
"Loh, Fiera. Lo di sini juga?"kaget Ganda melihat Fiera berdiri di dekat meja tempat kedua orang tuanya duduk dan sahabat lama nya.
"Kalian saling kenal?"tanya Dea.
"Tentu saja Dea, mereka kan satu kelas" sahut Lusi. Dea semakin kaget, ia tidak tahu selama ini putrinya sudah mengenal sahabatnya.
"Ayo duduk dulu, Kalina baru sampe jangan berdiri aja" kata Ferdi.
Fiera duduk di samping mama nya, begitu juga dengan Ganda, ia duduk di samping mama nya tepat di depan Fiera.
Ketika kedua nya sudah duduk, tanpa sengaja tatapan mata mereka bertemu. Namun, tidak ada kata yang keluar dari keduanya.
"Kalau aku tahu, Fiera itu anak kalian. Pasti deh aku suruh sering main di rumah"kata Lusi.
"Humm... Sayang nya tidak tahu"kekeh Dea. Mereka semua tertawa senang, kecuali Fiera dan Ganda. Tatapan mematikan tertuju dari Fiera ke pad Ganda. Membuat pria itu menjadi bingung. Apa kesalahan dirinya, sehingga Fiera terlihat marah kepada nya.
Canda tawa terdengar dari kedua orang tua mereka, sesekali Ganda menyahuti ucapan para orang tuanya. Mereka tampak senang, makan siang waktu itu sangat berkesan.
"Fiera, bagaimana di sekolah, apa Ganda masih sering kena hukuman?"tanya Lusi.
"Tentu saja tidak Bun, aku sudah menjadi siswa teladan sekarang" sela Ganda sombong.
"Diam kamu, bunda bertanya sama Fiera" marah Lusi menatap putranya kesal. Ia tidak akan mempercayai ucapan Ganda lagi, sudah sering ia mendapat surat peringatan dari sekolah lama nya dan di sekolah baru ini masih belum ada, dan itu sangat aneh bagi Lusi.
"Tidak kok Tante, dia sudah mulai rajin belajar" jawab Fiera seadanya.
"Wahh bagus dong, biasanya anak nakal ini selalu bikin masalah" dengus Lusi melirik Ganda kesal.
"Wahh berbeda dengan putri kami, dia selalu membawa kebanggaan ke dalam hati kami. Fiera sangat mandiri dan berprestasi" puji Dea bangga.
Ia, mandiri yang terpaksa. sambung Fiera dalam hati.
"Karena itu Dea, gue sangat ingin mendapatkan menantu seperti Fiera" ujar Lusi asal. Membuat jantung Fiera berdetak kencang.
"Wahh aku juga kepikiran begitu tuh" Sahut William.
Kenapa situasinya malah jadi begini. Jangan bilang mereka akan membuat rencana konyol! Batin Fiera berteriak, ia melirik papa nya yang entah mengapa memiliki pemikiran konyol seperti itu.
"Bagaimana kalau kita jodohkan saja mereka, Ganda putra kami juga tidak memiliki kekasih saat ini" usul Ferdi.
"Gak bisa!"tolak Fiera cepat, membuat semua orang menatapnya kaget.
"Emh maaf, aku hanya tidak suka bercanda yang seperti ini" lirih Fiera.
"Kenapa sayang, kita tidak lagi becanda. Kita serius. Apalagi mama sama papa sudah pisah, mama dan papa sibuk dengan bisnis. Mama ingin ada yang menjaga kamu Fiera" ucap Dea panjang lebar.
Dea meraih tangan putrinya, lalu menggenggamnya erat.
__ADS_1
"Jika Ganda menyetujuinya, kenapa enggak sayang. Mama yakin, kamu akan aman bersama nya" bujuk Dea.
Fiera menarik tangannya dari genggaman tangan mama nya, ia menatap mama nya tidak percaya.
"Maaf ma, ini bukan jalan yang terbaik. Aku masih sekolah, dan aku bisa jaga diri ku sendiri"tolak Fiera.
"Kenapa memangnya?. Gue setuju kok"ucap Ganda.
Fiera menatap Ganda, ia menggeleng tidak percaya.
"Lo gila! gue gak mau di jodohin sama Lo. Zaman apa ini"tegas Fiera. Sorot matanya menajam.
Fiera berdiri dari duduknya, ia hendak pergi tapi Ganda menahan nya.
"Lo kenapa Fie? Lo sopan dong sama kedua orang tua kita!" ucap Ganda.
"Maaf Tante, om. Fiera ada janji sama teman, Fiera pulang lebih dulu"pamit Fiera, lalu pergi begitu saja.
"Fiera!!! Fiera!!!"panggil Ganda mengejar Fiera.
"Huh,,, memang anak zaman sekarang" lenguh Lusi menatap kepergian Fiera dan Ganda
"Maaf atas sikap putri aku yah Lusi, Ferdi" ucap Dea merasa tidak enak pada sahabat nya itu.
"Tidak maslaah Dea, kami juga sudah sering melihat pertengkaran ini. Bahkan karena inilah aku semakin berambisi untuk menyatukan mereka" balas Lusi tersenyum lebar.
"Kalian tahu lah, sikap dia"ujar Ferdi.
"Apaan sih, kalian itu yah. Tidak tahu cinta itu datang dari mana" balas Lusi tidak terima di anggap aneh oleh sahabat nya dan juga suaminya. Memang, sejak mereka kuliah dulu, Lusi lah yang paling aneh tingkahnya. Namun, ia memiliki paras yang cantik dan juga otak cerdas.
~•
Fiera terus melangkah cepat menuju ke parkiran, lalu Fiera masuk ke dalam mobil nya mengabaikan teriakan Ganda yang terus memanggil namanya.
"Fiera tunggu!!!" cegat Ganda. Ia berhasil meraih lengan Fiera dan menariknya agar menghadap ke arahnya.
"Ada apa lagi sih, Lo mau ngomong apa lagi sama gue!" bentak Fiera.
"Lo gila yah, begini cara Lo menyikapi ucapan para orang tua?? apa begini etika yang baik dan sikap yang disiplin Lo bangga banggakan itu?" ucap Ganda mengomeli Fiera, ia tidak suka cara Fiera bersikap pada orang tuanya.
"Lo gak perlu ajarin gue soal etika, urus saja hidup Lo. Ingat, gue gak mau Lo ikut campur dalam kehidupan gue!!!" tekan Fiera menatap Ganda sinis, ia menghempaskan tangan ganda yang mencengkram tangannya.
"Fie, gue cuma mau Lo bersikap seperti Fiera yang gue kenal. Itu orang tua Lo, mereka itu orang tua Lo. Di sana juga ada orang tua gue! Lo ngerti gak sih." kata Ganda lagi, ia mencoba terus memberi pengertian pada Fiera.
"Udah, ngomong nya? kalo sudah. Stop ngejar gue lagi, gue gak mau lihat muka Lo lagi!" Fiera berbalik dan masuk ke dalam mobil nya, dan kemudian pergi begitu saja meninggalkan Ganda yang menatap nanar kepergian nya.
"Lo emang keras kepala Fie, tapi gue yakin. Lo akan luluh di hadapan gue!" gumam Ganda penuh keyakinan.
__ADS_1
Ganda kembali masuk ke dalam restauran dan bergabung bersama keluarga nya.
"Maaf, gara gara Ganda. Fiera jadi kesal dan marah" sesal Ganda menunduk minta maaf kepada kedua orang tua Fiera.
"Tidak Ganda, kamu tidak salah apa apa. Fiera emang begitu orang nya. Tante sama om terlalu mengabaikannya, karena sibuk mengurus bisnis, kami jadi lupa memperhatikan perkembangan Fiera" ucap Dea.
Benar, gue terlalu menekan Fiera. Wajar saja dia merasa marah tadi, dan bersikap keras pada orang tuanya.
Ganda mulai resah, ia merasa bersalah pada Fiera.
"Ganda, kamu terlihat dekat dengan anak om. Apa kalian berteman baik?" tanya William.
Lusi dan Ferdi saling melirik, mereka teringat dengan kejadian beberapa kali di dalam rumah mereka. Apalagi ketika Fiera dan Ganda bertemu pertama kalinya di rumah mereka. Tanpa melihat di mana ia berada, Fiera tidak segan segan memperlihatkan ketidak sukanya pada Ganda.
"Tentu saja kami dekat Om bahkan jarak nya cuma dua kursi" jawab Ganda.
"Maksud nya?" tanya Dea tidak mengerti.
"Mereka itu satu kelas Wil, De, tentu saja mereka sangat dekat" jelas Ferdi.
Dea memutar matanya nya bosan, ia serius Ganda malah bercanda.
"Tante kira kamu dekat , Seperti sahabat atau temen curhat Fiera gitu" lirih Dea.
"Hampir sih Tante, kami baru Deket dengan hubungan seperti itu. Lagi dalam proses" jawab Ganda lagi.
Dea tersenyum lebar, ia bisa melihat dari sorot mata ganda, jika pria ini menyukai putrinya.
"Ganda, Tante minta tolong yah sama kamu. Tolong jagain Fiera, Tante sangat berharap sama kamu nak" ucap Dea menggenggam tangan Ganda.
"Tentu saja Tante. Tanpa Tante minta pun, ganda akan melakukannya. Tapi. Ganda ada permintaan" ucap Ganda memberi syarat.
Lusi dan Ferdi kaget mendengar ucapan Putranya.
"Apa syaratnya?" tanya William penasaran. Ferdi dan Lusi juga menantikan jawaban putranya.
"Nikahkan kami, aku akan menjaganya seumur hidup aku." ucap Ganda serius.
"Heh, jangan bercanda kamu!" serga Ferdi.
"Gak yah, aku serius. Jika sudah memiliki ikatan, Ganda akan leluasa dalam menjaga Fiera. Ganda yakin, lama kelamaan Fiera akan bersikap baik dan jadi istri yang manis." jelas Ganda.
"Menurut aku itu ide yang bagus" sahut Lusi setuju.
"Tapi mereka masih terlalu kecil. Pemikiran mereka sangat labil" ucap Ferdi.
"Maaf sebelumnya Ferdi, tapi gue setuju dengan permintaan putra Lo. Dia terlihat gentle meminta dinikahkan Seperti sedang melamar Fiera" ujar William bangga pada Ganda.
__ADS_1
"Aku juga setuju, dengan adanya ikatan, Fiera bisa tinggal bersama kalian. Kami tidak akan merasa khawatir jika ada perjalanan bisnis ke luar negeri" ucap Dea. Sejujurnya, ia selalu kepikiran dengan putrinya setiap kali ia sedang berada jauh di luar sana.