
"Kak, kenapa kakak bawa mobil sendiri? bukan nya aku sudah meminta kak Ganda buat jemput kakak?" tanya Elena, mereka sekarang sedang berada di kamar Elena.
"Aku hanya tidak mau merepotkan orang lain. Apalagi di antar pulang oleh dia" jawab Fiera jujur.
"Ooo begitu"
Elena melanjutkan makan buah yang Fiera bawa sebagai buah tangannya. Sesekali Elena tampak menghela nafas.
"Apa ada sesuatu yang kamu pikirkan? jika bisa berbagi, katakan saja"ujar Fiera.
Elena menatap Fiera, meyakinkan dirinya untuk berani bertanya. Elena sungguh penasaran dengan jawaban Fiera.
"Katakan saja, jika menyangkut tentang diriku, tidak perlu khawatir aku tidak akan marah" ujar Fiera lagi.
"Kak, kenapa sih kakak selalu bertengkar sama kak Ganda?...Aku...Heran aja gitu" tanya Elena.
Fiera terdiam sejenak, sejujurnya dirinya juga tidak tahu. Tapi, Ganda memang selalu mencari masalah dengan dirinya.
"Aku tidak yakin sih, tapi aku selalu merasa kesal setiap kali melihat nya. Apa lagi dia selalu mencari masalah dengan ku. Di sekolah, dia selalu membuat ribut dengan anak OSIS, bahkan guru BK di buat lelah. Hanya petugas kebersihan yang menyukai pria gila itu" kata Fiera panjang lebar.
Sementara Elena mengulum senyum melihat betapa semangatnya Fiera ketika menceritakan persoalan Ganda.
"Kenapa bisa mereka menyukai nya?" tanya Elena.
"Karena ganda setiap hari selalu membantu mereka. Membersihkan toilet, lapangan, kaca, semuanya sudah ia lakukan di sekolah." jawab Fiera. Ekspresi nya tampak serius dan memperlihatkan berbagai ekspresi di sana.
"Apa tidak ada yang baik di diri kak Ganda menurut kakak?"tanya Elena memancing.
"Aku rasa tidak ada, dia terlalu buruk menjadi murid" jawab Fiera cepat.
"Lalu, mengapa kalian bisa satu kelas. Bukannya kakak berada di kelas terbaik?" tanya Elena lagi.
Benar juga, harus nya Ganda di tempatkan pada kelas yang paling buruk. Fiera juga berpikiran seperti itu, tapi semuanya terjawab ketika ganda mulai berubah dan menjawab semua ujian dengan cepat dan benar.
"Tidak Elena, aku salah. Dia memiliki sedikit nilai plus" koreksi Fiera
"Benarkah??" tanya Elena tidak menyangka kakak nya ada nilai plus di mata Fiera.
"Dia memiliki otak yang cerdas. Hanya saja dia tidak menggunakan nya dengan baik" ujar Fiera. Gadis itu menjawab dengan nada biasa saja, lalu beranjak menuju ke kamar mandi.
"Kak Fiera memang gadis apa ada nya, sangat cocok menjadi kakak ipar gue. Tidak, gue tidak akan membiarkan siapapun mendapatkan kak Fiera dan hanya kak Ganda yang boleh!" gumam Elena bertekad untuk menyatukan Fiera dan Ganda.
"Tapi, bagaimana cara nya yah." Elena merasa ia harus memulai misi nya ini dari sekarang, sebelum ada yang mendekati keduanya dan malah menghancurkan rencananya.
Fiera keluar dari kamar mandi, ia kembali duduk di tepi ranjang Elena. Fiera melirik jam arloji nya dan merasa ini sudah hampir malam.
"El, kakak pulang dulu yah. Ini sudah hampir jam 8 malam. Nanti bi Ina nyariin kakak" kata Fiera pamit pulang
"Lah kok cepet banget kak" lirih Elena tidak rela Fiera pergi.
"Cepet apa nya dek, ini sudah hampir sehati kakak di sini" jawab Fiera.
"Yaudah deh, tapi kakak harus sering jenguk aku yah"
"Iya, nanti kakak akan mencoba sering jenguk kamu" janji Fiera.
__ADS_1
Elena mengangguk, ia tidak bisa memaksa Fiera tetap berada di rumah nya. Meskipun Elena tahu bagaimana kehidupan Fiera sebenarnya.
Fiera menutup pintu kamar Elena, ia berjalan melewati kamar yang sedikit terbuka. Ia tidak peduli dan melewati nya begitu saja. Namun, tiba-tiba pintu itu terbuka lebar dan menampakkan Ganda dari sana dan menariknya masuk ke dalam.
"E..e eh"kaget Fiera tak sempat memberontak, ganda langsung menutup pintu dan menguncinya.
Dari arah tangga, Lusi melihat putranya menarik Fiera masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu. Bukannya menolong Fiera, Lusi malah kembali turun dan menjauh dari sana.
"Aku tidak akan mengganggu mereka, pasti Ganda berusaha untuk mendapatkan Fiera"gumam Lusi girang.
Lusi kembali ke ruang musik, Ferdi menatap istrinya heran.
"Ada apa sayang? kenapa kamu tersenyum begitu?" tanya Ferdi.
"Tidak ada sayang, aku hanya sedang merasa senang" jawab Lusi tersenyum.
"Benarkah? apa kita boleh berbagi kesenangan?"goda Ferdi. Pria itu bangkit dan menghampiri istri nya. Ferdi mulai mencumbu Lusi dan Lusi menerima nya bahkan melakukan hal yang sama terhadap suaminya.
"Kita akan bersenang-senang di sini?" tanya Ferdi, mata nya sudah mengabur di selimuti kabut gairah.
"Tentu saja, jangan menundanya lagi" balas Lusi, ia tidak akan membiarkan suaminya keluar dari ruangan ini dan mengganggu usaha putra nya.
~•
"Apa yang kau lakukan! lepaskan aku!!",bentak Fiera marah. Ia sangat benci dengan sikap seenaknya Ganda terhadap dirinya.
"Tenang lah Fiera, gue gak akan macam macam. Gue hanya ingin berbicara sebentar sama Lo" jawab Ganda menatap Fiera lekat.
"Gue rasa, kita tidak sedekat itu untuk berbicara. Minggir, gue mau keluar!" Fiera menarik tangan Ganda agar laki laki itu beranjak dari pintu dan tidak menghalanginya
"Lo gila yah, sudah gue katakan. Gue tidak mau berbicara sama Lo! berikan kuncinya dan biarkan gue pergi!!" teriak Fiera mencoba merebut kunci dari saku celana Ganda.
"Itu tidak akan terjadi, sebelum Lo setuju untuk berbicara sama gue!" tegas Ganda, ia terus menghindar ketika Fiera mencoba mengambil kunci dari sakunya.
Fiera tidak menyerah, ia terus berusaha merampas kunci itu. Hingga tanpa di duga, Ganda tidak sengaja menginjak sepatu yang ia letak sembarangan karena kesal pada Fiera tadi.
Bruk~
Ganda ambruk di lantai, tangan nya malah menarik Fiera bersama nya. Jadilah mereka terjatuh dengan Fiera berada di atas Ganda.
Deg Dug Deg Dug...
Detak jantung mereka saling bersahutan, mata saling bertatapan hingga lutut Fiera tidak sengaja bergerak dan menindih milik Ganda.
"Ohwccc...."teriak Ganda meringis, matanya melotot bulat.
Melihat Ganda kesakitan seperti itu, Fiera malah kaget dan berusaha untuk bangkit. Aksinya itu membuat lututnya semakin kuat menindih barang milik Ganda
"Jangan bergerak Fie!!"erang Ganda kesakitan.
"Huh? kenapa. Gue akan segera bangkit" kata Fiera lagi, ia terus berusaha untuk bangkit, tapi Ganda menahannya
"Jangan, itu sangat menyiksa gue!! Arrkk" ucap Ganda meringis.
Fiera menjadi kebingungan, ia tidak tahu harus melakukan apa.
__ADS_1
"Lo Jangan mengada ada yah. Gue akan bangkit sekarang!!" putus Fiera, ia merasa di bodoh bodohi oleh Ganda yang pura pura mengerang kesakitan.
"Tidak Fie, jangan!!!"teriak Ganda kembali merasakan sakit di bagian bawahnya.
Fiera tidak perduli, ia kembali mencoba bangkit dan hasilnya Ganda membalikkan posisi mereka dengan sekuat tenaga.
"Huh. Robert selamat"lenguh Ganda bernafas lega.
Sementara Fiera di bawah nya masih syok dengan posisi mereka. Wajah Fiera dan Ganda sangat dekat, apalagi posisi nya Ganda benar benar berada di atas Fiera.
Fiera terdiam, ia merasakan hal aneh di sana.
Cantik banget...
Ganda terpesona, ia juga sadar dengan Robert yang merasa hangat dan berada di depan pintu surga nya.
"Lo judes, jutek, tapi Lo sangat cantik"puji Ganda. Wajah mereka semakin dekat dan semakin tidak ada jarak.
Fiera melebarkan matanya ketika wajah ganda semakin dekat dengan wajah nya.
"Jang-_" ucap Fiera terpotong.
Cup~
Ganda lebih dulu mengecupnya, bukan. Ini bukan sekedar kecupan. Kehangatan yang sebelumnya sudah pernah Fiera rasakan.
Manis. pikir Ganda merasakan lembutnya bibir Fiera.
Gila!!! ini Gila!!! gue pengen banget mendorong brengsek ini, tapi kenapa tubuh gue seakan kaku!!! kenapa???
Perperangan terjadi di dalam hati dan pikiran Fiera. Dia bukanlah gadis munafik, ia menikmati kecupan ini.
"Lo menikmati nya?" kekeh Ganda menatap Fiera yang terpaku di bawahnya.
Fiera tersadar, ia langsung mendorong tubuh Ganda dan segera berdiri.
"Brengsek! ",maki Fiera menatap Ganda tajam. Ia meraih kunci kamar Ganda yang tergeletak di lantai, lalu Fiera membuka pintu kamar ganda dan menutupnya dengan hempasan kuat.
"Dasar, untung Robert tidak kenapa kenapa" gumam Ganda mengusap miliknya.
"Tapi hangat yah Bert. Entar kalo dia udah jadi milik kita, kita sikat hingga pagi"kekeh Ganda membayangkan cantiknya Fiera mengerang kenikmatan di bawahnya
Fiera keluar dari rumah Ganda, karena kesal pada Ganda itu sampai lupa berpamitan pada Tante Lusi.
Fiera kembali ke dalam rumah, ia tahu terakhir kali Tante Lusi berada di ruang musik. Jadi, Fiera berniat akan menghampiri nya untuk berpamitan.
Batu saja Fiera akan meraih ganggang pintu ruangan itu, Fiera mendengar sesuatu yang seharusnya tidak ia dengar.
"Ahh...Sayang..." lenguh Lusi di dalam sana.
"What?? mereka..." Ganda melangkah mundur, pipinya merona membayangkan apa yang sedang terjadi di dalam sana. Lali, buru buru Fiera berlari keluar dari rumah Ganda. Ia benar-benar terkejut dengan apa yang ia alami hari ini.
"Gila, mang gila!!" gumam Fiera menggeleng sembari melakukan mobilnya meninggalkan perkarangan Rumah keluarga Wijanto.
...----------------...
__ADS_1