Mengejar Cinta Ketos Jutek

Mengejar Cinta Ketos Jutek
Seperti bantal guling


__ADS_3

Fiera duduk di balkon kamarnya, 2 hari lagi, adalah hari pernikahan nya. Setelah melarikan diri dari ganda waktu itu, Fiera kembali ke ruang keluarga dan mengatakan keputusan nya.


Memang ini sangat berat bagi Fiera, namun ia juga harus memikirkan keadaan Tante Lusi. Selain itu, Fiera juga merasa nyaman di rumah Ganda, bersama dengan keluarga Ganda.


Apa ini jalan terbaik? apa memang takdir gue yang harus seperti ini?


Fiera menatap langit malam yang terlihat bersinar di terangi cahaya bulan dan bintang.


Pernikahan Fiera akan terjadi secara sederhana dan hanya di hadiri oleh kerabat dekat kedua bela pihak saja. Fiera tidak mau pernikahan nya di ketahui publik, apalagi teman teman sekolahnya.


Jika merek tahu, pasti mereka akan menuduh Fiera melakukan macem macem, sehingga harus menikah terburu buru seperti ini.


"Ternyata Lo di sini?" ujar Ganda, sejak tadi ia mencari keberadaan Fiera di dalam rumah Fiera.


Fiera menoleh dengan malas, ia muak melihat wajah pria yang selalu saja datang tanpa di beri ijin m.


"Ngapain Lo ke sini? gue lagi malas berdebat" kata Fiera ketus.


"Woohooo ....Selau honey, aku hanya ingin memastikan jika Lo udah makan malam tepat waktu!" ucap Ganda jujur.


"Lo gak usah sok peduli, gue bukan anak kecil!"


"Tapi, Lo calon istri gue!"balas ganda cepat dan tegas. Membuat Fiera terdiam dan langsung memalingkan wajahnya ke arah langit.


"Calon istri?" Fiera tersenyum getir. Ia masih belum bisa membayangkan jika sebentar lagi kehidupan nya akan hancur.


"Lo harus makna Fiera, bi Ina bilang sama gue. Lo sejak pagi belum makan!"tegas Ganda lagi. Namun Fiera tidak menjawab, ia hanya diam dengan wajah menghadap ke langit.


"Gue mau sendiri, lebih baik Lo pergi!" usir Fiera dengan nada pelan.


"Lo tahu gue gimana kan? Lo harus nurutin apa yang gue bilang Fiera"ujar Ganda.


"Cih, Lo pikir. Gue ini budak Lo? yang harus mengikuti semua perintah Lo!" ucap Fiera kembali menatap pada Ganda, kedua matanya melotot dan memerah. Seperti nya Fiera menahan tangis dan amarah nya.


Di depan rumah, Raisa dan Angle menekan nekan bel rumah Fiera. Bi Ina yang mendengar nya dari dapur langsung terbirit birit ke depan.


"Selamat malam bi, apa Fiera ada?" tanya Raisa.


Bi Ina langsung panik dan ketakutan, kedatangan kedua sahabatnya Fiera akan membuat malapetaka. Kalian tahu kenapa? karena Ganda masih di rumah Fiera, pria itu bahkan masih di dalam kamar Fiera.


Aduh gawat ini, gimana cara ngomong nya yah" Batin bi Ina.


"Bi, kok bengong aja?" tegur Angle, sejak tadi mereka menunggu jawaban bi Ina.


"Eh iya non, Fiera nya ada kok. Sebentar bibi panggilin dulu" ujar Bi Ina yang langsung di cegat Raisa.


"Eh gak usah bi, Biar kita aja yang ke sana!" tahan Raisa.


"Gak papa non, kalian tunggu aja di ruang tamu" kata bi Ina kekeh, ia menuntun keduanya ke ruang tamu dan mempersilahkan keduanya duduk di sana.


"Beneran bi,Fiera gak akan marah kok" ujar Angle meyakinkan bi Aina. Biasanya juga mereka langsung masuk ke dalam kamar Fiera. Angle mulai curiga dengan gerak gerik bi Ina yang sejak tadi gelisah.

__ADS_1


"Yaudah deh, mati bibi antar" ujar bi Ina, ia sudah pasrah. Apapun yang terjadi, bi Ina hanya bisa berdoa dan berharap Fiera tidak terlihat bersama Ganda di dalam kamar.


"Yaudah deh yuk!" ajak Raisa.


Bi Ina pun mengiringi mereka menuju kamar Fiera. Sebelum sampai ke pintu kamar Fiera. Bi Ina sudah berteriak seakan memberi kode.


"Non!!!! Ada Raisa dan Angle nih!!!!"teriak bi Ina kencang.


Deg~


Fiera dan Ganda yang masih berdebat melebarkan matanya mendengar teriak bi Ina. Kedua nya saling pandang kemudian langsung panik tak tentu arah.


"Lo harus pergi!" pekik Fiera mendorong Ganda.


"Mau lewat mana? di kamar Lo ini tinggi. Gak mungkin gue loncat!" protes Ganda.


"Aduhhh makanya gak usah temuin gue!!!!"ucap Fiera pelan, ia sangat panik, menarik tangan ganda ke dalam kamarnya dan memikirkan dimana Ganda harus bersembunyi.


"Lo masuk lemari aja!" usul Fiera.


"Gak muat sayang!" ucap Ganda.


"Aduhhh gimana sih!!!" Fiera menggaruk kepalanya yang tiba tiba saja terasa gatal yang berlebihan. Satu tangannya masih menggenggam tangan Ganda.


"Fie!!! apa Lo tidur? kita ada di depan kamar Lo ni!"teriak Raisa drai luar, membuat Fiera semakin ke habisan akal


"Aduh, gimana dong" dengus Fiera pasrah.


Mendengar teriakan Raisa terakhir kali, membuat Fiera kalang kabut. Ia menatap bantal guling nya. Lalu mengambilnya dan menyembunyikan ke dalam lemarinya.


"Kenapa malah guling yang di sembunyiin?" tanya Ganda heran.


"Udah deh Lo diem aja!" serga Fiera dengan suara pelan.


Setelah menyembunyikan guling, Fiera langsung naik ke atas tempat tidurnya dan menyuruh Ganda juga ikut berbaring.


"Kita bobok bareng?"tanya Ganda tersenyum senang.


"Udah deh, gak usah banyak tanya,buruan sembunyi sini!!!" titah Fiera.


Ganda pun naik ke atas ranjang dengan senyum lebar, Baru juga ia akan berbaring. Pintu kamar Fiera langsung berbunyi pertanda ada yang menekan knop pintu nya.


Slesss.....


Fiera langsung menarik Ganda dan menempelkan pada tubuhnya seperti bantal Guling di dalam selimut.


Posisinya saat ini Ganda seperti memeluk Fiera. kepalanya tepat berada di depan dada Fiera, kedua tangannya ia telusupkan ke bawah punggung Fiera, sehingga ia bisa memeluk Fiera dan menikmati wanginya tubuh Fiera yang menyeruak masuk ke dalam hidung nya.


"Fiera?? Lo udah tidur?" teriak Angle dari arah pintu, ia kaget melihat Fiera yang bergelung dengan selimut tebalnya.


"Eh kalian kapan datang?"lirih Fiera pura pura baru terbangun.

__ADS_1


"Ya elah, Fie. Kita sejak tadi manggil manggil Lo. Ternyata Lo tidur"lenguh Raisa.


Kedua garis itu duduk di tepi ranjang Fiera. Sementara bi Ina melirik ke sana kemari mencari ke beradaan Ganda.


"Kemana den Ganda?"pikir bi Ina.


"Maafin gue yah" lirih Fiera merasa bersalah.


"Santai aja kali" sahut Raisa.


Sementara di dalam selimut Ganda malah memberi kecupan di dada Fiera. Ia merasa beruntung malam ini. Meskipun Ganda sedikit kasian pada Fiera yang harus menahan setengah dari berat tubuhnya. Ganda benar benar seperti guling yang menelungkup di atas tubuh Fiera yang tidur terlentang. Kakinya yang menjulur persis seperti sisa ukuran Guling yang hanya sedikit di tekuk olehnya.


Fiera merasa sedikit geli dan hangat di dada nya yang terus di daratkan oleh Ganda kecupan kecupan nya.


"Awas aja lo Ganda, bisa bisanya Lo ambil keuntungan di atas penderitaan gue!"gerutu Fiera dalam hati.


"Lo sakit Fie?"tanya Angle, ia melihat Fiera seperti menahan sesuatu.


"Gak kok, gue hanya merasa sedikit dingin aja" jawab Fiera semakin memeluk Ganda dan menarik selimutnya.


"Maaf yah nona nona, tapi bibi sarankan kalian pulang aja. Biarkan Fiera istirahat. Kemarin Fiera kehujanan, jadi ia sedikit meriang" kata bi Ina.


"Benarkah? Lo harus di bawa ke dokter fi" usul Raisa mulai panik.


"Tidak usah Rai, gue baik baik aja kok. Cuma butuh tidur beberapa jam aja subuh"tolak Fiera.


Cup~


Ganda terus mengecup dada Fiera, ingat hanya dada, bukan buah dada yah teman teman.


Semakin ke sini, Ganda malah makin gemes, ia dengan iseng menarik tangannya dan meremas payudara Fiera sebelah kanan.


"Ahh..hatcuuh" desah Fiera kaget dan langsung merubahnya menjadi bersin.


"Sial ni bocah, dia malah melecehkan gue!!" pekik Fiera geram dalam hati.


"Tuh kan makin parah!!" pekik Raisa.


"Iya Fie, lebih biak kita periksa yuk" sahut Angle ikut panik.


"Gak usah non, tadi nyonya sudah membawa non Fiera ke rumah sakit" jawab bi Ina cepat.


"Benarkah?" tanya Raisa tidak percaya.


"Iya Rai, Gel. Mama udah bawa gue periksa"jawab Fiera membenarkan.


"Tuh denger, sekarang non Raisa sama Angle pulang aja dulu. Nanti kalo nyonya pulang, trus liat kalian mengganggu, bisa bisa nyonya marah dan menganggap saya tidak becus!" tutur bi Ina.


"Yaudah deh, kita balik. Tapi, Lo harus kabarin kita kalo ada apa apa yh!" tegas Raisa memperingatkan.


"Ok"sahut Fiera lemah.

__ADS_1


Raisa dan Angle akhirnya memutuskan untuk pergi, mereka di antar oleh bi Ina keluar.


__ADS_2