Mengejar Cinta Ketos Jutek

Mengejar Cinta Ketos Jutek
Begini kah????


__ADS_3

Malam yang indah, Fiera duduk di ruang tamu rumah nya menunggu kedatangan Elena. Tadinya, Fiera ingin mengemudi sendiri dan bertemu dengan Elena di cafe saja. Tapi, Elena bersikeras ingin menjemput Fiera ke rumah nya menggunakan supir pribadinya.


Cukup lama Fiera menunggu, akhirnya Elena tiba juga. Ia terlihat sangat cantik dan yah, tidak seperti siswi SMP. Elena terlihat sebaya dengan Fiera. Entah Elena yang memang bawaannya dewasa, atau entah karena Fiera yang malah berpenampilan seperti anak seumuran Elena. Tinggi mereka hampir sama, hanya selisih beberapa senti saja.


"Malam kakak..."sapa Elena dengan senyum manisnya.


"Malam juga adek" balas Fiera juga tersenyum.


"Mau mampir dulu, atau langsung cabut?" Tawar Fiera berbasa basi.


Elena tampak berpikir sejenak, ia meneliti rumah Fiera yang terlihat sangat sepi itu.


"Kita langsung cabut aja kak, sial nya takut kemalaman nanti pulang nya" kata Elena.


"Baiklah"


Fiera pun masuk ke dalam mobil Elena bersama Elena.


"Kita mau ke mana nih?" tanya Fiera.


"Ke rumah aku kak, mama sama papa penasaran sama pembimbing aku yang luar biasa" jawab Elena.


Bluhs...Fiera langsung malu ketika Elena memuji nya.


"Kamu jangan terlalu memuji Elena, semua pencapaian mu adalah hasil kerja keras mu" kata Fiera.


"Tapi, jika bukan karena kakak yang selalu sabar membimbing aku. Hasil ini gak akan ada kakak" balas Elena sembari menggenggam tangan Fiera.


"Ah udah ah, aku jadi malu" lirih Fiera. Elena pun jadi tertawa mendengar nya.


Perjalanan menuju ke rumah Elena tidak terlalu lama. Hanya membutuhkan waktu 25 menit saja. Bukan karena lokasinya yang dekat, tapi karena jalanan yang lumayan sepi membuat mereka sedikit lebih cepat sampai.


"Bersyukur aku bisa memila waktu yang tepat, jadi kita gak ke jebak macet" ujar Elena.


"Wahh anak matematika emang gini yah, memprediksi itu terkesan muda" canda Fiera.


"Yuk kak turun" ajak Elena ketika mobil nya sudah berhenti di depan rumah besar milik nya.


Fiera turun dari mobil Elena, ia menatap rumah besar milik Elena. Rumah ini hampir sama besar dengan rumah milik nya. Tapi, ada perbedaan dengan rumah nya.


Rumah Elena terlihat lebih hidup, bukan karena tanaman atau bagaimana. Fiera hanya merasakan dengan hati nya yang merasa aurah kehangatan langsung masuk ke dalam hati nya.


"Kak, Ayuk" ajak Elena pada Fiera yang masih berdiam diri menatap rumah besar Elena.


"Kakak gak mungkin kagumkan sama rumah aku, karena aku tahu rumah kakak tak berbeda dengan rumah aku"kekeh Elena.


Fiera hanya ikut tersenyum, namun hati nya bertanya tanya. Seperti apa sih kehidupan rumah tangga orang kaya ini. Apakah sama seperti yang dia alami, atau malah jauh berbeda.


"Bundaaaa"teriak Elena ketika mereka masuk ke dalam rumah. Elena menarik tangan Fiera hingga mereka tiba di ruang keluarga.


"Ehh putri bunda udah pulang" sambut Lusi, ia melirik pada Fiera.


Sadar di perhatikan, Fiera langsung Salim dengan Lusi.

__ADS_1


"Malam Tante" sapa Fiera sedikit canggung.


"Bun, ini dia ni. Kak Fiera yang aku ceritain" kata Elena memperkenalkan Fiera.


"Ohh jadi dia, wahh cantik banget sayang. Ayo mari duduk sayang, jangan berdiri aja" kata Lusi membawa Fiera duduk ke sofa.


"Bun, kakak ini sekolah di SMA Laksamana jaya Lo. Dia ini ketua OSIS nya Lo Bun" kata Elena bercerita sangat antusias.


"Benarkah, wah...Kamu pintar sekali yah "kagum Lusi, ia terlihat sangat senang dengan kehadiran Fiera.


Fiera mampu merasakan hangatnya kehidupan Elena dengan keluarga nya. Berbeda dengan dirinya yang selalu kesepian.


"Bunda yakin, orang tua kamu pasti bangga sama prestasi kamu Fiera" kata Lusi.


Fiera hanya tersenyum membalas ucapan bunda nya Elena.


#Andai kalian tahu, kedua orang tua ku tidak peduli mau aku dapat juara mau aku berprestasi atau tidak. Yang mereka tahu hanya satu, aku masih hidup atau tidak.#


"Wahh kita ada tamu yah?" Ferdi ikut bergabung dengan istri dan anak nya.


"Malam om"sapa Fiera canggung.


"Wahhh ada anak gadis cantik ni" goda Ferdi.


"Ini ni yah, kak Fiera yang aku ceritain itu" kata Elena.


"Ohh jadi ini, malaikat yang bikin putri kesayangan kami jadi pintar?" Kata Ferdi membuat Fiera semakin malu.


"Jangan begitu om, aku jadi malu" balas Fiera, mereka langsung tertawa mendengar nya.


"yah, Bun. Ganda keluar bentar yah" pamit Ganda. Pria itu tidak menyadari kehadiran Fiera,karena ia hanya menatap lurus ke depan.


"Ehhh Ganda, sini dulu!!"cegat Lusi.


Deg.


"Ganda?"batin Fiera.


"Aduhh bunda, Ganda udah terlambat nih" gerutu Ganda seraya membalikkan tubuhnya dan terdiam membeku.


Deg.


Ganda juga merasakan hal yang sama, ia kaget melihat Fiera ada di rumah nya. Ia takut jika Fiera datang untuk mengadu kepada kedua orang tua nya tentang apa yang sudah ia lakukan di sekolah.


"Ngapain Lo di sini?" Tanya Ganda ketus.


"Eh nak, sopan dong sama tamu. Nak Fiera ini teman nya adik kamu"tegur Lusi.


Ganda tidak menjawab, ia berdiri di samping ayah nya yang duduk dengan santai memperhatikan mereka.


"Kakak kenal sama kak Fiera?"tanya Elena kaget.


"Tentu saja sayang, mereka satu sekolahan"jawab Lusi, ia ingat tentang perkenalan Fiera tadi.

__ADS_1


"Jadi??" Elena menghentikan ucapannya. Ia tidak tahu jika Abang nya satu sekolahan dengan Fiera.


"Kenapa sayang?"tanya Lusi.


"Sebenarnya, aku ajak kka Fiera datang kerumah itu untuk meminta maaf atas kejadia di cafe waktu itu. Karena kak Ganda membuat gaduh di cafe bersama kak Fiera" jelas Elena.


"Lahhh kok gitu?" Tanya Ferdi heran.


"Iya yah, kak ganda bikin malu banget waktu itu. Dia melawan cewe di muka umum. Kan bikin malu aja"


"Gak lah ya, dia duluan lah yang salah. Gak di sekolah, gak di tempat lain. Dia selalu buat aku sial dan ketimpa masalah" gerutu Ganda.


"Heh Lo jangan asal ngomong yah. Yang ada lu tu yang selalu buat masalah dan mempersulit pekerjaan gue" balas Fiera tidak mau di salahkan.


"Enak aja, Lo yang selalu sengaja nangkep gue yang hanya telat 2 menit"


"Lo pikir gue kurang kerjaan apa, sengaja buat nangkep dan hukum Lo. Harus nya Lo bersyukur karena gue gak pernah laporin ke kepsek"


"Alahhh itu hanya akal akalan Lo kan"tuding Ganda. Kini mereka sudah berdiri saling berhadapan. Mereka lupa jika di ruang keluarga ini ada Lusi, Ferdi dan Elena. Mereka dengan ekspresi kaget menatap keduanya yang terus bertengkar.


"Ganda...Fiera. Kalian butuh alat gak buat tinju?" Celetuk Ferdi.


"Huh?" Fiera tersadar, ia lupa jika dirinya sekarang berada di rumah musuh nya.


"Gak butuh yah, dia gak butuh peralatan apapun. Dengan lidah nya saja ia sudah mampu menebas mental orang" kata Ganda menatap Fiera sinis.


"Enak aja, Lo jaga ya tu mulut." Serga Fiera.


"Bentar deh, kalian ini seperti ini terus setiap ketemu?"tanya Lusi heran.


"maaf Tante, tapi anak Tante ini adalah langganan anak OSIS. Dia tidak pernah tidak telat sekalipun semenjak masuk ke sekolah. Bahkan dia selalu membuat ulah di sekolah" adu Fiera berusaha menahan dirinya.


"Wahh, anak ayah begitu ternyata" gumam Ferdi.


"Gak bosen Lo, cari sekolah baru lagi" celetuk Elena, ia menarik Fiera kembali duduk di sebelah nya.


"Kakak gak usah ladeni pria bodoh itu. Dia itu emang selalu seperti itu" kata Elena.


"Eh apaan Lo, jelekin gue" marah Ganda.


"Kenapa? Lo gak suka kalo kak Fiera tahu sifat buruk Lo? Bukannya Lo emang udah jelek di mata dia?" tantang Elena, ia sengaja memancing kakak nya untuk sesuatu hal yang kini ada di pikiran nya.


"Sudah lah, kalian membuat aku badmood saja"dengus Ganda berlalu pergi.


Lusi dan Ferdi langsung tertawa, mereka jadi tahu apa yang membuat putranya memilih betah di sekolah baru nya. Lusi sudah menceritakan kepada suaminya perihal janji Ganda kepadanya beberapa waktu lalu.


"Nak Fiera. Maafin anak Tante yah, dia emang seperti itu ketika marah" kata Lusi merasa tidak enak.


"Gak papa Tante, Fiera udah biasa kok hadepin dia di sekolah" jawab Fiera tersenyum.


Akhirnya makam itu, Fiera menghabiskan beberapa jam di rumah Elena. Fiera merasa sangat nyaman berada di rumah itu, ia mengerti sekarang, apa yang ia harapkan pada keluarga nya ada di rumah Elena.


Rasa nyaman, tenang, perhatian, ia lihat di diri Lusi yang tampak sangat menyayangi putrinya.

__ADS_1


Andai keluarga ku seharmonis mereka. Pasti aku merasa anak yang paling bahagia dengan semua kekayaan di berbagai sisi. Material dan kasih sayang.


__ADS_2