
"Baik Mas, aku ambikan celana Bang Gara dulu. Mas Luqman bisa ke mess belakang rumah aja ganti pakaianya," jawab Dina
Dina saat itu pergi meninggalkan Luqman di teras. Sementara Luqman di teras meluapkan kekesalanya karena Dina tak mudah untuk bujuk. Luqman mengakui saat itu kalau Dina adalah wanita berpendirian kuat.
5 menit kemudian, Dina sudah kembali di teras membawakan boxer dan celana Gara untuk Luqman. Dina juga membawakan boxer karena permintaan dari Luqman. Bocoran popok Fia menembus hingga boxer Luqman. Sehingga terpaksa Dina bersedia membawakan boxer Gara pada Luqman.
"Ini Mas, silahkan ganti pakaianya di belakang rumah saja," ucap Dina
"Aduh aduh....aku nggak kuat nahan kencing. kamar mandinya mana yang terdekat," jawab Luqman
"Mas Luqman masuk saja di pintu dekat ruang tamu. itu di kamar tamu ada kamar mandi," ucap Dina
"Ok, aku kesana," jawab Luqman
10 menit kemudian, Luqman saat itu sudah rapi dan menggendong Icha di teras. Dina yang melihat tanda tanda Luqman mau berpamitan langsung membicarakan hak asuh Fia.
"Mas Luqman, untuk Fia jadinya di asuh siapa? apa Mas Luqman akan membawa Fia?" tanya Dina
"Kamu terlihat sedih gitu. kamu sayang dengan Fia?" saut Luqman
"Aku sudah anggap Fia seperti anaku Mas, tapi kalau Mas Luqman mau bawa Fia, aku tak masalah. karena ini hak nya Mas Luqman merawat Fia," jawab Dina
"Kalau aku titip Fia sama kamu bagaimana? apakah kamu keberatan merawat Dia untuk sementara ini? karena kamu tahu sendiri aku sudah kewalahan dengan Icha. tak mudah bagiku jadi orangtua tunggal. apalagi Fia masih kecil dan pasti akan mencarimu terus," saut Luqman
"Kalau Mas Luqman tidak keberatan, aku bersedia merawat Fia," jawab Dina
"Terima kasih, aku dan Icha pamit mau pulang. kamu jaga diri baik baik," saut Luqman
"Iya, Mas Luqman hati hati di jalan," jawab Dina
Luqman kemudian pergi meninggalkan rumah Dina. Setelah kepergian Luqman, 20 menit kemudian mobil Gara masuk dalam halaman rumah. Dina yang masih menikmati biskuit dan teh hangat di teras terkejut dengan kedatangan Gara.
"Loh, kok Bang Gara pulang? bukannya tadi Bang Gara ingin aku ke kantor bawakan makan siang?" tanya Dina
Beberapa menit kemudian, Gara saat itu keluar dari mobilnya kemudian menghampiri Dina yang duduk kursi teras.
"Apa yang kamu lakukan dengan pria itu?" tanya Gara tegas
__ADS_1
"Eh, aku dan Mas Luqman hanya ngobrol Bang, aku sungguh tidak melakukan apapun," jawab Dina
"Kamu izinkan dia masuk rumah? mengapa kamu izinkan pria itu masuk rumah? kamu ingkar sama abang?" tanya Gara
"Bang, aku bisa jelaskan. aku tidak tahu apa yang membuat abang kesal saat ini. kalau abang kesal masalah itu, aku bisa jelasin semuanya. aku tidak mau abang salah paham," jawab Dina
"Ruangan apa yang dimasukin pria itu?" tanya Gara
"Di kamar tamu, tadi...." jawab Dina terpotong
Gara yang masih tidak bisa mengontrol emosinya saat itu masuk kedalam kamar tamu. Sesampainya di kamar tamu, Gara terdiam melihat ada celana dan boxer bukan miliknya tergeletak di ranjang. Mata Gara langsung berkaca kaca melihat pemandangan yang tidak diharapkan.
Gara tahu jika Dina tidak mungkin melakukan hal tak pantas itu. Tapi tetap saja Gara merasa sedih melihat celana dan boxer pria lain di rumahnya.
"Melihat cuma beginian saja hatiku rasanya sakit," batin Gara
Sementara Dina yang berada di belakang Gara juga terkejut. Dina tak menyangka Luqman meletakan celana dan boxernya di sembarang tempat.
"Bang, aku bisa jelaskan" ucap Dina
"Bang beri waktu aku untuk menjelaskan semuanya. aku berani bersumpah tak melakukan hal yang tak pantas," jawab Dina
"Jelaskan biar abang tenang," saat Gara
"Bang, tadi sebenarnya aku sudah suruh Mas Luqman ganti pakaianya di mess belakang. tapi Mas Luqman sedang kebelet, jadi Mas Luqman ke kamar mandi terdekat ada di kamar tamu. aku tidak tahu Bang, kalau Mas Luqman letakan celana dan boxernya disitu," ucap Dina
"Kamu nggak berbohong kan Din?" tanya Gara
"Mengapa aku berbohong Bang? disini ada suster dan pelayan saksinya. aku hari ini tidak masuk ke kamar tamu. aku hanya menemani Icha makan biskuit dan ngobrol dengan Mas Luqman terkait Fia," jawab Dina
"Apa jawaban pria itu?" tanya Gara
"Mas Luqman justru menawarkanku untuk merawat Fia. karena Mas Luqman adalah orangtua tunggal. jadi aku bersedia aja," jawab Dina
"Mengapa kamu tidak memberikan Fia ke orangtuanya? abang izinkan kamu rawat Fia dengan syarat kamu tidak boleh menemui lagi pria itu. abang tahu dia memiliki niat jahat pada kita," saut Gara
"Niat jahat apa bang? nggak baik kita suudzon sama orang. mungkin Mas Luqman tergesa gesa lupa bawa pakaianya. karena tadi Icha ada jadwal les tari," jawab Dina
__ADS_1
"Ini jelas mencurigakan. kalau memang dia orangtua, pasti dia akan memilih merawat anaknya apapun keadaan dirinya. seharusnya jika abang di posisi pria itu, pasti abang akan punya tekad membesarkan anak abang yang lama tak ditemukan. sekalipun abang sibuk? abang ingin tetap serumah dengan anak abang dan membesarkan anak abang dengan bantuan baby sister. bukan menitipkan pada orang lain seperti ini," ucap Gara
"Tapi Mas Luqman tinggal di Kos Ragina. abang tahu kan seberapa luas kamar di kos? sangat tidak memungkinkan membawa anak kecil apalagi balita di dalam kamar. karena kos yang didirikan keluargaku memang hanya khusus mahasiswa," jawab Dina
"Jika dia tahu itu kos mahasiswa seharusnya dia mencari tempat tinggal lain. tempat tinggal yang layak di huni untuk anak dan baby sisternya. di sekitar TK itu ada kos juga yang bukan khusus mahasiswa, dan ada kontrakan juga dibelakang Kos Ragina," saut Gara
Dina hanya terdiam dan ingatanya ter-fashblack kejadian Luqman saat menyambut Fia.
"Kamu memikirkan sesuatu?" tanya Gara
"Tidak ada Bang, hanya lelah saja," jawab Dina
"Kaki kamu sudah enakan buat jalan?" tanya Gara
"Iya, kata suster tinggal latihan penguatan agar bisa berjalan tanpa penyangga. ketiaku nggak nyaman jika jalan gini terus," jawab Dina
"Syukurlah, sekarang ayo makan. abang lapar," ucap Gara
"Bang, ini masih jam 11.00, seharusnya abang belum istirahat jam kantor. masakan bibi juga belum matang semua," jawab Dina
"Baiklah, kita tunggu saja di meja makan," saut Gara
Gara saat itu menuntun Dina berjalan di meja makan. Sesampainya di meja makan, Suster menghampiri Dina lalu mengatakan sesuatu.
"Bu Dina, sebelumnya saya mohon izin ke apotek beli salep untuk Fia," ucap Suster
"Ada apa dengan Fia? apakah iritasi?" tanya Dina
"Maaf Bu, bukan saya bermaksud lancang. sebenarnya Fia menangis tadi bukan karena popoknya bocor. saya sekilas melihat Tuan yang mangku Fia tadi menyipakan tanganya sampai kepala Fia terbentur pegangan kursi" jawab Suster
"Hah? maksud suster Mas Luqman sakiti Fia?" tanya Dina
"Anaknya sendiri di siksa begitu?" saut Gara
"Maaf Bu, saya tadi sudah sempat tegur tapi malah saya di marahi. saya menduga Tuan tadi risih saat terkena bocornya popok Fia," jawab Suster
Degg...
__ADS_1