
Fiera tiba di sekolah, ia turun dari mobil nya dan langsung pergi ke kelas nya
Ruangan itu masih sepi, hanya ada beberapa siswa dan siswi yang sudah menduduki bangkunya masing-masing.
"Dia belum datang" desah Fiera menghela nafas berat. Jantung nya berdetak cepat, entah bagaimana sikap Raisa kepada nya nanti.
Baru saja Fiera duduk di bangkunya, tiba tiba ia mendengar namanya di panggil.
"Fiera..."
"Susi" kaget Fiera. Ia bangkit dari bangkunya, lalu menghampiri Susi yang juga melangkah mendekati nya.
"Fie, mereka semua sudah tahu" rengek Susi.
"Sttt...... Ayo kita bicara di luar" ajak Fiera menarik Susi keluar dari kelas menuju ke taman belakang sekolah.
"Jelasin sama gue!" desak Fiera setelah mereka sampai di taman belakang.
"Rafael dan Raisa sudah mengetahuinya Fie" ucap Susi, ia terlihat sangat panik Sekarang. Susi takut jika Rafael menjauhi dirinya karena masalah ini. Lebih parahnya, ia takut Rafael membenci nya.
Duarrrr....
Fiera membeku, otaknya tidak bisa berpikir. Bibirnya terasa terkunci dan dunia nya seketika hancur.
"Kenapa bisa? kenapa dia tahu?" tanya Fiera.
"Gue gak tahu Fie, kemarin Raisa menghadang gue dan Rafael di depan rumah Rafael. Raisa marah dan sangat membenci gue Fie. "jelas Susi menceritakan semua kejadian kemarin.
Deg~
Ternyata itu maksud dari pesan singkat yang Raisa kirimkan kemarin. Raisa sudah mengetahui segalanya.
"Gimana ini Fie?? gue takut Rafael membenci gue" rengek Susi panik.
"Udah Lo tenang aja, semua akan baik baik saja" ujar Fiera menenangkan Susi. Namun, tiba tiba terdengar suara seseorang yang membuat Fiera dan Susi membuka mulut lebar.
"Tentu saja semuanya akan baik baik saja. Karena Lo sudah berhasil menghancurkan hidup gue!"
"Raisa?"
"Raisa?"
Ucap Fiera dan Susi bersamaan, mereka kaget melihat kehadiran Raisa.
Raisa melangkah mendekati keduanya, ia menatap Fiera dan Susi secara bergantian.
"Ternyata bener yah, kalian emang sudah bersekongkol untuk menghancurkan gue!" ucap Raisa, ia menatap Fiera lekat.
"Gue menyesal sudah percaya sama wanita munafik kaya Lo! Selama ini gue udah yakin jika Lo adalah sahabat terbaik gue. Tapi??? "
"Rai, gue bisa jelasin Rai. Gue sebe-"
"Udah stop!" Raisa mengangkat satu tangannya menghentikan Fiera bicara.
"Gue gak butuh penjelasan dari Lo, Gue udah tahu semuanya. Gue gak mau denger apapun lagi dari cewe munafik kaya Lo!" maki Raisa. Lalu gadis itu pergi begitu saja.
"Raisa!!!! Raisa!!!!!"
__ADS_1
"Raisa!!!!!"
Fiera berteriak memanggil Raisa, namun tidak di gubrisnya. Raisa terus berjalan tanpa menoleh kebelakang.
"Fie.."panggil Susi. Ia iba pada Fiera, gadis malang yang berada di posisi yang paling berat.
"Kasian banget Fiera, baru selesai masalah keluarga, sekarang malah masalah persahabatan" batin Susi.
Hiks...Hiks...
"Maafin gue Rai, gue terpaksa melakukan semua ini" lirih Fiera di sela sela tangisnya.
"Udah Fie, gue yakin Raisa akan mengerti nanti" ucap Susi.
...----------------...
Ganda berjalan melewati lorong kelas, ia melangkah semakin cepat ketika melihat Rafael bermain di lapangan basket.
"Raf!"panggil Ganda.
Awalnya Rafael menoleh, setelah mengetahui Ganda yang memanggil namanya. Rafael langsung pergi meninggalkan lapangan.
"Rafael!! kita butuh bicara!!!" teriak Ganda berusaha mengejar Rafael, namun pria itu semakin mempercepat langkahnya dan masuk ke dalam kelas.
"Sial!". Dengus Ganda kesal, ia tidak bisa memaksa Rafael berbicara di kelas, semua teman satu sekolah nya akan tahu.
Ganda memutuskan untuk pergi ke kelasnya, bel masuk telah berbunyi. Ia harus mencari waktu yang tepat, menjelaskan segalanya pada Rafael.
Fiera dan Susi masuk ke dalam kelas, bertepatan saat itu Ganda juga tiba di kelas.
Fiera sempat menghentikan langkah nya di depan meja Raisa. Ia menatap nanar sahabat yang dulu dekat, kini memilih menjauh dari nya karena kesalahpahaman.
Fiera mengangguk, ia melanjutkan langkah nya menuju ke bangkunya yang tidak jauh dari bangku Raisa.
"Kasian Fiera, pasti Raisa marah banget sama dia" batin Ganda.
Tidak hanya Ganda, Angle juga merasa iba pada kedua sahabat nya. Mereka sama sama tersakiti oleh posisi yang berbeda.
Materi pelajaran lewat begitu saja, beberapa siswa siswi memperhatikan dan menyerap setiap materi yang guru jelaskan dengan baik. Ada pula beberapa siswa siswi yang sama sekali tidak fokus dan tidak memperhatikan materi yang sedang di jelaskan.
Contohnya seperti Fiera, Ganda, Raisa ,Susi dan Angle. Mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.
Kringgg!!!!!!
"Baiklah anak anak, Materi kita sampai di sini. Selamat siang!" pamit Bu guru menutup pertemuan nya.
Angle bangkit dari duduknya, ia merasa bingung. Pada siapa ia harus pergi dulu, apakah Fiera?? atau Raisa. Keduanya sudah menjadi 2 kubu yang berbeda.
"Aduh, gue bingung" batin Angle. Kebingungan Angle di ketahui oleh Fiera. Gadis itu memberi isyarat kepada Angle agar menghampiri Raisa saja.
Akhirnya Angle menghampiri Raisa, ia mengajak Raisa pergi ke kantin.
"Yuk ke kanti Rai" ajak Angle
"Gue lagi malas" tolak Raisa.
Fiera yang mendengar penolakan Raisa meliriknya sebentar.
__ADS_1
"Lo kenapa sih Rai, kok jutek banget sama gue!" protes Angle pura pura tidak tahu.
"Udah deh, pergi sana sama sahabat baik Lo itu!" ketus Raisa. Lalu, kemudian ia bangkit dan meninggalkan kelas.
Angle menoleh pada Fiera, ia terlihat ragu ingin mengejar siapa.
"Udah Gel, temenin aja Raisa"ujar Fiera.
"Maafin gue Fie, tapi dia butuh temen" sahut Angle dengan ekspresi bersalah. Fiera mengangguk mengerti, lalu Angle langsung berlari keluar dari kelas .
Setelah semua orang keluar dari kelas kecuali Susi dan Fiera, barulah Ganda menghampiri istri nya.
"Honey, Lo makan gih"titah Ganda.
"Gue gak lapar" balas Fiera dingin.
"Lo harus makan honey, nanti Lo bisa sakit" paksa Ganda.
"Bener tu Fie, Lo harus makan" sahut Susi.
"Udah deh, kalian gak bakalan tahu apa yang gue rasakan!" bentak Fiera menatap keduanya sinis.
Fiera pergi begitu saja dari kelas meninggalkan Susi dan Ganda yang menghela nafas gusar.
"Lebih baik Lo bujuk Rafael, Lo harus berusaha untuk meyakinkan dirinya" ujar Ganda.
Susi menggeleng pelan, "Gue gak tahu Gan, apa Rafael masih mau melihat wajah gue atau tidak. Rafael menganggap gue mencari keuntungan dari rahasia ini" lirih Susi.
"Lo gak boleh menyerah begitu Sus, Lo harus berjuang. Gue yakin kok, Rafael akan melihat dan berbalik kearah Lo!"ucap Ganda meyakinkan Susi. Namun, Susi sudah tidak berani lagi menaruh harapan yang sempat pupus.
"Udah gan, Lo gak usah pikirin gue. Lo fokus aja sama Fiera. Soal Rafael gue udah mengambil keputusan" jawab Susi bijak.
"Gue duluan Gan" Susi pergi meninggalkan Ganda sendiri di dalam kelas.
Fiera berlari ke taman belakang sekolah. Hanya tempat ini yang membuat dirinya sedikit nyaman. Selain sepi, taman belakang sekolah merupakan taman yang paling banyak bunga dan tanaman lain nya. Sehingga udaranya lebih terasa segar.
"Udaranya segar yah" lirih Rafael membuat Fiera kaget
"Rafael?" sentak Fiera terkejut.
"Lama tidak jumpa Fie" sapa Rafael tersenyum tipis.
Fiera merasa sangat canggung, keberadaan Rafael di samping nya membuat dirinya semakin merasa bersalah.
"Rafael, lo- kok bisa di sini?" tanya Fiera gugup.
"Selow aja Fie, gue sedang dalam pemulihan otak"kekeh Rafael merebahkan tubuhnya begitu saja di atas rerumputan.
Jika di lihat dari raut wajahnya, dan helaan nafasnya. Fiera mampu merasakan betapa kecewanya Rafael kepada dirinya.
"Maafin gue Raf" lirih Fiera.
"Ssstt.... jangan bahas dulu Fie, gue mau terlepas dari beban itu untuk beberapa detik" balas Rafael.
Rafael memejamkan matanya, dari sudut matanya ada setetes air mengalir lambat. Fiera juga melihatnya, namun ia tidak berani untuk bersuara. Ia hanya bisa menatap Rafael dalam diam.
Jauh dalam lubuk hati Fiera, ia merasa sangat merasa bersalah pada Rafael, Raisa. Sejak dulu, kedua orang ini sangat melindungi dan sangat peduli padanya. Karena itulah Fiera merasa sangat terpukul sekarang.
__ADS_1
...----------------...