Menikah Tanpa Pacaran

Menikah Tanpa Pacaran
Part 10


__ADS_3

Nino membiarkan Dara memegangi tangannya, ia tahu gadis itu sedang ketakutan melihat puluhan wartawan yang sudah berkumpul di lobi. Nino membawa Dara ke studio tempat Rei berada sekarang. Saat sampai di depan pintu, Dara melepaskan pegangannya.


"Masuklah, Rei di dalam," sahut Nino. Dara mengangguk. Terlihat jelas kegugupan pada wajah Dara, Nino menepuk bahu Dara mencoba menenangkan.


"Jangan gugup. Semuanya akan baik-baik saja," ujar Nino lalu pergi ke lobi untuk mengatur segala sesuatunya.


Perlahan Dara membuka pintu di depannya. Setelah terbuka, ia melihat Rei sedang duduk di depan piano memainkan sebuah lagu. Rei belum sadar dengan kehadiran Dara, ini pertama kalinya mendengar pria itu bernyanyi. Tanpa sadar, Dara menikmati suara dan permainan piano Rei. Saat lagu itu hampir selesai, Rei melihat bayangan Dara di cermin yang menghadap ke arahnya, ia pun menghentikan lagunya dan berbalik.


"Sejak kapan kau berdiri di situ?" seru Rei.


Dara mengerjap. "Barusan," jawabnya kikuk. Rei berdiri lalu menghampiri Dara. Tanpa sadar pria itu menahan napas dan tenggorokannya tercekat, ia tidak percaya apa yang sedang dilihatnya sekarang.


'Apakah ia gadis itu? Kenapa ia sangat cantik?' Rei menggeleng, berusaha mengusir pesona wanita di depannya.


"Kenapa kau?" tanya Dara.


"T__tidak, tidak apa-apa," jawab Rei gugup. Dara mengerutkan keningnya.


"Kau tunggu di sini, aku mau mengurus sesuatu sebentar," sahut Rei lalu keluar ruangan.


"Kenapa dia? Aneh."


Rei pergi ke bawah ke ruangan Agnes. Sungguh ia tidak menyangka kalau Dara akan sangat cantik. Rei menatap dirinya sendiri di cermin di ruangan Agnes. Kalau ia berpenampilan seperti ini, maka dirinyalah yang tidak pantas berdampingan dengan gadis itu.


"Kenapa tiba-tiba kau ingin memakai jas?" tanya Agnes sambil mengambil beberapa jas.


"Tidak apa-apa, hanya sedang ingin saja. Hei, ini kan hal penting dalam hidupku. Aku harus terlihat tampan, bukan?" Agnes tersenyum, rasanya ia tahu apa yang ada dipikiran Rei. Biasanya pria itu susah ketika disuruh memakai jas walaupun itu dipaksa oleh Pak Robi.


"Baiklah aku tahu. Coba pakai yang ini!" seru Agnes sambil menyodorkan jas warna abu-abu.


"Tidak, itu jelek."


"Yang ini?" Sekarang Agnes menyodorkan yang warna hitam. Rei menerimanya lalu memasangkan di depan tubuhnya sambil bercermin.


"Baiklah, yang ini saja."


Rei pergi ke ruang ganti. Ia memakai setelan jas lengkap dengan dasi warna perak, dan sepatu pantofelnya terlihat sangat mengkilap. Rei tersenyum sendiri di cermin.


"Sandara, siap-siaplah kau jatuh pada pesonaku," ucapnya sambil merapikan jambulnya.


🍁🍁🍁


Belasan sorot lampu kamera membuat mata Dara silau, ia ingin mengusak matanya tapi nanti bulu matanya rusak. Dara dan Rei sekarang sudah duduk di depan meja berisi belasan microfon. Dara melihat beberapa wartawan itu bisik-bisik sambil tersenyum ke arahnya. Demi Tuhan ini seperti mimpi, ia tidak menyangka dalam hidupnya akan berurusan dengan para wartawan. Rei melirik Dara diam-diam, sial, gadis itu terlihat biasa-biasa saja, padahal ia sudah berusaha terlihat tampan, dan tadinya ia berpikir Dara akan terpesona padanya, ternyata tidak.


Rei kembali fokus ke depan para wartawan, ia berdeham siap bersuara, lalu ia meluncurkan senyumnya di depan belasan kamera.


Diam-diam Dara melirik Rei, lihatlah, pria itu sangat pandai berakting, bisa-bisanya ia tersenyum seperti itu. Ya ... kalau tidak pandai berakting ia tidak akan mendapatkan penghargaan sebagai aktor pendatang baru terbaik. Begitulah kata Nia.


Dara sedikit tersentak tiba-tiba pria itu memegang tangannya sambil menyunggingkan senyum, tapi dari sorot matanya Dara tahu, ia sedang berakting dan mengisyaratkan Dara untuk diam saja jangan berontak.


"Selamat siang semuanya, terima kasih kalian sudah datang ke sini. Hm, maksud saya mengundang kalian semua ke sini adalah untuk mengumumkan sesuatu. Bulan ini saya akan menikah," seru Rei to the point.


Seketika ruangan menjadi gaduh. Semua wartawan itu terlihat terkejut dan buas seperti singa-singa kelaparan dan kehausan berita. Rei dan Dara adalah santapan empuk itu.


"Kenapa tiba-tiba kau akan menikah? Bukan kah kau belum punya pacar?"


"Tanggal berapa kau akan menikah?"


"Rei, boleh kau perkenalkan calon istrimu?"

__ADS_1


"Sebenarnya kau sudah berhubungan berapa lama dengan calon istrimu?"


"Kau kenal di mana dengan calon istrimu?"


Dengan santai Rei hanya tersenyum menanggapi gempuran pertanyaan wartawan-wartawan. Sedangkan Dara mulai keluar keringat dingin dan ketakutan. Seolah tahu apa yang sekarang dirasakan Dara, Rei mempererat genggaman tangannya. Dara menoleh menatap Rei di sampingnya dan Rei kembali tersenyum kepadanya, tidak dipungkiri sekarang ia merasa sedikit lebih tenang. Dan senyuman pria itu seperti malaikat penolong di tengah-tengah belasan malaikat maut.


"Aku akan menjawab semua pertanyaan kalian tapi aku harap kalian bisa tenang. Pertanyaan pertama adalah kenapa aku tiba-tiba menikah? Sebenarnya konsep tiba-tiba itu tidak benar. Sebenarnya aku sudah merencanakannya jauh-jauh hari, kalian mungkin tahu sekarang aku sedang membangun rumah di daerah Jakarta timur. Nah, itu adalah salah satu rencana aku untuk menikah, karena tidak mungkin aku terus tinggal di apartemen apalagi kalau sudah punya anak. Sebenarnya selama ini aku sudah punya pacar, aku sengaja tidak memberi tahu kalian karena pacarku tidak mau terekspos media. Jadi maafkan aku untuk masalah itu."


Wartawan-wartawan itu tersenyum takjub pada sang artis. Rei menarik napas dalam-dalam tapi senyumannya tidak pudar sedikit pun dari wajahnya.


"Baiklah, aku akan memperkenalkan calon istriku pada kalian semua."


Dara menarik napas lalu ia embuskan sekaligus. Dadanya berdebar hebat, tapi ia berusaha untuk menyembunyikannya dengan senyuman.


"Namanya adalah Sandara Triani Salim. Dia seorang pegawai bank, lulusan S1 Ekonomi Perbankan. Dia anak bungsu dari tiga bersaudara. Umurnya tiga tahun di bawahku. Calon istriku ini paling takut dengan ulat bulu," tutur Rei sambil tertawa kecil.


Dara kembali menatap pria di sampingnya. 'Astaga, si kampret ini tahu dari mana semua itu?'


"Aku kenal dengannya dua tahun yang lalu di Bali. Kami tidak sengaja bertemu di sana waktu sama-sama berlibur. Lucunya, dia tidak tahu aku ini artis terkenal. Aku heran apakah di negeri ini masih ada orang yang tidak mengenalku? Ajaib memang. Dari sana aku penasaran, siapa wanita ini sampai dia tidak mengenalku? Setelah aku tahu, ternyata calon istriku ini sangat membatasi hidupnya dengan dunia entertainment, hura-hura dan sebagainya. Disaat kita semua mulai akrab dengan smartphone, dia tetap konsisten dengan type ponsel Nokia 3315. Dia dididik di dalam keluarga yang baik dan sangat berpendidikan. Aku sangat beruntung bisa mendapatkan gadis baik-baik seperti dia. Di zaman sekarang sangat susah mendapatkan gadis baik-baik, bukan?" Rei kembali tersenyum pada Dara, entah kenapa sekarang Dara merasa mual melihat senyuman itu. Pria itu benar-benar aktor sejati, gayanya mengarang cerita itu sangat meyakinkan. Semua yang di katakannya tentang Dara benar, kecuali dengan pertemuan dua tahun lalu di Bali. Bukankah pertemuan mereka baru sebulan yang lalu?


"Pertanyaan soal konsep pernikahan, dan baju pengantin, kalian boleh bertanya ke WO dan designernya agar lebih jelas. Dan tanggal pernikahannya nanti aku beritahu, pokoknya dalam bulan ini. Kurasa cukup untuk hari ini, terima kasih kalian semua sudah datang ke sini."


Rei dan Dara bangkit dan meninggalkan wartawan-wartawan yang masih terlihat ingin bertanya. Rei masih menggenggam tangan Dara sampai mereka masuk ke ruangan Pak Robi. Entah kenapa Rei merasa tidak ingin melepaskan tangan itu, sedangkan Dara tidak sadar kalau tangannya masih digenggam Rei karena masih merasa gugup oleh para wartawan.


***


Pak Robi tersenyum sambil menepuk bahu Rei dan Dara. "Kalian melakukannya dengan baik. Aku yakin responnya akan sangat baik dari masyarakat," kata Pak Robi lega.


"Rei, wartawan-wartawan sudah pergi. Ayo kita berangkat!" Tiba-tiba Nino menerobos masuk ke ruangan Pak Robi. Rei melihat jam tangannya lalu mengangguk.


"Baiklah. Aku pergi dulu," ucap Rei pada Pak Robi. Rei berbalik menuju pintu, tapi Dara tetap berdiri di tempatnya. Langkah Rei dan Nino terhenti di pintu.


"Hei, sedang apa kau? Ayo ikut aku!" seru Rei pada Dara.


"Kemana lagi, kita harus ke tempat designer baju pernikahan kita. Bukankah kau harus diukur?" Rei sedikit kesal. Dara mengerjap.


"Oh. Tapi ngomong-ngomong, aku harus ganti baju dulu."


"Tidak perlu. Sekarang baju itu milikmu. Ambil saja baju seragammu," sahut Rei lalu melangkah pergi.


Nino tersenyum pada Dara lalu berkata, "Ayo Dara."


Setelah mereka pergi dari ruangan, Pak Robi menghela napas sambil geleng-geleng kepala. Sepertinya ia harus berbicara serius dengan Rei agar dia bisa memperlakukan Dara dengan baik.


***


Baru sejam konfrensi pers itu berakhir, berita itu langsung menjadi headline di media online dan menjadi tranding topik di tweeter. Ini sungguh di luar dugaan, tujuh puluh persen fans mendukung pernikahan Rei. Sedangkan Rei sibuk membalas chat teman-temannya Nadine menanyakan kabar ini. Dan Rei meminta pada mereka untuk tutup mulut. Nadine tidak boleh tahu dari orang lain. Biar nanti ia sendiri yang menyelesaikan masalahnya dengan Nadine.


Nino pun cepat-cepat melaporkan perkembangan berita itu pada Rei yang sekarang tengah sibuk dengan designer.


"Rei, coba lihat ini!" kata Nino sambil menyodorkan smartphone-nya.


"Ini benar-benar luar biasa. Kau tahu? Keputusanmu untuk menikah benar-benar briliant. Karirmu akan baik-baik saja dan aku bisa memprediksi karirmu akan semakin cemerlang." Nino semringah.


Rei menyenggol Nino dengan sikutnya, ia takut Nino mengatakan hal yang orang lain tidak boleh tahu, karena di sana ada Prama dan asistennya.


Nino mengerjap. Lalu ia memelankan suaranya. "Kau tahu? Calon istrimu juga banyak dibicarakan netizen. Mereka penasaran pada Dara. Aku yakin beberapa minggu ke depan kau dan Dara akan jadi hot couple negeri ini."


"Hei! Kenapa kalian bisik-bisik di depanku?" seru Prama sambil berdecak pinggang, tapi mimik mukanya tidak benar-benar sedang marah.

__ADS_1


"Apakah kalian menyembunyikan sesuatu dariku?"


"Tidak. Biasalah kalau artis terkenal sepertiku, segala sesuatunya akan jadi tranding topik," sahut Rei santai, ada sebersit nada angkuh dalam suaranya.


"Benar bukan?"


"Ya, aku tahu. Aku sendiri sampai syok ketika Nino menelepon pesan baju pengantin buatmu. Kau jahat sekali Rei, merahasikan ini dariku," tutur Prama.


Dara yang baru saja selesai diukur oleh asisten Prama akhirnya bersuara, "Selamat deh, kalau karirmu akan semakin bagus," ucap Dara sinis.


Apakah benar karir Rei akan semakin cemerlang? Sementara setelah pernikahan dan anak itu lahir, akan menjadi titik balik kehidupan yang mengerikan untuk Dara. Ia akan menjadi janda dan single parrent untuk anak yang sama sekali tidak ia harapkan. Bukankah kehidupan seperti itu sangat mengerikan? Dara merasa ini tidak adil!


Nino memberi kode pada Dara dengan matanya, Dara tahu itu maksudnya apa. Prama mengerutkan keningnya, ia mencium ada yang tidak beres antara Rei dan Dara.


Rei berdeham, ia khawatir Dara akan kebablasan dan bicara yang tidak-tidak.


"Sayang, bukankah kau harusnya mendoakan calon suamimu ini? Kalau karirku semakin bagus, itu akan baik untuk kita, otomatis penghasilanku juga akan naik. Apalagi kalau sudah punya anak, zaman sekarang biaya pendidikan anak semakin mahal saja, bukan?"


"Betul itu." Prama mengangguk setuju.


"Ya, baiklah," kata Dara setengah hati. Rei tersenyum menyebalkan pada Dara. Rasanya Dara sudah tidak tahan berlama-lama di sana dengan pria itu. Dara mengangkat tangannya melihat jam.


"Kalau sudah selesai, aku mau pergi sekarang," ucap Dara. Tiga pria di sana kompak mendelikkan matanya pada Dara.


"Pergi? Tapi, kita belum membahas seperti apa rancangan baju akad nikah dan resepsinya," sahut Prama heran. Dara menghela napas sambil tersenyum pada designer itu.


"Aku percaya padamu, kau pasti akan membuatkan baju paling spesial untukku. Semuanya aku serahkan padamu, karena aku akan suka apapun yang kau buat untukku." Prama terlohok, seumur hidup baru kali ini ia menemukan pelanggan seperti itu. Prama merasa antara tersanjung dan heran, pelanggan itu percaya sepenuhnya padanya, dan itu membuatnya merasa tertantang untuk membuat baju yang spektakuler dengan segenap kemampuannya. Terlebih ini untuk penikahan artis sekelas Reindra.


"Baiklah, aku akan berusaha," sahut Prama mantap.


"Terima kasih," kata Dara lalu pergi. Rei masih bengong saat melihat Dara akan membuka pintu dan pergi. Lalu ia mengerjap dan berteriak, "Hei...!"


"Apa?" Dara menoleh ketus.


"Kau benar-benar akan pergi?" tanya Rei sedikit kesal dan tidak rela.


"Iya, kenapa? Kau mau pergi juga?" Dara balik bertanya sambil memasang wajah polos. Rei menghela napas, ia tersadar, untuk apa ia menahan Dara pergi? Entahlah, tapi Rei merasa masih ingin bersama gadis itu.


"T__tidak. Ya sudah, kau pergi sana! Jangan lupa besok."


"Besok? Apa?" tanya Dara bingung.


Rei menoleh pada Nino, melihat ekspresi Dara seperti itu, ia yakin Nino belum memberitahunya. Nino mengerjap lalu berkata, "Maafkan aku Dara, aku lupa memberitahumu kalau besok akan melakukan foto preweding. Besok Pak Agus, supirnya Rei, akan menjemputmu jam 7 pagi."


Dara terlohok, pria itu kembali melakukan sesuatu tanpa bertanya dulu padanya. Sudah terlanjur kesal akhirnya Dara cuma bisa berucap, "TERSERAH! Lakukan apapun yang kau mau." Saat itu Dara hanya ingin cepat-cepat pergi dan meninggalkan pria menyebalkan itu. Dara membanting pintu dan menghilang.


Setelah Dara pergi, Prama melihat Rei dengan prihatin, "Hei, apa kalian sedang bertengkar?" tanya Prama.


"Tidak," jawab Rei tegas.


"Lalu, kenapa Dara seperti itu?"


"Dia cuma sedang PMS," jawab Rei asal. Nino menahan tawa mendengar jawaban Rei. Bagaimana bisa wanita hamil PMS, pikir Nino.


"Ya, wanita memang makhluk yang rumit," kata Prama.


"Pram maafkan aku, memesan baju dengan mendadak dan harus selesai dalam dua minggu. Aku benar-benar tidak enak padamu. Tapi, aku percaya kau akan menyelesaikannya tepat waktu karena kau adalah designer yang hebat."


"Diam kau! Hhh, kau benar-benar brengsek, Rei. Kau membuatku akan bergadang setiap hari mulai sekarang. Tapi untukmu apapun itu pasti aku lakukan."

__ADS_1


***



__ADS_2