
Mata Dara perlahan mulai terbuka. 'Kok gelap?' batinnya tidak mengerti sambil memegang kening yang terasa pusing karena mabuk semalam.
'Jam berapa sekarang? Kayaknya belum pagi.' Dara menarik selimutnya lebih tinggi dan merubah posisi tidur menyamping. Namun, tangannya menyentuh sesuatu yang halus seperti kulit tangan. Apakah Nia tidur bersamanya? Tapi kan Nia menyewa kamar resort sendiri, tidak ada alasan ia tidur di kamar Dara, bukan? Jangan-jangan...? Oh, astaga...!
Dara membuka matanya lebar-lebar, lalu melihat sesosok pria yang tidak dikenalnya telanjang tidur di sampingnya. Dara teriak sekencang-kencangnya membuat pria itu terperanjat dan bangun.
Dara dan pria itu terduduk di tempat tidur memandang satu sama lain, lalu keduanya berteriak dengan histeris. Dara mengintip ke balik selimut dan melihat tubuhnya sendiri tanpa pakaian sehelai pun. Astaga! Apa yang terjadi? Terlihat di bawah tempat tidur sana berserakan pakaiannya dan pakaian pria itu.
"K__kau siapa?" teriak pria itu lalu menyalakan lampu di samping kasur.
"Kau yang siapa? Kenapa kau ada di kamarku?" Pria itu terkejut, bangun, dan buru-buru mengenakan pakaiannya, lalu keluar mengecek nomor kamar. Setelah itu ia kembali ke dalam.
"Heh, ini kamarku! Nomor 201. Kau yang salah masuk kamar." Dara terperanjat, dengan cepat ia membalut tubuhnya dengan selimut mengambil bajunya yang berserakan di bawah, lalu mengenakan pakaiannya. Ia meneliti seluruh ruangan, dan baru sadar ternyata benar ia yang salah masuk kamar.
"M__mm maafkan aku," sahut Dara lalu cepat-cepat keluar dari kamar itu, tapi saat ia akan menekan gagang pintu, pria itu menahannya.
"Tunggu!"
Dara berbalik badan. Pria itu membuka tirai ternyata hari sudah siang. Setelah membuka tirai duduk di sofa yang menghadap ke layar TV.
"Sini sebentar!" kata pria itu tanpa melihat ke arah Dara.
Dara menurut dan menghampiri pria itu duduk di sampingnya dengan gugup.
"Apakah kau ingat apa yang terjadi semalam pada kita?" Dara mengerjap, mengkerutkan keningnya mencoba mengingat, lantas ia menggeleng pelan.
"Apakah kau merasakan sesuatu yang lain padamu? Hm, maksudku sesuatu yang aneh pada...." Pria itu tidak melanjutkan ucapannya karena itu terlalu vulgar. Dara kembali mengerjap, ia tahu apa yang dimaksud pria itu. Perlahan ia menganggukan kepala, bahkan sangat jelas karena ini pertama kali untuknya.
Kaki Dara tiba-tiba terasa lemas. Hancur sudah! Masa depannya hancur dalam semalam. Dara menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar. Rasa takut langsung menghantamnya tanpa ampun.
Pria itu menjatuhkan kepalanya ke sandaran sofa sambil meremas rambutnya. Ia mencoba mengingat, lalu sepintas ia tahu apa yang terjadi semalam. Ia mengira yang tidur dengannya adalah kekasihnya yang baru sampai dari Mellbourne, karena mabuk, ia tidak bisa menahan diri, akhirnya dengan bodohnya ia melakukan apa yang seharusnya tidak dilakukan.
Akhirnya Dara pun mengingat kejadian semalam, ia tahu seseorang sedang melepaskan pakaiannya. Karena mabuk, ia berhalusinasi bahwa yang melepaskan pakaiannya adalah Joseph.
__ADS_1
Mereka pun melakukan itu dengan imajinasi masing-masing.
Tapi tunggu dulu, sepertinya Dara pernah melihat sosok pria itu, tapi di mana?
"Hm, by the way apakah kau tidak mengenaliku?" tanya pria itu.
"Memangnya kau siapa?" Dara balik bertanya dengan muka polos.
"Astaga, yang benar saja. Kau benar-benar tidak mengenalku?" seru pria itu tidak percaya. Dara menggeleng pelan.
Pria itu tertawa hambar. "Baiklah, aku bersyukur kau tidak mengenalku," katanya.
Dara melihat wajah pria itu lebih teliti, lalu seketika matanya terbelalak, sekarang ia ingat melihat pria itu di mana. Di poster! Ya, benar di poster. Semalam orang-orang berbondong-bondong untuk melihat konsernya. Kata Nia pria itu bernama Reindra.
"Ya ampun, apakah kau si penyanyi itu?" Dara kembali menutup mulutnya dengan tangan kaget setengah mati.
Rei melipatkan tangan di dada sambil menatap Dara dengan heran. 'Apakah di negeri ini masih ada orang yang tidak langsung bisa mengenaliku? Apakah aku tidak terlalu populer?' Rei menggeleng. 'Tidak mungkin, kecuali kalau orang itu hidup di planet lain,' batin Rei.
Dara memegang kepalanya dengan kedua tangan lalu menjatuhkannya ke lengan sofa. 'Bagaimana ini? Semalam aku melakukan itu dengan pria yang dipuja seluruh wanita di negeri ini, bagaimana kalau mereka tahu? Matilah aku,' batin Dara pilu.
"Kau kenapa?" tanya Rei. Dara menggeleng, ia masih membenamkan wajahnya di lengan sofa.
"Apa kau menangis? Baiklah aku minta maaf. Aku melakukan itu karena tidak sengaja. Aku mabuk semalam. Aku harap kita tidak memperpanjang masalah ini."
Dara mengangkat wajahnya sambil melotot mendengar ucapan pria itu. "Hei, semudah itukah kau meminta maaf? Apa kau tahu, kau sudah merusak masa depanku. Ini__ini pertama kalinya bagiku. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk? Bagaimana kalau aku ham__"
"Hentikan! itu tidak akan terjadi," potong Rei, walaupun dirinya sendiri juga tidak yakin dengan ucapannya.
"Tetap saja kau yang sudah merenggut keperawananku! Nanti bagaimana kalau aku menikah? Aku harus bilang apa pada suamiku? Apakah aku harus mengatakan padanya kalau keperawananku sudah direnggut olehmu?" Dara berucap dengan nada tinggi, ia tidak percaya kalau pria itu menganggap ini bukan masalah besar. Apakah ia sudah terlalu sering melakukan ini, jadi ia menganggapnya hal sepele?
"Hei, sudah kubilang aku tidak sengaja. Lagi pula, kenapa harus aku saja yang meminta maaf? Kau juga salah! Kau sudah salah masuk kamar. Kalau kau tidak salah masuk kamar, masalah ini tidak akan terjadi, kau tahu!"
Dara mengerjap, benar juga. Kalau saja ia tidak salah masuk kamar, masalah ini tidak akan terjadi. Sekarang ia tahu apa yang salah di balik masalah ini. Alkohol. Ya, semua ini karena alkohol sialan itu.
__ADS_1
"Aku mabuk semalam. Maafkan aku. Lagian kenapa kamarmu tidak dikunci, sih?!" Rei tercenung. Ah sialan, ini pasti ulah asistennya yang selalu ceroboh itu, pikir Rei.
Rei menghela napas panjang sambil meraupkan tangan ke wajah, lantas berkata, "Ini kesalahan kita berdua, jadi kita tidak perlu menuduh satu pihak saja, oke?" Dara menghela napas yang terasa berat. Bagaimanapun juga ini sudah terjadi, tapi tetap saja ia merasa sedih. Sesuatu yang berharga itu harus hilang oleh orang yang tidak ia cintai. Dengan cepat Dara mengusap matanya yang mulai berair.
"Oke, aku tahu," ucapnya lirih lalu berdiri. "Baiklah, aku pergi dulu." Dara sedikit membungkukan badannya dengan sopan sebelum pergi.
Saat di pintu, Dara hampir saja bertabrakan dengan Nino manager Rei yang akan masuk. Nino kaget bukan kepalang. Tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi, Dara berlari meninggalkan kamar itu sambil menagis.
Nino menghampiri Rei yang masih duduk di sofa dengan wajah bingung.
"Rei, tadi siapa?" tanya Nino, membuat Rei terperanjak kaget dengan kedatangan managernya itu.
"S__siapa?" Rei pura-pura tidak tahu.
"Tadi, ada perempuan cantik yang keluar dari kamar ini sambil menangis," kata Nino.
"Menangis?" Rei sedikit kaget. Perempuan itu menangis? Hati Rei sedikit terusik mendengar perempuan itu menangis.
"Iya, dia menangis. Apakah itu fans yang menerobos ke sini? Wah, ini bahaya. Selama ini Reilover tidak ada yang bersikap berani seperti itu."
"Bukan, dia bukan Reilover," jawab Rei.
"Lalu siapa dia?" Rei terdiam. Astaga, Rei bahkan tidak tahu nama gadis itu. Ia lupa bertanya. Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan? Apa yang harus Rei lakukan? Apakah ia harus tanggung jawab? Lalu bagaimana dengan karirnya dan yang terpenting bagaimana dengan Nadine?
Nino menatap Rei dengan curiga. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan artisnya itu. Ada sesuatu yang tidak ia ketahui, padahal selama ini Nino sangat tahu Rei luar dalam.
Rei tersenyum pada Nino menenangkan. "Dia bukan siapa-siapa, kok. Kau tenang saja."
"Kau menyembunyikan sesuatu dariku?" Nino terus menyelidik, karena ia yakin Rei sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Rei tidak mau mengatakan apa yang terjadi sekarang, bisa-bisa Nino mati berdiri. Tidak, Nino tidak boleh tahu tentang masalah ini.
"Sudahlah. Aku mandi dulu. Sudah hampir jam delapan. Wartawan itu pasti sudah menunggu, bukan?" sahut Rei, lalu pergi ke kamar mandi.
***
__ADS_1