Mengejar Cinta Ketos Jutek

Mengejar Cinta Ketos Jutek
Lagi Lagi (Fiera)


__ADS_3

Ganda dan Rafael ke kantin bersama, karena bangku di kantin sudah penuh semua. Akhirnya Rafael mengajak Ganda bergabung dengan Fiera dan Angle.


"Eh kok ke sini sih?" sungut Angle kaget melihat Rafael sudah duduk di depan nya.


"Meja sudah penuh, jadi kita boleh gabung kan di sini?" tanya Rafael sembari menatap kearah Fiera yang terlihat acuh dengan kehadiran mereka.


Ganda duduk di depan Fiera, salah satu kakinya tidak sengaja menyenggol lutut Fiera di bawah meja. Tentu saja Fiera langsung menatap nya tajam.


"Kenapa? apa gue gak boleh duduk di sini?" seru Ganda tajam.


"What? Lo gila yah. Gue gak larang Lo, tapi bisa gak, kalo-" ucapan Fiera terhenti, ia melirik ke arah Rafael yang kaget melihat respon nya yang sedikit berlebihan.


"Ada apa Fie? Lo beneran keberatan kita gabung?" tanya Rafael.


"Em.. Bukan, gue kesal aja dia nginjak kaki gue" jawab Fiera jujur, nada suara nya terdengar kesal.


"Hah, Lo nginjak kaki Fiera? trus gimana, kaki lo sakit gak?" Rafael langsung panik memeriksa kaki Fiera


"Gak papa kok, gue juga udah selesai makan. Kalian bisa make meja ini" ucap Fiera, dengan kesal ia bangkit dari duduk nya dan pergi begitu saja dari kantin.


"Eh Fie, gue belum selesai!!" teriak Angle.


"Yahhh padahal kan makanan nya masih banyak" lenguh Rafael.


"Kalian sih, orang lagi enak makan. Malah di gangguin" gerutu Angle.


"Apaan, dia aja tuh yang sensian. Kita kan cuma numpang nebeng meja doang" sahut Ganda.


"Yeeee, lu yah. Sejak lu pindah ke sekolah ini, Fiera jadi badmood mulu. Udah telat, ngelawan lagi!" kata angle menatap Ganda kesal, tapi ia tidak berniat meninggalkan meja nya sekarang. Masih ada banyak makanan yang harus ia makan.


Fiera masuk ke dalam kelas, ia mendapati Susi dan Raisa duduk di meja mereka masing-masing.


Fiera bersikap biasa saj, ia memang terbilang tidak terlalu banyak bicara. Kadang kadang yah, Fiera suka bercanda, tapi itu sangat jarang sekali. Wajah nya selalu datar, atau malah sinis.


"Loh, Fie. Lo udah selesai makan di kantin?" tanya Susi heran.


"Udah" jawab Fiera singkat.


Fiera duduk di bangkunya, sembari menunggu waktu masuk, Fiera memainkan ponsel nya.


Cling~


Pak Somat.


Fiera, ajuan proposal kamu bapak terima. Setelah ujian sekolah, kita akan menyelenggarakan nya.


Fiera membaca setiap kata yang kepsek itu kirim kan pada nya. Dengan sangat senang, Fiera menoleh pada Susi.


"Si, pak Somat menyetujui kegiatan bansos di desa itu" kata Fiera memberitahu Susi.


"Beneran???" tanya Susi tak percaya. Fiera mengangguk dan tersenyum.


"Iya, ni barusan gue dapat pesan nya" Fiera menunjukkan pesan WhatsApp dari pak Somat.


"Yuhuuuuu, akhirnya liburan gue berfaedah juga" sorak Susi.


Susi menghampiri Fiera, lalu memeluk nya erat saking bahagianya dirinya hari ini.


"Aduhhh sakit Susi"


"Hehee sorry Fie, gue kesenangan sih" kekeh Susi.

__ADS_1


Raisa yang sejak tadi hanya diam menyaksikan kegembiraan sahabat nya ikut bangkit dari duduknya. Ia berjalan mendekati Fiera dan menarik salah satu kursi yang ada di meja sebelah. Raisa duduk di depan Fiera dengan wajah di tekuk.


"Lo kenapa? apa cogan Lo kurang?" tanya Fiera bercanda.


"Fie, kira kira gue bisa gak yah. Dapetin tu cowo?" tanya Raisa dengan nada suara lesuh.


Fiera mengerut, ia bingung. Pria mana yang Raisa maksud.


"Aduh...Fie, Lo pasti bingung kan?" tebak Susi menghela nafas.


"Iyalah gue bingung, secara kan cogan ni cewe gak cuma atu" balas Fiera.


"Gak Fie, mulai hari ini. Gue hanya akan mencintai Ganda. Fix gue bakalan berhenti jadi Fake girl." Seru Raisa cepat dan penuh keyakinan.


"Huh? jadi Lo suka sama Ganda?" tanya Fiera kaget.


"Si tampan gue, huhh..Gue harus relain dia demi Cunguk ini" gerutu Susi.


"Ya harus lah, gue kemarin udah relain Rafael buat Lo"


"Yaudah kita impas"


Fiera memutar bola matanya bosan, kedua teman nya ini sudah terlalu gila meributkan cowo cowo yang tidak penting ini.


"Masih SMA ,tapi dah gila mikirin cowo" dengus Fiera.


"Aduh, Fie. Lo sih kaku banget. Kalo lu dah tahu gimana rasanya di perhatiin sama cowo. Pasti deh Lo bakalan cari pacar" jawab Raisa dan Susi bersamaan.


"Serah lu deh"


Kringgggg!!!!!!!


"Nah, tu bel dah bunyi. Sono, ke meja masing-masing!" usir Fiera.


Para siswa siswi mulai masuk ke kelas masing-masing, mereka tidak mau terlambat walaupun hanya satu detik. Karena, di buku peraturan Fiera, sudah ada tingkatan hukuman untuk setiap detik terlambat atau setiap pelanggaran yang di lakukan.


Mau membangkang? silahkan. Fiera tidak akan ambil pusing, ia tinggal melapor, nah urusan beres.


Peraturan ini, bukan Fiera yang membuat. Tapi, sudah ada sejak ketua OSIS terdahulu sebelum Fiera. Mereka selalu berkomunikasi meskipun sudah lulus dari sekolah itu. Setiap tahun nya, akan ada penambahan ketua OSIS di dalam komunitas mereka.


Tapi, bagi murid Laksamana Jaya ini. Pada masa jabatan Fiera lah yang paling ketat. Ia menerapkan semua peraturan yang ada, dan memberikan beberapa perkembangan untuk peraturan yang menurutnya sedikit longgar.


Ganda masuk ke dalam kelas, ia ingin menghampiri Fiera untuk memberikan ultimatum bahwa dirinya ingin membuka perang. Tapi, keinginan nya harus ia urungkan terlebih dulu. Raisa sudah lebih dulu mendekatinya dan menggandeng lengan nya.


"Hai, Ganda. Lo udah makan? hadiah hadiah itu udah gue beresin" kata Raisa tersenyum manis.


"Oh makasih" balas Ganda sembari melepaskan gandengan tangan Raisa secara perlahan.


Ganda duduk di kursinya, ia menatap Raisa yang masih berdiri di depan nya.


Siswa siswi lain hanya menggeleng melihat tingkah cewe cantik itu.


"Lo gak duduk, bentar lagi guru datang tuh" kata Ganda pada Raisa yang masih betah berdiri sembari menatap nya. Ganda sebenarnya merasa risih dengan perlakuan gadis ini.


"Eh iya. Gue ke meja gue dulu yah" ujar Raisa malu malu.


Akhirnya kelas pun menjadi hening, Ganda spoiler melihat nya. Sungguh luar biasa sekolah ini. Tadi sebelum guru datang, jelas ini bagaikan pasar pagi, semua penjual meneriaki dagangannya ke pengunjung.


Setelah Bu Rena datang, suara jangkrik pun tidak terdengar. Luar biasa sekali disiplin nya.


Ganda melirik ke arah Fiera, gadis itu dengan santai menatap ke depan dengan buku bahasa Inggris nya sudah terbuka.

__ADS_1


"Persiapan yang sangat bagus" kata Ganda dalam hati.


"Semuanya, beri salam!" kata Randi memimpin.


"Good morning Miss" ucap mereka serempak.


"Morning"


Materi pun di mulai, mereka belajar dengan sangat serius. Canda tawa terdengar di sela sela penjelasan Bu Rena.


...----------------...


"Mas, apa Fiera bisa mengerti ini?" tanya Dea pada suaminya. Sangat jarang mereka berdiskusi seperti ini. William menatap istrinya yang merasa cemas.


" Tenang lah Dea, kamu gak usah khawatir. Aku yakin, Fiera akan mengerti" kata William menenangkan istri nya.


Dea mengangguk pelan, ia merasa sedikit lebih tenang. Kini, mereka hanya akan menunggu Fiera pulang sekolah.


Perusahaan Dea dan William membuka cabang di Amerika, dan pembukaan pertama ini mereka harus berada di sana untuk mengurus semuanya.


Sebenarnya, Dea merasa tidak enak meninggalkan putrinya sendiri di rumah.


Setelah beberapa jam kemudian, Fiera pun pulang. Dea dan William langsung menyusul putri semata wayang mereka ke depan.


Fiera sedikit kaget melihat kedua orang tuanya ada di rumah. Bukan nya senang, ia merasa sedikit aneh.


Lagi lagi, mereka akan pergi.


Fiera sudah menduga apa yang akan kedua orang tua nya katakan.


"Fiera, kamu sudah pulang sayang?" sambut Dea lembut.


"Hmm" balas Fiera datar.


Fiera melewati kedua orang tuanya begitu saja, tubuh nya lelah dan tidak ingin berdebat lagi.


"Fie, papa sama Mama mau bicara sama kamu" kata William menahan lengan putrinya.


"Mia ngomong apa? apa kalian akan pergi lagi?"


"Fie..." Sela Dea.


Fiera membalikkan tubuhnya, air mata sudah terkumpul di pelupuk matanya. Ia berusaha untuk tidak terlihat lemah di depan kedua orang tuanya.


"Kenapa ma? bukan kah mama dan papa menunggu Fiera pulang hanya untuk mengatakan hal itu?. Kenapa?? kenapa kalian harus menunggu dan mengatakan hal kepada ku." Fiera meluapkan semua isi hati nya.


"Fiera, kami bekerja juga untuk kamu. Masa depan kamu" kata William mulai terpancing emosi.


"Untuk ku? yah...Kalian memang bekerja untuk ku, kalian pergi dan mengabaikan ku hanya demi diriku!!" tangis Fiera pecah, ia menatap kedua orang tua nya dengan tatapan frustasi.


"Tapi Fiera, kami memikirkan masa depan kamu nak. Kami hanya ingin kehilangan mu cerah" kata Dea, ia bergerak ingin memeluk putrinya, tapi Fiera menjauh.


"Kapan kalian akan mengerti, kapan?? aku tidak butuh semua ini. Aku hanya ingin kehidupan ku seperti teman teman ku. Mereka...." Fiera tidak sanggup melanjutkan ucapan nya. Fiera malah berlari meninggalkan papa dan mama nya.


"Fiera!! Fiera!!!" panggil Dea, ia hendak mengejar Fiera tapi William menahan nya.


"Sudah sayang, anak itu pasti akan mengerti" kata Wiliam. Dea menangis, ia memeluk suaminya.


"Bagaimana ini Wiliam, mengapa dia tidak mau mengerti?"


"Sudah lah Sayang, mungkin Fiera butuh waktu" kata Wiliam lagi.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2