
Fiera menatap seluruh keluarga Ganda satu persatu dengan tatapan bingung.
"Mohon maaf ni Tante, ada apa yah. Ramai ramai datang ke sini? mama sama papa gak di rumah" tanya Fiera berpikir mereka datang untuk menemui papa dan mama nya.
"Bukan sayang, kita datang kesini buat lamar kamu. yahhh memang harus ada mama sama papa kamu juga."jawab Lusi tersenyum lebar.
"Apa? lamar?" ulang Fiera kaget.
"Iya sayang, kata Tante Lusi kamu sudah menerima perjodohan ini. Jadi, kita harus melakukan acara lamaran, trus pernikahan." Jawab Dea dari arah depan, ia dan William baru saja pulang.
"Mama?"gumam Fiera kaget.
Fiera menatap kedua orang tuanya dengan tatapan melongo. Kemarin papa dan mama nya pamit akan ke luar negeri dalam beberapa waktu. Tapi sekarang, mereka sudah ada di sini.
"Jangan kaget sayang. Mama sama papa cuma ke Singapura dan Malaysia. Jadi tidak memakan waktu yang lama" ujar Dea menjawab kebingungan Fiera. Lalu ia duduk di samping Fiera, sementara William duduk di samping Ferdi.
"Maaf yah Fer, kita telat"ucap William tak enak hati.
"Santai aja Wil, kita juga baru datang kok" jawab Ferdi.
"Nah, karena sudah berkumpul semua. Sekarang mari kita bicarakan soal pertunangan dan resepsi nya" ujar Lusi penuh semangat. Fiera sempat bergidik ngeri melihat semangat bunda Ganda.
"Betul banget"sahut Dea ikut semangat.
"Mau buat acara di mana?"tanya Elena.
"Sebentar yah, kita tanya sama kedua mempelainya. Mau buat acara di mana?"tanya Ferdi menatap Ganda dan Fiera secara bergantian. Lusi dan yang lain nya juga menatap ke arah mereka berdua secara bergantian.
"Aku ingin di Hotel "jawab Ganda.
" Gimana Fie?" tanya Wiliam menunggu jawaban putrinya yang masih saja diam.
"Kalo Ganda sih, terserah aja. mau gimana gimana" ujar Ganda.
"Kalo kamu sayang?" tanya Lusi beralih menatap Fiera. Semua mata tertuju kepadanya.
"Aku mau ngomong berdua dulu sama Ganda!" lirih Fiera
"Aku?"ulang Ganda menunjuk dirinya sendiri.
"Ikuti aku!"titah Fiera dengan nada datar. Lalu, ia bangkit dari duduknya dan berjalan lebih dulu.
"Yaudah, aku ngomong sama calon istri dulu yah" kekeh Ganda pada semu orang.
"Ih baru calon loh, bisa aja gak jadi" sahut Elena yang langsung mendapat tatapan tajam dari Ganda.
__ADS_1
Ganda setengah berlari mengikuti Fiera. Ternyata gadis itu membawa Ganda ke taman belakang rumah nya.
Fiera berdiri membelakangi Ganda, ia memikirkan apa yang harus ia katakan pada pria yang sebentar lagi menjadi suaminya.
"Mau ngomong apa?"tanya Ganda menatap punggung belakang Fiera. Perlahan Fiera berbalik dan menatap Ganda dengan sorot mata tajam.
"Lo kenapa sih gak nolak perjodohan ini?" sinis Fiera.
Cih...
"Jadi, Lo bawa gue kesini, cuma mau bilang itu?" decak Ganda.
"Udah deh Gan, gak usah banyak bacot! gue gak mau tahu, pernikahan ini harus batal!" ucap Fiera egois.
"Lo gila? kemarin Lo liat kan. Gimana keadaan Bunda gue. " Ganda menggeleng tidak percaya dengan ucapan Fiera barusan.
"Lo ngerti gak sih. Gue gak bisa nikah sama Lo!"
"Kenapa!"jawab Ganda cepat, sorot matanya mulai menajam. Ganda maju beberapa langkah mendekati Fiera, sehingga jarak mereka sangat dekat.
Fiera sedikit merasa gugup, tinggi tubuhnya yang hampir sama dengan Ganda membuat tatapan mata mereka lurus tanpa hambatan.
"Lo menolak perjodohan ini dengan alasan sahabat Lo, sedang gue. Gak bisa menolak karena keadaan bunda gue! Lo pikir!!" tekan Ganda di akhir kalimat nya.
"Mana yang lebih penting? orang tua Lo, atau sahabat Lo! jika di hidup gue, Orang tua lebih penting! jika Lo? gak tahu gue!" ucap Ganda tajam.
Fiera melangkah mundur, tatapannya kosong. Ia mencoba memikirkan semua jalan yang bisa mengeluarkan nya dari dilema ini.
Bruk~
Tubuh Fiera ambruk di rerumputan yang di rawat agar terlihat tetap rapi.
"Gue harus apa? gue harus apa?????"teriak Fiera.
"Lo harus menerima perjodohan ini, kita akan merahasiakan pernikahan kita hingga waktunya tiba!" ucap Ganda. Sebenarnya Ganda kasian melihat kondisi Fiera, ia tahu sahabat nya sangat penting baginya.
"Bagaimana mungkin?" lirih Fiera yang mulai terdengar terisak.
"Lo pikir, cuma Lo yang berada di dalam dilema ini?" ujar Ganda.
"Maksud Lo?" Fiera mendongakkan kepalanya menatap Ganda.
"Gue juga sama, gue juga berad di dalam dilema ini. Gue harus menjaga perasaan sahabat gue!" jelas Ganda membalas tatapan mata Fiera.
"Apa Rafael?"tebak Fiera.
__ADS_1
"ya" Ganda mengangguk" dia sangat menyukai Lo, tapi gue tahu dia mengabaikan cintanya yang sebenarnya" sambung ganda.
"Gue gak ngerti!" Fiera menghapus air matanya, lalu kembali berdiri.
"Rafael tidak menyadari jik dirinya juga menyukai Susi, tapi dia tidak sadar. " ucap Ganda menjelaskan.
"Jadi?"
"Gue sedang berusaha menyadarkan perasaan Rafael!"
"Dan Lo, bisa melakukan hal yang sama pada Raisa. Dia itu gadis yang mudah jatuh cinta. Suka sama gue, itu hanya karena obsesi dan rasa kagum doang" Ganda memegang bahu Fiera.
"Lo harus melakukan nya Fie!" pinta Ganda.
"Kenapa gue harus melakukan nya, gue gak suka sam Ali Ganda!" bantah Fiera.
Deg~
Sakitnya tuh di sini, belum menyatakan tapi malah di tolak duluan.
"Lo gak perlu mencintai gue, cukup gue aja. Tapi kita harus menikah, gue akan membuat Lo jatuh cinta sama gue!" tegas Ganda menatap manik mata Fiera lekat.
"Sudah lah, gue pusing" dengus Fiera menepis tangan Ganda di bahunya.
Fiera berbalik hendak pergi meninggalkan Ganda di taman, tapi malah Ganda lebih dulu menarik lengan Fiera, sehingga gadis itu terseret ke belakang dan langsung di peluk oleh Ganda.
"Awss..."ringis Fiera ketika tubuhnya beradu dengan dada bidang milik Ganda.
"Loh apa apaan sih!!" bentak Fiera mencoba mendorong Ganda menjauh darinya. Namun, tenaga Ganda jauh lebih kuat darinya.
"Lo denger detak jantung gue gak? di setiap detak nya itu. Ada nama Lo!" kata Ganda.
"Gue gak denger, dan gak mau denger!" balas Fiera ketus, ia sudah kesal dengan Ganda yang selalu seenaknya.
"Kenapa sih Fie, Lo gak mau lihat gue barang sebentar saja!" dengus Ganda semakin memperkuat pelukan nya.
"Ganda lepas!!! gue mau kembali ke ruang tamu!" protes Fiera
"Gue gak akan lepasin Lo, sebelum berjanji mau menikah sama gue!" ancam Ganda.
"Lo gila apa! gue gak mau!!!!"tolak Fiera sembari terus berusaha melepaskan diri dari pelukan tangan Ganda.
"Yaudah, kita seperti ini aja terus, sampai Lo bilang iya!" balas Ganda santai, ia merasakan hangatnya tubuh Fiera.
"Lo harum banget, gue suka."bisik Ganda sembari mengendus leher Fiera, sehingga Fiera mengelinjang kegelian.
__ADS_1
...----------------...