
Zyona masuk terburu-buru ke dalam kamarnya. Keadaannya sangat berantakan, kancing kemeja kotak lengan panjangnya terlepas semua, bahkan ada beberapa manik kancing yang rusak seperti dilepas secara paksa.
Zyona memegangi bajunya dengan tangan gemetar. Menutupi buah dadanya yang dipenuhi tanda kemerahan itu.
Sebenarnya apa yang terjadi semalam, kenapa aku seperti ini dan si sialan itu tidak pakai baju?!
Aggh, dan yang lebih mengesalkan lagi kenapa aku kembali lagi ke rumah ini si
Menggerutu dan menghentakkan kakinya berulang kali ke lantai. Dengan kesal memukul udara dan mengutuki Adrian dengan geram.
Zyona pun lebih memilih mandi, dia merasa badannya sangat lengket. Dan dia dapat mencium dengan jelas, farfum yang sering dipakai Adrian melekat di tubuhnya.
Aishh, semalam apa yang telah terjadi di. Berdiri di bawah shower, membiarkan air membasahi setiap lekuk tubuhnya.
Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Zyona keluar dengan memakai jubah mandi dan handuk kecil yang menggulung rambutnya.
Dia membuka lemarinya, dan Jeng. Lemari itu kosong melompong.
Hah, dimana semua pakaian ku. Membatin, " Oh iya " Zyona menepuk jidatnya " Kan semua baju udah aku masukin ke koper " Mengedarkan pandangannya, tapi koper yang semalam dibawanya tidak terlihat
Aaaaaa ini masih pagi tapi kenapa aku harus berada didalam neraka berulang kali si
" Mana, dimana koperku! Masa aku seharian pake jubah mandi ini " Lagi-lagi menggerutu, lagi-lagi memukul jengkel ke arah udara.
Zyona keluar kamar dan mengintip kedalam kamarnya Adrian, Apa koperku ada disini ya
Melihat kamar pria itu kosong, Zyona memberanikan diri masuk ke dalamnya. Mengedarkan pandangannya mencari dimana kopernya berada.
Bertepatan dengan itu Adrian keluar dari ruangan kerjanya, dia langsung terkejut melihat Zyona didalam kamarnya hanya dengan menggunakan jubah mandi.
" Kamu nyari apa Zy? "
Mendengar suara bass yang sangat familiar ditelinganya, Zyona berbalik dan langsung disusul dengan rasa terkejut. Dia, Adrian Gadangga berdiri tepat dibelakangnya, perlahan pria itu berjalan mendekat semakin mengikis jarak dengan gadis itu.
__ADS_1
" M.. mau apa kau! " Teriak Zyona agak kuat ketika Adrian semakin dekat dengannya
Lelaki itu tetap melangkah dengan dua tangannya sengaja dimasukkan ke dalam saku celananya. Matanya turun lebih rendah, ke area gunung kembar gadis itu yang sebagian tidak tertutup oleh jubah mandi.
Apa yang dilihat si gila ini. Dengan cepat Zyona menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. Membuatnya seperti perisai dan pertahanan " Kamu jangan lihat-lihat aku seperti itu bisa, gak?!" Ucap Zyona dengan sedikit kesal
Adrian tersenyum " Gak usah ditutupi, aku sudah melihat dan merasai semuanya" perkataannya barusan membuat wajah Zyona merah redup. Daripada dia pingsan disini sankin malunya, lebih baik dia keluar dari kamar laki-laki itu dengan cepat.
Brak.
Zyona menutup pintu kamarnya dengan kuat, kenapa si, pria itu sangat menjengkelkan, dan bisa-bisanya Zyona selalu merasa berdebar dan salah tingkah jika diusilin sama suaminya yang resek itu!
Zyona duduk ditepi tempat tidur, membenarkan jubah mandinya supaya menutupi dadanya. Pintu terbuka, Adrian masuk dengan membawa kaos, celana pendek, dan cd yang masih berlebel.
Zyona bergeser memberi jarak, ketika Adrian duduk disampingnya.
Dia melirik pada apa yang dibawa Adrian ditangannya.
Zyona menerimanya, dia melihat kaos warna putih milik Adrian yang sangat besar ukurannya, celana pendek dan satu cd milik pria. Lalu tanpa bicara dia memandang pada Adrian.
" Itu kaos dan celana milikku, cdnya masih baru kok, aku belum pernah pakai. Kamu pakai ya, nanti kita jemput kopermu, setelah ini turunlah kebawah, kita sarapan bersama " Adrian mengelus puncak kepala Zyona dan mengecup keningnya.
Tanpa mampu Zyona halangi, degupan jantungnya selalu berdebar. Mereka agak lama saling menatap. Tatapan mata yang seakan berbicara dengan perasaan masing-masing.
Yang satu tidak tahu harus bagaimana mengungkapkan rasa cinta yang ia miliki, dan yang satunya lagi masih sangat ragu dengan pernikahan nya ini.
Apa-apaan ini, kenapa dia sangat begitu lembut. Bukankah dia sendiri yang menyebutku pengganggu, tapi kenapa dia seperti sangat menyayangi ku saat ini
" Langsung ke bawah ya, aku tadi ada pesan sate sama nasi goreng kesukaan kamu dari online, aku tunggu, biar kita sarapan bersama "
Sampai Adrian keluarpun, Zyona masih membisu. Tidak berbicara sedikitpun, matanya hanya menatap lekat pada Adrian. Seperti terkejut dengan perlakuan Adrian yang terang-terangan menunjukkan kalau dia menyayanginya.
Tapi apakah benar, kalau Adrian menyayangi istrinya itu.
__ADS_1
Kalau seperti ini aku harus bersikap seperti apa. Bukankah dia yang secara terang-terangan menolakku, dan bahkan penolakannya malam itu adalah penghinaan terbesar, tapi kenapa sekarang dia berkprilaku seakan dia memperdulikan dan menyayangiku.
Sebenarnya bagaimana perasaan mu Adrian, jangan buat aku bingung.
Tapi apapun itu aku tidak boleh lemah. Aku gak mau ditindas terus. Aku gak mau dianggap sebagai pelampiasan terus.
Untuk apa aku bertahan dan mengurai benang kusut ini, lebih baik dipotong dan mulai dari awal lagi.
percuma aku bertahan sendirian, jika nanti akhirnya dia kembali pada 'seseorang' itu
Zyona memeluk pakaian yang diberikan Adrian tadi. Segetir senyuman tercipta dibibirnya. Membayangkan jika kelak Adrian kembali pada kasihnya, dan hanya kesepian yang didapat gadis itu.
" Maka kau tidak boleh jatuh cinta padanya Zyona! " Seperti memperingatkan diri sendiri. Memberi penekanan kuat untuk tidak jatuh hati pada Adrian!
Akan sangat sakit jika cintanya mulai tumbuh, tapi Adrian malah pergi dengan seseorang itu.
Dan yang tersisa hanya kesepian. Sendirian disudut ruangan, membayangkan setiap kenangan yang sudah terlanjur terjadi.
Sakit.
Kalau sempat itu terjadi, itu akan sangat menyakitkan. Zyona tiba-tiba teringat dengan mimpi buruknya semalam. Jemarinya meremas pakaian itu dengan mata yang terpejam.
~Apa yang kita genggam, belum tentu menjadi milik kita~
Kata-kata itu sangat ngena bagi Zyona saat ini. Sekarang, Adrian memang suaminya, tapi itu tidak menjadi jaminan hati lelaki itu menjadi miliknya.
Jadi atau tidaknya perpisahan itu nanti, Zyona mulai menyiapkan dirinya dari sekarang.
Masih sangat ragu untuk membuka hatinya, dari lelaki itu pun sampai sekarang belum ada kejelasan. Hubungan ini terlalu semu, bahkan seakan tidak nyata.
Hubungan yang hanya seperti embun pagi, yang akan langsung lenyap ketika mentari datang.
Bersambung....
__ADS_1