
Apa yang kamu lalukan? apa dengan seperti ini kamu meluapkan kesedihanmu?" tanya Gara tegas
Dina hanya menangis dan memberontak agar bisa lepas dari pelukan Gara. Awalnya Gara melepaskan pelukanya agar Dina mau bicara kepadanya.
Namun diluar dugaan, Dina malah kembali nekat ingin melompat dari balkon. Gara yang sangat panik saat itu menyeliding kaki Dina agar Dina terjatuh sehingga tak jadi bunuh diri.
"Aaauh..." ringis Dina
Dina saat itu mendarat di tubuh Gara karena terjatuh dari belakang. Sementara Gara yang tertimpa Dina saat itu beralih mendudukkan tubuhnya lalu memangku Dina. Dina yang merasa Gara sedang memangkunya ingin melarikan diri. Tapi apalah daya kaki Dina terkilir karena jegalan Gara.
"Aaaah....kakiku..." ringis Dina
"Maaf, abang hanya tidak ingin kamu nekad melompat dari balkon, abang paham dengan apa yang kamu rasakan saat ini. tapi apa kamu tidak berpikir kalau orangtuamu disana sedih melihatmu terpuruk seperti ini?" tanya Gara
"Untuk apa aku hidup? untuk siapa aku hidup? aku sudah sebatang kara, aku tidak punya siapa siapa. aku merasa tidak berguna menjalani hidup ini. semua terasa hampa, terasa kosong, aku...menyerah..." jawab Dina menangis
Gara kemudan melingkarkan tanganya ke perut Dina lalu mengatakan sesuatu
"Ketika hatimu kosong, temukan sesuatu yang kamu sukai untuk mengisinya. bunuh diri bukanlah jawaban, itu kehancuran. jika kamu bunuh diri, kamu juga akan membunuh orang yang mencintaimu," ucap Gara
Dina hanya terdiam dan menangis
"Kamu merasa sebatang kara? lalu apa kamu tidak memikirkan Bik Sri dan orang orang yang selalu ada untukmu? dan disini siapa yang memangkumu? ada abang kan? abang disini ada untuk kamu. kamu jangan pernah merasa sendiri, masih banyak orang orang yang peduli denganmu." ucap Gara
Gara kemudian mencium pipi Dina lalu mengatakan sesuatu.
"Itu bukti abang peduli denganmu, jangan pernah merasa sendirian, ada abang bersamamu.," ucap Gara
Dina hanya diam dan saat itu berusaha bangkit dari pangkuan Gara. Namun akibat kakinya yang terkilir, Dina susah untuk berdiri.
"Aduh..." ringis Dina
"Ayo abang bantu ke kamar," jawab Gara
Gara yang peka dengan kondisi Dina saat itu langsung membawa Dina kembali ke kamar.
++++++++++++++++
Pagi hari, Gara memutuskan untuk meliburkan diri dari pekerjaanya karena ingin fokus mengurus Dina. Setelah ceramah Gara semalam, Dina mulai ada kemajuan. Walaupun Dina masih menjadi pribadi yang tertutup. Dina hari ini sudah mulai mau makan dan jarang melamun karena Gara mengalihkan fokus Dina ke permainan ponselnya.
__ADS_1
Hari ini Gara memulai aktivitas terberatnya yaitu membujuk Dina mau dibantunya mandi. Gara menawarkan diri membantu Dina mandi bukan karena Gara mencari kesempatan dalam kesempitan. Melainkan, Gara melihat kaki Dina yang terkilir belum sembuh. Untuk berjalan saja saat ini Dina masih kesakitan.
"Din, ayo mandi, abang bantu ya?" tanya Gara
"Dimana Bik Sri?" tanya Dina
"Bik Sri hari ini pulang kampung, kemarin Bik Sri izin sama abang karena anaknya wisuda," jawab Gara
"Biasanya Bik Sri selalu memanggilkan tetangga jika pergi," saut Dina
"Itu kan dulu kamu belum bersuami. sekarang kamu sudah bersuami. abang suamimu. kamu bisa minta tolong abang jika butuh bantuan," jawab Gara
Dina saat itu hanya diam karena bingung dengan apa yang harus dilakukan sekarang.
"Kamu mau abang bantu mandi atau kita mandi bersama," ucap Gara
"Jangan aneh aneh bang, aku tidak mau keduanya. aku harap abang mengerti," jawab Dina
"Terus mau kamu gimana? nggak mandi? badanmu nggak gerah?" saut Gara
"Bantu aku masuk ke kamar mandi saja, jangan ikut masuk," jawab Dina
"Baiklah," saut Gara
"Sudah, abang tinggal saja, jangan mengintip. gantungkan saja pakaianku di hanger sana," ucap Dina
"Baiklah, kalau butuh bantuan panggil abang," jawab Gara
Gara kemudian keluar dari kamar mandi meninggalkan Dina yang hendak mandi. Sekeluarnya dari kamar mandi, Gara.melihat area sensitifnya mulai berdiri tegak.
"Cih sial, mengapa cepat banget tegaknya, padahal lihat dia telanjang juga tidak," ucap Gara
Gara kemudian mengalihkan fokusnya ingin membersihkan kamar.
++++++++++++
20 menit kemudian, Gara masih belum mendengar Dina keluar dari kamar mandi. Tanpa berpikir panjang, Gara mencoba memanggil Dina dari luar kamar mandi.
"Dina !!! apa kamu sudah selesai mandi?" teriak Gara
__ADS_1
Dina tak menjawab dan hanya ada suara aliran shower
"Din, kamu nggak apa apa di dalam?" teriak Gara
Gara panik saat tidak ada tanda tanda suara dari Dina. Tanpa berpikir panjang, Gara langsung nyelonong masuk ke dalam kamar mandi. Sesampainya di dalam kamar mandi, Gara terkejut melihat Dina wajahnya pucat dan menggigil dalam bak.
"Ya Allah, mengapa kamu seperti ini sih Din," ucap Gara
Dina hanya diam tak menjawab
Gara saat itu sangat menyesal meninggalkan Dina di kamar mandi sendirian. Gara tak menyangka kalau Dina ingin menyakiti tubuhnya dengan berendam sampai menggigil. Tanpa berpikir panjang, Gara saat menggendong tubuh polos Dina lalu membawanya menuju kamar.
Sesampainya di kamar, Gara merebahkan tubuh polos Dina lalu mengeringkanya. Pertama kali dalam hidupnya, Gara melihat Dina berpenampilan polos tanpa sehelai benang. Gara mengakui kalau tubuh Dina indah, tapi dalam pikiran Gara saat ini dominan ingin agar Dina tidak menggigil.
Gara sangat takut Dina mengalami hiportemia. Hiportemia adalah penurunan suhu tubuh secara drastis yang berpotensi berbahaya. Penyebab yang paling umum adalah berada di lingkungan bersuhu dingin dalam waktu yang lama. Apabila hipotermia tidak segera ditangani bisa berakibat kematian.
"Din, abang mohon kamu bertahan ya, tolonglah demi abang kamu bertahan," ucap Gara panik
Gara saat itu melakukan pertolongan pertama pada Dina yang mengalami gejala hipotermia. Berbekal pengalamannya menjadi pendaki gunung, Gara saat itu melakukan penanganan berupa :
- Mengganti pakaian Dina
- Memakaikan Dina jaket
- Menyelimuti Dina
- Mengkompres Dina dengan air hangat
Setelah langkah langkah penanganan dilakukan, Gara kemudian memeluk tubuh Dina dan mencium bibir Dina supaya memancing Dina agar tetap terjaga sadar.
"Respon ciuman abang Dina, rasakan kehangatanya," ucap Gara
Tak lama kemudian, bibir Dina mulai bergerak karena reaksi ciuman Gara. Dina saat itu pelan pelan mengatakan sesuatu pada Gara.
"Bang," ucap Dina lirih
"Iya sayang, besok besok jangan kaya gini lagi ya, abang sedih kamu nekat menyakiti tubuhmu lagi," jawab Gara matanya berkaca kaca
"Bang, haus.." ucap Dina lirih
__ADS_1
"Iya, ini abang sudah buatkan teh hangat untukmu, ayo minum teh hangatnya dulu, abang bantu minumkan," jawab Gara
Gara kemudian membantu Dina meminum teh dengan menyuapinya sedikit demi sedikit menggunakan sendok. Setelah membantu Dina minum teh hangat, Gara kembali menuntun Dina tidur memeluk dirinya.