini. saya kasih waktu kamu sampai besok," ucap Bu Hanum
Bu Hanum kemudian pergi meninggalkan pria misterius itu. Sementara itu pria misterius bukanya ikut pergi dari kos dan malah justru tiba tiba menyekap Bu Hanum dengan kain.
"Hemmmm....Hemmm...." teriak Bu Hanum
"Kau pikir aku bodoh? Kamu adalah jembatan aku bisa masuk kedalam kehidupan keponakanmu. kamu menyuruhku menyingkirkan orang di foto itu? tentu saja aku pasti menyingkirkan tapi aku harus menjadikanmu tumbal agar bisa masuk dalam kehidupan mereka," jawab Pria Misterius
Pria Misterius itu kemudian menuntun bius Bu Hanum hingga pingsan. Setelah itu, sebelum pergi meninggalkan kos, Pria Misterius itu menulis sebuah kertas lalu di taruhnya di kamar Bu Hanum.
"Beres..." batin Pria Misterius
+++++++++++
Pagi hari, Gara dan Dina saat itu mengecek etalase Bu Hanum yang hendak di pakai untuk usaha laundry dan warung makan kedepanya. Namun ketika mengecek, Gara saat itu tidak menemukan kunci untuk membuka etalasenya.
"Kuncinya kok nggak ada ya? harusnya ada kuncinya untuk buka etalasenya," ucap Gara
"Mungkin kuncinya dibawa Bibi," jawab Dina
"Oh iya, kamu coba minta kuncinya ke bibi di kamarnya," ucap Gara
Dina saat itu mencari Bu Hanum di kamarnya. Namun sesampainya di kamar Dina tidak melihat ada Bu Hanum
"Bibi nggak ada di kamar. apa bibi bantu Bik Sri masak?" batin Dina
Dina saat itu mencari Bik Sri di ruang kamar kosong yang dijadikan dapur. Sesampainya di dapur, Dina tetap tidak melihat keberadaan Bu Hakim.
"Bik Sri, apakah Bik Sri tahu keberadaan bibi?" tanya Dina
"Saya nggak lihat Nyonya, mungkin masih di kamar," jawab Bik Sri
"Saya udah cek kamarnya tapi bibi tidak ada," ucap Dina
"Apa jangan jangan ikut Nak Adit survei tempat pembangunan warung dan toko laundry?" tanya Bik Sri
"Nggak mungkin Bik, tadi Adit berangkat sendiri dan sempat pamitan sama saya dan Bang Gara," jawab Dina
__ADS_1
"Wah, saya nggak tahu Nyonya," saut Bik Sri
"Baik Bi, saya coba informasikan ini pada Bang Gara," jawab Dina
Dina saat itu kembali ke tempat Gara semula lalu menginformasikan keberadaan Bu Hanum.
"Bang, bibi nggak ada di kompleks kos ini. aku sudah mencarinya ke kamar dan sudah tanya Bik Sri juga," ucap Dina
"Apa mungkin belanja?" tanya Gara
"Aku nggak tahu Bang," jawab Dina
Gara saat itu mengajak Dina cari petunjuk dengan masuk kedalam kamar Bu Hanum. Sesampainya di kamar Bu Hanum, Dina saat itu tak sengaja menemukan kertas di bantal.
"Bang, aku menemukan surat ini," ucap Dina
"Coba buka, siapa tahu petunjuk," jawab Gara
Dina saat itu membuka surat yang ditemukanya. Surat itu bertuliskan.
Jika kalian nemu surat ini berarti bibi sudah pergi. Maaf Bibi tidak mengabari kalian sebelum pergi. karena mendadak bibi dapat info jika tetangga bibi butuh banyak rewang untuk pernikahan anaknya yang nikah di luar kota ...
Setelah membaca surat dari Bu Hanum, Dina saat itu merssa lega jika Bu Hanum hanya ikut rewang tetangganya. Namun berbeda dengan Gara yang menunjukan ekspresi gelisah.
"Bang, bibi ada rewang di luar kota. kita cari saja kunci etalasenya di sekitaran sini. pasti bibi taruh di kamar ini," ucap Dina
Gara saat itu hanya diam karena menduga ada sesuatu yang menimpa Bu Hanim. Gara sangat mengenal gaya tulisan tangan Bu Hanim. Tulisan yang ada di surat terlihat jelas bukan seperti tulisan Bu Hanim.
"Bang, kok diam? abang juga kaya terlihat gelisah gitu? apa abang sedang memikirkan sesuatu?" tanya Dina
"Nggak apa apa, abang hanya heran aja tumben bibi kirim surat ginian sebelum pergi, unik abang lihatnya," jawab Gara
"Namanya juga mendadak, abang kan tahu kalau bibi itu gaptek. daripada bibi nggak ngasih kabar sama sekali? jadinya pasti kita malah lebih panik lagi," ucap Dina
"Iya bener, sekarang sebaiknya kita cari kunci etalasenya," jawab Gara
"Iya Bang," saut Dina
__ADS_1
"Aku akan mennyelidki semua ini," batin Gara