
Malam hari, Adrian pulang kerja. Berjalan cepat menaiki tangga menuju kamarnya. Seharian letih bekerja, akan sangat melegakan baginya jika sudah bertemu istri kesayangannya.
Adrian membuka pintu kamar, tidak melihat Zyona disitu. "Zyona?" Panggil Adrian sambil berjalan masuk ke dalam.
"Zyona, kau dimana?" Kali ini suaranya lebih keras. Terpecah menjadi teriakan disaat panggilan berikutnya. Terdengar sahutan dari kamar mandi.
"Rian aku disini, bentar lagi selesai kok"
Seketika Adrian langsung bernafas lega. Melonggarkan dasinya lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
Dan mulai memejamkan matanya.
Cih, kenapa dia lama sekali si di kamar mandinya. Apa yang dia lakukan? Apa jangan-jangan dia pingsan disana.
Kembali berulah dengan pikiran anehnya. Beranjak ke depan pintu kamar mandi lalu menggedor pintu itu kuat.
"Zyona buka! Sedang apa kau didalam? kenapa lama hah?" Memutar-mutar knop pintu, tapi nihil tidak bisa dibuka. Tidak biasanya dia mengunci pintu seperti ini, "Zyona kau sedang apa?! Buka atau aku dobrak!"
"Rian bentar, aku hampir selesai"
Sahutan dari dalam, tapi tak sedikitpun menghilangkan rasa khawatir di diri Adrian.
Adrian kembali menunggu, tapi istri kesayangannya belum juga keluar dari kamar mandi. "Buka Zyona, atau kau tau akibatnya!" Perkataannya berubah jadi ancaman.
Sudah hampir duapuluh menit Zyona didalam kamar mandi, akhirnya Adrian sampai pada batas kesabarannya. "Aku hitung sampai tiga pintu ini juga belum kau buka, maka terima hukumanmu!"
Menempelkan telinganya ke pintu. Untuk mendengarkan apa yang dilakukan Zyona didalam kamar mandi.
Sial, Umat Zyona.
"Satu! " Adrian mulai menghitung.
"Tiga!"
__ADS_1
Klek, pintu dibuka dengan cepat, Zyona berdiri dengan cepat didepan Adrian, tubuhnya hanya berbalut handuk.
Benar kan, sudah Kuduga dia akan langsung menghitung sampai tiga.
"Kau kenapa lama di dalam sana? Apa yang kau sembunyikan?!"
Marah. Memegang dagu Zyona membuat gadis itu mendongak.
"Aku malu..."
"Malu apa? Siapa yang kau sembunyikan didalam sana!?" Mengintip ke dalam kamar mandi, mengecek apakah ada orang lain disana. Nihil, kamar mandi itu kosong, beralih menatap Zyona masih dengan tatapan marah.
"Aku lagi dapet" Jawab Zyona dengan pipi bersemu merah. Malu.
"Dapet?" Mengernyit tidak mengerti.
"Datang bulan" Jelas Zyona sambil berjalan melewati Adrian. Masuk ke dalam ruangan ganti dan mengganti pakaiannya.
Adrian mengikuti dari belakang "Kok cepet banget, bukannya kamu udah mens dua minggu lalu?"
Adrian langsung memeluk Zyona dari belakang. Merasa sangat khawatir "Itu berbahaya gak? Kamu sakit? Apa sebelumnya juga pernah begitu?" Zyona dihujani berbagai pertanyaan khawatir dari Adrian.
Zyona menggeleng "Aku juga gak tau, sebelumnya gak pernah gini" Membuka lemari dan mengambil pakaian.
"Kita ke dokter yuk!" Membantu Zyona memakai baju. Walau gadis itu menolak, tapi Suaminya yang keras kepala ini sangat sulit dibantah. Akhirnya hanya pasrah ketika suaminya ini melakukan apapun sesuka hatinya.
Lalu Adrian menggendong tubuh Zyona dan diletakkan di atas ranjang dengan sangat hati-hati. Dan menyelimuti leher gadis itu dengan syal serta selimut tebal yang menutupi tubuhnya sampai ke leher.
Hei ini berlebihan tau!
"Sayang, aku bukan sakit, aku hanya menstruasi" Menegangkan suaminya yang tampak sangat khawatir.
"Iya menstruasi, tapi kenapa bisa dapet dua kali bulan ini. Nanti kalau kamu sakit parah gimana? Nanti kalau terjadi sesuatu gimana?" Mulai lagi deh, banyak sekali bicaranya.
__ADS_1
Adrian mengambil hape, ingin menelepon seseorang. "Lina, ke rumah sekarang, cepat!" Mengatakan perkataan yang ingin ia katakan, lalu segera menutup sambungan telepon. Tanpa menunggu jawaban dari orang yang disebrang telepon.
"Kamu telfon siapa?" Tanya Zyona.
"Dokter!"
Apa! dia ini gila ya. Masa dokter disuruh datang ke rumah malam-malam gini hanya karena aku datang bulan! kau mau membuat dokter itu serangan jantung sankin terkejutnya
"Rian gak usah, aku gak papa" Memegang tangan Adrian, berusaha menenangkannya.
"Gak papa apanya!? Diem jangan banyak gerak" Kembali membaringkan tubuh Zyona ke tempat tidur. Dan membenarkan selimutnya.
"Zy, jangan-jangan..." Kali ini wajah Adrian tampak marah dari sebelumnya. membquat pikiran Zyona bercabang kemana-mana.
"Kenapa?"
"Jangan-jangan kamu diracuni sama desainer yang jahit pembalut mu lagi!?" Mulai lagi kan, jalan pikirannya memang gak waras nih orang.
"Jangan gila deh, mana mungkin Rian" Mereka juga gak mungkin melakukan itu, apa kau pikir mereka gak punya kerjaan sampai menaruh sesuatu di pembalutku.
"Rian aku beneran gak papa" Cegah Zyona saat laki-laki itu ingin memanggil desainer yang menjahit Pembalutnya.
Aku mohon wahai suamiiiii... jangan berlebihan deh
"Diem, dia gak akan lepas kalau sampai memang dia meracuni mu"
Hadehh... gini nih, kalo terlalu sering nonton film azab, bawaannya seuzon muluu...
"Rian aku beneran gak papa, ini hanya datang bulan biasa, cuman hanya sakit dan nyeri saja kok"
Aduh, Kayaknya aku salah ngomong nih. Adrian kembali menatapnya penuh kekhawatiran "Sakit? dimana? sakit banget ya? ke rumah sakit yuk!"
Aaaaaa.... boleh gak si, kupukul kepala bodoh suamiku ini. dosa gak ya!
__ADS_1
Bersambung..