
"Nah ini untuk Fiera, dan ini untuk gue!!" Ucap Angle meletakkan mangkok bakso pedas ke hadapan Fiera.
"Wahh Angle terbaik, tahu aja apa yang saat ini gue butuhin!!"decak Fiera senang, ia memeluk Angle sebentar, lalu berbinar menatap bakso yang terlihat sangat menggiurkan.
Fiera dan Angle makan dengan lahap, mereka mengabaikan Ganda dan Rafael ikut bergabung bersama mereka.
"Wah enak nih!" Seru Ganda mengambil sendok bersih dan hendak menyendok bakso Fiera.
"Eh mau ngapain Lo!" Bentak Fiera menahan tangan Ganda.
Rafael memperhatikan apa yang Ganda lakukan, pikirannya di penuhi oleh berbagai macam pertanyaan.
"Gue minta dikit Fie, kaya nya enak!" Jawab Ganda.
"Gak, kalo Lo mau pesan sana! Jangan minta punya gue!" Ucap Fiera.
Susi dan Raisa tiba di dalam kantin, ia juga kaget melihat pemandangan ini. Fiera dan Ganda kembali bertengkar.
"Sebenarnya ada apa sih, kenapa Ganda selalu perhaian pada Fiera. Bahkan lihat lah, dia malah tidak ada rasa sungkan mengambil makanan Fiera. Apa mereka sedekat itu?" Raisa mulai merasakan sesuatu, ia mulai tidak senang dengan semua ini.
"Ganda, lo mau bakso? Gue bisa pesankan buat Lo kok" tawar Raisa.
"Gak usah, gue cuma pengen racikan Fiera doang" jawab Ganda, ia meminum jus milik Fiera.
"Gila ni cowo, mau membuat Fiera bertengkar dengan Raisa atau gimana sih?"batin Angle.
"Heh, Lo gila apa. Gak ada sopan sopan nya, itu minuman gue. Ngapain Lo minum!"serta Fiera kesal.
"Boy, Lo gak boleh gitu. Fiera memiliki privasi sendiri" kata Rafael.
"Astaga, kenapa gue malah bersikap seperti ini di depan Rafael!" batin Ganda, ia tersadar dengan kelakuannya, ia lupa jika Rafael juga ada di sini.
"Selow bro, gue hanya tergiur melihat makanan yang Fiera makan"ucap Ganda berbohong.
"Ini, buat Lo" ucap Raisa membawa semangkok bakso ke hadapan Ganda. Sekaligus segelas jus mangga.
"Nah makan tuh!"dengus Angle.
Fiera melirik Ganda kesal, ia jadi kehilangan nafsu makan nya karena pria itu.
"Fie kok gak makan?" Tanya Rafael. Pria itu mengambil sendok Fiera dan berniat untuk menyuapi gadis itu.
"Nah gue suapi" ucap Rafael. Ganda meliriknya, ia menantikan apa yang akan Fiera lakukan.
"Humm....Enak banget honey"ucap Susi memakan bakso yang akan Rafael suapkan ke mulut Fiera.
__ADS_1
"Lah, kok Lo yang makan sih!" Gerutuannya Rafael kesal.
Fiera dan yang lain nya malah tertawa melihat ekspresi cemberut Rafael.
"Kenapa? Memang seharusnya gue yang Lo suapin. Bukan Fiera!", Ucap Susi.
"Lo mah, siapa aja bisa nyuapin Lo!"dengus Rafael.
"Lo pikir gue apaan???" Susi menjewer telinga Rafael, membuat si empunya telinga mengadu kesakitan.
"Ampunnn ampunnn Susi..Sakit!!"erang Rafael.
"Beb, gue mau juga dong. Di suapin..."rengek Raisa tidak mau kalah dengan Susi.
"Apaan sih Lo!" tolak Ganda membuat Raisa cemberut.
"Lo harus suapin Gue, atau Lo gak bakal bisa tenang!"ancam Raisa.
"What? Lo ngancem gue? Yaudah ni gue suapin" ketus Ganda menyuapi satu bakso bulat ke mulut Raisa.
Semua orang melongo mendengar ucapan Ganda, mereka kira ganda akan menolaknya dan menerima ancaman Raisa. Ternyata mereka salah, Ganda malah memenuhi permintaan Raisa.
"Dasar cowo dungu!"dengus Angle, ekspetasi nya salah mendengar ucapan Ganda.
"Haha iya juga ya"kekeh Rafael. Mereka tahu siapa Raisa, gadis keras kepala dan maha benar.
"Bagus kalau kalian tahu dan mengerti. Awas saja, bagi siapapun yang mendekati Ganda. Akan berurusan dengan ku!"tegas Raisa memberi ultimatum.
"Termasuk Fiera?"celetuk Susi. Membuat suasana langsung menjadi tegang.
Fiera melirik Ganda,ia teringat dengan rencana konyol yang orang tuanya bicarakan. Bagaimana perasaan Raisa jika hal itu terjadi. Gadis itu pasti akan sangat kecewa padanya.
Ganda juga melirik pada Fiera, ekspresi nya tidak bisa di baca.
"Gawat ini"teriak Angle dalam hati, ia menjadi panik sendiri.
"Apa yang Lo bicarakan Susi, Fiera tidak akan melakukan itu. Fiera sudah berjanji padaku, jika dirinya tidak akan menyukai pria yang aku sukai"sangkal Raisa menatap Susi tidak percaya, lalu menatap Fiera meminta untuk membenarkan ucapan nya.
"Iya kan Fie?" Tanya Raisa.
"Ten-tu saja, mana mungkin aku menyukai para pria bodoh yang menggilai Raisa" jawab Fiera gugup, ia cepat cepat mengalikan tatapan matanya kearah Raisa.
"Tuh, Lo dengar kan" ujar Raisa senang.
"Waw, Lo aman sekarang"kekeh Susi.
__ADS_1
Ganda masih menatap Fiera lekat, ia tidak terima dengan ucapan Fiera barusan. Bagaimana mungkin ia melakukan perjanjian itu.
"Jika mereka semua gila, maka jangan salahkan kegilaan itu semakin menjadi jadi"cetus Ganda, suasana yang mulai mencair, kembali memanas dan menimbulkan berbagai pertanyaan.
Hanya Fiera yang bisa memahami apa makna di balik ucapan Ganda barusan.
"Maksudnya apa?"tanya Raisa.
"Tentu saja manis, jika mereka gila mencintai lo, maka mereka akan semakin gila jika dekat dengan Lo!" Alih Ganda dengan nada bercanda, ia mengembalikan suasana seperti semula.
"Haa, gue pikir lo ada apa tadi" ucap Susi yang sempat menahan nafas.
Tanpa merek sadrai, sejak tadi Rafael mencerna setiap ucapan yang Ganda lontarkan dan juga Fiera ucapkan. Bahkan Rafael memperhatikan setiap gerak gerik Fiera dan Ganda. Ia merasa ada yang aneh di antara mereka berdua.
"Ah, kalian semua membuat makan gue terganggu!"lenguh Angle dengan ekspresi kesalnya. Ia akan mengakhiri perkumpulan ini.
"Yok Fie, kita pergi aja. Gue eneg lihat mereka"ucap Angle menatik tangan Fiera.
"Eh eh mau kemana???" Teriak Raisa.
"Udah, Lo makan aja sama tu cowo!!" Dengus Angle.
"Baiklah" pasrah Raisa kembali fokus dengan makanannya dan juga Ganda.
"Ayo kita makan" ucap Raisa tersenyum lebar pada Raisa.
"Kita pindah aja yuk Raf, gue eneg lihat mereka berdua!" Pinta Susi.
"Yaudah Sono oergy, jangan jadi pengganggu"usir Raisa.
Susi mendengus kesal, ia menarik tangan Rafael pergi dari sana. Pria itu masih terdiam dan sibuk dengan pemikiran nya sendiri. Ia hanya menurut kemana Susi membawa nya pergi.
Namun, Susi menyadari perubahan Rafael, ia membawa pria itu ke taman belakang sekolah. Mereka duduk di salah satu bangku taman.
"Raf, Lo kok diam aja sih dari tadi?"tanya Susi.
"Kenapa? gue biasa aja" jawab Rafael berbohong.
"Lo gak usah bohong deh, gue udah lama deket sama Lo. Gue tahu Lo bohong atau tidak!" ucap Susi lagi.
"Udah deh, gue mau ke kelas dulu."ucap Rafael langsung bangkit dari duduknya, lalu pergi begitu saja meninggalkan Susi menatap nanar kepergian nya.
"Lo mau sampai kapan sih Raf, mengejar Fiera. Lo gak bisa lihat gue di sisi Lo?kenapa Lo malah melihat orang yang tidak pernah melihat kearah Lo. Gue di sini Raf...Gue cinta sama Lo, dan gue selalu ada buat Lo. Tapi kenapa????"
Susi menghapus air mata nya yang mengalir secara perlahan pada pipinya. Ia tidak mau di lihat oleh orang lain jika dirinya saat ini sedang menangis. Susi sama seperti Fiera, gadis tangguh yang tidak mau terlihat lemah di mata orang lain.
__ADS_1