Menikah Tanpa Pacaran

Menikah Tanpa Pacaran
Part 13


__ADS_3

Diam-diam Joseph menunggu Dara keluar kantor. Sebelum besok Dara mulai cuti, ia merasa harus mengatakan sesuatu padanya.


Joseph melihat Dara dan Nia berdiri di trotoar depan kantor, lalu Nia pulang lebih dulu karena jemputannya sudah datang. Sekarang tinggal Dara seorang diri di sana menunggu angkutan umum. Joseph segera menghampirinya.


"Dara ...!" seru Joseph. Dara menoleh, terlihat Joseph sedang berjalan ke arahnya. Pria itu tersenyum. "Kau mau pulang?" Joseph basa-basi. Dara mengangguk sedikit kikuk.


"Hm, ada apa, Jos?"


"Ah, tidak. Sebelum kau mulai cuti besok, aku rasa ... aku harus mengatakan sesuatu padamu. Selamat ya ...," kata Joseph sambil tersenyum, tapi senyuman itu terlihat menyedihkan.


"Kau akan mengatakan itu?" tanya Dara. Entah kenapa rasanya ia tidak suka mendapat ucapan selamat dari Joseph, itu membuatnya merasa sedih.


Joseph mengangguk lalu ******* bibirnya, ia sedang mengumpulkan keberaniannya untuk mengucapkan maksud sebenarnya.


"Maaf Dara, aku rasa aku tidak bisa datang ke pernikahanmu. Aku ... aku tidak bisa melihatmu bersanding dengan pria lain. Aku menyesal, aku marah dan kecewa pada diriku sendiri, kenapa dulu aku ...."


"Hentikan!" sela Dara. Ia tidak sanggup mendengar itu, karena kalau mendengar lagi ucapan yang akan dikatakan Joseph, itu hanya akan membuatnya merasa semakin menyedihkan.


"Kau tahu, kau adalah pria terjahat yang pernah aku kenal. Kenapa kau lakukan ini padaku? Kenapa kau menjadikan aku wanita paling menyedihkan di bumi ini? Kenapa kau membuat aku semakin sulit melupakanmu? Kenapa Joseph? Kenapa kau lakukan itu?" Dara berucap dengan menahan tangisnya sekuat tenaga.


Joseph tertegun, ia tidak menyangka Dara akan seemosional itu. Mata sipit Joseph berkaca-kaca menatap Dara dengan sangat dalam. Apakah ia tidak salah dengar? Apakah Dara masih mencintainya? Bukankah kemarin ia menolaknya? Tapi ia akan menikah, apakah pernikahan ini tidak diinginkan olehnya? Apakah Dara tidak mencintai calon suaminya? Berbagai pertanyaan berkelebat di kepala Joseph, tapi ia tidak menyuarakannya. Dengan refleks Joseph hanya bisa merengkuh Dara ke dadanya.


Beberapa detik Dara memastikan dirinya sedang berada di pelukan Joseph. Sesuatu yang dulu hanya bisa ia bayangkan, sekarang hal itu menjadi kenyataan, tapi dengan cerita yang berbeda.


"M__maafkan aku. Maaf," kata Joseph dengan suara bergetar. Sekuat tenaga Dara menahan tangisnya, tapi air mata itu tetap keluar dan membasahi kemeja putih Joseph.


Pelukan itu berlangsung satu menit penuh sebelum seseorang membunyikan klakson dengan kasar.


Dara melihat pengemudi mobil yang membunyikan klakson. Reindra.


Rei keluar dari mobil, berjalan ke arahnya, tanpa babibu lagi Rei langsung menggenggam erat pergelangan tangan Dara lalu menyeret ke sampingnya.


Mata Joseph berkilat-kilat penuh amarah, tapi ia berusaha menahan amarahnya. Kejadian itu begitu mengagetkan, membuat Dara syok dan tidak mampu membuka mulutnya untuk bersuara.


"Ayo pulang!" ucap Rei pada Dara, tapi matanya menatap Joseph dengan tatapan membunuh. Dengan pasrah Dara menuruti Rei. Saat mereka hendak masuk mobil, Joseph berteriak, "Hei kau! Jangan pernah sakiti Dara atau kau mati!" ucapnya tajam.


Rei tidak menanggapi ucapan Joseph. Dengan santai ia masuk ke mobil. "Dasar gila!" desisnya pelan.


***

__ADS_1


"Kau tahu? Kalau kejadian tadi diketahui wartawan, kau dan aku bahkan keluargamu akan tamat. Walaupun pernikahan ini bisa dibilang sandiwara, apa pantas kau berpelukan dipinggir jalan dengan lelaki lain?" kata Rei kesal, tapi lebih pada cemburu.


Dara melirik Rei tajam, kejadian tadi membuatnya semakin membencinya.


"Bagaimana bisa kau melakukan itu padaku? Bagaimana bisa hidupku hancur sekaligus karena dirimu? Bagaimana bisa dalam sekejap aku akan menjadi istri pria menyebalkan seperti dirimu, lalu dalam sekejap pula aku akan menjadi janda dan singel parrent. Coba katakan padaku, apakah semua ini masih bisa dianggap sebagai kehidupan? Kau bunuh saja aku, mungkin itu akan lebih baik!" tutur Dara dengan mata berkilat-kilat.


Rei tidak menanggapi ucapan Dara, ia malah menaikan kecepatan dan menjalankan mobilnya secara zig zag, menyalip kendaraan-kendaraan di depannya untuk menutupi kekesalannya.


Dara teriak-teriak ketakutan sambil memegang erat sabuk pengaman.


"Hei, pelankan mobilnya! Dasar bodoh! Kau mau mati, ya?" Rei tersenyum melihat Dara ketakutan, lalu perlahan ia mulai mengurangi kecepatan.


"Bukankah kau yang meminta aku untuk membunuhmu?"


"Ya Tuhan, kau memang serius gilanya. Kau benar-benar sudah tidak waras!" Dara mengatur napas menenangkan diri. Ia tidak menyangka pria itu menganggap serius ucapannya.


"Omong-omong kenapa kau menjemputku? Dan mau kemana kita sekarang?"


"Kemana lagi? Ke apartemenku, lah. Keluarga besarku sudah datang dan mereka ingin bertemu denganmu," kata Rei santai.


"Hah?!" Mata Dara terbelalak. Seperti biasa, pria itu bersikap sesukanya saja. Sekarang Dara belum siap bertemu dengan mereka, ia baru pulang kerja dan penampilannya sangat berantakan, dan juga ia belum minta izin pada ibunya akan terlambat pulang ke rumah.


"Tapi, aku belum mandi, belum ganti baju," tutur Dara sedikit panik.


Rei melirik Dara sambil tersenyum heran. "Sejak kapan kau peduli soal penampilan? Tidak apa-apa, kau cukup menggeraikan rambutmu saja, karena kau terlihat cantik kalau rambutmu tergerai," kata Rei.


Bibir Dara langsung terkatup rapat, ucapan pria itu membuatnya tidak bisa bersuara lagi. Dengan gugup Dara mematuhi ucapan Rei, ia melepas jepit rambut yang wajib dipakai saat bekerja untuk mengikat rambutnya berbentuk sanggul kecil. Lalu ia bercermin di kaca spion merapikan sedikit rambutnya dan mengelap wajahnya yang sedikit berminyak dengan tissue. Diam-diam Rei tersenyum melihat tingkah Dara.


***


Dara disambut hangat oleh keluarga besar Rei. Mereka akan menginap di hotel sampai acara pernikahan beres, tapi karena sekarang Dara akan datang, jadi mereka berkumpul dulu di apartement.


Benar apa yang dikatakan Rei, keluarganya sangat santai dan hangat. Sebenarnya Dara agak asing dengan suasana seperti ini, karena dari lahir Dara berada di lingkungan keluarga yang serius.


Dara dipeluk hangat oleh semua anggota keluarga Rei. Benar-benar sebuah keluarga besar. Bude, Pakde, Bule, Pakle semuanya datang dari Surabaya, tidak ketinggalan sepupu-sepupu juga datang lengkap. Ibunya Rei berjilbab, dia terlihat bahagia bertemu dengan Dara. Ternyata Rei anak paling besar, dia mempunyai dua adik semuanya perempuan, yang satu sudah kuliah dan yang bungsu masih SMA kelas dua. Bernama Pricilla dan Erika. Ternyata Rei sudah ditinggal ayahnya wafat sejak remaja.


Setelah makan malam bersama, minum teh, mengobrol, hingga bercanda, ibunya Rei memanggil Dara untuk berbicara berdua di kamar. Dengan gugup Dara duduk di tepi tempat tidur, sementara ibunya Rei mengambil sebuah kotak kecil warna biru dari tas, lalu duduk di samping Dara. Perlahan ia membuka kotak biru itu. mata Dara terbelalak ketika melihat isi kotak itu, sebuah kalung emas putih dengan liontin berlian.


"Dara, ini adalah kalung berharga ibu hadiah perkawinan dari ayahnya Rei. Dulu ibu berjanji, saat Rei menikah, ibu akan berikan kalung ini pada istrinya. Kalung ini adalah simbol cinta suci, ibu berharap kalian bisa hidup bahagia selamanya sampai maut memisahkan. Pakailah ini saat pernikahan kalian," tutur ibu Rei seraya memberikan kalung itu. Dara menerimanya dengan tangan gemetar. Sungguh ia merasa sangat berdosa, kalung ini simbol cinta suci dari almarhum ayahnya Rei, tapi pernikahan ini didasari oleh kebencian dan kebohongan. Dara merasa ia sebagai manusia paling kejam untuk ibunya Rei. Dengan berat, Dara mengangguk lalu menerima kalung itu.

__ADS_1


"Jujur, ibu sangat bahagia ketika Rei memberi kabar tentang pernikahannya. Dari dulu ibu selalu berdoa agar putra sulung ibu mendapatkan jodoh yang baik. Dan ternyata Tuhan mengabulkan doa-doa ibu. Ibu senang."


Dara tersenyum getir, ia menatap jauh ke mata ibu Rei yang terlihat sedikit berkaca-kaca karena terharu. 'Bagaimana ini? Kenapa aku jadi merasa terpojok seperti ini? Aku sangat menyukai ibunya Rei yang baik dan hangat, dan aku juga menyukai keluarganya, apa yang harus aku lakukan?'


"Semoga kau bisa menerima baik buruknya Rei. Walaupun dia terlihat arogan, tapi hatinya baik. Dia sudah ditinggal oleh ayahnya sejak kelas 2 SMA. Dan sejak saat itu, Rei menjadi tulang punggung untuk kami. Jika libur sekolah, dia ikut manggung bersama Pak Wirya, bernyanyi kesana kemari, dan kadang ngeband juga dengan teman-temannya."


Ibu Rei mengusap matanya yang basah menceritakan masa lalu anaknya.


"Setiap dapat uang dari hasil manggungnya, ia selalu berikan ke ibu. Dan itu sangat membantu perekonomian keluarga, karena gaji dari pensiunan ayah Rei kadang tidak cukup. Rei anak yang bertanggung jawab."


'Ya ampun, kenapa ibunya Rei menceritakan semua itu padaku? Membuat aku simpatik saja sama pria menyebalkan itu.'


"Setelah lulus SMA, Rei merantau ke Jakarta, dan alhamdulillah bakatnya dilirik oleh Pak Robi. Ibu sangat bersyukur atas semua pencapaian Rei sampai saat ini." Ibunya Rei beralih menatap Dara lalu tersenyum dengan tulus. "Dan ibu juga bersyukur Rei bertemu denganmu, Dara. Semoga nanti kalian bisa terus saling mencintai dan tidak terpisahkan sampai maut memisahkan kalian."


Dara mengangguk, tersenyum, memandang ibu Rei dengan takzim.


'Ya Tuhan, aku sungguh menyukai ibunya Rei. Bagaimana ini?'


***


"Kak Dara, kenapa bisa jatuh cinta sama Kak Rei? Dia kan menyebalkan," tanya Erika, adik bungsu Rei.


"Selain menyebalkan, dia juga egois," tambah Pricilla.


"Betul."


Dara tersenyum menanggapi ucapan adik-adik Rei. "Entahlah, aku juga tidak tahu." Dara mengangkat bahu. "Mungkin menurut kalian Rei seperti itu, tapi sebenarnya dia itu baik dan bertanggung jawab." Dara berucap sambil menahan mual. Mual oleh ucapannya sendiri ditambah karena kehamilannya.


"Benarkah? Wah, aku sebagai adiknya malah tidak tahu," cetus Erika.


Di balik tembok, diam-diam Rei mendengarkan percakapan tiga wanita itu di dapur, lantas ia tersenyum geli. Teringat bagaimana bencinya Dara pada dirinya beberapa waktu yang lalu, tapi dia mampu berkata seperti itu di depan adik-adiknya.


Rei sedikit menyembulkan kepalanya melihat Dara yang tengah berbincang hangat dengan kedua adiknya. Tanpa ia sadari bibirnya sedikit tertarik ke atas. Rei mengerjap, tiba-tiba ponselnya bergetar, hatinya terenyak ketika melihat nama siapa yang terpampang di layar ponselnya. Nadine.


Rei mengembuskan napas sekaligus, lalu pergi ke kamar untuk menjawab telepon kekasihnya itu.


***


Nadine

__ADS_1



__ADS_2