Mengejar Cinta Ketos Jutek

Mengejar Cinta Ketos Jutek
Persiapan Mental dan Hati


__ADS_3

1 Minggu pun berlalu, Fiera mengumpulkan seluruh anak OSIS untuk membicarakan soal keberangkatan mereka 1 hari lagi.


"Susi, daftar siswa yang ikut pergi sudah di rekap?" tanya Fiera.


"Sudah Fie, semuanya ada di flashdisk itu" jawab Susi sembari meletakkan sebuah flashdisk di atas meja Fiera.


"Bagus, terimakasih atas kerja sama nya".


Susi tersenyum manis, ia selalu senang jika Fiera dan rekan OSIS lainnya puas dengan kinerja nya.


"Untuk yang lain nya, handle masing-masing kelompok yang sudah Susi rekap, ingatkan pada mereka untuk menyiapkan segala persiapan mereka. Kita akan berangkat besok."


"Siap Ketua!"jawab mereka kompak.


"Kalian boleh bubar"


Semua anggota OSIS langsung berangsur keluar dari ruang rapat, yang tersisa hanya Fiera, Susi dan Angle.


"Raisa ikut?" tanya Susi pada Angle.


",Katanya iya, gak tahu deh jadi apa nggak nya"jawab Angle.


Fiera menatap kedua teman nya, mereka seperti mengkhawatirkan sesuatu.


"Apa yang kalian khawatir kan?" tanya Fiera.


"Huh? Hem...Gak ada kok Fie." elak Susi.


"Gue ngerasa kalian menyembunyikan sesuatu dari gue"


"Perasaan Lo aja kali" timpal Susi.


"Yah sudah lah, gue mau ke ruang kepsek dulu. Mau ngasih laporan laporan ini" ujar Fiera pamit. Ia langsung bergegas menuju ke ruangan pak Somat.


Sementara di taman depan sekolah, terlihat Raisa menghampiri Ganda dan Rafael yang sedang nongkrong bersama teman teman nya.


Dengan malu malu, Raisa berdiri di hadapan Ganda.


"Ngapain Lo ke sini?" tanya Rafael heran.


" Bukan urusan Lo mantan gebetan!" seru Raisa. Lalu, ia menatap Ganda penuh cinta. Ganda terlihat biasa saja, bahkan ia terkesan tidak peduli dengan kehadiran Raisa.

__ADS_1


"Ganda, Lo ikut acara sosial itu gak?"tanya Raisa.


"Gak minat" jawab Ganda singkat.


"Gue juga berpikir Lo gak bakal ikut" gumam Raisa senang.


"Memangnya, jika ganda ikut. Lo mau ikut?" ledek Rafael.


"Ya pasti dong, gue akan ikut kemana pun Ganda pergi!!" jawab Raisa angkuh.


"Cak elah, gitu amat Lo! entar gak berbalas nangis!!" ledek Rafael, lalu tertawa bersama dengan teman temannya yang lain.


Raisa mengerucutkan senyum nya, ia melirik ganda yang terlihat biasa saja.


"Liat aja nanti, Ganda pasti bertekuk lutut Karena kecantikan gue" balas Raisa penuh keyakinan, ia menatap Ganda untuk beberapa detik, lalu kembali menatap Rafael dan semua teman temannya.


"Kalian akan kaget melihat nya!" sambung Raisa, lalu pergi dari sana.


Gila banget sih tu cewe, gue emang gak suka sam dia. Ah, gue ikut aja deh acara sosial itu. kebetulan gadis itu gak ikut.


Ganda mengulum senyum, ia mulai memikirkan bagaimana cara bisa dekat dengan Fiera.


Sebut saja Ganda gila, awal nya ia tidak suka dan kesal dengan Fiera. Kini malah berubah menjadi mengaguminya.


Setiba nya di rumah, Fiera mendapati sang mama sedang menelfon seseorang. Saking asik nya obrolan itu, Dea sampai tidak menyadari kehadiran putri nya.


"Oh honey, aku sangat merindukanmu." lenguh Dea tanpa sadar mengungkapkan rasa cinta nya pada seseorang.


Awal nya Fiera pikir itu adalah Papa nya, sekali lagi hati Fiera terasa sakit melihat kemesraan papa dan mama nya. Ia merasa jika kedua orang tua nya benar benar tidak mengharapkan nya.


Namun, ketika ia melewati mama nya. Tanpa sengaja Fiera melihat di layar ponsel mama nya wajah seorang pria, yang pasti itu bukan papa nya.


Astaga, jadi itu bukan untuk papa? mama??


"Fiera??" kaget Dea melihat putrinya mematung di samping nya.


"Siapa dia ma?"tanya Fiera dengan nada datar dan ekspresi dingin.


"Rekan kerja mama Fiera, dan itu bukan urusan kami!" bentak Dea.


"Huh, rekan kerja...Dan bukan urusan aku.." lirih Fiera, ia menatap mama nya dengan tatapan kosong.

__ADS_1


"Sejak awal aku memang bukan urusan siapapun" gumam Fiera, lalu pergi begitu saja dari hadapan mama nya.


"Sayang, nanti aku hubungi lagi. Putri ku salah faham" kata Dea memutuskan panggilan nya.


Dea menyusul Fiera ke kamarnya, ia sangat kaget ketika mendapati Fiera tengah memasukkan baju baju nya ke dalam koper.


"Apa yang kamu lakukan Fiera!!" teriak Dea, ia mengeluarkan kembali baju baju yang sudah Fiera masukkan ke dalam tas.


"Jangan ikut campur dengan urusan ku!!" kata Fiera, ia mengambil baju baju nya dan memasukkan nya ke dalam koper.


"Kamu mu kemana, mama gak akan biarkan kamu pergi!" Dea menarik Fiera, lalu memegang bahu nya.


"Tenang Fiera! tenang!!!" bujuk Dea.


"Tenang yang bagaimana mama inginkan? setelah aku melihat semuanya. Setelah kalian memperlakukan aku seperti orang asing. Bahkan kalian tidak pernah menganggap aku ada. Sebenarnya kalian mengharapkan aku atau tidak!!" Fiera semakin histeris, ia mendorong mama nya dan kembali memasukkan baju baju nya ke dalam koper


"Fiera!!! kamu akan mengerti ketika kamu tahu segalanya!!", teriak Dea.


"Aku tidak ingin tahu apapun dari kalian, aku hanya ingin pergi dari kehidupan yang selalu mencekam dan membunuhku secara perlahan!!"


William datang, ia kaget melihat pertengkaran putrinya dan istri nya.


"Ada apa ini? kenapa kalian seperti ini??" teriak William melerai kedua wanita itu.


"Dia mau pergi mas, tolong larang dia" ucap Dea. Wiliam menatap putrinya, seolah mengajukan pertanyaan apakah itu benar?.


"Aku hanya ingin keluar dari lingkungan neraka ini. Lagi pula, ada atau tidak nya aku. Apa ada pengaruh pada kalian?" lirih Fiera datar, ia sama sekali tidak mau menatap papa dan mama nya.


"Kita bisa bicarakan semua ini baik baik sayang, tidak harus seperti ini" bujuk William.


"Tidak, aku sudah lelah menunggu ucapan yang selalu kalian katakan pada ku. menunggu harapan palsu yang kalian umbar kepada ku" tolak Fiera.


William menarik rambutnya, ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi putri semata wayangnya ini.


"Fiera, kamu salah paham. Suatu saat kamu akan mengerti" ujar Dea menangis di pelukan suaminya.


Fiera menatap papa dan mama nya. Ia heran, mengapa mereka masih akur. Sementara mama nya sudah jelas mengkhianati papa nya. Hanya 2 kemungkinan yang ada di pemikiran Fiera. Papa nya tidak tahu, atau mereka memang sudah berkomitmen dengan diri masing-masing. Lebih tepatnya sama sama melakukan hal yang sama.


Oh God, tidak ada yang bisa membayangkan bagaimana perasaan Fiera saat ini. Ia kelimpungan dengan kehidupan nya yang selalu berantakan. Bahkan Fiera pernah menanyakan kepada nasibnya, mencari cari kesalahan apa yang telah ia perbuat, sehingga keluarganya jadi hancur seperti ini.


"Aku butuh waktu, aku butuh waktu untuk memulihkan mental ku untuk menghadapi kenyataan kehidupan ku yang memang sejak awal di takdir kan untuk hancur" lirih Fiera, ia mengambil kopernya dan berlalu pergi dari sana.

__ADS_1


Dea dan William hanya bisa menghela nafas dan menatap kepergian Fiera. Ucapan Fiera memang benar, mereka jadi menyadari semua kesalahan mereka. Namun, mereka tidak bisa berbuat apa apa, karena jalan nya sudah seperti ini.


...----------------...


__ADS_2