Mengejar Cinta Ketos Jutek

Mengejar Cinta Ketos Jutek
Tak dapat mengelak


__ADS_3

Fiera melajukan mobilnya, mata nya terlihat membengkak karena terlalu banyak mengeluarkan air mata.


Ketika sedang fokus mengemudi, Fiera merasakan getaran ponselnya di dalam saku baju nya.


"Elena?"gumam Fiera membaca nama yang tertera di layar ponselnya.


Fiera menepikan mobil nya, lalu ia menerima panggilan dari Elena.


"Halo kak"sapa Elena di sebrang sana, suaranya terlihat sangat bersemangat.


"Iya Elena, ada apa?"tanya Fiera berusaha untuk terdengar biasa saja, meskipun Suaranya sedikit serak.


"Kak, Kaka di mana? Aku mau bertemu sama kakak" pinta Elena.


"Maaf Elena, aku lagi di jalan. Aku tidak bisa bertemu dengan mu hari ini. Mungkin besok" tolak Fiera secara halus.


"Tidak kak, aku sangat ingin bertemu dengan kakak. Aku sudah lama tidak bertemu dengan kakak. Apa tidak boleh kita bertemu??" Tanya Elena dengan nada sedih.


Huff...


Fiera memejamkan matanya sebentar, lalu menjawab ucapan Elena.


"Baiklah Elena, dimana kita akan bertemu?"tanya Fiera pasrah, ia tidak bisa menolak Elena jika seperti ini. Ia tidak bisa mengelak lagi, sungguh ia tidak suka mendengar Elena sedih.


"Kita akan bertemu di rumah aku kak"putus Elena, lalu menutup panggilan telfon nya tanpa mendengar balasan Fiera terlebih dahulu.


"Maaf El..."


Tutttt....Tuttttt...


"Elena? Elena??....," Panggil Fiera berkali kali, lalu menatap layar ponselnya yang sudah tidak ada panggilan dari Elena.


"Dia membuat gue tidak bisa berkata"dengus Fiera. Meskipun menggerutu, Fiera tetap menuruti permintaan Elena. Gadis kecil itu sudah seperti adik kandung bagi nya.


Fiera kembali menjalankan mobil nya, ia melaju mengubah tempat tujuannya. Tadinya Fiera akan ke rumah Angle, kini ia malah melaju menuju ke rumah Elena, alias rumah Ganda.


25 menit Fiera melajukan mobil nya, akhir nya ia tiba di rumah Ganda. Dengan santai, gadis itu keluar dari mobil nya dan merapikan penampilan nya yang hampir terlihat kacau.


"Halo kakak ipar!!!"teriak Elena dari tangga ketika melihat Fiera memasuki rumah nya.


Fiera sempat kaget, ia menoleh ke arah sumber suara dan memaksakan dirinya untuk tersenyum.


Elena menuruni anak tangga dengan cepat, dan berlari mendekati Fiera.

__ADS_1


"Akhirnya kakak datang juga" gumam Elena senang.


"Maaf Elena, jangan memanggil ku seperti itu" ucap Fiera merasa kurang senang mendengar panggilan Elena kepada dirinya.


"Kenapa kakak, memang kakak akan menjadi kakak ipar ku kan?" Jawab Elena.


"Ti-"kata Fiera terhenti.


" Lahhh menantu bunda udah datang, ayo sayang duduk" ucap Lusi menuntun Fiera duduk ke sofa. Hal ini membuat Fiera semakin tersudutkan, ia tidak tahu harus bagaimana menjelaskan kepada Lusi dan juga Elena, jika dirinya tidak bisa menerima perjodohan itu.


"Tante... Aku-"


"Sudahlah sayang, jangan panggil Tante lagi yah, panggil bunda aja. Biar sama dengan Ganda dan Elena"potong Lusi.


Fiera menggigit bibir bawahnya, ia sangat ingin mengatakan jika dia tidak mau di jodohkan. Tapi, melihat ekspresi bahagia kedua wanita ini, membuat dirinya tidak berdaya.


"Kakak, aku sangat senang. Kakak akhirnya akan menjadi kakak ku" ungkap Elena berbinar.


"Iya, tapi aku yang akan menanggung semua akibatnya!"jawab Fiera dalam hati.


"Tant..uhm..bunda. Fiera mau bilang sesuatu sama bunda dan Elena" ujar Fiera.


"Tidak sayang, tidak ada yang perlu di bicarakan. Bunda sudah menyiapkan semuanya. Bunda sudah memesan hotel berbintang untuk acara kalian. Bunda juga sudah meminta desainer ternama untuk memberikan beberapa gaun untuk kamu pakai ketika akad nanti sayang" ucap Lusi panjang lebar tanpa memberi cela untuk Fiera berbicara.


"Jika kalian berbicara terus, bagaimana mungkin aku bisa mengatakan apa yang ingin aku sampaikan" gerutu Fiera dalam hati. Ia harus menahan diri untuk tidak terpancing dan berteriak di hadapan mereka. Terkadang Fiera ingin melakukan hal itu agar mereka tidak menyukainya. Tapi, Fiera tidak tega untuk menyakiti mereka.


Fiera hanya bisa berdoa agar dirinya di beri pertolongan oleh tuhan yang maha esa. Agar dirinya terhindar dari masalah ini.


"Bunda..Aku-"


"Eh anak bunda udah pulang?" Ucap Lusi. Lagi dan lagi Fiera harus menelan ucapannya sendiri. Ia benar-benar tidak di beri kesempatan sama sekali.


"Elen..."lirih Fiera berali pada Elena yang langsung pura pura menerima panggilan dari temannya dan pergi begitu saja.


"Maaf kakak, aku harus menerima panggilan dari teman ku dulu" ujar Elena.


"Baiklah"lenguh Fiera pasrah.


Lusi menarik putranya bergabung dengan Fiera.


"Bunda mau bilang sam kalian berdua. bunda sudah menyiapkan semuanya untuk acara Kalian 2 Minggu lagi" ujar Lusi.


"Wahh bagus dong" sorak Ganda senang. Fiera langsung melirik tajam padanya.

__ADS_1


"Apa nya yang bagus!"bentak Fiera, ia kehilangan kendali dirinya ketika menatap wajah bahagia Ganda.


"Tentu saja bagus sayang, kalian tidak akan repot untuk memikirkan nya" sela Lusi. Fiera pun langsung tersentak dan menyadari bahwa di antara dirinya dan Ganda ada Lusi.


"Hampir aja gue bertindak bodoh"lenguh Fiera dalam hati.


"Bun..... Bukan kah menurut bunda ini terlalu dini untuk kami menikah?" tanya Fiera.


"Tentu saja tidak sayang, malahan bunda senang. Anak bunda cepat menikah, apalagi kamu yang di nikahi putra bunda"jawab Lusi senang. Membuat Fiera semakin mengutuk dirinya. Bisa bisanya dirinya bertemu dengan wanita seperti ini. Biasanya, para ibu ibu akan memikirkan masa depan anak anak nya, baru setelah itu menikah. Walaupun mereka kaya, seharusnya itu bisa menjadi alasan bagi Lusi untuk berhati hati memilih calon mantu.


Fiera mengerang resah di dalam pikirannya melihat sikap Lusi yang benar benar berbeda dari ibu ibu lain.


"Zaman dulu, umur 14 aja udah nikah. Ibu nya kak author umur 16 sudah menikah. Gak percaya?tanya aja tuh sama kakak author"jawab Ganda mencibir pada Fiera.


"Benar tuh, zaman dulu orang orang menikah sangat muda" sahut Lusi.


"Tapi, itu kan di masa lalu. Zaman nya pun berbeda. Ini sebuah pernikahan. Bukan main main Ganda! Harusnya ini di bicarakan hati ke hati. Jika salah mengambil langkah, maka semua nya akan hancur!"tegas Fiera menatap Ganda lekat.


"Karena gue yakin, maka nya gue menerima perjodohan ini"jawab Ganda tak kalah tegasnya.


Lusi yang duduk di antara Fiera dan Ganda hanya bisa menatap merek asecara bergantian, menyaksikan perdebatan yang tidak bisa ia pahami.


"Apa yang bisa Lo pikirkan, selain kesenangan diri Lo sendiri!" Balas Fiera.


"Lo tidak paham akan diri gue. Jangan menyimpulkan nya sembarangan!"tegas Ganda.


Fiera berdiri dari duduknya, ganda pun ikut berdiri. Emosi kedua nya sama sama terpancing. Lusi merasa pusing melihat keduanya.


"Karena itulah gue gak mau menerima perjodohan ini, gue gak ngerti diri Lo dan tidak akan pernah mengerti!!!" Teriak Fiera dengan suara lantang.


"Apa?jadi kamu tidak menerima nya Fie??" Tanya Lusi.


"Tante.."lirih Fiera tersadar, ia lupa jika Lusi masih ada di sini.


"Jadi...Kamu tidak-?"


Bruk~


Lusi tidak bisa melanjutkan ucapan nya, kesadarannya malah lebih dulu di renggut oleh kegelapan.


"Tante.."


"Bundaaa"

__ADS_1


Fiera dan Ganda langsung mendekat pada Lusi dan mencoba membangunkan Lusi. Mereka terlihat sangat panik dan memperbaiki posisi Lusi di atas sofa.


__ADS_2