
Gara mengetahui fakta jika sebenarnya Dina bisa membuka hati untuknya, tapi rasa trauma Dina di masa lalu memaksa Dina untuk terus menutup rapat hatinya kepada pria lain.
"Abang akan terus berjuang demi mendapatkan cinta kamu Dina. abang tidak akan mengakhiri pernikahan ini. abang akan membuatmu menerima pernikahan ini," batin Gara
Gara saat itu tak ingin badan Dina sakit karena tidur dengan posisi duduk. Tanpa berpikir panjang Gara menggendong Dina lalu membawanya ke kamar. Gara sengaja membawa Dina tidur bersamanya karena Gara pelan pelan ingin membuat Dina terbiasa dengan dirinya.
Selain itu Gara juga merasa bisa tenang jika tidur bersama Dina. Urusan Dina nanti pas terbangun marah kepadanya Gara tidak peduli.
"Maaf jika abang lancang, abang ingin membuatmu terbiasa sama abang. ini pertama kali abang tidur sama kamu. abang akan berikan kenyamanan untukmu. selamat tidur istriku," batin Gara
Gara saat itu merebahkan tubuhnya di samping Dina. Setelah itu, tanpa ragu Gara mendekati Dina kemudian memeluknya. Ada rasa bahagia ketika Gara bisa memeluk Dina saat tidur. Gara tidak menyangka bisa menatap dekat wajah cantik Dina yang sedang tertidur.
Sebenarnya Gara menginginkan hal lebih dari sekedar memeluk Dina. Gara adalah pria normal yang pasti tergoda jika melihat kecantikan dan keseksian yang dimiliki Dina. Tapi Gara sadar dengan keadaan pernikahanya sekarang.
"Dina istriku, wajah kamu cantik, kulit kamu bersih, bibir kamu juga indah. harusnya ini malam pertama kita. abang ingin menciumu, bertukar saliva dan beradu keringat denganmu. tapi dalam keadaan seperti ini memeluk dan menatapmu saja, abang sudah bersyukur. abang harap kamu bisa bukakan hati untuk abang," batin Gara
Gara kemudian mengelus rambut Dina lalu mencium kening Dina sebelum tertidur.
"Mimpi indah istriku," batin Gara
++++++-++++
Tengah malam, jam sudah menujukan pukul 02.00 WIB. Dina yang tertidur pulas saat itu mengigau dan menangis dalam tidurnya.
"Mama...jangan tinggalkan aku, aku takut.." igau Dina
Gara saat itu terbangun dari tidurnya melihat Dina sedang mengigau dan menangis. Tanpa berpikir panjang, Gara menenangkan Dina dengan cara mengeratkan pelukanya untuk memberkan kenyamanan. Gara saat itu juga mendekap kepala Dina di dadanya, lalu mengelus punggung Dina sembari berucap sesuatu.
"Kamu yang tenang ya sayang, abang selalu ada untukmu," ucap Gara lirih
Tak lama kemudian, Dina kembali tidur dengan tenang. Pelukan dan dekapan Gara berhasil membuat Dina nyaman dalam tidurnya. Setelah Dina merasa nyaman, tiba tiba cobaan baru menimpa Gara. Secara tak sengaja, kaki Dina saat itu terlihat bergerak nyaman mengenai senjata Gara. Tentu saja senjata Gara langsung menegang merespon gerakan Dina. Apalagi senjatanya tepat mengenainya paha mulus Dina
__ADS_1
"Ah, mengapa bisa seperti ini? kalau seperti ini aku mana bisa tahan," batin Gara
Gara sebenarnya bisa saja menyergap Dina mengajaknya malam pertama hari ini juga. Tapi Gara tak ingin Dina semakin membencinya. Hingga terpaksa Gara harus menahan hasratnya yang bergejolak demi perasaan Dina.
+++++++++
Pagi hari jam sudah menujukan pukul 04.45 WIB, Dina dalam tidurnya saat itu menggeliat sangat nyaman di kasurnya. Dina merasakan bantal dan gulingnya tidak seperti biasanya. Serta kakinya juga merasakan sangat hangat tak seperti biasanya. Selain itu, Dina juga merasaahan aroma maskulin yang membuatnya ingin terus menghirupnya.
"Nyaman sekali...." batin Dina
Namun beberapa saat kemudian Dina merasakan deheman lelaki batuk bergetar di kepalanya. Sontak saja Dina membuka matanya melihat Gara sedang memeluk erat dirinya.
"Bang Gara? mengapa aku bisa tidur dengan Bang Gara?" batin Dina
Dina yang awalnya merasa nyaman menjadi panik. Dina melihat di sekelilingnya ternyata berada di kamarnya. Seingat Dina, kemarin Dina masih terduduk di meja kamar orangtuanya.. Dan Dina tidak mengingat sama sekali kapan dirinya bisa kembali ke kamarnya.
"Mengapa aku bisa di kamarku? kapan aku berjalan disini? mengapa aku bisa tidur berpelukan seperti ini?apakah Bang Gara yang melakukan ini?ini tak bisa dibiarkan," batin Dina
"Bang, aku mohon lepaskan aku," ucap Dina
"Cium pipi abang, atau abang akan seperti ini terus," jawab Gara
"Nggak mau, lepas...pasti abang kan yang bawa aku tidur disini?" saut Dina
"Kalau iya mengapa? kamu nggak terganggu kan? malah kamu nyenyak tidur di lengan abang,' jawab Gara
"Curang..." saut Dina
Dina saat itu terus menggeliat ingin lepas dari pelukan Gara. Berbagai alasan sudah Dina utarakan agar bisa lepas dari pelukan Gara. Namun Gara masih tak berkutik dan nyaman dengan posisinya. Ketika Dina membicarakan kesepakatan, Gara selalu saja mementahkanya
"Bang, aku mohon abang jangan macam macam. abang melanggar kesepakatan, di kesepakatan tidak ada nafkah batin," ucap Dina
__ADS_1
"Tidak ada yang melanggar, abang suamimu dan abang hanya peluk dan ingin dicium istri abang, kalau kamu izinkan abang menjamahmu abang pasti lakukan," jawab Gara
Tak lama kemudian, alarm ponsel Gara berdering menujukan jam nya bangun shalat shubuh.
"Ayo kita shalat shubuh sama sama," ucap Gara
Dina hanya mengangguk
Gara saat itu melepaskan pelukanya lalu turun dari ranjangnya. Ketika Gara turun dari ranjang, Dina refleks berteriak karena terkejut melihat tonjolan berdiri tegak di celana Gara.
"Aaaa...," ucap Dina menutupi wajahnya
"Ada apa Din? kamu baik baik saja?" tanya Gara
Gara masih belum menyadari keterkejutan Dina.
"Nggak, aku nggak apa apa, abang wudhlu duluan saja," jawab Dina
"Mengapa kamu menutupi wajahmu seperti itu? tatap abang kalau bicara " tanya Gara
"Abang pakai handuk dulu, aku nggak nyaman saja melihatnya," jawab Dina
Gara saat itu menatap kearah bawahnya kemudian tersenyum dan mengatakan sesuatu.
"Tenang saja Din, kamu akan terbiasa, laki laki memang mengalami seperti ini jika pagi hari. apalagi ketika dekat dengan wanita cantik dan baik sepertimu," ucap Gara
"Aku bukan wanita gampangan yang mudah terbuai dan terbiasa melihat rutinitas laki laki. ini pertama kalinya aku tidur bersama laki laki. jangan samakan aku dengan wanita penghangat ranjang abang" jawab Dina
"Terlepas dari apapun, abang pikir kita suami istri yang tinggal dalam satu kamar. jadi wajar saja kita akan terbiasa satu sama lain. dan agama tidak melarangnya. Sekarang waktu shubuh sudah mau habis, ayo kita shalat dulu" saat Gara
++++++++++++
__ADS_1