
Elena semakin mencengkram selimutnya,ia juga tidak berani membuka matanya.
"Bundaaaa tolong Elen"teriak gadis kecil yang masih duduk di bangku 3 SMP.
Penjahat di luar semakin dekat, mereka bersiap akan membuka tenda Elena.
Slesssh~
Elena semakin memejamkan matanya, ia tidak sanggup memikirkan apa yang akan terjadi pada dirinya, ia hanya berharap seseorang datang dan menyelamatkan nya.
"Siapa kalian!!!!" teriak seseorang lantang. Perhatian penjahat itu pun teralihkan. Mereka yang akan menggeledah isi tenda Elena malah menata orang yang baru saja berteriak kepada nya.
"Terimakasih yah Allah"syukur Elena bernafas lega, namun ia tetap tidak berani membuka selimutnya.
Randi tiba di lokasi tepat waktu, ia mendapat kabar dari Susi dan langsung berlari bersama beberapa panitia ke perkemahan.
Penjahat itu bergegas kabur.
"Kejar mereka!!" ucap Randi.
Para panitia pun langsung mengejar 5 orang penjahat itu. Di bantu oleh beberapa warga yang memang sangat baik.
Randi menoleh ke tenda Fiera, ia melihat Elena terbungkus oleh selimutnya. Perlahan Randi masuk dan memeriksa keadaan Elena.
"Elen, Lo bisa keluar sekarang"ujar Randi.
"kak Randi?" gumam Elena, ia langsung membuka selimutnya dan memeluk Randi.
"Makasih kak, kakak udah selamatin Elena"lirih Elena menangis di pelukan Randi.
"Elena!!" seru Fiera, ia tiba sedikit terlambat. Tapi, bersyukur Elena tidak apa apa.
"Kak Fie..hiks..." Elena beralih memeluk Fiera.
"Udah, kamu gak usah takut, semua sudah aman"kata Fiera menenangkan Elena yang kini menangis di dalam pelukan nya.
Ganda menatap Randi, ia menanyakan apa sebenarnya yang terjadi.
"Apa yang terjadi?"tanya Ganda.
__ADS_1
"Seperti yang lie infokan, ternyata semua itu memang pengalihan. Sekelompok penjahat menggeledah semua tenda. Mereka mencari barang berharga yang kita miliki" jelas Randi.
"Sial!"geram Ganda, ia melirik adiknya sebentar.
"Tapi, tenang aja. Para kakak panitia sudah mengejar mereka bersama beberapa warga" lanjut Randi.
"Kak, Elen takut. Elen mau pulang aja" ucap Elena penuh air mata.
"iya, iya kita akan pulang malam ini. Perkemahan ini tidak bisa di lanjutkan"gumam Fiera. Ganda dan Randi setuju dengan hal itu.
"Fiera, bagaimana? apa ada yang terluka?" tanya Ria, ketua panitia kegiatan ini. Ria baru saja tiba di lokasi perkemahan, tadi ia sempat di sibukkan oleh anak anak yang teracuni.
"Elena tidak apa apa kak, dia hanya syok dan ketakutan"jawab Fiera menjelaskan kondisi Elena.
"Kita sudah tidak aman, jika mereka lolos, maka mereka pasti akan kembali" kata Ria.
"Benar kak, itu yang mau gue sampaikan sama kakak"ujar Fiera.
"Berkemas lah, kita akan kembali malam ini juga. Semua kegiatan kita sudah selesai. Hanya kegiatan hiburan saja yang belum selesai. Jadi, kita bisa kembali malam ini." tutur Ria.
"Siap kak!" balas mereka.
"Udah yah, jangan nangis lagi yah. Semuanya udah aman kok" bujuk Fiera menenangkan Elena. Ganda memperhatikan nya, ia kembali salut dengan Fiera. Menenangkan orang lain dia sangat terampil, tapi kehidupan nya sangat kacau. itulah yang Ganda pikirkan. Ia tidak habis pikir dengan jalan hidup Fiera.
"Gue ke tenda dulu, setelah berkemas gue akan kembali ke sini" kata Ganda. Fiera tak menyahut, dia hanya fokus pada Elena.
"Yuk cabut" ujar Ganda pada Randi.
Setelah Ganda dan Randi pergi, Susi dan Angle tiba di tenda.
"Ya ampunnnn Elena Lo gak papa kan? apa mereka menyakiti Lo?" tanya Angle panik.
"Dia gak papa, hanya syok dan ketakutan saja. Beruntung Randi datang tepat waktu, jika tidak. Mungkin Elena sudah mereka sakiti" jelas Fiera.
"Ya ampun Elen, beruntung Lo gak papa"lirih Susi. Ia sangat khawatir tadi, apalagi di perkemahan hanya Elena yang berada di tenda.
"Sekarang kita berkemas dengan cepat, kita akan kembali malam ini" kata Fiera. Angle dan Susi mengangguk. Mereka langsung mengemasi semua peralatan kemah mereka.
Tepat Pukul 7 malam, bus sudah tiba di lokasi perkemahan. Datang di antar, tapi pulangnya tidak di jemput. Karena berita dadakan, jadi pihak sekolah mempercayakan semuanya pada pihak BEM kampus yang menanggung jawabkan acara ini.
__ADS_1
Fiera masih bersama Elena, ia duduk di bus yang sama dengan Elena. Tak lupa, Ganda juga bersama mereka. Elena tidak mau jauh dari Fiera, dan dirinya juga tidak mau jauh dari kakaknya. Alhasil mereka duduk bertiga di belakang yang memang bangkunya muat untuk tiga orang.
Fiera duduk di tengah, ia tidak bisa duduk di dekat jendela karena Elena juga sama seperti dirinya. Karena Elena masih dalam keadaan trauma, Fiera mencoba untuk mengalah dan menguatkan dirinya agar tidak mabok duduk di tengah.
Suasana malam sungguh sangat berbeda antara di kota dan desa. Fiera merasakan dingin nya angin malam yang masuk melalui jendela bus. Elena sudah tidur, anak anak yang lain juga sudah pada tidur. Hanya Fiera dan Ganda yang masih terbangun. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Eh"kaget Fiera, Ganda tiba-tiba menyelimuti jaketnya ke tubuh Fiera.
"Pake aja, gue tahu Lo kedinginan"ujar Ganda ketika Fiera bergerak untuk melepaskan jaket nya.
"Gue gak butuh!" kata Fiera bersikeras ingin membuka jaket itu.
"Jika Lo berani buka, maka gue akan menghukum Lo!" ancam Ganda.
"Lo pikir gue takut?"tantang Fiera dengan suara pelan tapi penuh penekanan.
"Lihat saja nanti, Lo bisa hukum gue ketika Lo berada di sekolah. Tapi di sini, Lo akan gue hukum dengan cara gue sendiri!" tekan Ganda.
Deg~
Fiera terdiam, ia teringat dengan kejadian di malam pertama ia berada di desa ini. Ganda menculiknya ke balik pohon besar dan melecehkan bibirnya.
"Jadilah wanita yang baik" lirih Ganda mengusap rambut Fiera lembut. Membuat gadis itu tersentak dan langsung menjauhkan kepalanya dari jangkauan Ganda.
"Tidurlah"lirih Ganda tersenyum, kemudian melipat kedua tangannya di depan dada dan mulai memejamkan mata.
Fiera masih diam, ia melirik Ganda yang mulai masuk ke dunia mimpinya.
Dia gila apa?kenapa sikapnya malah berbalik dari pertama bertemu?. Gue tahu, ini pasti jebakan, dia pasti menggunakan cara licik ini untuk melumpuhkan gue. Seperti di novel novel itu, pasti dia sedang bertaruh dengan teman teman nya.
Fiera melirik Elena, ia tersenyum melihat lelapnya sahabat cilik nya itu sedang tertidur. Fiera dapat merasakan betapa takutnya seorang Elena tadi. Jika Fiera berada di posisinya, mungkin ia juga akan merasakan hal yang sama.
"Gue bersyukur Lo baik baik saja, jika Lo kenapa kenapa, gue gak akan bisa maafin diri gue sendiri"lirih Fiera sembari menatap lekat wajah Elena. Lalu kemudian, Fiera menyandarkan kepala nya ke sandaran tempat duduk bus, dan ikut menyusul Elena ke alam mimpi.
Tanpa di duga, ternyata Ganda belum tidur. Ia hanya memejamkan matanya dan pura pura sudah tidur dengan memberikan sedikit dengkuran.
Ganda mendengar semua ucapan Fiera untuk Elena. Terdengar tulus dan memang dari hatinya yang paling dalam. Ganda merasa semakin tertarik pada gadis ini. Sedikit demi sedikit Ganda mulai mengetahui siapa Fiera dan bagaimana kehidupan nya. Sungguh miris dan kasihan. cowo itu memperbaiki posisi jaketnya yang hampir jatuh dari tubuh Fiera.
"Nice dream"bisik Ganda. Namun Fiera tidak mendengar nya, ia sudah terlelap dan masuk ke dunia mimpi.
__ADS_1