
Jika bersama mu aku nyaman, apakah boleh? Aku berharap hidup selama nya bersama mu??
Fiera menatap wajah damai Ganda yang masih tertidur lelap. Jam masih menunjukkan pukul 5 lewat 30 menit.
Masih terlalu subuh untuk bersiap berangkat ke sekolah.
Fiera tersenyum malu, pipi nya bersemu merah mengingat kejadian kemarin sore.
"Apa ini yang di namakan cinta? Apa aku sedang jatuh cinta??" ucap Fiera bicara dalam hati.
Enggggg~
Ganda menggeliat, ia merasakan lembutnya tangan Fiera membelai tulang pipinya.
"Morning honey" sapa Ganda.
Fiera tersenyum lebar, ia menikmati hangat nya pelukan Ganda.
"Ini masih subuh tahu, belum pagi" cicit Fiera.
"Gak papa, akan lebih baik masih subuh. Jadi, aku bisa memeluk istri ku lebih lama lagi"
"Ih genit deh" ledek Fiera.
Betapa indahnya pagi ini, manisnya sikap dua insan yang masih sekolah, tapi sudah merasakan kehidupan berumah tangga.
Yah, walaupun belum sepenuhnya. Keduanya masih belum melakukan hubungan suami istri.
Fiera meminta kepada Ganda untuk melakukan nya setelah mereka lulus SMA. Ganda pun menerima keputusan Fiera, ia tidak memaksa Fiera untuk melakukan nya sekarang. Selagi Fiera mau bermanja manja dan menikmati.
Ganda dan Fiera selesai sarapan, keduanya berjalan bersama menuju ke depan rumah.
"Ayo masuk!"
Fiera mematung, ia menatap Ganda tidak percaya.
"Lo gila? Gue gak mungkin pergi ke sekolah bersama Lo bege!"
Blam~
Fiera menutup kembali pintu mobil Ganda.
"Ah, pasti kamu mau naik motor kan honey?" Ganda menggeleng.
"Sekarang itu masih pagi, suhunya masih terasa masih dingin" ucap Ganda kembali membukakan pintu mobil.
Fiera menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aduh Ganda, bukannya gue mau naik motor. Tapi, Lo sama gue itu gak mungkin pergi bersama!"jelas Fiera.
"kenapa?"tanya Ganda menatap Fiera dengan tatapan polos. Ganda melipat kedua tangannya di depan dada.
Seketika Fiera gugup, Ganda benar benar membuat dirinya tidak stabil.
"Kenapa gak jawab?
Aa aku tahu, pasti kamu takut teman teman kamu tahu kan??"
"Lo kan tahu sendiri, Raisa masih marah sama gue!"
"Fiera, sayang. Mereka sudah tahu status kita. Untuk apa lagi kita sembunyikan??"
"Tapi kan..-_"
"Udah deh, nurut aja. Gak mau jadi istri durhaka kan?"
Ganda mendorong Fiera masuk ke dalam mobil, lalu memakaikan sabuk pengaman nya.
"Kita akan pergi bersama dan menghadapinya bersama"
Cup~
Deg.
Jantung Fiera berhenti sejenak, perlakuan manis Ganda membuat dirinya membeku.
35 menit sudah Fiera dan Ganda melewati jalan raya yang tidak terlalu padat. Entah keberuntungan, atau mereka yang terlalu pagi berangkatnya.
Ganda membuka kan pintu untuk Fiera setelah mereka tiba di sekolah. Semua mata tertuju pada mereka.
__ADS_1
"What??? Gnda dan Fiera bersama???"
"Tidak, ini tidak mungkin!!!"
Siswi siswi berteriak histeris,namun suara mereka tertahan. Melihat Ganda memperlakukan Fiera dengan sangat baik membuat mereka iri.
"Gue bilang apa? Mereka itu bersama" ucap salah satu siswi. Ia melirik pada Raisa yang ternyata juga ada di sana.
"Ihh kenapa Lo liat liat kita!!" Marah Angle pada mereka.
"Cih, ada yang sedih tuh. Di tikung teman sendiri"cibir gadis itu tersenyum sinis pada Raisa.
"Sahabat tikungannya lebih tajam broo" teriak teman siswi itu.
Raisa pergi begitu saja dari sana, ia menatap sebentar pada Fiera.
"Raisa!"panggil Angle mengejar nya.
Fiera melihat Raisa pergi, ia tidak tahu harus melakukan apa. Satu sisi sahabat, dan satu sisi lain nya adalah suaminya.
"Udah, gak usah di pikirkan" bisik ganda menggenggam tangan Fiera.
"Ayo masuk"
Ganda membawa Fiera pergi ke kelasnya, meninggalkan satu pasang mata yang menatap tautan tangan Fiera dan Ganda dengan mata yang memanas.
"Fiera mencintai nya" ujar Randi.
Rafael menoleh, ia tersenyum simpul dan menggeleng pelan.
"Gue gak memikirkan nya lagi"
"Bagus, lebih baik Lo mulai membuka hati Lo untuk Susi" saran Randi.
"Susi??" Rafael baru sadar, sejak ia menyuruh Susi pergi dari rumah nya, ia sudah tidak pernah melihat Susi lagi.
"Apa dia tidak masuk sekolah beberapa hari ini?"tanya Rafael.
"Lo gila? Susi itu sama seperti Fiera. Ia tidak pernah bolos" jawab Randi.
"Kemana gadis itu?" Pikir Rafael dalam hati.
"Yasudah, gue duluan ke kelas" pamit Randi menepuk pelan bahu Rafael.
~•
"Hufff. . . Ternyata main petak umpet itu susah"kekeh Susi menghibur dirinya sendiri.
"Lo harus bisa, tidak mungkin hidup Lo berhenti hanya karena seorang cowo yang tidak bisa melihat kearah Lo!"
Susi berjalan santai menuju ke kelas nya, "Astaga!!"
Susi langsung melompat ke balik tembok. Ia kaget melihat Rafael berdiri di depan kelasnya.
"Apa yang dia lakukan di sana!" Maki Susi sembari memantau Rafael.
Kringgggggg!!!!!
"Yah, dia tidak datang" desah Rafael pelan. Ia sengaja menunggu Susi di depan kelasnya. Rafael berniat ingin meminta maaf padanya.
"Sudah pergi!" Gumam Susi berlari cepat masuk ke dalam kelasnya.
~•
"Apa?????? kenapa bisa?????"
Prank~
Gelas yang tadinya berisi teh hangat, kini berderai dan kacanya berserakan di atas lantai.
"Bunda??? ada apa?"
Elena menghampiri bunda nya, ia membantu bundanya agar tidak terkena serpihan kaca.
"Elena..."lirih Lusi lemes, ia tidak bisa menompang tubuh nya sendiri.
"Eh eh bunda kenapa???" Elena membopong bundanya ke sofa dan mendudukkan bundanya di sofa. Lalu, Elena berlari ke dapur untuk mengambil air putih untuk Lusi.
"Di minum dulu Bun" kata Elena.
__ADS_1
Lusi memeluk Elena setelah meminum sedikit air mineral itu.
"Bunda ada apa? kenapa bunda nangis????" tanya Elena panik. Namun, Lusi tidak menjawab pertanyaan putrinya. ia malah menangis terisak membuat Elena semakin bingung.
"Bunda, Elena gak ngerti dengan sikap bunda. Elena makin bingung Bun!!"
"Lusi!!!"
Ferdi pulang dengan terburu buru.
"Mas..."sahut Lusi.
"Kamu tenang yah, jangan panik. Semuanya akan baik baik saja" ujar Ferdi menenangkan istri nya.
"Ayah, Bunda, sebenarnya ada apa sih. kenapa kalian seperti ini??? Elena semakin bingung!!" erang Elena menjambak rambut nya sendiri.
"Sayang, aku mau ke sana sekarang!!!" pinta Lusi memohon pada suaminya.
"Iya sayang, kita juga harus mengabari Fiera dan Ganda" kata Ferdi mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi Ganda.
"Apa??? Ayah serius??? ini gak prank kan?? "
"iya Ganda, ayah serius. Ayah tidak bercanda!!!"
"Gak lucu Ayah, ini gak mungkin!!!" balas Ganda di sebrang sana.
"Pokoknya pulang sekarang!!!" titah Ferdi.
"Baiklah ayah, aku akan mengajak Fiera pulang"jawab Ganda patuh. Panggilan pun berakhir.
"Ini tidak mungkin"bantah Ganda memikirkan apa yang baru saja ia dengar dari ayah nya.
Fiera melihat kegelisahan Ganda, sebagai istri yang baik. Fiera menghampiri Ganda dan menanyakan apa yang sedang terjadi.
"Ada apa? kenapa Lo seperti itu?" tanya Fiera.
"Ayah menyuruh kita pulang" bisik Ganda
"Kenapa tiba-tiba, ada apa??" ekspresi wajah Fiera sudah tidak terbaca lagi. Entah mengapa jantung nya berdetak cepat.
"Gue juga gak tahu, lebih baik kita pulang sekarang" kata Ganda
"Ya sudah, gue ijin dulu" ucap Fiera.
"Gak keburu, kita langsung pulang aja. Gue udah ngabarin pak kepsek kok" balas Ganda.
Kedekatan Fiera dan Ganda menjadi pusat perhatian. Guru baru saja keluar dari kelas, Keduanya masih belum sadar jika semua mata menatap kearah nya.
"Aduh, Ganda dan Fiera kok gak nahan diri banget sihhh" erang Angle menggeram melihat suami istri itu dan sahabat nya Raisa yang menatap marah ke arah Fiera.
"Ke kantin yuk!" ajak Angle pada Raisa.
"Yuk!" jawab Raisa. Belum sempat mereka beranjak, Fiera sudah lebih dulu pergi dari kelas. Mereka terlihat terburu buru, membuat langkah Raisa terhenti dan semakin membuat dirinya membenci Fiera.
"Raisa!" panggil Susi setelah Fiera pergi.
"Ada apa lagi?" tanya Raisa malas.
"Gue gak mau banyak ngomong, tapi gue mau memperingatkan Lo buat jauhin Yani!"tegas Susi.
"What?? Lo Deket sama Yani??"kaget Angle menatap Raisa tidak percaya.
"Lo gak usah urusi diri gue. Mau Deket atau gak nya gue sama orang!"
bruk~
Raisa pergi dengan bahunya menubruk bahu Susi.
"Cih, gue hanya memperingatkan saja. Jika Lo gak mau dengar, itu hak Lo!" sahut Susi.
Raisa tidak menghiraukan nya, ia terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Meski begitu, Raisa masih mendengar ucapan Susi.
"Memangnya kenapa sih?" tanya Angle heran.
"Lo akan tahu, jika Lo mencari tahu nya sendiri!" Kata Susi ketus. Lalu, ia pergi begitu saja dari kelas yang mulai sepi.
"Astaga, bener bener Meraka. membuat gue semakin cepat tua karena memikirkan tingkah mereka semua!!!!" teriak Angle frustasi.
...----------------...
__ADS_1
Kira kira ada apa yah??? ada yang tahu gak???
komen yakkkkk