
Pernikahan bukan tentang sebatas hasrat duniawi.
Bukan tentang bagaimana tampan dan cantiknya pasangan kita. Bukan tentang mapan entahpun sederhananya rumah tangga kita. Melainkan tentang ikatan
jiwa.
Jika kelak kita wafat, tubuh ini akan tinggal dibumi. Tidak peduli bagaimana cantik dan rupawannya wajah kita.
Asalkan dari tanah pasti kembali menjadi tanah.
Kita bukan menikah dengan tubuh, tapi dengan jiwa. Karena tubuh akan tinggal dibumi. Tapi jiwa itu kekal.
Jika kamu menikahi seseorang hanya karena tubuhnya, maka kalian hanya pasangan sampai dibumi saja.
Tapi jika kamu menikahi jiwanya.
Berjanji langsung didepan Tuhan dan keluarga mu sendiri.
Kalian adalah pasangan sampai pada tempat indah yang dijanjikan itu.
Yang sering kita sebut, surga.
Pilihlah pasanganmu sampai ke akhirat nanti. Bukan pasangan hanya sebatas dibumi.
" Sakit banget ya " Tanya Adrian sambil mengelap lengan Zyona dengan handuk kecil yang basah.
Zyona mengangguk "Nyeri, perih juga " Wajahnya menunduk malu. Adrian ngotot membersihkan tubuhnya.
Mengelap tubuh Zyona dengan handuk kecil dan air hangat.
Adrian tidak mengizinkan Zyona mandi pagi ini.
Dari bangun tidur tadi, suhu tubuh Zyona agak panas.
" Adrian, biar aku saja " Wajah Zyona semakin memerah ketika Adrian membersihkan tubuhnya sampai bawah
Adrian tidak berhenti. Mengelap paha sampai keujung kaki Zyona
" Jangan bergerak, pangkal pahamu masih sakit Zyona "
" Tapi aku bisa membersihkan tubuhku sendiri Adrian "
" Jangan melawan suamimu Zy " Adrian menatap Zyona. Gadis itu langsung menutup mulutnya rapat.
Membiarkan Adrian melakukan apapun yang dia suka.
Terserah, terserahmu saja lah.
Adrian membersihkan tubuh Zyona dengan telaten. Lembut dan perlahan dia mengelap lengan, kaki, punggung dan bagian tubuh lain istrinya itu.
Dengan hati-hati melakukannya, memastikan kalau Zyona tidak kesakitan sedikitpun.
Setelah selesai, Adrian mengambil pakaian Zyona dan ingin memakaikannya.
" Rian, aku bukan orang sakit. Tidak perlu sampai segitunya " Zyona menolak ketika Adrian memakaikannya bra dan ****** *****.
" Jangan bawel, nurut saja sama aku "
Adrian berjongkok dan memegang kaki kanan Zyona. Dimasukkan ke dalam lubang ****** *****. Adrian melakukan itu lagi dikaki kiri Zyona.
Jangan ditanya gimana merahnya wajah Zyona. Lebih merah dari kepiting rebus.
__ADS_1
Rasanya sangat malu.
Ini pertama kalinya Zyona dipakaikan baju oleh seorang pria.
Walau itu suaminya sekalipun, tapi tetap memalukan.
Setelah memakaikan pakaian pada Zyona. Adrian menggendong tubuh gadis itu dan dibaringkan di atas tempat tidur kamar Zyona.
Menyelimutinya dan terakhir mengecup lama pada keningnya.
" Aku bikinin kamu sarapan dulu ya " Berbicara sambil mengelus rambut Zyona
" Adrian, sudah kubilang aku bukan orang sakit " Zyona memegang tangan Adrian ketika pria itu akan keluar
Adrian kembali menoleh padanya " Jangan bawel Zyona. Selagi selangkanganmu masih sakit, kamu gak boleh melakukan aktivitas apapun"
Ini juga sakit karena mu Rian. Kau menunggangiku semalaman. Aku rasanya hampir pingsan semalam.
Wajah Zyona kembali memerah mengingat kejadian semalam. Astaga, pikiran kotor, pergilah.... pergilah.
" Kamu gak kerja? "
" Aku bikinin kamu sarapan dulu baru aku ke kantor "
Adrian keluar kamar dan menuju dapur. Membuatkan Zyona sarapan pagi.
Melihat Zyona yang kesakitan, membuat Adrian merasa sangat ingin melindunginya.
Zyona tidak boleh melakukan apapun sebelum Adrian memastikannya benar-benar sembuh.
Keinginan melindungi yang sangat besar.
Rasa seperti ini entah mengapa tidak tumbuh saat pada Moza.
Beda dengan Zyona yang langsung dirawat oleh Adrian sendiri.
Entahlah, Adrian juga bingung pada dirinya sendiri.
Entah mengapa rasanya sangat tidak rela jika Zyona disentuh oleh orang lain. Walaupun itu dengan wanita sekalipun.
Adrian membuat omelet untuk sarapan Zyona pagi ini. Yah karena cuma itu yang bisa dimasaknya.
Adrian menyiapkan susu untuk Zyona, dan kopi untuk dirinya sendiri.
Menatanya di nampan, dan hendak membawanya ke kamar dilantai dua.
Seketika Adrian terkejut melihat Zyona datang menghampiri nya dengan terseok-seok. Berjalan pelan sambil memegangi belakang pinggangnya.
" Ck Zyona. Aku bilang kan jangan jalan dulu " Marah dan langsung menghampiri Zyona
" Gak papa Rian " Terus berjalan ke arah meja makan. Dengan dituntun oleh Adrian
Dia ini memperlakukan ku seperti memperlakukan orang yang sekarat saja.
Zyona di dudukkan dikursinya. Dan Adrian duduk disamping nya.
" Aaa " Zyona kaget dengan sendok yang dipegang Adrian berhenti didepan mulutnya
" Aku bisa sendiri "
" Buka mulutmu " Sedikit membentak.
__ADS_1
Aaa, iya iya, kau ini galak sekali si.
Zyona pun menerima Adrian menyuapinya. Dengan malu-malu Zyona membuka mulutnya.
Apa ini, beginikah rasanya diperhatikan. Kenapa sangat menggelitik hati hah.
Tolong, siapapun, degupan aneh ini semakin membuat ku gila.
Udara disekitar terasa berat. Zyona merasa wajahnya memanas.
Dengan sangat pelan dia menghembuskan napasnya.
Mengunyah sambil sesekali melirik pada Adrian.
Dan setiap matanya bertemu, lelaki itu selalu memandangnya dengan hangat.
Seperti berkata, kau milikku.
Setelah makanan dan susu yang dibuatkan Adrian kandas, tidak ada sedikitpun yang tersisa. Barulah Adrian memakan makanan dipiringnya.
Zyona memperhatikan Adrian yang menyantap sarapannya. Dengan sudah memakai pakaian kantor, plus celmek yang melekat ditubuhnya. Adrian terlihat sangat menggemaskan.
Perlahan Zyona berdiri. Mendekat pada Adrian.
" Zyona kamu mau ngapain? "
Plok
Zyona menempelkan pipinya dikening Adrian.
Adrian tersenyum " Kamu Ngapain sih" Membelai lembut pipi Zyona dengan tangan besarnya.
" Gak papa, suka aja kayak gini " Zyona menggesekkan pipinya dikening Adrian. Dia tidak tahu saja bagaimana sekuat tenaga Adrian menahan diri untuk tidak menerjang Zyona pagi ini.
Teringat dengan tadi Adrian yang mengelap dan memakaikan baju pada Zyona. Glek, Menelan salivanya sambil menatap pada bibir Zyona.
Tidak, tidak. Tahan Adrian. Zyona masih belum pulih. Adrian menggelengkan kepalanya kekiri dan kekanan.
" Ekhem, kamu duduk dulu Zy. Aku makan dulu. Nanti aku antar kamu ke kamar sebelum aku berangkat kerja "
Adrian berbicara sambil memegang tengkuknya. Lagi-lagi desiran itu memenuhi hatinya.
Dia sendiri belum yakin pada perasaannya. Apakah benar dia sudah mencintai Zyona.
Tapi satu yang jelas, sesuatu yang dirasakan Adrian.
Dia hanya ingin senyuman Zyona hanya padanya. Tawa dan lirikan Zyona hanya untuknya.
Tidak ingin melihat Zyona kesakitan sedikitpun.
Keinginan melindungi bahkan lebih besar dari insting melindungi diri sendiri.
Seakan keselamatan dan keperluan Zyona adalah prioritas utama.
Apakah ini bisa disebut cinta?
TBC...
LIKE RATE DAN KOMEN KAK
__ADS_1
VOTE JUGA YA