
Ganda pulang sekolah, ia mencari istri nya ke dalam kamar. Namun ia tidak menemukan nya di sana.
"Loh, kemana Fiera???" tanya Ganda tanpa ada yang menjawab.
Pria itu beranjak keluar dari kamar dan mencarinya ke bawa.
"Bunda!!! Bunda!!!" panggil Ganda berteriak.
"Aduh, apaan sih Ganda. Kok kamu teriak teriak sih!"
"Ini bunda, Fiera gak ada di kamar. Bunda tahu gak dia kemana???" tanya Ganda panik.
"Ohh menantu bunda??
Tadi dia pamit sama bunda pergi ke mall bareng Elena"
"Ke mall???" Ganda sangat kaget, Fiera benar-benar sudah kembali.
"Kapan perginya Bun?"
"Sekitar 2 jam yang lalu, palingan bentar lagi balik!" jawab Lusi lagi.
Baru selesai Lusi berkata, terdengar suara mobil berhenti di halaman rumah.
"Nah tu mereka" ucap Lusi lagi.
Ganda langsung berlari ke depan rumah, ia ingin melihat istrinya.
"Hahaha, akhirnya kita sampai"sorak Elena khas anak kecil nya.
"Huhh, kakak capek banget" lenguh Fiera sembari menenteng barang belanjaan nya masuk ke dalam rumah.
"Bundaaa!!! kami pulang!!!" teriak Elena.
"Ehhh Anak bunda udah pada pulang, gimana?? seru??" tanya Lusi bahagia.
"Seru dong Bun, tadi kita dapat tiket nonton film bagus banget!!" jawab Fiera antusias.
"Wahhh, bunda jadi nyesel nya nih. Nolak ajakan kalian" lirih Lusi memasang wajah sedih.
"Wahhh,,, istri gue udah pulang nih. Tapi, kok gak salim yah?? apa sekarang berkah suami udah gak di perlukan lagi?" sindir Ganda melihat lihat telapak tangannya seperti ngecek barang yang akan ia beli.
Deg~
Fiera sejak tadi tidak sadar jika di antara mereka ada Ganda yang tengah berdiri di belakang nya.
"Lo udah balik?" tanya Fiera tercengir.
"Gue balik sejak 10 tahun yang lalu" ketus Ganda merajuk.
"Idih, kaya anak kecil Lo. Merajuk gak jelas!" dengus Elena menarik Fiera pergi ke kamarnya.
"Eh eh, kok di bawa sih. Fiera kan istri gue!!!" teriak Ganda mengejar Fiera dan Elena yang sudah menaiki anak tangga.
"Dasar, anak nakal!" gumam Lusi tertawa ringan melihat ketiganya.
Sementara itu, di jam yang sama dan tempat yang berbeda. Susi tengah duduk menikmati minumannya di taman tempat biasa dirinya menenangkan diri.
__ADS_1
Taman itu, terdapat banyak bunga bunga yang mampu menyejukkan hatinya.
"Huuffffwaaaa...."
"Indah banget yah, gue benar-benar tenang berada di sini" lirih Susi. Kilasan wajah Rafael terbayang di pikiran nya. Entah mengapa, Susi tidak bisa melupakan Rafael. Meskipun saat ini Rafael sering mencoba bertemu dengan dirinya.
"Gue gak akan memaksa Lo Raf, gue akan melupakan Lo!" gumam Susi.
"Kenapa Lo harus menyerah?"
Deg~
Siapa yang menyahuti ucapan gue.?" pikir Susi kaget, ia segera berbalik dan melihat siapa yang tengah berdiri di belakang nya.
"Raf- el?" gumam Susi terbata.
Rafael tak menjawab, ia malah dengan santai duduk di samping Susi.
"Lo harus tanggung jawab! Lo menanam benih, tapi Lo gak lihat bagaimana pertumbuhan nya!" ujar Rafael menoleh pada wanita yang selama ini tak ia lihat.
Susi tersenyum kecut mendengar ucapan Rafael.
"Gue bukannya tidak melihat pertumbuhan benih yang gue tanam. Gue selalu melihatnya, hanya saja terkadang benih itu tumbuh tanpa tahu siapa yang menanamnya. Bisa saja, orang yang menanam benih, tapi bukan dia yang memanennya!" balas Susi.
"Ternyata Lo puitis juga yah, kenapa gue selama ini tidak melihat Lo?"
"Tanyakan pada diri Lo sendiri, yang selama ini tidak melihat usaha gue yang selalu mencoba menyiram dan memberi pupuk pada benih yang gue tanam."
Susi berdiri, ia tidak sanggup lama lama berada di samping Rafael.
"Susi!" panggil Rafael menghentikan langkah kaki Susi.
"Maafin gue Susi, gue baru sadar soal kehadiran Lo!" lirih Rafael menatap kepergian Susi.
"Apa Lo menerima nya begitu saja?" Raisa muncul di belakang Rafael, ia mendengar semua percakapan Susi dan Rafael.
Tanpa menoleh, Rafael sudah tahu siapa yang berdiri di belakang nya.
"Kenapa gue gak menerima nya? di dalam situasi ini tidak ada yang salah selain kita!"
Rafael berbalik, ia menatap Raisa dengan tatapan datar.
"Kenapa kita yang salah? jelas jelas mereka yang mengkhianati kita!" tegas Raisa tak terima.
Rafael tersenyum miring, ia melangkah lebih dekat dengan posisi Raisa berdiri.
"Gue memang kecewa, tapi gue gak berpikir jika mereka salah!.
Lo sadar gak? mereka jauh lebih menderita dari kita. Mereka itu saling mencintai, namun harus menghilang kan rasa itu demi kita!."
"Lo gila? gak usah menghibur diri sendiri deh!" bantah Raisa.
"Cih!. Gue gak menghibur diri, itu kenyataan nya.
Lo percaya dengan omongan orang lain?? padahal Lo sudah tahu bagaimana sifat asli sahabat Lo.
Sekarang, siapa yang mencoba membohongi dirinya sendiri??" ucap Rafael membalikkan pertanyaannya.
__ADS_1
"Mereka sudah membuat gue kecewa, di saat gue telah mempercayai dia. Tapi malah seperti ini!" tegas Raisa.
"Gue saranin, Lo renungi lagi semua yang terjadi. Sudah hampir 2 bulan, tapi Lo masih belum menemukan titik temu."
"Gue yakin, Lo tahu persis Fiera itu orang seperti apa, sifatnya bagaimana. Gue juga yakin, hati kecil Lo tahu siapa yang salah."
"Dia mengkhianati gue!! apa gue harus memaafkan nya!!! apa gue harus bersama orang yang sudah mengecewakan gue??? apa gue harus menderita melihat mereka bahagia???" teriak Raisa emosi, ia sudah tidak tahan mendengar ucapan Rafael yang terus membela Fiera.
"Cih, mengkhianati? apa Lo yakin Ganda menyukai Lo??? apa Lo udah ada hubungan sama Ganda???
jika tidak. Maka itu hak mereka untuk bersama. Meskipun mereka tidak mengatakan apapun sama Lo, karena mereka hanya menjaga hati Lo.
lalu, di mana letak kesalahannya??
Lo itu hanya tidak bisa menerima Ganda menolak perasaan Lo. Gue yakin itu, karena awal nya gue juga merasakan hal yang sama. Namun, setelah gue renungi kembali, Mereka tidak bersalah. Yang saah hanya waktu dan posisi mereka."
Rafael pergi begitu saja setelah berkata panjang lebar. Meninggalkan Raisa yang terhenyak di tanah memikirkan setiap kata yang Rafael lontarkan.
"Apa gue yang berlebihan?? apa gue yang tidak tahu diri menyukai pria yang tidak menyukai gue sama sekali???"
Hiks...Hikss....
Raisa mulai menangis, ia tidak tahu harus bagaimana. Ia ingin sekali bercerita dengan Fiera, namun egoh nya sangat tinggi.
Raisa menangis seorang diri, air matanya tak henti hentinya mengalir.
"Apa Ganda mencintai Fiera??? apa mereka benar benar saling mencintai???"
Tidak, Raisa menggeleng cepat. Ia tidak tahu harus memikirkan apa.
...----------------...
Fiera duduk di tepi ranjang, ia baru saja selesai menata setiap barang belanjaan nya tadi bersama Elena.
"Sayang" panggil Ganda langsung memeluk Fiera dari belakang, membuat gadis itu kaget.
"Lo ngapain sih!!!", serga Fiera pelan.
"Gue kangen sama Lo!" cicit Ganda mengendus leher Fiera.
"Ihh apaan sih Ganda, geli tahu!!!",
"Gak pap, gue kangen mau wikwik" goda Ganda semakin liar.
"Ahh..Ganda, Lo gila apa!!!" marah Fiera berusaha menahan diri, sejujurnya ia tidak bisa menahan dirinya.
Ganda tidak mendengarkannya, ia malah menggendong Fiera, lalu membawanya berbaring di atas ranjang. Sebelum Fiera kabur, Ganda langsung menghimpit tubuh istri nya.
"Kita akan bersenang-senang malam ini" ujar Ganda langsung menyerang Fiera dengan ciuman hot nya.
Ganda sungguh jago dalam mempermainkan dirinya, Fiera sampai tidak sadar jika dirinya sejak tadi mengeluarkan ******* yang membuat Ganda semakin tidak terkontrol.
Tanpa sadar, tubuh atas Fiera sudah setengah terbuka. Ganda tengah sibuk bermain di atas dua gunung kembar.
"Ganda, ahh...Udah, gue gak mau ke babalasan!!" rengek Fiera di selah sela desahannya.
"Nikmati saja saya g, aku tahu batasan kok. Agi pula kita sudah sah" sahut Ganda mengangkat wajah nya sebentar, lalu kembali melanjutkan aktivitas yang semakin membuat Fiera melayang. Gadis itu sudah tidak peduli lagi. Ia hanya bisa menikmati apa yang suaminya lakukan. Jika mereka kebablasan dan menghasilkan cabang bayi, maka Fiera akan melakukan home schooling.
__ADS_1
Melihat istrinya pasrah, Ganda semakin menyeringai dan bersemangat menyerang setiap titik inti dan sensitif bagi Fiera.
...----------------...