
Ceklek~
Seorang dokter keluar dari ruangan UGD. Ia melihat satu persatu orang yang ada di hadapannya.
"Keluarga pasien di mana?" tanya dokter.
"Saya dok" jawab seorang wanita paru baya yang baru saja tiba di rumah sakit. Ia terlihat menangis dan di papa oleh pria tua yang Fiera yakin itu adalah mama dan papanya Raisa.
"Baiklah, tolong ikuti saya untuk mendiskusikan kondisi pasien." kata dokter.
"Baiklah, saya akan mengikuti dokter" kata papa Raisa. "Tunggu di sini yah sayang" ucapnya pada sang istri.
Wanita baru baya itu hanya bisa mengangguk pelan, ia seakan tidak kuat melakukan apapun lagi. Air matanya terus mengalir deras tanpa bisa di hentikan.
"Tante"lirih Fiera menghampiri mama Raisa.
"Kami Fiera kan???" tanya mama Raisa, ia langsung mendekati Fiera dengan sorot mata tajam.
"Iya Tante, hikss...Maaf saya-_"
Plak!
"Tante!"tegas Ganda menarik istri nya dari hadapan wanita yang tidak ia kenal.
"Sudah cukup Raisa menderita karena kami! dia selalu menangis dan hidup seperti manusia tanpa jiwa.
Dan sekarang! apa kamu masih belum puas??? Putri ku kecelakaan dan hampir lenyap!!!" teriak mama Raisa histeris. Ia hendak memukul Fiera lagi, tapi di tahan oleh Rafael dan Fiera di lindungi oleh Fiera yang menangis sejadi jadinya.
"Maafin aku tante, semua ini karena akuuu" lirih Fiera dalam tangisnya.
Ganda memeluk istrinya semakin erat, ia berusaha untuk menenangkan Fiera agar tidak semakin menyalahkan dirinya. Sementara Mama Raisa terus memaki maki Fiera.
"Kamu memang wanita yang tidak punya hati!"
"******!!"
"Seharusnya kamu saja yang mati!!!"
Tangis Fiera semakin pecah, caci mati mama Raisa benar benar menusuk ke jantung nya.
"Ganda, sebaiknya Lo bawa Fiera ke tempat lain dulu" kata Rafael sembari memeluk mama Raisa.
"Lepasin saya!! akan ku habisi wanita itu!!!" ronta mama Raisa pada Rafael.
"Yuk sayang, kita ketempat lain dulu" ajak Ganda.
Mama Raisa meraung raung di depan ruang UGD. Ia memohon pada suster untuk membiarkan nya masuk melihat putri kesayangannya.
Namun, kondisi Raisa sangat kritis, siapapun tidak boleh masuk kecuali dokter dan suster pembantu nya.
__ADS_1
Di dalam ruangan dokter, papa Raisa tampak syok mendengar ucapan yang baru saja di ucapkan oleh dokter.
"Apa putri saya bisa selamat dok?" tanya papa Raisa penuh harap.
"Kita hanya bisa berusaha dan menyerahkan semua nya kepada yang maha kuasa.
Ada 2 kemungkinan yang akan terjadi jika pasien selamat"
"Apa itu?" tanya papa Raisa.
"Jika pasien selamat, kemungkinan pertama pasien akan kehilangan ingatannya.
kemungkinan kedua, pasien akan lumpuh.
Untuk hasil pastinya, kita hanya bisa menunggu perkembangan kondisi pasien" jelas dokter panjang lebar.
"Lakukan yang terbaik dok, selamatkan putri saya. Apa saja akan saya lakukan asalkan putri saya selamat" mohon papa Raisa pada dokter itu.
"Kami akan berusaha pak, setelah kita melakukan operasi ringan. Pasien akan kami pindahkan ke ruangan rawat inap khusus untuk pasien"
"Baiklah dok, saya serahkan kepada dokter untuk kesembuhan putri saya"
Papa Raisa keluar dari ruangan dokter dengan langkah gontai. Ia kembali ke ruang UGD untuk melihat istrinya.
Bertepatan ketika papa Raisa tiba di depan istri nya. Angle lun datang dengan tubuh penuh keringat.
"Raisa!!! om, Tante. Raisa mana??" tanya Angle dengan nafas tidak teratur.
"Gimana pa, apa kata dokter?" tanya mama Raisa.
"Udah, mama gak usah khawatir. Putri kita akan baik baik saja" jawab papa Raisa.
Angle kebingungan, ia tidak bisa mengulang kembali pertanyaan nya pada kedua orang tua Raisa, karena mereka terlihat tidak bisa di ganggu.
"Rafael?" kaget Angle.
"Lo baru sampai?" tanya Rafael.
"Di mana Raisa?" tanya Angle mengabaikan pertanyaan Rafael.
"Dia masih di dalam, dokter akan mengoperasinya" jawab Rafael menunjuk ruang UGD.
Rafael memberikan minuman yang ia beli tadi pada mama Raisa.
"Minum dulu Tante, biar enakan dikit"ujar Rafael.
"Makasih nak" balas Mama Raisa menerima minuman itu.
Rafael mengangguk pelan, ia kembali ke Angle dan memberikannya sisa minuman yang sengaja ia beli lebih.
__ADS_1
"Lo juga minum. Gue lihat Lo kecapean" kata Rafael.
Mereka duduk di depan ruangan UGD, menunggu operasi ringan yang di lakukan untuk Raisa.
Di lorong rumah sakit, Ganda membopong istri nya yang terlihat sangat lemes. Ingin rasanya Ganda menggendong Fiera karena kasian, namun istri nya menolak.
Fiera menatap lurus ke depan, tatapan nya kosong. Ia tidak tahu ingin mengatakan apa. Kata kata mama Raisa masih terngiang ngiang di telinga nya.
Bruk~
"Sayang"
Ganda menahan tubuh istri nya yang setengah terhenyak di lantai. Kaki Fiera seperti nya sudah tidak kuat lagi untuk melangkah.
"Sayang, jangan seperti ini. Lo bisa drop nanti" kata Ganda .
"Gue gak peduli, gue gak peduli" lirih Fiera pelan. Ia menatap Ganda dengan tatapan sayu, ia benar-benar merasa sangat lelah menjalani kehidupan ini.
"Gue baru aja kehilangan papa mama, dan sekarang sahabat gue kritis...hiks, gimana gue akan tenang??? "
"Sayang, Lo harus kuat. Lo gak boleh kaya gini. Lo harus tetap kuat untuk menyemangati Raisa untuk sembuh!" kata Ganda membujuk.
Fiera tak merespon, ia menunduk membiarkan air matanya menetes begitu saja.
"Udah sayang, kita pulang dulu. setelah itu. Kita datang lagi ke sini yah" bujuk Ganda.
Fiera tak menjawab, ia hanya mengikuti apa yang suaminya perintah kan. Fiera hanya menurut saja ketika Ganda kembali membantu nya berdiri.
Ketika Fiera berdiri, ia mengedarkan pandangannya ke arah samping kirinya.
Deg~
Fiera berbalik dan melihat brankar yang sedang di dorong oleh para suster. Yang membuat Fiera kaget adalah siapa yang berada di atas brankar itu.
Fiera hendak mengejar suster yang mendorong brankar itu, namun ada 3 orang polisi datang menghampiri mereka.
"Permisi, dek. Apa bener adek yang bernama Fiera?" tanya pak polisi.
Fiera tampak bingung, ia melirik pada suaminya.
"Iya pak benar. Ada apa yah dengan Fiera?" tanya Ganda.
"Maaf yah dek, kami ingin meminta keterangan tentang kecelakaan yang baru saja terjadi. Karena kami mendapat info bahwa nona Fiera adalah saksi yang ada di TKP"
"Baiklah pak, saya akan memberikan keterangan" jawab Fiera. Lalu ia mengikuti polisi ke kantor, Ganda dengan setia mengiringi istri nya.
"Apa itu beneran Yani?? kenapa dia juga ada di rumah sakit ini??? dalam kondisi yang sangat buruk" batin Fiera. Ia sangat penasaran dengan apa yang baru saja ia lihat.
...----------------...
__ADS_1
Double up. Mari berkelana dalam kesedihan lagi. sebelum masuk ke kisah terbaru antara Ganda dan Fiera.