MENGEJAR CINTA IBU KOS MUDA

MENGEJAR CINTA IBU KOS MUDA
Episode 95 - PERUSAHAAN DI AMBIL ALIH


__ADS_3

5 jam kemudian, Gara saat itu terbangun dari tidurnya. Ketika terbangun, Gara mencium aroma obat dan melihat di sekelilingnya bernuansa rumah sakit.


"Dimana aku?" tanya Gara


Gara kemudian melihat pakaianya mirip seperti pasien rumah sakit. Dan tanganya terdapat bekas suntikan infus. Lalu di samping ranjangnya terdapat tiang sebagai tempat menggantungnya botol infus.


Melihat hal hal di sekelilingnya Gara menyadari kalau dirinya sedang di rawat di rumah sakit


"Hah? jadi aku di rawat di rumah sakit sekarang? kalau aku dirawat di rumah sakit, bagaimana keadaan istriku sekarang? dimana istriku? aku yakin pasti dia sedih, dan khawatir melihat keadaanku," ucap Gara


Gara melihat seiisi ruanganya tak melihat Dina di ruang rawatnya. Gara merasa tidak tenang jika belum melihat istrinya. Tanpa berpikir panjang, Gara pelan pelan turun dari ranjangnya kemudian berjalan sembari memegangi tiang infus


"Ah, mengapa aku harus di rumah sakit segala sih? jadi repot kan mau jalan. ini yang dikasih dokter ke tubuhku apaan coba? bikin aku merasa berat saja berjalan. padahal aku sudah jelas jelas menolak diperiksa," keluh Gara


Gara masih mengingat kejadian dirinya memberontak saat diperiksa. Tapi Gara tidak tahu tentang sakit apa yang diderita karena dirinya sudah terlelap tertidur efek obat penenang.


Beberapa detik kemudian, Gara keluar dari pintu ruang rawatnya. Di luar ruang rawatnya, Gara melihat Dina sedang mengobrol bersama wanita. Gara tidak kenal siapa wanita yang berbincang dengan Dina. Tanpa berpikir panjang, Gara menghampiri Dina yang sepertinya sedang serius bicara.


"Dina," sapa Gara


"Eh, Bang Gara sudah bangun, mengapa abang berjalan keluar? abang tidak boleh banyak gerak. abang cukup teriak saja dan aku akan datang. di kamar abang ada jendela, jadi aku pasti dengar" saut Dina


Gara saat itu tidak fokus perkataan Dina, melainkan Gara lebih pensaran ingin tahu identitas wanita yang saat ini bersama Dina.


"Wanita ini siapa?" tanya Gara


"Ini..." jawab Dina terpotong


"Perkenalkan, nama saya Ayunda Lestari, M.H. saya adalah pengacara dari Tuan Handoko selaku ahli waris perusahaan. Disini ada yang perlu saya sampaikan terkait hasil putusan pengadilan tentang sengketa kuasa pemlik perusahaan," jawab Ayunda


Gara saat itu mengernyitkan dahinya mendengar informasi dari Ayunda. Tanpa berpikir panjang, Gara menanyakan perihal ketidaktahuanya masalah perusahaan.


"Apa apaan ini? saya sama sekali tidak tahu tentang gugatan ini," saut Gara

__ADS_1


"Mohon maaf, saya hanya menyampaikan hasil putusan sidang tentang sengketa pemilik perusahaan yang sudah berjalan 1 bulan ini," jawab Ayunda


"Surat wasiat ayah saya jelas perusahaan sudah di wariskan kepada saya. saya punya buktinya di ruang kerja saya," saut Gara


"Maaf Pak, satu bulan yang lalu Tuan Umar meninggal dunia. dan sebelum meninggal ada surat pengalihan kekuasaan yang ditanda tangani Tuan Umar. Surat itu menyatakan pemilik perusahan jatuh di tangan Tuan Handoko. sehingga dengan legalitas itu Tuan Handoko mengajukan gugatan sehari setelah Tuan Umar meninggal. supaya alih kekuasaan berkekuatan hukum," jawab Ayunda


"Apa? ayah saya meninggal? dan saya tidak mendapat pemberitahuan gugatan ini? apa maksudnya ini? saya hampir 10 bulan ini memimpin perusahaan tidak ada kabar ayah saya telah tiada. dan tidak ada pemberitahuan laporan tentang gugatan ini," ucap Gara


"Mohon Maaf Pak, tapi faktanya di agenda persidangan ada dokumentasi dihadiri oleh pihak delegasi bapak. dan saya tidak tahu jika kemungkinan ada masalah internal dalam perusahaan bapak Gara. di putusan ini bapak bisa lihat ada kehadiran saudara atas nama Dirgantara sebagai asisten sekretaris perusahaan," jawab Ayunda


"Apa? Dirga melakukan ini? tidak mungkin. Dirga sangat banyak membantuku," saut Gara


"Sebaiknya bapak Gara lihat salinan putusan ini," jawab Ayunda


Gara melihat salinan putusan yang dibawa oleh Ayunda. Awalnya Gara berpikir Ayunda bekerja sama dengan Handoko untuk memanipulasi proses jalanya sidang. Tapi dugaanya salah, Gara merasa Dirga mengkhianatinya.


"Dirga melakukan ini? tapi Bu, saya memiliki wasiat rekaman ayah saya saat mengamanahkan perusahaan ini? dalam wasiat ayah saya, saya memegang perusahaan sampai anaknya Sisca sudah berusia 23 tahun," saut Gara


"Lalu bagaimana dengan Sisca? dia adik tiriku berusia 7 tahun. dia anak kandung ayah Umar. perusahaan yang saya kelolah akan menjadi hak nya Sisca di masa depan. apakah Handoko memikirkan ini?" tanya Gara


"Untuk Nona Sisca, saat ini di asuh oleh Pak Handoko. dan yang pasti Sisca akan mendapatkan haknya tanpa peralihan melalui bapak," jawab Ayunda


"Saya tidak mau menandatangani ini. ini penipuan," saut Gara


"Tuan Handoko memberikan waktu 7 hari untuk anda. saya permisi. Salinan putusan dan surat tanda terima alih kekuasaan file nya sudah saya kirim di ponsel ibu Dina.," jawab Ayunda


Ayunda kemudian pergi meninggalkan Gara dan Dina


Setelah kepergian Dina, Gara terduduk lemas dan untungnya Dina ada disampingnya.


"Bang, aku tuntun masuk ke dalam ya? masalah perusahaan ini, kita bisa bicarakan nanti. abang harus fokus kesembuhan abang dulu. abang saat ini sedang sakit DBD. jadi harus banyak istirahat," ucap Dina


"Abang DBD? kenapa bisa ya? abang sehat kok, setelah ini abang harus segera ke kantor untuk mencari Dirga, dan tentunya abang mau tanya juga ke Yusuf sekretaris abang," jawab Gara

__ADS_1


"Tadi aku sudah hubungi Pak Yusuf untuk menanyakan kepada Pak Dirga terkait ini. tapi tidak diangkat. besok aku yang akan ke perusahaan. aku akan melihatnya," saut Dina


"Nggak sayang, kamu fokus kehamilanmu saja. jangan fokus yang lain. abang sudah merasa sehat kok," jawab Gara


"Baiklah, abang sekarang masuk dulu. abang pasti gerah hari ini. aku akan bantu menyeka tubuh abang. kata dokter abang nggak boleh mandi dulu," saut Dina


"Kamu nggak capek? abang bisa pakai jasa perawat pria untuk menyeka tubuh abang. abang takut kamu kelelahan," jawab Gara


"Abang dulu merawatku ketika aku sakit. jadi abang harus nggak boleh nolak aku rawat," saut Dina


Dina kemudian mengajak Gara masuk ke dalam ruangan.


+++++++++++


30 menit kemudian, Gara tertidur setelah selesai di seka dan makan. Dina yang melihat Gara sudah tertidur bersyukur karena dari tadi Gara terus memaksanya memintakan izin pulang ke dokter. Bahkan Dina terpaksa membohongi Gara supaya Gara bisa memakan makananya. Informasi tentang pindahnya alih kekuasaan perusahaan membuat Gara tak bisa tenang memikirkan nasib perusahaanya.


"Aku akan menyelidiki semuanya. aku harus tahu dalang dibalik peralihan perusahaan ini," batin Dina


-- Flasbcak On -----


"Ayo Bang, waktunya makan," ucap Dina


"Sayang, tolong izinkan pada dokter, ya? atau izinkan abang di rawat jalan aja di rumah. abang akan sewa suster. abang tidak bisa diam membiarkan semua ini. abang ingin membereskan masalah perusahaan," pinta Gara


"Abang tapi masih sakit, aku tidak ingin sakit abang makin parah jika tidak dirawat di rumah sakit," jawab Dina


"Tapi abang juga nggak bisa membiarkan orang mau memgambil alih perusahaan begitu saja tanpa izin ayah. abang yakin, mustahil ayah menyerahkan kekuasaanya cuma cuma pada paman Handoko. sejak abang mengenal ayah Umar, hubungan ayah dan paman Handoko tak akur. paman tidak terima ayah menikahi ibu abang dan bahkan paman pernah bilang abang ini pewaris haram. abang tidak terima ayah mewariskan perusahaanya padaku," ucap Gara


"Baiklah, abang sekarang tenang dulu abang harus makan. karena aku tidak bisa makan kalau abang tak makan. mungkin dedek bayi dalam perut aku sepertinya ingin ayahnya tenang," jawab Dina


Gara sontak memakan makananya dengan lahap supaya Dina bisa makan.


--- Flashback Off -----

__ADS_1


__ADS_2