
Seperti yang sudah di janjikan, Angle dan Raisa menginap di rumah Fiera. Tepat pukul 7 malam, kedua gadis itu datang ke rumah Fiera.
Angle DNA Raisa tiba bersamaan, kedua nya sama sama di antar supir pribadi mereka masing-masing. Karena besok pagi mereka akan berangkat bareng dengan Fiera ke sekolah.
Raisa menekan bel rumah Fiera,
Ting Tong~
"Sepi yah, padahal rumah nya gede banget" komentar Raisa melihat ke sekeliling rumah Fiera. Perkarangan luas, rumah besar, persis seperti istana banget.
"Namanya juga konglomerat Sa, yah begini rumah nya" sahut Angle.
Sebenarnya, Raisa dan Angle sudah sering datang ke rumah Fiera, tapi mereka selalu merasakan hal yang sama. Mereka sering membandingkan dengan rumah mereka yang meskipun tak sebesar rumah Fiera, tapi mereka tak pernah merasa sepi seperti rumah Fiera ini.
Kadang, kedua gadis itu merasa kasihan pada Fiera. Pasti ia merasa sangat kesepian tinggal hanya berdua dengan pembantunya saja.
Untuk keamanan, tentu perumahan elit seperti lokasi Fiera tinggal sangat aman. Petugas keamanan sangat banyak untuk menjaga setiap gang rumah ini, dan mereka selalu berpatroli untuk menjaga keamanan.
"Ehh non, Angle dan Raisa. Ayo mari masuk. Nona muda lagi mandi" kata bi Ina ketika membuka pintu dan melihat kehadiran dua sahabat Fiera, lalu bi Ina mempersilahkan keduanya masuk.
"Makasih bi" balas Angle dan Raisa sopan. Mereka merupakan anak pejabat yang memiliki tata Krama yang sangat baik.
"Mau nunggu di sini, apa langsung di kamar nya non Fiera?" tawar bi Ina.
"Ke kamar nya aja bi, apa tidak apa apa?" tanya Raisa.
"Gak apa apa Non, kata non Fiera tadi kalian di suruh langsung ke atas juga"
"Oh yaudah bi, kita keatas aja" ujar Angle.
"Baiklah, bibi akan membuat kan kalian cemilan" kata bi Ina, lalu pergi ke dapur.
Sementara Raisa dan Angle langsung naik menuju ke kamar Fiera. Mereka sudah tahu di mana letak kamar Sahabat nya.
Rumah seluas ini, hanya terdapat beberapa kamar saja. Ada dua kamar di atas, yaitu kamar Fiera dan kamar kedua orang tuanya. Dan, di bawah terdapat dua kamar tamu. Selebihnya adalah ruangan kerja ada dua, ruangan tempat bersantai, ruangan keluarga, ruangan tamu dan ruangan olahraga.
"Loh kalian sudah sampai yah?" kata Fiera, ia keluar dari kamar mandi dan mendapati kedua sahabatnya sudah ada di kamar nya.
"Lo baru selesai mandi Fie? kok malam gini?" tanya Angle heran.
"Tadi, abis pulang sekolah gue ketiduran. Makanya baru bangun dan langsung mandi" jawab Fiera sembari mengeringkan rambutnya.
"Waduh, gimana ntar Lo tidur. Pasti mata Lo gak ngantuk lagi tuh" celetuk Raisa.
"Kalo ni mata udah lelah, nanti dia bakalan ngantuk kok. Selow aja" kekehh Fiera.
Fiera berjalan mendekati hanger handuk, ia menggantung kan handuk nya yang setengah basah karena rambutnya. Lalu, ia bergabung dengan kedua sahabatnya yang sudah duduk di atas ranjang nya.
"Kalian udah makna belum?" tanya Fiera.
"Udah, "jawab Raisa.
"Gue juga udah" jawab Angle.
"Yahhhh, kalian kok makan sih. Harusnya kalian makan bareng gue" lirih Fiera dengan ekspresi kecewa. Ia berharap banget ada teman makan selain Bi Ina. Sangat jarang baginya untuk melahap makanan dengan penuh semangat.
Angle dan Raisa saling melirik, kemudian kembali menatap Fiera yang tengah menunduk sedih.
"Kita bercanda Fie, kita belum makan kok. Karena malam ini kita nginap rumah Lo, kita puasain cacing di perut ini untuk beberapa jam". kata Angle riang.
"Ya kali kita makna duluan, meskipun udah laper" celetuk Raisa.
Mendengar ucapan kedua sahabatnya, Fiera langsung tersenyum lebar. Ia tahu jika kedua sahabatnya sangat mengerti dirinya.
"Yaudah, ayo kita turun dan minta bi Ina masak yang enak" ajak Fiera penuh semangat.
"Gak Fie, lebih baik kita masak bareng bareng. Gimana?" usul Raisa.
"Setuju" jawab Angle.
__ADS_1
Fiera terlihat ragu, karena dirinya sama sekali gak bisa masak. Meskipun Fiera sangat pintar dan mandiri, dirinya tidak pernah jauh dari bi Ina. Hanya bi Ina yang mengerti apa yang ia inginkan dan sukai.
"Udah lah Fie, gak usah banyak mikir. Kita tahu kok, Lo gak bisa masak" celetuk Raisa.
"Nah tu Lo tau, ngapa masih ngajak masak" gerutu Fiera.
"Kan kita berdua ada Fie. Meskipun otak kita gak sepintar otak Lo. Kita bisa masak" kata Angle menyombongkan diri.
"Sombong aja lu " cibir Fiera memanyunkan bibirnya.
"Eh ada apa, kenapa pada berdiri aja? nungguin cemilan yah?". Bi Ina masuk ke dalam kamar Fiera membawa beberapa cemilan untuk ketiga gadis itu. Bi Ina tahu, jika mereka berkumpul gini, mereka pasti akan lama tidur nya.
"Nanti aja bi, kita mau makan malam dulu aja" tolak Raisa.
Bi Ina tampak kaget, ia kira teman teman nona muda nya sudah makan.
"Eluh eluh, kalian belum makan?
Bibi kira sudah makan, makanya bi Ina siapin cemilan"
"Gak papa bi, kita emang sengaja gak makan, biar makan bareng Fiera" jelas Angle.
"Yaudah, bi Ina siapkan makan buat kalian yah" kata Bi Ina hendak keluar dari kamar Fiera, tapi Raisa menahan nya.
"Bi Ina gak usah siapin, karena kita akan menyiapkan sendiri"
"Loh, gak usah non. Biar bibi aja yang siapin, nona nona tunggu aja yah". kata bi Ina tidak enak jika para tamu yang menyiapkan nya.
"Gak papa bi, kita akan masak" seru Fiera meyakinkan bi Ina.
"Beneran ini?"
"Iya bi, sekarang bi Ina tinggal duduk di meja makan dan menunggu kita selesai masak" kata Angle memboyong Bi Ina dan Fiera ke dapur, lalu mendudukkan bi Ina di salah satu kursi meja makan.
"Aduh, bibi gak enak nih" kata bi Ina. Namun, bi Ina gak bisa berbuat apa apa, ia hanya pasrah menuruti permintaan nona muda nya.
Fiera menunjukkan pada teman temannya tempat wajan, isi kulkas, kadang sesekali Fiera bertanya pada bi ini, ketika ia tidak mengetahui letak benda benda atau barang barang yang mereka butuhkan.
"Wahhh wangi yah" kata Fiera menghirup aroma telur dadar yang baru saja ia goreng. Raisa dan Angle tertawa, Fiera benar benar sangat polos dan lucu.
"Fie, itu hanya telur dadar. Kenapa Lo terlalu senang banget bisa masak itu" decak Angle heran melihat tingkah sahabatnya.
"Hahaha... Namanya juga gak pernah masak. Yang dia tahu, belajar belajar, dan belajar" kekeh Raisa meledek Fiera yang sudah manyun lagi.
"Biarin, penting gue udah bisa masak telur dadar" balas Fiera acuh dengan ucapan teman teman nya.
Mereka masak dengan sangat bahagia, Raisa membuat ayam kecap, sedang kan Angle membuat goreng ikan salmon.
Bi Ina terlihat senang melihat nona muda nya tertawa lepas bersama teman temannya. Setidaknya, untuk sementara waktu Fiera bisa melupakan kesedihan yang selalu bergelayut di hati nya.
Semoga nona selalu bahagia, tertawa seperti saat ini. Bibi akan sangat bahagia melihat nya non.
"Eh, Lo buat ayam kecap. Kenapa harus di goreng dulu sih?" tanya Fiera heran ketika melihat Raisa menggoreng ayam nya.
"Yaelah Fiera, kalo buat ayam kecap itu yah mesti di goreng dulu ayam nya. Kalo gue sih gitu. Gak tahu deh orang lain gimana" jelas Raisa.
"Gue sih juga" sahut Angle yang juga sedang menggoreng ikan salmon. Raisa dan Angle sangat senang masak di rumah Fiera, isi kulkas nya sangat lengkap.
"Ah pusing gue" lenguh Fiera frustasi karena tidak bisa menghafal setiap langkah yang Raisa dan Angle jelaskan untuk memasak ayam kecap dan salmon sambal.
"Hahaha...Otak pinter Lo gak berguna yah ketika masak" canda Raisa. Angle pun langsung tertawa mendengar nya.
"Ihh ini karena gue gak biasa aja. Lagian, masak bukan hobi gue" Kila Fiera.
"Yah elah Fie. Masak ini bukan hobi, tapi kewajiban nya setiap wanita ketika sudah menikah!" sahut Angle.
Mereka sudah selesai memasak ketiga macam makanan. Kini mereka menyajikannya di atas meja makan.
Fiera duduk di samping bi Ina, sementara kedua temannya duduk di depan nya.
__ADS_1
"Gue itu punya bi Ina, yang selalu mengerti dan bisa buat gue makan enak terus" kata Fiera memeluk bi Ina.
Raisa dan Angle hanya memutar bola matanya bosan mendengar ucapan ngeles Fiera.
"Ayo bi, Cicipi masakan kita" kata Raisa pada bi Ina.
"Eh makan telur dadar dulu bi. Ini aku yang masak" sela Fiera, ia langsung menyodorkan telur dadar buatan nya pada bi Ina.
"Wahhh nona muda ku sekarang sudah bisa masak yah" puji bi Ina tersenyum bangga.
"Oh iya dong bi" jawab Fiera bangga.
Bi Ina mengambil sepotong telur dadar buatan Fiera, lalu menyuapnya ke mulutnya.
Untuk sementara, bi Ina diam. Membuat Fiera menunggu dengan penasaran. Fiera maupun kedua sahabatnya belum mencicipi rasa telur dadar buatan Fiera.
"Gimana bi? enak gak?" tanya Fiera tidak sabar ingin mendengar pendapat bi Ina.
"Enak non, ini telur dadar paling enak yang bibi makan" jawab bi Ina.
Raisa dan Angle malah jadi penasaran. Mereka langsung memotong telur dadar dengan sendok, lalu memasukkan nya ke dalam mulut mereka.
Baru dua kali kunyah, Raisa dan Angle memejamkan matanya. Kedua gadis itu melirik ke arah bi Ina.
"Enak kan non" kata bi Ina tersenyum.
Raisa dan Angle saling melirik, kemudian dengan ragu mereka mengangguk. Susah payah keduanya menelan telur dadar itu agar masuk ke dalam perut nya.
"Enak banget bi" jawab Raisa yang langsung mengambil air minum. Begitu juga dengan Angle.
"Beneran gak sih?" gumam Fiera penasaran. Ia pun mengambil telur dadar buatannya lalu melahap nya.
"Uwueeekkk...." Fiera langsung memuntah kan telur dadar yang baru 2 kali ia kunyah.
"Gimana?" tanya Raisa terkekeh pelan.
"Asin banget, mana pedas lagi" jawab Fiera. Ternyata kedua sahabatnya dan hi Ina terpaksa memakan telur dadar buatannya hanya untuk menjaga perasaannya.
"Padahal gue udah buat sesuai arahan Lo" kata Fiera.
"Yah kalo gue nyuruh Lo ngasih garam satu sendok Fie" sela Raisa.
"Gue kasih sedikit rasanya"
"Iya sedikit Fie, itu kan menurut lo. Bukan menurut kenyataan "kekeh Angle.
"Yaudah deh, kita makan masakan kalian aja"
Fiera makan dengan sangat lahap, ternyata masakan kedua sahabatnya sangat enak. Fiera menjadi iri pada keduanya yang pintar masak.
"Kalian nona muda juga, kok bisa masak sih?" heran Fiera. Ia pernah berpikir jika dirinya jauh lebih mandiri ketimbang kedua teman nya.
"Fie, meskipun kita orang kaya. Kita tetap harus bisa masak Lo." seru Raisa.
" Bener banget, kita gk tahu gimana kedepannya hidup kita. Mungkin aja sekarang kita di atas, mana tahu esok di bawah. " tambah Angle.
"Wahhh pemikiran kalian dewasa banget yah, gak kaya penampilan nya" sahut bi Ina.
"Kalian benar, tapi gue gak punya waktu buat belajar masak" kelu Fiera.
"Yah karena Lo, terus mencari kesibukan buat mengisi waktu luang Lo. " ujar Raisa
"Yahhh mau bagaimana lagi, kalian tahu Lah. Gimana keadaan hidup gue." kata Fiera lesuh. Bagaimana mau kepikiran buat masak, menentukan bagaimana cara hidup nya saja tidak ada yang membimbing. Kedua orang tuanya terlalu sibuk dan lupa jika anak nya butuh bimbingan.
"Bibi akan ajarkan nona masak yah" kata bi Ina mengusap punggung Fiera.
"Makasih bi, bibi selalu ada untuk Fie" balas Fiera tersenyum menatap bi Ina. Wanita paru baya yang selalu ada untuk nya, di setiap harinya hanya bi Ina yang menemaninya. Sedih, senang, bi Ina lah yang ad.
Makan malam yang indah, Fiera tidak pernah merasa makan malam yang sangat bernafsu seperti malam ini. Ia merasa sangat kekenyangan sekarang. Sahabat memang yang terbaik, selalu ada ketika sahabat nya butuh. Fiera tidak merasa kesepian malam itu.
__ADS_1
...----------------...