
"Selamat yah William, kamu memang sangat hebat" puji Ferdi memberi selamat pada William atas pencapaian kesuksesan proyek terbaru nya.
"Terimakasih Ferdi, semua ini berkat kerja sama kita"balas William merendah.
"Ah kamu ini, selalu saja merendah seperti itu" kekeh Ferdi. Mereka tertawa bersama, Ferdi dan William adalah teman sejak mereka masih kuliah di Jerman dulu. 2 tahun belakangan ini mereka bertemu dan menjalin hubungan kerjasama.
"Oh iya, bagaimana kabar Dea? apa kalian masih berteman?"tanya Ferdi yang tidak tahu tentang pernikahan Wiliem dengan Dea. Ia hanya tahu jika mereka berteman dekat, hal itu juga karena Dea dan Wiliem sering terlihat bersama.
"Banyak cerita setelah kita tidak bertemu lagi"kata William menghela nafas gusar
"Benarkah? kalau begitu ceritakan kepadaku!"desak Ferdi.
"Aku dan Dea di jodohkan, lalu kami menikah dan mendapatkan seorang anak. "kata William.
"Wah bagus dong, lagi pula kalian sudah saling kenal lama" kata Ferdi senang.
"Tidak Ferdi, semuanya tidak baik baik saja, setelah menikah kami mulai menyadari bahwa kami tidak cocok. Sehingga setelah papa ku meninggal, kami memutuskan untuk bercerai"
Ferdi menganga, ia tidak tahu harus mengungkap kan apa tentang fakta baru yang teman lama nya ini kabarkan.
"Lalu, bagaimana dengan anak kalian. Apa istri mu membawanya?"tanya Ferdi penasaran.
Namun, William menggeleng pelan.
"Kami memutuskan untuk merahasiakan semua ini darinya. Karena waktu itu dia masih sangat kecil. Namun, pada akhirnya putri kecil kami mulai tumbuh dewasa dan merasakan ketidak nyamanan dari sikap kami yang acuh dan sibuk. Dirinya mulai memberontak, dan mengetahui fakta jika kedua orang tuanya sudah bercerai" William bercerita panjang lebar dengan ekspresi sedihnya.
"Kasian sekali dia, pasti dia merasa sangat kesepian" lirih Ferdi.
"Aku tidak tahu harus melakukan apa Fer, semua nya terjadi seakan sudah di atur oleh maha kuasa" balas William.
"Sesekali ajak lah dia main ke rumah ku, aku juga memiliki 2 anak. Dan aku yakin, putri mu akan cocok dengan putri kecil ku" kata Ferdi.
"Baiklah, lain kali aku akan mengajaknya datang kerumah mu" jawab William.
"Apa Dea sudah menikah?"tanya Ferdi. Wiliam tampak diam, lalu menggeleng pelan.
"Dia memutuskan untuk berkencan saja, menurutnya hubungan pernikahan hanya akan membuat hidup nya semakin berat. Dea lebih memilih bebas dan menikmati kehidupan nya." jelas Wiliam. Ferdi mengangguk mengerti, ia juga bisa menilai Dea Seperti apa, apalagi pengalamannya tentang hubungan pernikahan dengan William sangat buruk.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Lusi? apa dia masih cerewet?"tanya William.
"Oh astaga William, aku sampai lupa. Aku harus segera pergi sekarang" kaget Ferdi teringat akan sesuatu
.
"Kenapa? apa ada seseorang?" tanya William panik.
"Lusi sedang arisan, aku harus menjemput nya sekarang. Aku sudah sangat terlambat" ujar Ferdi buru buru pergi.
"Ah pria itu selalu saja begitu!" decak William menggeleng kepala melihat tingkah Ferdi. Sejak ia pacaran dengan Lusi, pria itu selalu saja lupa akan janjinya pada wanita nya itu.
~•
"Ihh Ayah kalian itu selalu seperti itu. Dia selalu melupakan bunda" omel Lusi. Ia merasa sangat kesal pada suaminya yang selalu lupa setiap janji yang sudah mereka buat. Lusi merasa sangat malu pada teman temannya yang di jemput oleh suami mereka. Sementara dirinya, malah di jemput putranya. Itupun terlambat. Beruntung Ganda datang sedikit lebih cepat, kalau tidak. Pasti dirinya akan sendirian di sana.
"Udah lah Bun, mungkin ayah ada rapat penting" ucap Ganda menenangkan bundanya.
"Rapat apanya, sudah bunda bilang kosongin jadwal di jam 2. Bunda udah bilang sejak kemarin!"ucap Lusi.
Ganda tidak menjawab lagi, ia hanya bisa mendengar setiap Omelan yang bundanya lontar kan untuk ayah nya.
"Apaan sih kamu" dengus Lusi.
Ganda duduk di samping adiknya, ia merasa lelah sekali hari ini. Apalagi dirinya yang tidak bisa dekat dengan Fiera karena alasan persahabatan nya.
"Ah, ngadu sama kalian sama aja ngadu pada tembok!" gerutu Lusi, ia memilih pergi ke kamarnya.
Fyuuuu....
Ganda bernafas lega, akhirnya ia tidak mendengar cerewettan bunda nya yang sama sekali tidak berfaedah. Bukan maksud durhaka, tapi Lusi memang bersikap seperti itu jika ia kesal. Namun, yang membuat kedua anak nya itu kesal adalah. Bunda mereka akan bersikap biasa saja dan lebih terlihat seperti tidak memiliki masalah dengan ayah nya ketika mereka sudah bertemu. So, gerutuan yang tadi bunda nya lontar kan sama sekali tidak ada gunanya.
"Kenapa Lo kak? cemberut gitu" tanya Elena.
Ganda menghempaskan tubuhnya ke senderan sofa.
"Gue terjebak di berbagai situasi"lirih Ganda. Elena menoleh padanya, ia menatap kakaknya serius.
__ADS_1
"Tumben Lo kaya gini, emang situasi apa?"tanya Elena penasaran.
"Lo pasti tahukan, gue suka sama Fiera"
"Yah, truss" balas Elena masih menatap kakaknya.
"Nah, gue gak bisa ngejar dia terang terangan." Ganda mendesah kesal.
"Loh kenapa? ?" tanya Elena semakin heran, kenapa Ganda tidak bisa mengejar Fiera dengan bebas. Padahal, yang Elena tahu, Fiera tidak memiliki kekasih.
"Sahabat gue, si Rafael menyukai Fiera. Dan sejak awal dia sudah mengatakan nya sama gue"lenguh ganda pasrah.
"Loh kok gitu. Emang kak Fiera menyukai kak Rafael?"tanya Elena.
"Gue gak tahu, tapi gue gak bisa dong perlihatkan sama Rafael jika kita adalah saingan" jawab Ganda cepat.
Elena terdiam, ia tahu kakaknya merupakan orang yang sangat memegang hubungan persahabatan. Apalagi seperti Rafael, sahabat nya dari SMP.
"Rumit nih"gumam Elena.
"Gue juga gak tahu, Fiera suka dia atau lagak. Kalau Fiera juga suka sama Rafael, otomatis, gue harus merelakan dia"lirih Ganda. Ini adalah kalo pertama nya Ganda menyukai gadis dengan bersungguh-sungguh sungguh.
"Lo serius suka kak Fiera? atau Lo hanya penasaran doang sama dia. Karena kak Fiera susah di deketin!" tekan Elena , ia tidak mau kakaknya mempermainkan sahabatnya. Elena sangat menyayangi Fiera, bahkan mereka seperti kakak dan adik.
"Yah gue serius lah. Emang, Lo pernah gitu liat gue kaya gini sama cewe lain? Lo tahu kalo cewe cewe yang Deket sama gue. Semuanya kan elu yang tangani" ujar Ganda.
Elena mendengus kesal, mengingat betapa kesulitan nya dirinya mengatasi setiap wanita yang di campakkan oleh kakaknya. Apalagi cewe cewe yang sangat ambisius untuk mendapatkan kakaknya.
"Lu emang selalu nyusahin gue"gerutu Elena. Namun, Ganda terlihat biasa saja.
"Karena itu tugas lu sebagai adik gue" ledek Ganda, ia menoyor kepala Elena lalu meninggalkan nya begitu saja.
Kini tinggallah Elena yang mencak mencak kesal atas perbuatan dirinya.
"Dasar yah, kakak tidak beradap, menoyor kepala gue sembarangan. Kalo sampai otak gue geger gimana, ntar gue gak bisa menang olimpiade lagi!!" teriak Elena. Ganda malah acuh dan terus berjalan menaiki anak tangga dan berlalu masuk ke dalam kamarnya.
"Dasar!"dengus Elena.
__ADS_1
...----------------...