
Fiera tiba di rumah nya, ia melihat mobil papa dan mama nya terparkir di garasi.
"Mereka sudah pulang?" lirih Fiera tersenyum getir.
Fiera masuk ke dalam rumah, ia di sambut hangat oleh mama dan papa nya.
"Eh putri kesayangan mama udah pulang" sambut Dea. Fiera tersenyum simpul, lalu menghampiri mama dan papanya untuk salim.
Setelah salim, Fiera langsung menuju ke kamar nya. Tidak ada rasa bahagia yang harus ia ungkapkan. Bukan tidak rindu, tapi Fiera sudah lelah untuk berharap hal yang tidak mungkin ia dapatkan.
"Fiera, kamu mau kemana?" tanya William yang masih sibuk menelfon.
Fiera berbalik, ia kembali tersenyum getir melihat kedua orang tuanya yang pura pura peduli, tapi kenyataannya mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri. Seperti saat ini, Fiera melihat papa nya kembali sibuk menelfon.
Perlahan air mata Fiera mengalir di pipi nya. Bi Ina pun ikut sedih melihat raut kecewa di wajah nona muda nya.
"Kasihan sekali non Fiera" pikir bi Ina.
Fiera kembali berbalik ia melanjutkan langkahnya dengan cepat menaiki tangga, lalu menutup pintu kamarnya dengan keras.
"Mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri!!!" teriak Fiera, ia mengamuk di dalam kamarnya sendiri.
"Gue gak ada artinya bagi mereka, ada atau gak ada nya mereka sama saja!!! gue lebih baik tiada!!!" gumam Fiera melirik balkon kamarnya.
"Arrrgggg!!!!!" Fiera menarik rambutnya kuat, ia benar-benar sudah gila sekarang.
Cling~
Elena.
kak, bunda kangen kakak. yuk mampir ke sini setelah dari sekolah yah!.
Fiera melirik ponselnya yang terpampang pesan dari Elena.
Dengan kasar, Fiera menyambar ponselnya dan memasukkan nya ke dalam tas selempang nya.
"Gue butuh udara segar!" gumam Fiera.
Setelah berganti pakaian, Fiera memutuskan untuk keluar dari rumah. Sekarang masih siang, jadi Fiera bisa mengabiskan waktu bersama Elena. Setidaknya gadis kecil itu bisa membuat nya tersenyum.
"Mau kemana lagi kamu Fiera?" tanya Wiliam. Ternyata mama dan papa Fiera masih ada di ruang tengah. Mereka masih sibuk dengan urusan masing-masing.
Fiera tidak menjawab, ia terus berjalan lurus menuju pintu utama.
"Fiera!" cegat Dea. Ia menarik tangan putrinya hingga membawa Fiera ke hadapan mereka.
"Lepas!" ucap Pria datar.
__ADS_1
Dea kaget melihat sikap putrinya, Wiliam pun merasakan hal yang sama.
"Ada apa dengan kamu Fiera, kenapa kamu bersikap tidak sopan kepada orang tua ku sendiri?" ucap William marah.
"Aku hanya ingin keluar!" balas Fiera tidak mau menatap wajah papa nya.
"Fiera!! kamu jangan bertingkah seperti anak kurang ajar, mentang mentang kamu papa dan mama bebaskan" tegas William lagi.
Fiera menahan emosi nya, matanya sudah memerah menahan air mata yang sejak tadi berusaha mendobrak pertahanan matanya.
"Kenapa? apa kalian ingin marah karena aku tidak menyambut kalian dengan senang? apa kalian marah karena aku tidak menghabiskan waktu dengan kalian? apa?? apa kalian marah dengan sikap ku ini??" teriak Fiera.
"Fiera!!" bentak Dea untuk menghentikan putrinya. Dea sudah mengangkat tangannya akan menampar Dea, tapi ia tahan.
"Kenapa gak jadi ma? tampar aja aku. Itu akan lebih meyakinkan aku bahwa kalian tidak pernah memikirkan aku!!"
"Dea, kamu salah paham!"bujuk Dea mulai lembut.
"Salah paham?? apa kesalahpahaman ini terjadi sejak aku kecil??? jelaskan!! apa kesalahpahaman ini terjadi terus menerus, sehingga aku lupa, bagaimana rasanya memiliki orang tua!!" teriak Fiera, air matanya mengalir semakin deras.
"Jaga sikap kamu Fiera!!" bentak William.
"Cih.. Bahkan aku tidak tahu bagaimana caranya menjaga sikap, aku tidak tahu sopan santun!!! apa kalian ingin memukul ku karena sikap ku ini?? jika yah, lakukan saja!!!" Fiera menata papa nya, ia meraih tangan William, dan menggerakkannya untuk menampar dirinya.
William menarik tangannya, ia menatap sedih pada putrinya. Awal nya mereka memang terpancing emosi, tapi setelah melihat betapa rapuh nya Fiera saat ini, mereka jadi merasa bersalah.
"Harusnya kalian bertanya pada diri kalian sendiri, pernahkah kalian mengajarkan aku bagaimana cara nya menjaga sikap? bagaimana beretika??"
"Yahhh, tidak pernah. Bahkan waktu untuk memikirkan ku saja kalian tidak pernah memiliki nya!!! kalian hanya perlu tahu, aku masih hidup atau sudah tiada!!!" teriak Fiera di akhir kalimatnya. Ia sedikit merasa pusing, tapi tetap ia tahan. Fiera berlari keluar dari rumahnya, lalu masuk ke dalam mobil nya dan melaju cepat.
"Non mau kemana??" teriak pak supir, tapi sudah terlambat, Fiera sudah melaju pergi.
Di dalam rumah, Dea dan William masih terpaku. Mereka termenung karena ucapan putri mereka sendiri.
"Hikss...Apa kita terlalu keras kepadanya?" lirih Dea sedih.
"Tidak sayang, Fiera hanya butuh waktu memahami situasi kita" ucap William menenangkan istri nya.
"Maaf tuan, apa saya boleh bicara?" ujar bi Ina berdiri tak jauh dari William dan Dea.
"Silahkan bi" jawab Dea.
Bi Ina menghapus air mata nya, ia ikut sedih melihat amukan nona mudanya.
"Menurut saya, tuan dan nyonya sedikit kurang memperhatikan nona muda. Saat ini dirinya sedang sakit, dan saya rasa Nina muda hanya butuh perhatian dari tuan dan nyonya." sara bi Ina.
"Sakit?" gumam Dea kaget.
__ADS_1
"Iya nyonya, kemarin nona muda terlihat kurang fit, dan saya rasa nona muda merindukan tuan dan nyonya." lanjut bi Ina.
"Tapi bibi lihat kan, apa yang Fiera lakukan" sela William.
"Tentu tuan, anak mana yang tidak akan marah ketika dirinya butuh kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya Tapi, ia malah melihat kedua orang tua nya sibuk dengan urusan nya masing-masing." jelas bi Ina.
Deg
Dea tertegun, ia melirik suaminya. Hal yang sama di rasakan oleh William.
"Benar juga, kita terlalu sibuk dengan urusan kita Dea" lirih William.
Bi Ina tersenyum, ia ikut senang jika majikannya mulai sadar dan memahami situasi putri mereka.
"Terimakasih bi, sudah mengatakan pada kami" ujar William.
"Sama sama tuan, saya hanya menjalankan tugas" jawab bi Ina undur diri kembali ke dapur.
Sementara itu, Fiera terus melajukan mobil nya tak tentu arah. Ia pergi dalam emosi yang kurang stabil. Gadis itu terus memacu mobil nya membelah jalan raya. Hingga, sebuah panggilan di ponsel nya membuat dirinya tersadar dan mulai menurunkan kecepatan mobilnya.
Fiera melihat nama Elena tertera di layar ponselnya.
"Elena" gumamnya. Fiera langsung menetralkan suaranya sebelum menerima panggilan itu.
^^^"Hallo El?"^^^
"Kak Fie udah pulang yah?"
^^^"Sudah El, kenapa?"^^^
"Kakak belum membaca pesan ku? bunda menyuruh kakak datang ke rumah. Katanya kangen, trus lengan masak bareng kakak"
Fiera berpikir sejenak, dan akhirnya menjawab ucapan Elena.
^^^"Baiklah,^^^
^^^sebentar lagi aku akan ke sana"^^^
"Ok kak"
Klik~
Sambungan telfon terputus, Fiera menatap jalanan yang terlihat padat.
Apa gue ke rumah Elena saja? Tante Lusi seperti nya asik. Tapi, jika gue ke sana, gue pasti ketemu sama Ganda. Hari ini gue sudah cukup bete, jangan sampai dia menambah nya lagi.
Fiera mulai ragu, ia terus mempertimbangkan permintaan Elena. Ia terus melajukan mobil nya membelah jalan, sejenak otak nya terhindar dari masalah yang terjadi di dalam lingkaran keluarga nya.
__ADS_1
...----------------...