
Gubrak~
"Awh,, isstt... Sakit Fie!!!" ringis Ganda memegang bokongnya yang mendarat indah di atas lantai kamar Fiera.
Gadis itu menatap pria yang mengambil kesempatan di atas kesulitan nya.
"Emang enak?"dengus Fiera meleletkan lidahnya.
"Enak lah, kenyal kenyal gitu" jawab Ganda dengan ekspresi konyolnya.
Melihat senyum Ganda, Fiera Marasa jijik dan muak, gadis itu langsung menghujani nya dengan pukulan maut nya.
"Rasain!!! Terima ini!!!!"
Brug~
Bruk~
"Ampun!! sakit Sayang!!!, mending kita lanjutin yang tadi" lirih Ganda mencoba menghindari setiap pukulan dari Fiera.
"Lo keterlaluan!!! ngeselin!!!! pergi sana!!!" usir Fiera menyeret Ganda ke depan pintunya dan mendorong tubuh Ganda keluar dari kamarnya.
"Awas kalo Lo kembali lagi!"peringat Fiera, lalu langsung menutup pintu kamarnya dengan hempasan yang kuat.
Blam~
"Ngeri juga calon bini gue"lirih Ganda merasakan hempasan angin dari pintu Fiera yang menerpa wajah nya.
Ganda berbalik hendak pergi, langkah nya terhenti ketika ia melihat bi Ina berdiri di hadapan nya.
"Maaf den, bibi cuma mau bilang. Teman teman non Fiera sudah pergi" ucap bi Ina.
"Oh iya bi, gak papa"jawab Ganda sopan. Bahkan pria yang baru menginjak masa dewasa itu menunduk hormat pada bi Ina.
"Saya pulang dulu bi" Pamit Ganda.
"Iya den, hati hati" balas bi Ina. Ia menatap kepergian Ganda dengan tatapan mata kagum.
"Ya Allah, sungguh, orang orang baik itu, akan mendapatkan yang baik pula. Non Fiera sangat baik dan tidak memandang rendah siapapun. Begitu juga dengan den Ganda" gumam bi Ina tersenyum senang.
Sementara di dalam kamar nya, Fiera mengutuk dirinya dan juga takdirnya yang memperlihatkan dirinya dan Ganda. Fiera juga mengutuk hubungan persahabatan mama dan papanya yang mengakibatkan dirinya terjerat ke dalam dilema yang tak berarah ini.
"Astaga!!!! Ganda!!!!!!!!!!!!"teriak Fiera nyaring. Bahkan ganda bisa mendengar nya dari arah luar.
"Pasti dia sudah melihat nya" gumam Ganda tersenyum miring. Ia berhasil membuat Fiera kesal plus gak bisa melupakan dirinya.
Fiera mengusap dadanya, ia berusaha menghapus jejak yang Ganda berikan ketika ia di sembunyikan oleh Fiera ke dalam selimut nya. Fiera terus menatap kaca besar yang ada di kamarnya sembari menggosok dadanya yang terlihat semakin memerah.
"Aduhhh kok makin merah sih!!" rengek Fiera mencak mencak. Bagaimana ia akan pergi ke sekolah besok pagi. Pasti teman temannya akan bertanya tanya dan menuduhnya yang nggak nggak.
"Awas aja Lo Ganda!!!!!"geram Fiera.
__ADS_1
Bangun tidur, Fiera langsung berdiri di depan kaca besarnya. Ia memeriksa lehernya lagi.
"Yahhh, masih ada. Masih sangat jelas lagi" ucap Fiera lesuh. Ia tidak bisa pergi sekolah dengan keadaan leher seperti ini.
"Yasudah deh, gue cuti aja dari sekarang" putusnya. Ia akan cuti hingga acara pernikahan nya selesai.
Fiera masuk ke dalam kamar mandi, ia berjalan dengan sangat gontai. Seperti orang tidak memiliki semangat hidup.
Setelah cuci muka dan gosok gigi, Fiera langsung turun ke bawah. Di sana sudah ada papa dan mama nya yang sedang sarapan. Mereka terlihat kaget melihat Fiera turun masih mengenakan piyama tidur.
"Loh, Fie. Kamu gak sekolah?" tanya Dea.
"Gak ma, mau cuti sampai acara pernikahan selesai"jawab Fiera.
"Wahhh Seperti nya putri kita membutuhkan waktu yang banyak untuk mempersiapkan diri yah" ujar William.
"Hum."Fiera manyun mendengar ucapan papa nya.
"Hahaha.... Jangan menggodanya Will"tegur Dea sembari menahan tawanya.
Fiera mengabaikan cemoohan orang tua nya, ia memilih untuk mengambil roti dan memakannya dengan lahap.
"Loh, kok leher kamu merah gitu?"tanya Dea heran, karena sangat penasaran. Akhirnya Dea berdiri dan menghampiri putrinya untuk memeriksa leher nya.
"Kok kaya tanda itu?"gumam Dea bertanya. Fiera langsung menjauhkan tangan mama nya dan menutup dadanya dengan menaikan leher baju nya.
"Masa sih... Sejak kapan kamar kamu ada semut?" heran William.
"Ah sudah lah. Mau lanjut tidur dulu!" ujar Fiera bangkit dari duduknya dan langsung berlalu pergi.
"Kenapa yah lehernya" gumam Dea menerka nerka. Ia sangat yakin jika itu adalah tanda yang di ciptakan oleh seseorang. Bukan ciptaan semut.
"Bi, apa kamar Fiera gak di bersihkan?" tanya William ketika bi Ina menghidangkan sayur.
"Gak bisa di bersihin tuan, semut satu ini membandel. Sangat sulit untuk di usir"kekeh bi Ina.
William dan Dea saling melirik, mereka memiliki pemikiran yang sama.
Sebelum Tuan dan Nyonya nya banyak bertanya, bi Ina langsung kabur ke dapur.
"Apa mungkin Ganda?"tebak mereka secara bersamaan. Mata mereka melebar setelah mengucapkan nya. Keduanya langsung bangkit dan menyusul bi Ina ke dapur.
"Bi Ina!! bi!!" teriak Dea.
"Bener nyonya!!!!!"teriak bi Ina menjawab dari dapur sebelum majikannya tiba di dapur.
"Bi seriusan?"tanya Dea memastikan.
"I-iya nyonya, ceritanya sangat panjang" jawab bi Ina.
__ADS_1
"Gercep juga anak Ferdi. Dah bisa buat leher Fiera merah merah" gumam William tidak percaya.
"Wahh calon menantu idaman" sahut Dea.
Elena menatap Abang nya yang siap siap berangkat ke sekolah. Ganda terlihat rapi dan keren.
"Cieeeee yang bentar lagi jadi suami orang"goda Elena.
"Oh iya dong, Lo gak tau enaknya nikah sih" sahut Ganda tersenyum.
"Emang Lo udah tahu gimana enaknya?"tanya Elena.
"Tau lah, gak mungkin gue gak tahu" balas Ganda berlalu turun ke meja makan.
"Eh tunggu!!"teriak Elena mengejar Ganda, lalu ia ikut duduk di samping kursi abangnya. Elena masih penasaran dengan Abang nya akhir akhir ini terlihat bahagia.
"Gimana sih setelah nikah itu?"tanya Elena.
"Huh? kamu nanya nanya tentang nikah. Dah mau nikah?" tanya Ferdi.
"Gak tau ni yah, dari tadi dia nanya nanya gitu" sahut Ganda
"Ehhh kamu masih kecil, gak boleh nikah nikahan. Pacaran juga gak boleh!"tegur Lusi.
"Bukan gitu Bun, El cuma penasaran aja. Kenapa bisa sih kak Ganda mau nikahin kak Fiera. padahal kak Ganda dan kak Fiera selalu berantem. Dan sekarang kak ganda malah mengejar kak Fiera!" jelas Elena panjang lebar.
Ganda tidak menghiraukan apa yang adiknya katakan, ia terus melanjutkan acara makan nya.
"Lo gak usah kepo!" ujar Ganda menjentik kening adiknya. Lalu, ia bangkit dari duduknya dan segera pergi.
"Ihhhh Ganda!!!!" teriak Elena marah.
"Hahaha...."tawa Ganda terdengar semakin jauh.
"Makanya, Jangan ikut campur sama urusan orang dewasa"tegur Ferdi.
"Ihhh ayah kok belain dia sih. Harusnya ayah belain aku" sungut Elena cemberut
"Lah, orang kamu yang salah"sahut Lusi.
"Ihhh bunda juga???" Elena semakin kesal, ia berangkat ke sekolah dengan bibir manyun dan wajah mengerut.
"Semua orang membela dirinya!!" gerutu Fiera
"Ayo pak, jalan!"titah nya pada pak supir. Ia langsung masuk dan menghempaskan pintu mobil dengan sangat keras.
"Baik non"sahut pak supir.
...----------------...
__ADS_1