
"Ayo semuanya kumpul!!!!"teriak Angle mengarahkan murid murid yang ikut kegiatan bansos berbaris di lapangan.
"Hitung!!"teriak nya lagi ketika mereka semua sudah membentuk barisan yang rapi.
Total semua murid yang ikut dari kelas satu hingga kelas 3 adalah 80 orang.
"Setelah nama nya di panggil untuk absen, langsung masuk ke dalam bus yah" kata Fiera.
"Siap!!" Jawab mereka serempak.
Susi pun mulai memanggil nama mereka satu persatu. Dan mereka langsung masuk ke dalam mobil bagi nama nya sudah terpanggil sesuai arahan dari Fiera.
"Ganda?" Gumam Susi menyebut nama terakhir buang tertulis di daftar nama murid yang ikut.
"Huh?"kaget Fiera.
"Gue hadir!!!!"teriak Ganda dari arah belakang mereka. Ketiga gadis itu langsung berbalik dan menatap Ganda heran.
"Lo daftar sama siapa?" Tanya Susi.
"Gue...." Ganda terlihat mencari cari seseorang.
"Dia daftar sama gue!" Sahut Randi.
"What??" Lagi lagi ketiga gadis itu terheran heran. Sejak kapan Ganda dan Randi damai, bukan nya terakhir kali mereka berantem?.
"Hehe... Jangan banyak tanya, kalo mau nanya. Langsung aja sama dia" seru Randi, lalu cepat cepat ia masuk ke dalam bus.
"Lo kenapa ikut?" Tanya Fiera ketus.
"Emang kenapa kalo gue ikut? Bukannya ini kegiatan umum?" Balas Ganda biasa saja.
"Fiera, ayo buruan masuk. Semua yang sudah di absenkan??"teriak pak Somat.
"I-iya pak!" Mau tidak mau Fiera dan kedua teman nya masuk ke dalam bus yang sama dengan Ganda. Lebih parah nya lagi, tempat duduk yang tersisa hanya 2 di bagian belakang.
Fiera melirik Susi dan Angle, namun keduanya sudah duduk di tempat yang berdekatan.
"Sus..."panggil Fiera
Susi menggeleng pelan, ia tahu maksud dari tatapan Fiera. Ia tidak mau duduk bersama Ganda, apalagi status nya yang bersaing dengan Raisa.
__ADS_1
Ganda sudah duduk di bangku sebelah jendela bus.
"Angle..."Fiera menatap Angle penuh harap, namun hal yang sama Fiera dapatkan.
"Fiera, cepat duduk. Bis akan jalan" tegur Bu Rena.
"Baik Bu" jawab Fiera, dengan perasaan terpaksa dan berat. Fiera harus duduk di samping Ganda.
Fiera melirik sebentar pada Fiera yang sudah asik menatap ke luar jendela bus.
"Gue mau duduk di sebelah situ!"ujar Fiera datar pada ganda. Fiera paling tidak bis la duduk jauh dari jendela. Jika naik mobil nya sendiri, Fiera bisa duduk di mana aja, tapi kalo naik bus, ia harus duduk di dekat jendela. Jika tidak, Fiera akan mabuk.
"Woy!!! Denger gak!"teriak Fiera, karena Ganda tak kunjung mendengarkan nya
"Apaan sih, teriak teriak kaya di hutan aja!"sungut Ganda menatap Fiera kesal.
"Lo sih gan, sejak tadi Fiera ngomong tapi Lo gak denger!" Celetuk Angle. Semua murid yang ada di bus, termasuk guru menghela nafas gusar melihat perdebatan antara Fiera dan Ganda. Sayang sekali, mereka duduk berdekatan. Sudah nasib dan hiburan bagi mereka semua melihat pertengkaran mereka.
"Gue itu gak lagi ada di pasar. jadi, Kalo ngomong tu yang sopan. Tukang parkir aja ngomong nya lembut. Masa anak cerdas dan berpendidikan ngomong nya kaya preman pasar!" Sindir Ganda. Fiera semakin naik pitam, sikap ganda sudah membuat dirinya malu.
"Lo-"
"Apa? Mau nyakitin gue. Sekarang aku tanya sama Bu Rena. Apa salah ucapan saya tadi Bu? Sebagai ketua OSIS yang disiplin dan bijak sana. Apa pantas bersikap seperti itu?"
"Aduh ganda, Lo nanya begitu gak bakal ada jawabannya. "Celetuk Angle.
"Tau ih, buang buang waktu. Jelas jelas sikap Fiera begitu cuma ke elu!!" Sambung Susi.
"Ah sudah sudah. Fiera sekarang kamu duduk di kursi yang kosong itu. Kita harus segera berangkat!" Lerai Bu Rena.
"Tapi bu, saya gak bisa kalo duduk jauh dari jendela" lirih Fiera.
"Ganda, apa kamu mau berganti posisi dengan Fiera?" Tanya Bu Rena.
Ganda tampak berpikir sejenak, ia sebenarnya hanya ingin merubah sikap Fiera pada dirinya. Tapi, malah terlalu banyak yang memusuhinya. Fiera sungguh sulit untuk ia menggapai nya.
"Kalau Ganda gak mau, saya bersedia kok bu bertukar tempat!" Ujar salah satu siswa.
"Duduk Sono!" Jawab Ganda berdiri cepat, lalu mendorong Fiera duduk di sebelahnya dekat jendela.
"Dari tadi kek!" Cibir Angle.
__ADS_1
Bus pun mulai bergerak meninggalkan perkarangan sekolah.
Di perjalanan, Fiera terus menatap ke luar jendela Bus. Semua permasalahan keluarga nya kembali melintas di benaknya. Hati Fiera kembali terasa sakit. Sesekali Fiera memejamkan matanya dan membiarkan air matanya mengalir begitu saja.
"Dia nangis?"batin Ganda kaget melihat Fiera menghapus air matanya.
"Fie.."panggil Ganda pelan. Perjalanan batu setengah menuju ke desa A. Semua orang memilih untuk tidur dan memakai handset. Sedangkan Fiera, malah mengisi waktu nya dengan menangis.
"Lo gak usah ikut campur, lebih baik Lo tidur dan anggap tidak melihat gue!" Ketus Fiera dengan suara parau nya.
"Lo kenapa? Gue bisa bantu jika Lo mau"tawar Ganda, suaranya terdengar lembut dan penuh perasaan.
"Gue gak butuh" tolak Fiera.
Ganda menghela nafas berat, hatinya terasa berdarah ketika melihat air mata jatuh dari pelupuk mata Fiera.
"Lo emang terlihat selalu ceria dan tanpa beban. Tapi gue tahu, Lo sangat menderita dengan masalah yang gue gak tahu itu apa" ucap Ganda dalam hati. Pria ini memilih untuk tetap diam dan memperhatikan Fiera menangis dalam diam.
"Kenapa mereka jahat sama gue, sampai saat ini. Mereka tidak ada yang menghubungi gue, apalagi mencari gue. hanya bi Ina yang selalu mencari dan menanyakan keadaan gue. Sebenarnya siapa sih orang tua gue, sejak kecil mereka sangat acuh sama gue" lirih Fiera dalam hatinya.
~•
Sementara di rumah, Dea terus menanyakan pada bi Ina tentang Fiera. apakah dia baik baik saja, dimana dia sekarang dan sedang apa.
"nyonya, apa gak sebaiknya nyonya langsung yang bertanya pada nona muda? mungkin itu akan membuat nona muda lebih baik?" usul bi Ina. ia mengerti apa yang sedang nona muda nya rasakan.
"Tidak usah bi, jika dia baik baik saja maka biarkan saja" kata Dea. Bi Ina hanya bisa mengangguk dan pamit undur diri
"Pasti nona Fiera menunggu kedua orang tuanya mencari dan mengkhawatirkan dirinya"batin bi Ina. Ia sangat hafal bagaimana perasaan dan pemikiran Fiera saat ini. Namun, apa yang bisa ia lakukan.
Bi Ina hanya bisa mengusulkan dan mengatakan persoalan pendapat nya. ia tidak bisa memaksa kehendaknya meskipun itu demi kebaikan nona mudanya sendiri.
Mama Fiera kembali sibuk dengan kegiatan bisnisnya. Sesekali Dea pergi dengan rekan bisnis nya, bahkan mereka sempat pergi makan malam bersama. dan hal yang sama di lakukan oleh William.
Seperti nya sudah ada kesepakatan yang terjadi diantara kedua pria dan wanita ini. Sehingga mereka terlihat saling tidak mencampuri urusan masing-masing.
Jika Fiera melihat semua ini, mungkin hatinya akan terasa lebih sakit lagi.
"Itu mama nya Fiera kan?" gumam seseorang melihat mama Fiera tengah menggandengkan lengan seseorang pria yang ia yakin itu bukan lah papa Fiera.
"siapa pria itu?" gumam nya lagi, ia sangat penasaran, bahkan dirinya sempat mengambil foto mama Fiera dan orang asing itu bersama.
__ADS_1
...----------------...
Siapakah yang melihat mama Fiera dengan pria lain?? ada yang bisa menebak nya. kalau bisa, silahkan komen di bawah yah!!!!