
Fiera melajukan mobil nya, ia tidak tahu kemana ia harus pergi. Gadis itu hanya butuh 1 malam saja untuk tempat nya menginap, karena besok ia akan sibuk dan melupakan kesedihan ini.
DRRRTTTT.....
Sembari mengemudi, Fiera melirik ponsel nya yang mulai berdering dan bergetar.
"Angle?"gumam Fiera. Gadis itu tersenyum simpul.
Fiera menepikan mobilnya, lalu meraih ponselnya yang masih berdering.
"Hallo Fie" sapa Angle di seberang sana.
"Ia gel, ada apa?" Balas Fiera
"Lo di mana? Bi Ina tadi kabarin gue. Katanya Lo kabur ya?" Suara Angle terdengar sangat khawatir.
"Gue di jalan, gak tahu mau kemana"jawab Fiera lirih.
"Lo ke rumah gue aja. Gue tunggu!" Kata Angle.
"Gue gak mau nyusahin Lo Gel" balas Fiera tidak enak.
"Lo jangan buat gue marah yah, sejak kapan persahabatan kita ada kata tidak enak huh?" Teriak Angle marah.
Fiera terkekeh pelan, lalu ia memutuskan panggilannya dengan Angle. Kemudian Fiera melajukan mobilnya menuju ke rumah Angle.
Tak terlalu lama, Fiera pun tiba di rumah Angle. Bertepatan saat itu, Raisa juga tiba di sana. Melihat kedatangan Fiera, Raisa langsung menghampiri nya dan memeluknya erat.
"Lo jangan panik yah, gue ada bersama Lo. Pokoknya Lo jangan mikirin apapun!" Ucap Raisa penuh kekhawatiran. Tadi bi Ina menghubungi Raisa dan mengatakan Fiera kabur dari rumah. Lalu, Raisa ingin mengajak Angle untuk mencarinya, beruntung Angle mengatakan jika Fiera dalam perjalanan menuju ke rumah Angle.
"Aduhhh Raisa, Lo gak usah lebay deh", sungut Fiera manyun.
"Ihh ni bocah yah, orang lagi khawatir juga. Dia malah gini!" Raisa melepaskan pelukan nya pada Fiera, lalu mengajak Fiera masuk ke dalam rumah Angle. Gadis itu terlihat sudah biasa dengan rumah Angle.
"Lo memang sangat peduli pada Fiera Raisa, tapi bagaimana jika nanti Lo tahu kalo Ganda menyukai Fiera. Apa perhatian yang selama ini akan terlihat sama lagi?" Batin Angle melihat Raisa dan Fiera melngkah masuk ke rumah nya. Angle menyambut kedua sahabatnya di depan pintu.
"Wahh wahhh seperti nya gue ni yang ketinggalan" Rajuk Angle.
"Gak lah, masa tuang rumah di tinggal" sahut Raisa.
Mereka langsung menuju ke kamar angle. Fiera menatik koper nya, dan di bantu oleh Angle dan Raisa ketika menaiki anak tangga.
"Nahh malam ini, kamar gue akan menjadi istana bagi kita bertiga!!" Sorak Angle
__ADS_1
"Wah jarang jarang ni, kita ke kamar cewe tomboy" ujar Raisa.
"Gue kira kamar Lo bakalan full warna hitam, ternyata...." Fiera menggantung ucapan nya, lalu ia melirik pada Raisa seakan memberi kode agar mereka berbicara serempak.
"Warna pink!!!!", Teriak Fiera dan Raisa kompak, lalu mereka tertawa bersama.
"Gila yah, tuan rumah jadi bahan bully" cibir Angle.
"Yah maaf, Lo sih. Tampang si oke, gaya juga meyakinkan. Pas di buktikan, ternyata cewe..."kekeh Fiera.
"Lah, emang gue cewe. Emang lu liat gue punya antena apa, di bawah!" Balas Angle menujuk sesuatu di bawahnya dengan sorot mata.
Raisa dan Fiera terdiam, lalu kemudian mereka tertawa bersama. Rasanya kesedihan yang tadi Fiera rasakan meluap seketika. Memang, kedua sahabatnya ini selalu bisa bikin Fiera tersenyum dan melupakan masalahnya.
"Malah ketawa"cibir Angle. Ia duduk di atas ranjang nya dengan kedua tangan bersikedap di depan dada yang terlihat hampir rata.
"Ulu uluuuu ngambek cayang aku" bujuk Fiera menghampiri Angle, lalu memeluknya erat. Risa pun tak mau kalah, ia ikut bergabung dan memeluk keduanya.
"Makasih yah, kalian memang selalu bisa buat aku senyum lagi, melupakan masalah yang sedang aku alami" gumam Fiera.
"Lo gak usah sedih Fiera. Kita selalu ada buat Lo. Tapi..." Raisa menjeda ucapan nya.
"Tapi apa?" Tanya Angle penasaran.
"Ihh kirain apaan, Lo sih bikin penasaran mulu!" dengus Angle. Fiera hanya ikut tertawa saja.
Malam nya, Fiera dan kedua sahabatnya menghabiskan waktu dengan cara berbincang bincang tentang masa masa mereka awal bertemu. Mereka kadang tertawa, kadang malah nangis nangis karena sedihnya kisah yang mereka jalani.
Berbeda dengan suasana rumah keluarga Wijanto. Elena tengah merengek pada kedua orang tua nya agar di beri ijin untuk ikut acara bantuan sosial ke desa yang Fiera adakan.
"Pokoknya Elena mau ikut!" Tekan Elena memaksa.
"Sayang, itu sangat bahaya bagi kamu yang masih SMP. Kalo kamu udah SMA , mungkin ayah sama bunda bisa kasih ijin" jawab Lusi memberi pengertian. Namun, Elena tetap kekuh dengan pendiriannya.
"Kan ada kak Fiera Bun, ada guru guru smp juga. Ini acara besar Lo Bun. Gak anak sekolah aja" jelas Elena meyakinkan bunda nya.
"Yah tetap aja sayang, itu berbahaya" tolak Lusi.
Elena beralih pada ayah nya, ia sangat ingin ikut dan berharap ayah nya mau memberi nya ijin. Jika ayah nya sudah berkata iya, maka semuanya akan selesai.
Ganda baru turun dari kamarnya, ia mengerut melihat Elena merengek pada ayah dan Bunda nya.
"Kenapa dia Bun?" Tanya Ganda sembari duduk di samping bunda nya.
__ADS_1
"Dia minta ijin ikut kegiatan bansos di desa. Tapi, bunda gak ijinin. Bahaya kan, jauh lagi" jelas Lusi.
"Bansos?bukan nya itu kegiatan yang Fiera adakan yah? Kegiatan gabungan" pikir Ganda
"Gak papah lagi Bun, ganda juga ikut" ujar Ganda.
"Nah hun, ada kak ganda juga yang bakalan jagain Elena!" Ujar Elena mendapat angin segar dari Abang nya.
"Kamu beneran mau ikut?" Tanya Lusi kaget, seumur umur ini kali pertama nya Ganda mau ikut acara begituan.
"Iya Bun, kenapa? Kaget yah?" Kekeh Ganda.
"Yailaha kaget, orang Lo gak pernah mau ikut acara sekolah, kecuali Lo suka pindah pindah sekolah" sahut Elena mengejek Ganda.
"Yaudah, kalo gitu gue gak jadi ikut!" Balas Ganda, Elena langsung berteriak dan memeluk Ganda.
"Jangan!!!!! Abang gue paling ganteng, Lo harus ikut yah. Kan mau Deket Deket sama kak Fiera"bujuk Elena.
Mendengar nama Fiera di sebut, bunda Lusi langsung berbinar.
"Jadi, kamu suka sama Fiera Ganda?"tanya bunda Lusi.
"Yaiyalah bunda, terusss bunda pikir kak Ganda mau ikut acara ini karena apa?"ujar Elena.
"Wahh bagus itu, kamu harus dapatin Fiera ganda. Dia gadis yang baik dan menantu idaman. Bunda pengen banget dia jadi mantu bunda" kata Lusi menyemangati putranya.
"Aduhh Bun, mereka ini masih sekolah. Masih panjang langkah hidup nya. Kenapa malah di suruh kaya gitu" kata Ferdi menggeleng melihat tingkah istrinya.
"Gak papa lagi yah, kalau bisa, lulus SMA mereka bisa menikah. Kalo soal pendidikan mah, mereka bisa menjalani nya ketika sudah menikah. Buat makan dan minum, kita sudah punya segalah nya. Gak usah tamak dan terlalu ambisi dalam hidup. Paling penting itu, kita bahgaia dan bersyukur atas apa yang ada. Berusaha adalah kewajiban, tapi jangan terlalu monoton banget" ucap Lusi panjnag lebar.
"Wahhhh kaya nya bisa nikah Minggu depan nih" kekeh Ganda menggoda bunda nya
"Boleh, asal itu sama Fiera"jawab Lusi cepat.
"Bunda ambisi banget sama Kak Fiera. Katanya gak boleh terlalu ambisius sama sesuatu" ledek Elena.
"Gak tahu kenapa, bunda merasa ada sesuatu yang membuat bunda pengen Deket sama dia. Bunda merasa Fiera kekurangan sesuatu dan kita bisa beri gitu" jelas Lusi.
"Kak Fiera itu asik Lo Bun, baik, sopan, pokoknya idola elena banget"tambah Elena.
"Yah, gawat ini. Bisa bisa Ganda gak boleh nikah kalo gak sama Fiera" kata Ganda pada Ayahnya.
"Rasain kamu!" Ledek Ferdi.
__ADS_1
"Haduhhhh, di kira teman. Eh ternyata musuh" cibir Ganda. Lusi, Ferdi dan Elena tertawa mendengar cibiran Ganda.