
5 menit kemudian pesanan Vera dan Fabian sudah Dina siapkan. Setelah pesanan sudah siap, Dina hendak mengantar pesanan Vera dan Fabian. Namun ketika Dina hendak mengantarkan pesanan, Dina tak sengaja melihat Vera dan Fabian saling bertaut bibir.
Dina terdiam
Tangan Dina begetar
Mata Dina mulai berkaca kaca
Sementara Gara yang melihat gelagat Dina langsung memastikan apa yang dilihat Dina. Gara saat itu sangat kesal melihat dua pasangan saling bertaut bibir tidak tahu tempat. Tanpa berpikir panjang, Gara langsung mengambil alih pesanan yang dibawa Dina.
"Abang saja yang antar, kamu siapkan pesanan white coffe abang saja,," ucap Gara
"Tidak Bang, abang bukan penjual disini," jawab Dina
"Tapi abang suamimu, abang tidak ingin istri abang sedih gara gara melihat sahabat dan mantanmu itu bercumbu di dekatmu, abang nggak rela kamu kembali tersakiti oleh mereka," saut Gara
Gara kemudian mengambil alih nampan dari tangan Dina lalu mengatakanya ke meja Vera dan Fabian.
+++++++++++++++
Sesampainya di meja Vera dan Fabian, Gara memberikan nasi pecel dan es jeruk pesanan Vera
"Ini pesanan kalian," ucap Gara
"Gara, apa yang kamu lakukan di tempat Dina, kamu nggak puas pernah nyakitin Dina?" tanya Vera
"Sebelum kamu tanyakan itu padaku, kamu tanyakan saja pada dirimu sendiri dan cowokmu itu. apa yang kalian perbuat pada Dina selama ini. jangan sok jadi sahabatnya jika nyatanya kalian adalah serigala berbulu domba," jawab Gara
"Hei, kamu itu pria bajingan, kamu telah banyak membohongi Dina di masa lalu," saut Vera
"Lalu apa bedanya aku dengan dirimu dan cowokmu itu? bertaut bibir tidak tahu tempat. setidaknya aku masih punya nurani tidak menyakitinya lagi dan ingin memperbaiki diri ," jawab Gara
"Dina hanya salah paham denganku dan Fabian. perlahan dia pasti bisa menerima kesalahpahaman ini," saut Vera
"Oh iya kah cuma salah paham? coba tanya cowokmu itu, kalau dia tahu dirinya dijodohkan dengan Dina, mengapa menjalin hubungan denganmu? dan kamu juga jangan sok polos deh, Dina juga pernah cerita Fabian ke kamu mengapa kamu malah menikungnya, jangan pikir aku tidak tahu tentangmu," ucap Gara
"Kurang ajar," saut Fabian
__ADS_1
Fabian saat itu hendak maju ingin menyerang Gara, tapi Vera mencegahnya. Sementara Gara hanya tersenyum saja dan menunjukan otot tanganya sebelum pergi.
"Nih," ejek Gara menujukan otot tanganya lalu pergi
Dibanding Fabian, Gara memang memiliki postur tubuh lebih kekar dan lebih berotot. Gara juga menekuni bela diri pencak silat dan suka mendaki gunung. Jadi tak heran, Vera yang melihat otot tangan Gara nyalinya ciut membiarkan Fabian meladeni Gara.
"Mengapa kamu mencegahku? aku ingin menghajarnya," ucap Fabian
"Kamu jangan remehkan pria itu, dia menekuni bela diri.kalau adu tonjok dia sudah pawangnya. dia dulu pernah keroyokan sama 5 preman sekaligus," jawab Vera
++++++++++++++
15 menit kemudian, Vera dan Fabian sudah selesai makan. Setelah makan, mereka berdua membayar makanan yang dipesanya pada Dina.
"Totalnya berapa?" tanya Fabian canggung
"20 ribu," jawab Dina
Fabian kemudian memberikan uang pada Dina
"Terima kasih," ucap Dina.
"Din.." sapa Vera
"Eh iya ada apa?" tanya Dina
"Aku mau memberikan ini undangan ini untukmu. aku harap kamu datang ya minggu depan," jawab Vera
Dina terdiam sejenak melihat undangan yang diterimanya. Dalam hatinya, Dina merasakan sakit melihat dua penghianat yang kompak meninggalkanya waktu terpuruk akan segera menikah. Dina bukanya merasa cemburu dengan kedekatan Vera dan Fabian, tapi Dina merasa karma di dunia ini hanya terus berlaku untuknya. Sementara orang orang yang menyakitinya mendapat kebahagiaan.
"Oh iya, kalian akan menikah ya, selamat ya aku insyallah akan datang," saut Dina
Cup (Gara tiba tiba datang mencium pipi Dina)
"Kami akan datang, jangan khawatir kami tidak datang," jawab Gara
"Hei, dasar kurang ajar. aku tidak mengundangmu," saut Vera
__ADS_1
Vera kemudian memegang tangan Dina lalu mengatakan sesuatu.
"Din, pria bajingan itu melecehkanmu Din, aku bisa bantu kamu ke melaporkan aksi pria bajingan itu ke komnas perempuan," ucap Vera
Gara saat itu semakin memanasi dua manusia dihadapanya dengan merangkul pundak Dina
"Sebaiknya kamu pergi, Dina tidak membutuhkan sahabat serigala berbulu domba sepertimu," ucap Gara
"Din, kamu kok diam saja di rangkul pria bajingan itu, apa kamu menjalin hubungan lagi dengan pria bajingan itu? kamu apa tidak ingat apa yang dia perbuat dulu padamu Din.." tanya Vera
Dina saat itu merasa kesal Vera mengatai Gara bajingan. Dalam pikiran Dina, apar kabar dengan Vera dan Fabian yang menyakitinya. Tapi Dina tidak ingin meluapkan emosinya dan memilih mengusir Gara secara halus
"Ver, sebaiknya kamu pergi. ini sudah hidupku, kita sudah punya kehidupan masing masing. aku insyallah datang ke pernikahanmu dan Fabian," jawab Dina
Dina kemudian berlari menuju ruang kantornya. Sementara Gara yang masih ditempat dengan tegas mengusir Vera dan Fabian.
"Pergi dari sini !!!" tegas Gara
Gara kemudian mendorong pelan Fabian. Fabian yang tidak terima didorong hendak menghajar Gara, tapi untungnya Vera menarik tangan Galian sehingga pertengkaran tidak terjadi.
+++++++++++++
Di dalam ruang kantornya, Dina meluapkan tangisnya yang sejak dari tadi dirinya tahan. Dina merasa sangat tersakiti melihat Vera dan Fabian berciuman bibir di kantinya tadi. Di tambah lagi, Gara mencium pipinya secara lancang tanpa izinya.
Mendengar suara ******* dan melihat orang saling bercumbu sudah menjadi trauma dalam hidup Dina. Bagi Dina kedua hal itu adalah gerbang perselingkuhan yang membuatnya sakit hati
Dina merasa dunia sudah tak adil dan sedang mempermainkanya. Takdir baik terus saja memihak orang orang yang pernah membuat luka di hati Dina. Sementara Dina, terus saja ditakdirkan menjadi penonton kebahagiaan para pembuat luka dihatinya.
"Mengapa nasibku begini? kapan aku bahagia? apa memang sudah tidak ada kebahagiaan di hidupku?" batin Dina
Dina yang masih dalam kondisi terisak tangis saat itu berusaha agar tangisnya bisa berhenti. Namun ketika tangis Dina mulai reda, Gara tiba tiba masuk dalam ruangan Dina tanpa permisi.
"Bang, siapa yang mengizinkanmu masuk, aku mohon keluarlah," ucap Dina
Gara hanya diam dan tak peduli dengan ucapan Dina. Gara saat itu justru mendekati Dina kemudian memeluk tubuh Dina. Dina hanya pasrah ketika Gara memeluk dirinya. Namun ketika Gara memeluk Dina, Dina merasakan tubuh Gara getaran .
"Bang," ucap Dina
__ADS_1
"Din, setelah ini jangan seperti ini lagi ya? mereka tidak pantas kamu tangisi. kamu harus kuat. abang tidak bisa melihatmu menangis. abang ikut keluar air mata ini karena merasakan deritamu Din, kesedihanmu itu juga kesedihan abang," jawab Gara
Dina hanya terdiam tak menjawab