
Fiera menangis di dalam kamarnya, ia sudah menduga apa yang akan di katakan oleh papa dan mama nya adalah hal yang sama. Setiap kali mereka pulang, dan menunggu nya di depan pintu. Itu artinya mereka akan pergi jauh.
"Fiera, kamu harus kuat. Ini kan bukan yang pertama kali nya" gumam nya menguatkan diri sendiri. Fiera menghapus air matanya, ia duduk di tepi ranjang dan menetralkan dirinya yang masih sesegukan.
"Sabarlah Fiera, kamu pasti bisa melewati ini, kamu sudah biasa menerima nya" gumam nya lagi.
Ceklek.
Fiera memalingkan wajah nya, sebisa mungkin ia menahan tangis yang seakan ingin kembali meledak.
"Fie...." panggil Dea. Wanita paru baya itu mengambil posisi duduk di samping Fiera.
"Sudah lah ma, aku tidak apa apa. Maaf jika aku berlebihan." lirih Fiera.
"Mama dan papa akan pergi sebulan Fie" kata Dea.
Fiera tidak merespon, ia tetap memalingkan wajahnya dari mama nya. Tapi, kedua tangan nya mencengkram erat sprei nya.
"Pergi aja, lagi pula. Aku sudah terbiasa sendiri. Sejak dulu aku juga sendiri. Kalian pergi jauh atau tidak nya, aku juga sendiri kan?" ucap Fiera.
Dea terdiam, ucapan putrinya benar benar menohok ke hati nya.
William yang berdiri di ambang pintu kamar Fiera juga tidak bisa berkata kata.
"Kami akan pergi malam ini Fie" ucap Wiliam.
"Hmm...Hati hati di jalan" balas Fiera dengan suara pelan. Meskipun ia kecewa dan sedih, Fiera selalu mendoakan kedua orang tuanya.
Dea memeluk dan mengecup pucuk kepala putrinya. Ia sangat menyayangi Fiera, tapi tanggung jawab nya sebagai CEO sangat penting. Ia tidak bisa menghindari nya.
Wiliam mendekat, ia ikut memeluk putrinya penuh kasih sayang.
"Papa tahu kamu anak yang baik dan pengertian" kata Wiliam.
Fiera berbaring di atas ranjang nya, ia menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut nya. Seragam SMA yang ia pakai tadi, masih melekat di tubuh nya. Fiera tidak memperdulikan apapun lagi, ia sangat rapuh sekarang. Ia hanya berharap jika kedua orang tuanya mengerti dan tidak meninggalkan dirinya sendiri.
"Istirahat lah, mama dan papa akan kembali ke kantor dan berangkat dari sana" bisik Dea, sekali lagi ia mengecup putrinya.
Fiera menutup matanya, ia berpura-pura tidur ketika kedua orang tuanya masih ada di kamarnya. Meskipun air mata terus mengalir di sudut matanya.
Ceklek~
Pintu tertutup, mata Fiera pun langsung terbuka lebar. Ia menatap pintu yang sudah tertutup rapat, Fiera menatap kosongnya rumah besar ini.
Semua harta sudah di milikinya, semua kekayaan sudah ia nikmati. Tetapi, tidak itu yang ia inginkan.
"Apa yang kalian pikirkan? apa kalian tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan ku? bagaimana hari hati ku? apa kalian pikir aku bahagia dengan semua harta yang kalian berikan kepadaku?"
"Mama, papa....Aku butuh perhatian kalian. Aku butuh kalian ada di samping ku, menanyakan apa kah aku baik baik saja, apakah aku sudah makan, apakah sekolah ku baik baik saja atau aku sakit. Apa kalian pernah memikirkan itu???"
__ADS_1
"Tidak!!!! kalian tidak pernah memikirkan aku!!! kalian hanya memikirkan kelancaran bisnis kalian saja. Aku lelah!!! aku tidak ingin memikirkan semua ini lagi!!!!!!"
Fiera berteriak dan menangis sejadi jadinya, ia meluap kan semuanya. Ia ingin kedua orang tuanya mengerti apa yang sedang ia rasakan saat ini.
Fiera sudah sangat lelah, kehidupan nya terlalu hambar di dunia ini.
Di luar, Dea dan Wiliam menyeret koper mereka tanpa ragu. Mereka berpikir jika putri mereka sangat pengertian. Mereka berpikir jika Fiera akan mengerti dan bahagia dengan kehidupan nya sekarang.
Berbeda dengan kehidupan di keluarga Ganda. Ketika keluarga mereka berkumpul, maka saat itu yang terdengar hanya tawa dan teriakan putra dan putri mereka yang saling berebut kasih sayang dari ayah dan bunda mereka.
Seperti saat ini, Ganda baru saja pulang dari sekolah nya. Ia sudah di sambut oleh mama nya di ruang tengah.
"Kalo pulang itu ucap salam" tegur Lusi pada putra nya yang menyelonong masuk tanpa mengucap salam.
"Hehe maaf bunda, lupa" jawab Ganda beralasan.
"Alah ngeles aja lu!" sambung Elena dari belakang. Ia selalu saja pulang lebih lambat dari Abang nya.
Tapi, wajar ajah sih. Sekolah Elena lebih jauh dari sekolah Ganda. Mereka pulang di jam yang sama, karena jarak yang berbeda, makanya Elena pulang lebih lama.
"Apaan sih Lo, jangan mancing terus yah" sinis Ganda.
"Emang di kolam, mancing mancing" cibir Elena. Gadis itu duduk di samping bunda nya setelah mengecup punggung tangan bunda nya.
"Bun, masak apa?" tanya Ganda sebelum menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.
"Kaya orang baru aja Lo nanya nanya, liat Sono ke dapur!" sorot Elena lagi.
"Udah udahhh jangan berantem. Kalian bersih bersih dulu gih. Biar bunda siapin makanan nya" ucap Lusi melerai keduanya.
"Denger tuh, dasar bekicot!" ledek Ganda, lalu menaiki anak tangga dengan cepat.
"Hei jangan kabur Lo!!!!!" teriak Elena bangkit dan mengejar Abang nya. Elena sangat tidak suka di ledek dengan nama itu. Dan Ganda sangat suka meledek adiknya dengan nama itu.
"Dasar anak anak ini" Lusi menggeleng melihat tingkah putra dan putrinya yang sudah pada besar tapi tingkah nya masih seperti anak anak.
Lusi menyiapkan semua makanan di atas meja makan, ia menunggu anak anak nya turun untuk menyantap masakannya.
"Wahhh bunda masak kesukaan ku!!!" sorak Elena kesenangan.
"Selow aja kali, itu juga makanan kesukaan gue!" cibir Ganda.
"Apaan sih, bikin emos aja Lo!!!"
"Apa, gue ngomong beneran kan"
"Tapi Lo mancing mancing!!!!" teriak Elena tak mau kalah.
"Emang kolam? mancing mancing?" balas Ganda dengan kalimat yang Elena lontarkan tadi pada dirinya. Mendengar ucapan Ganda, tentu saja membuat Elena semakin emosi.
__ADS_1
"Ganda!! Elena!!! Duduk dan diam! makan dengan tenang!" bentak Lusi melerai perdebatan yang tidak pernah ada habis nya.
"Tapi Bun, dia dulu!!!"
"Enak aja Lo" bantah Ganda tidak mau di salakan oleh adik nya.
"Sudah diam!!! jika kalian terus berdebat, maka bunda tidak akan ijinkan kalian makan masakan bunda!" tegas Lusi menarik semua makanannya.
"Eh iya iya, kita diam" Ganda dan Lusi memegang kedua tangan bunda nya Agra tidak mengambil makanan mereka.
"Makanya, kalo makan tu tenang dan diam!"
" iya Bun, maaf" ucap Ganda dan Elena merasa bersalah.
" buruan makna, bunda mau ke belakang dulu buatin jus " kata Lusi lagi, ia masih memasang wajah kesal pada putra dan putri nya.
Setelah kepergian Lusi, Ganda dan Elena kembali membuat keributan. Mereka saling menyalahkan satu sama lain.
"Lu si, marah kan bunda jadinya!" ujar Ganda menyalahkan adiknya.
"Kok gue sih, Lo tu yang ngeselin" balas Elena tidak terima.
"Mulai lagi!!!!!" teriak Lusi dari dapur. Ganda dan Elena langsung diam dan fokus memakan makanan mereka. Tidak ada satu pun diantara keduanya yang berani mengeluarkan suara.
Ferdi baru pulang dai kantor, ia menemukan rumah terlihat sepi. Lali, ketika ia menajamkan pendengarannya, Ferdi jadi tersenyum sendiri. Ternyata putra dan putri nya sedang berada di ruang makan.
Ferdi melihat Ganda Dan Elena duduk dan fokus dengan makanan mereka masing-masing. Jika seperti ini kondisi dan suasana nya, berarti kedua anak nakal itu sudah di amuk oleh malaikat garang itu.Melihat mereka seperti itu, membuat Sebuah ide masuk ke dalam otak jahil Ferdi.
"Ya ampun!!!!!" kata Ferdi setengah berteriak.
Ganda dan Elena kaget, mereka secara bersamaan menoleh pada ayah mereka. Kening mereka sama sama berkerut, apa yang ayah nya teriakan sampai sekeras itu.
"Kalian kenapa terus bertengkar sih, bukan nya bunda sudah melarang nya??"
"Ayah, apa yang ayah bicarakan?" tanya Ganda bingung.
Tak lama kemudian, setelah Ferdi berteriak Lusi tergesa-gesa kembali ke meja makan. Ekspresi nya benar benar tidak di harapkan oleh Ganda Dan Elena.
"Seperti nya kita sedang di permainkan kakak" lirih Elena pelan.
"Kalian! apa kalian tidak mau mendengar ucapan bunda lagi ha?" Lusi menjewer telinga Elena dan Ganda secara bersamaan.
"Aduhh aduh...Sakit Bun" teriak Ganda.
"Ampun Bun.. " mohon Elena.
"Bunda tidak akan mengampuni kalian. Kalian sudah membuat bunda marah. Ikut bunda Sekarang!!" kata Lusi menyeret keduanya ke belakang.
"Hahahaha....Rasain. Emang enak!!!" ledek Ferdi melihat penderitaan anak anaknya. Ia merasa sangat bahagia dendamnya terbalaskan.
__ADS_1
Kalian pasti merasa bingung kan, mengapa Ferdi dendam pada kedua anak nya. Jadi, Minggu lalu itu. Ganda dan Elena berkomplot mengerjai ayah nya agar di marahi oleh bunda nya. Bahkan, Ferdi tidak mendapatkan jatah ketika malam sunah bagi pasangan suami istri melakukan hubungan di malam Jum'at. Karena itulah ia berpikir ingin membalas perbuatan keduanya hari ini.
...Bersambung...