Mengejar Cinta Ketos Jutek

Mengejar Cinta Ketos Jutek
Tidak kah pernah peduli???


__ADS_3

Jam pelajaran pun selesai, Fiera berjalan menuju ke ruangan kepala sekolah, ia harus memastikan acara ini benar benar di setujui oleh pak kepsek. Barulah setelah itu Fiera mengajak para alumni ketua OSIS SMA Laksamana jaya berdiskusi.


Tuk!! Tuk!!!


"Masuk!" Sahut pak Somat dari dalam. Fiera pun langsung membuka pintu ruangan pak Somat dan masuk dengan sopan.


"Siang pak, apa bapak punya waktu untuk berdiskusi?" Tanya Fiera sopan.


"Tentu Fiera, saya sedang tidak sibuk Sekarang" jawab pak Somat mempersilahkan Fiera duduk di sofa.


"Begini pak, menjelang ujian berlangsung, saya ingin memastikan kepada bapak, bahwa SMA kita benar benar menyetujui acara ini. Maka saya bisa berdiskusi dengan alumni ketua OSIS Seko lah kita. Mereka juga membuat kegiatan yang sama dengan kita pak. Jadi, untuk lebih membuat kegiatan ini aman dan lancar, lebih baik kita bergabung dengan mereka." Jelas Fiera panjang lebar. Sebenarnya ia juga sudah pernah mengatakan hal ini kepada pak kepsek.


Namun, sebagai bahan pertimbangan bagi pak kepsek untuk lebih merasa aman dan kegiatan ini berjalan sesuai yang mereka inginkan.


"Baiklah Fiera, kami juga sudah membahas proposal yang kamu ajukan, dan semua guru sangat mendukung nya. Bahkan semua guru berniat untuk turut ikut dengan acara ini Fiera" jawab pak kepsek. Fiera merasa sangat senang sekali.


"Kalau begitu, saya akan mendiskusikan bersama kakak tingkat kita pak. Untuk anak OSIS lain nya, kami sudah membahas ini secara matang"


"Kamu memang pintar dan tanggap Fiera. Bapak bangga memiliki siswi seperti mu " puji pak Somat


"Baiklah pak, kalau begitu saya permisi dulu. Saya hanya ingin memastikan persetujuan bapak saja" ucap Fiera pamit undur diri.


Setelah bertemu dengan pak Somat, Fiera langsung memberi kabar pada ketua komunitas OSIS nya. Mereka pun membuat janji untuk berkumpul di sebuah cafe.


Fiera berjalan di lorong kelas, kehangatan rumah Ganda masih terasa di hati nya. Entah kapan tiba waktunya, ia mendapat kan hal itu dari keluarga nya.


"Fiera!!"


"Woy..." Teriak Angle memanggil Fiera yang seakan tuli terus berjalan lurus dengan tatapan kosong.


"Lah, budek tu anak kali yah?" Gumam Angle, ia menyusul Fiera dan menarik lengan Fiera, hingga gadis itu tersentak dan kaget menatap Angle.


"Ada apa?" Kaget Fiera.


"Lo ngelamun? Gue dari tadi teriak manggil Lo, tapi Lo malah diem dan acuh sama gue" tutur Angle.


"Duh, sorry Gel. Gue gak tahu" kata Fiera merasa bersalah.


"Udah gak penting, Lo lagi banyak masalah yah? Sampe jalan sambil melamun gitu"

__ADS_1


Fiera tak menjawab, ia hanya menghela nafas berat, kemudian memilih duduk di salah satu anak tangga yang tak jauh dari mereka.


Angle ikut duduk di samping Fiera, ia menatap wajah sedih Fiera.


"Ada apa Fie, Lo bisa cerita ke gue" bujuk Angle agar Fiera mau berbagi cerita dengan nya.


"Hahhhh...Gimana yah gel, hidup gue kaya gak ada arti gitu" lirih Fiera dengan hembusan nafas pasrah.


"Lo kok ngomong gitu sih Fie, Lo jangan gila deh" decak Angle kaget.


"Gue udah melakukan apapun gel, tapi semua itu tetap sia sia. Mereka seakan tidak peduli sama gue, yang mereka pikirkan hanya bisnis mereka saja. Kadang gue butuh perhatian, gue butuh mereka ada di sisi gue, menanyakan gue udah makan atau belom, bagaimana pergaulan gue, kemana gue pergi" Fiera menghapus air mata yang perlahan mengalir di pipi nya.


"Gue gak pernah mendapat kan itu, jika gue bisa menukar nasib, gue lebih suka hidup biasa saja, tapi kasih sayang berlimpah. Gue gak kuat hidup sendiri gel, Lo tahu kan, gue sangat kesepian"


Angle tidak tahan melihat kesedihan Fiera, ia langsung memeluk sahabatnya erat. Ia ingin menguatkan sahabat nya dengan meyakinkan Fiera bahwa dia tidak sendirian.


Di balik tangga, tanpa Fiera dan Angle ketahui. Ada seorang siswa berdiri mematung mendengar semua curhatan Fiera ke angle. Ia tidak menyangka jika Fiera adalah gadis serapuh itu.


Senyum dan judes nya selama ini adalah tameng bagi Fiera untuk menutupi rasa sedih dan rapuh nya kehidupan seorang Fiera Alika Baksara.


Setelah merasa lebih tenang, Fiera mengajak Angle kembali ke kelas mereka. Bel masuk juga sudah berbunyi, sebentar lagi pak hartono pasti akan datang ke kelas mereka.


Tadi Ganda berada di sana bersama Sandi, ia harus membayar Sandi untuk aksinya tadi di dalam kelas.


Kalian tidak tahu kan, Ganda sengaja membayar Sandi untuk memancing keributan di kelas tadi. Agar Fiera kembali sibuk mengurusi Ganda.


Ganda berdiri di tempat Fiera duduk tadi, ia menatap kepergian Fiera dan Angle yang masih terlihat oleh mata nya.


"Gue semkin penasaran sama Lo Fie, kehidupan Lo membuat gue ingin selalu ada buat Lo!" Gumam Ganda. Lalu ia melangkah mengikuti Fiera dan Angle.


~•


Setelah pulang sekolah, seharusnya Fiera bergabung dengan komunitas OSIS, tapi dirinya merasa kurang fit. Jadi, Fiera meminta Angle dan Susi yang menggantikan dirinya untuk menghadiri acara yang sudah ia siapkan itu.


Fiera berbaring di atas ranjang nya, ia melirik ponsel nya yang terlihat sleep.


Apa mereka tidak merindukan aku? kenapa sampai saat ini mereka tidak menghubungi aku? mereka hanya menanyakan kabar ku pada bi Ina.


Fiera menyelimuti tubuh nya dengan selimut hingga tubuh nya tertutup semua. Fiera merasa ia butuh istirahat, karena besok adalah ujian pertama.

__ADS_1


Mengetahui nona muda nya demam, bi Ina bergegas masuk ke dalam kamar nona muda nya sembari membawa kompres dan beberapa vitamin.


"Non, ayo non kita makan dulu" kata Bi Ina membangunkan Fiera.Namjn, Fiera terlalu lelah, ia tidak mendengar panggilan bi Ina.


"Non Fiera, ayo bangun non" panggil bi Ina lagi, tapi kali ini ia menggoyangkan lengan Fiera yang keluar dari selimut.


Berhasil, Fiera menyembulkan kepala nya dari balik selimut. Ia merasa sangat pusing.


"Aduh bi, Fiera pusing banget." aduh Fiera pada bi Ina.


"maka dari itu non, makan masih nya, lalu minum obat nya. Bibi juga sudah membawa kompres jika nona muda panas tinggi" jelas Bi Ina.


Fiera pun dengan patuh berusaha mendudukkan tubuhnya. Ia mencoba melahap nasi dan lauk yang di bawa oleh BI Ina ke kamar nya. Lalu, setelah makna, Fiera langsung di kasih vitamin oleh BI Ina.


"Makasih yah bi, udah mau rawat Fiera. Jaga Fiera,nemenin Fiera" lirih Fiera merasa senang dan sangat berterimakasih pada bi Ina.


"Nona muda bicara apa, sudah tugas bibi untuk menjaga nona Fiera" balas bi Ina.


Fiera tersenyum, ia hampir lupa jika di dunia ini ia memiliki seorang wanita yang sangat berjasa kepadanya. Fiera tak akan pernah melupakan. jasa bi Ina kepadanya.


Malam itu, bi Ina memilih tidur bersama Fiera. Ia khawatir nanti Fiera kenapa kenapa dan tidak mengetahuinya.


Fiera tidur memeluk bi Ina, sudah kebiasaan gadis ini jika tidur bersama bi Ina, Fiera akan selalu memeluknya.


"Bi..."lirih Fiera memanggil bi Ina yang membelakanginya. Fiera memeluk bi Ina dari belakang.


"Iya non" jawab bi Ina lembut.


"Kenapa mereka mengabaikan ku? kenapa mereka tidak pernah mencoba menghubungi ku Bi",..


Bi Ina terdiam, ia sudah tidak tahu lagi apa yang harus ia katakan pada Fiera untuk menjawab setiap pertanyaan nya.


"Nak, percaya lah. Orang tua mu adalah orang yang baik, mereka tidak akan pernah meninggalkan nona" jawab bi Ina.


"Tapi kenyataannya begini bi"sela Fiera lagi.


"Mereka mencari uang untuk nona dan keperluan Nona"jelas Bu ina.


Fiera mengangguk pelan, ia tidak lagi mengajukan pertanyaan pertanyaan yang tidak memiliki jawaban apapun. Ia cukup menikmati kehidupan nya seperti apa.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2