
Zyona pov
" Kenapa gak dimakan? "
DEG
Suara Adrian mengejutkan ku. Memang tadi aku sempat termenung memikirkan kejadian menyebalkan di dalam bus tadi.
Aku menatap mata hitam menawannya " Ini aku makan.. "
Kataku lalu mulai menyantap makananku.
Tapi lagi-lagi tanpa sadar tanganku terhenti di udara. Aku benar-benar dibuat gak konsentrasi dengan kejadian di bus tadi.
Bisakah ku sebut itu pelecehan. Tapi kakek tadi benar-benar menyentuh panta*t ku. Tidak hanya itu, bahkan dia sempat meremasnya.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau tadi misalnya aku tidak menghentikan Adrian.
Dan tadi aku melihat sendiri bagaimana wajah Adrian yang begitu marah ketika ada yang mengganggu ku.
Padahal dia tidak tahu apa yang diperbuat kakek tadi padaku, tapi marahnya udah kayak orang kesetanan saja.
Apa lagi kalau misalnya dia tahu!
" Zyona "
Lamunanku kembali buyar oleh panggilan Adrian. Dia menatap mataku lekat-lekat.
" Tenang Zyona, aku tidak akan membiarkan tua bangka brengsek tadi lepas, dia akan menerima ganjarannya! "
" Jangan Adrian, aku sungguhan tidak papa "
Bohong! Aku berbohong. Sejujurnya aku sangat tidak terima dilecehkan seperti tadi. Membuatku merasa jijik dan kesal menjadi satu.
Tapi aku tidak berani memberitahunya pada Adrian.
Aku takut Adrian marah dan berkelahi.
" Zyona, kamu termenung lagi? " Adrian menggeser kursinya mendekat padaku. Dia melingkarkan tangannya di pinggang ku membuat tubuh kami semakin mendekat.
" Adrian... " Aku mendorong pelan dadanya sambil menengok ke pelanggan yang lain.
Malu sekali rasanya jika ada yang melihat kami sekarang ini.
"Rian nanti ada yang lihat.. " Kataku khawatir, tapi laki-laki ini malah tersenyum miring sambil menatap ku.
" Emang kenapa hmm? " Dia semakin mendekatkan wajahnya. Sekarang wajah kami hanya berjarak dua centi saja. Membuatku dapat merasakan aroma mint dari nafas Adrian yang menerpa hangat wajahku.
Jangan ditanya bagaimana merahnya sekarang wajah ku, sankin grogi nya aku bahkan lupa untuk bernafas.
" Jangan khawatir Zyona, selagi aku hidup, aku tidak akan pernah membiarkan orang yang lancang telah mengganggu mu hidup dengan tenang "
__ADS_1
Katanya terlihat sangat sungguh-sungguh. Hidung kami bersentuhan, aku semakin dibuatnya gila ketika suamiku itu mendusel-dusel hidungnya dihidungku.
Untuk saja Adrian memilih meja paling pojok dan area bebas cctv, jadi aku sedikit merasa lega karena tidak ada yang melihat kami.
" Emmhh Adrian... " Leguhku pelan saat laki-laki ini mulai menggigit pelan bibir bawahku.
Persekian detik nafasku tertahan, ketika suamiku ini mulai memegang tengkuk ku dan melu*mat bibirku dengan lembut.
Sentuhannya membuatku tenang, seketika aku lupa pada kejadian di bus itu.
Adrian menghisap bibir bawahku dan bibir atasku secara bergantian.
Aku tidak bisa menghindar dan akhirnya memilih untuk memejamkan mataku.
Jantung ku seakan berhenti berdetak. Terlebih ketika Adrian menggigit bibir bawahku membuatku reflek membuka mulut. Adrian langsung meneroboskan lidahnya ke dalam mulutku.
Membuatku terkejut dan tanpa sadar meremas kerah bajunya.
Lidah Adrian menyentuh lidahku, seakan mengajaknya bergerak bersama-sama. Lalu dia melepaskan tautan bibir kami, dan menghembuskan nafas sangat dekat dengan wajah. Membuatku berkedip sekali.
" Bernafas Zyona "
Aku tersadar dan langsung ku hirup udara banyak-banyak sampai memenuhi paru-paru ku.
" Sekarang kamu mau makan, atau kamu yang aku makan " Ancamnya dengan seringai licik.
Nafas kami masih terengah setelah ciuman panjang kami yang membuat seluruh tubuhku seakan mati rasa.
" Aku makan sekarang.. "
Dia mengusap bibirku yang terasa kebas akibat ciuman darinya tadi. " Bibirmu manis, aku suka "
Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya yang membuatku tidak berkedip. Adrian melanjutkan menyantap makanannya dengan santai.
Seolah tak ada yang terjadi barusan.
Dia ini pura-pura santai atau memang ciuman kami tadi tidak berpengaruh apa-apa padanya. Jadi disini hanya aku yang deg-de kan kayak anak ABG gitu?!
Huh! Dia ini membuatku kesal saja!
Kalau aku gak usah ditanya. Nyawaku seolah lepas tadi saat dia memciumku. Bayang-bayang lu*matan bibirnya yang lembut dan basah menari-nari di kepalaku.
Sejuta persen aku yakin gak akan bisa tidur nyenyak nanti malam.
Ambulance, aku butuh ambulance...
...~♥~...
Adrian Pov
Ssssrrrrrrrr.........
__ADS_1
Kuduku meremang. Awalnya aku hanya ingin mengecupnya saja. Karena tidak tahan melihat Zyona ku terlihat gelisah seperti tadi. Tapi ketika bibirku menempel padanya, aku tidak tahan dan ingin langsung menggigitnya.
Aku memang tidak tahu apa yang telah diperbuat tua bangka brengsek tadi pada istriku. Tapi yang jelas, aku tidak akan pernah membiarkan orang yang telah lancang menyentuh Zyona ku walau hanya seujung rambut pun hidup dengan tenang.
Aku bersumpah akan membuat tua bangka keparat itu menyesal telah hidup di bumi!
Agak lama baru aku sukses menguasai isi kepalaku. Tapi tidak hanya itu, aku prihatin dengan bokser ku terlihat sesak karena kejantanan ku bangun dengan sempurna.
Gila! Zyona sangat sukses telah membuatku mabuk kepayang!
...
" Hei-hei! Ayo kembali Zyona, aku akan membelikan baju itu padamu! "
Zyona menarikku keluar dari suatu butik, ini adalah butik ke lima yang kami kunjungi. Tapi tak ada satu bajupun yang ia beli.
Zyona hanya Melihat-lihat, menanyakan harganya, dan dia tadi pake nawar segala, tapi akhirnya malah menarikku keluar dan tidak jadi beli.
Membuatku hampir gila karena malu!
" Gak usah Adrian, harganya mahal banget! Kalau di pasar tradisional bisa dapet duapuluh pasang... " Katanya langsung membuatku melotot.
" Gak usah pikirin harga Zyona! Bahkan butiknya itu bisa kuberikan sekarang juga untuk mu! " Aku berkata serius. Harga diriku sebagai laki-laki seakan tercoreng!
Masa hanya baju seperti tadi itu tidak bisa kubelikan untuk istriku! Yang benar saja!
" Ayo kembali dan aku akan membelikannya untukmu "
Aku menarik tangannya tapi dia menghentikan ku. Aku kembali menatap matanya dengan geram.
Tapi dia malah cengengesan.
" Suamiku, tidak usah belikan aku baju itu, aku sudah tidak menginginkannya lagi.. sekarang kita beli es krim yah, aku mau makan es krim.. "
Rengeknya
Astaga, kenapa kau sangat menggemaskan si...
Aku akhirnya hanya pasrah dan rela diseret Zyona membeli es krim.
Kalau saja aku tidak ingat dimana kami sekarang ini, aku pasti sudah melemparnya ke ranjang dan mengurungnya dibawah kungkunganku.
Membuatnya mendesah nikmat semalaman.
Epilog
" Tia, datang ke butik yang baru ku kunjungi sama istriku barusan, beli semua baju yang disentuh Zyona, jangan ada satupun yang terlewat! "
Aku memutuskan sambungan telepon dengan sekretaris ku itu, dan langsung mengirim setiap alamat butik yang tadi ku kunjungi sama Zyona.
Bersambung...
__ADS_1