
Fiera berjalan menuju ke ruang kepala sekolah, ia ingin membicarakan sesuatu dengan pak Somat.
Sekolah tampak sunyi, seperti biasanya setelah bel berbunyi semua murid akan langsung berhamburan masuk ke dalam kelas. Meskipun hari ini adalah hari pertama mereka masuk setelah liburan akhir semester.
Tuk!!! Tuk!!!
"Masuk!!"sahut pak Somat dari dalam. Fiera pun langsung menekan knop pintu dan masuk ke dalam ruangan kepala sekolah.
"Fiera?" Kaget pak Somat. Ia tidak tahu jika Fiera akan menemuinya, biasa nya Fiera akan mengabarinya terlebih dahulu lewat wa.
"Maaf pak, saya mengganggu waktu bapak" kata Fiera tidak enak.
"Tidak masalah nak, silahkan duduk."kata pak Somat mempersilahkan Fiera duduk di depan meja nya.
Pak Somat menatap Fiera yang tak kunjung berbicara. Siswi teladan nya ini hanya menunduk dan diam. Pak Somat tahu, Fiera dalam kondisi tidak baik baik saja.
"Nak, apa terjadi sesuatu?"tanya pak Somat.
"Hm..Maaf pak, saya mau bilang. Saya akan mengundurkan diri dari jabatan ini"ujar Fiera membuat pak Somat kaget.
"Loh kenapa Fiera? Kenapa kamu mengundurkan diri. Apa terjadi sesuatu?" Tanya pak Somat.
Fiera menggeleng, ia tidak mendapatkan masalah apapun. Ia hanya merasa lelah dan ingin menjalani hidup nya secara normal tanpa di Bebani apapun.
"Semuanya baik baik saja pak, saya merasa lelah dan ingin beristirahat setelah pulang sekolah"jawab Fiera lemah.
"Fiera, ada apa dengan kamu. Bapak tidak pernah melihat kamu selemah ini. Katakan sama bapak, biarkan bapak membantu kamu."kata pak Somat.
Lagi lagi, Fiera menggeleng menjawab pertanyaan pak Somat.
"Saya serius pak, tidak terjadi apapun dengan saya. Untuk jabatan OSIS, bapak bisa serahkan pada wakil saya. Dia bisa di percayakan untuk mengemban jabatan ini" ucap Fiera memberi usulan.
"Yasudah Fiera, mungkin kamu memiliki masalah pribadi yang kami tidak boleh tahu. Tapi saya masih berharap kamu memikirkan tentang semua ini"kata pak Somat pasrah, ia tidak bisa memaksa Fiera, ia yakin Fiera memiliki alasan sebelum mengambil keputusan ini.
"Sebenarnya, saya memang sangat berat melepasnya pak. Jabatan ini sangat saya perjuangkan sebelumnya. Tapi, saya merasa sangat lelah dan ingin mengistirahatkan diri saya"kata Fiera lagi sebelum pamit undur diri.
__ADS_1
Pak Somat tidak bisa berbuat banyak, ia hanya bisa menerima keputusan Fiera.
Setelah menemui pak Somat, Fiera langsung keluar dari grup wa khusus anggota OSIS. Semua orang di sana kaget dan bertanya tanya. Termasuk Angle dan Susi.
"What?? Fiera keluar dari grup OSIS???"pekik Susi keras. Ganda yang baru masuk ke dalam kelas nya ikut kaget mendengar pekikan Susi.
"Fiera keluar dari OSIS?"batin Ganda.
"Kok bisa sih, ada masalah apa?"tanya Susi pada Angle yang juga kaget dan bertanya tanya.
"Gue juga gak tahu, lebih baik kita tunggu dan tanyakan langsung sama Fiera!"ucap Angle.
Ganda meletakkan tas nya di atas meja, lalu kembali keluar dari kelas mencari Fiera. Ganda ingin tahu, apa masalah yang sedang Fiera alami sehingga gadis itu sampai mengundurkan diri dari OSIS.
Ganda mencari cari kesemua tempat yang Ganda ketahui sering di kunjungi oleh Fiera untuk sekedar duduk ata menenangkan diri. Namun, ganda tidak menemukannya. Fiera seakan hilang di telan bumi.
"Dimana sih, gadis itu!" Kesal Ganda merasa lelah berlari kesana kemari.
Ia melirik ke kiri dan kanan memperhatikan setiap sudut sekolah yang mungkin ada Fiera saat ini.
Tanpa sengaja, Ganda melihat ke arah atap sekolah. Disana Ganda melihat Fiera sedang duduk sendirian.
"Gue gak perlu ke sana, Fiera sudah ada yang menemani"batin Ganda.
"Eh baby Ganda di sini??"gumam Raisa kaget melihat Ganda berdiri di tengah tengah lapangan.
Raisa menghampiri Ganda, ia heran mengapa Ganda berkeringat dan terlihat ngos-ngosan seperti itu.
"Ganda, Lo di hukum lagi?? Lo capek ya??" Raisa mengeluarkan tisu dari dalam saku bajunya, lalu menghapus keringat Ganda yang menetes pada pelipis matanya.
Ganda tidak menghiraukan Raisa, ia malah pergi begitu aja ketika Raisa masih mengelap keringat nya.
"Yah, kok pergi sih! Ganda!!!! "Teriak Raisa memanggil Ganda, namun Ganda tidak berhenti, ia malah berlari dan menjauh dari Raisa.
Sementara di atas atap sekolah, tempat murid murid mencari ketenangan, Fiera duduk menatap langit yang terlihat terik. Karena masih pagi, jadi panas matahari masih tidak terasa begitu panas.
__ADS_1
"Lo sendiri ngapain di sini?" Tanya Rafael membuat Fiera terkejut.
"Sorry, gue buat Lo kaget"lirih Rafael.
Fiera tersenyum simpul, ia menggeleng pelan.
"Gak papa kok, gue nya aja yang melamun sehingga kaget karena kmtidak menyadari kedatangan Lo" jawab Fiera.
Rafael duduk di samping Fiera, ia ikut menatap langit yang kini juga di tatap oleh Fiera.
"Lo ada masalah apa sama langit? Kenapa langit di tatapin mulu?" ucap Rafael.
"Dia jahat, berkhianat dari gue"lirih Fiera. Rafael menoleh.
"Hidup ku mendung, tapi dia malah sangat cerah!"lanjut Fiera.
"Lo sedih kenapa?"tanya Rafael mampu menebak makna dari ucapan Fiera. Rafael memnag anak IPS, tapi dia memiliki kecerdasan yang sama seperti Ganda. Rafael memilih masuk IPS karena ia ingin menjadi pengacara. Entah mengapa ia malah berpikir masuk ke jurusan IPS adalah yang tepat untuk cita citanya.
"Gue gak tahu raf, gue merasa semuanya hancur begitu saja"gumam Fiera, tiba-tiba air matanya kembali mengalir.
"Udah Fie, Lo jangan nangis dong. Gue gak mau lihat Lo kaya gini"kata Rafael langsung merangkul Fiera dan membiarkan gadis itu bersandar di bahunya dan menumpahkan semuanya di sana.
"Lo harus kuat, gue yakin apapun masalah Lo, semua itu akan berlalu sesuai waktunya. Lo harus kuat Fie!" Ucap Rafael menenangkan Fiera.
Gadis itu tidak menyahutnya, ia hanya terus menangis sesegukan.
Gue gak tahu apa yang Lo hadapi Fie, tapi gue yakin Lo akan baik baik saja setelah ini. gue janji, akan menjaga Lo semampu gue.
Rafael membolos hari itu, ia memilih menemani Fiera duduk menangis di atap. Meskipun Fiera sudah menyuruh nya masuk ke dalam kelas, namun Rafael menolak nya dan memilih tetap bersama Fiera.
Hingga jam istirahat tiba, Ganda keluar dari dalam kelas. Ia pergi ke atap sekolah, ia berharap menemukan Fiera sendiri di sana.
Sesuai harapan, Fiera memang masih ada di atas sekolah. Namum, ia tidak sendirian. Rafael masih ada di sana, memberikan bahunya untuk Fiera.
Ganda menghela nafas berat, sejujurnya Ganda tidak suka melihat pemandangan ini. Namun, mengingat persahabatan nya dengan Rafael, Ganda harus membiarkan nya saja.
__ADS_1
...----------------...
Jangan lupa like and komentar nya yah. Silahkan ekspresi kan pendapat kalian tentang kisah yang aku buat ini.