Menikah Tanpa Pacaran

Menikah Tanpa Pacaran
Part 19


__ADS_3

Setelah mendarat di bandara Soekarno Hatta, Rei tidak langsung pulang, tapi mampir dulu ke toko bunga membeli seikat mawar putih, Rei memilih mawar putih karena kata orang, bunga ini mempunyai arti cinta sejati dan kesucian.


Nino tersenyum geli melihat tingkah artisnya saat dengan serius memilih bunga. Setelah bunga itu terbungkus rapi dan cantik, Rei menciumnya dengan penuh perasaan. Semoga Dara suka, harapnya. Kemudian kembali ke mobil.


"Untuk istrimu?" Nino bertanya sambil menjalankan mobil.


"Mmm ...." Rei mengangguk sambil tersenyum.


"Kau mulai mencintainya?" tanya Nino langsung.


Rei mengerjap lalu menoleh pada Nino di sampingnya. "Sepertinya begitu," jawab Rei ringan, lalu ia mengehala napas panjang. "Tapi aku tidak tahu harus bersikap bagaimana pada Nadine, beberapa hari lagi dia akan kembali ke Indonesia. Menurutmu aku harus bagaimana?" tanya Rei pada Nino, berharap pria itu bisa membantu memecahkan masalahnya.


"Kau mencintai istrimu?" Nino malah balik bertanya.


"Iya."


"Kau menginginkan anakmu?"


"Iya." Rei kembali menjawab dengan tegas.


"Kalau begitu, seharusnya kau tahu jawabannya, dan kau juga seharusnya tahu apa yang harus kau lakukan. Sederhana bukan?" Nino berucap sambil tersenyum.


Rei terdiam memikirkan ucapan Nino sambil menatap ruas-ruas jalan di hadapannya. Kalau masalahnya sesederhana itu, kenapa ia tidak bisa melakukannya? Kenapa selama ini ia tidak sanggup membuka mulut dan mengatakan semuanya pada Nadine? Baiklah sekarang ia tahu dan akan memberanikan diri mengatakan semuanya pada Nadine. Tapi, kalau ia sudah mengatakan semuanya pada Nadine, dan masalah selesai, apakah Dara akan membuka hati untuknya? sedangkan Rei tahu Dara masih mempunyai perasaan pada Joseph.


***


Nia melotot kaget tiba-tiba mendapati Dara berdiri di balik gerbang rumahnya.


"Dara?" seru Nia, lalu langsung membawa gadis itu masuk ke rumah. Nia melihat Dara dengan cemas, gadis itu terlihat lemah dan kacau sekali seperti sudah menangis hebat.


Tiba di kamar Nia, Dara langsung merebahkan tubuhnya yang lemah ke atas kasur. Ia lelah, sedih, dan merasa hancur.


"Ra ...." sahut Nia bingung dan cemas.


"Biarkan aku sebentar seperti ini," ujar Dara dengan suara lemah. Nia menghela napas panjang, lantas menuruti keinginan Dara pergi ke dapur membuat minuman untuk menyegarkan tubuh Dara. Lima belas menit kemudian Nia kembali ke kamar. Terlihat Dara masih berbaring membelakanginya.


"Ra, minum ini dulu," sahut Nia sambil meletakan cangkir ke nakas. Dara berbalik, duduk, kemudian mengambil cangkir berisi air madu hangat dengan potongan lemon di dalamnya. Dara meneguknya sedikit berharap jetlag-nya bisa hilang. Benar, air itu membuatnya sedikit lebih baik.


"Terima kasih Nia," kata Dara sambil meletakan cangkir itu ke tempat semula.


"Ra, kenapa? Kau baik-baik saja?"


Dara menggeleng, "Aku tidak baik-baik saja, Nia, aku ... aku entahlah ...."


"Ceritakan padaku! Tidak pernah kau malam-malam ke sini kalau tidak ada apa-apa. Apakah terjadi sesuatu saat kau di Malaysia?" Dara menggeleng lagi. Dara menatap Nia dengan tatapan seperti meratap minta tolong.


"Nadine datang padaku tadi siang dan dia sudah tahu semuanya. Lalu aku bilang padanya untuk menunggu karena aku dan Rei akan bercerai setelah anak ini lahir. Nia, apakah yang aku lakukan benar? Tapi, kenapa aku merasa sakit saat mengatakan itu? Kenapa aku sesedih ini, dan sehancur ini?"


Nia mengusap lengan Dara mencoba menguatkan. "Mungkin yang kau lakukan benar, Ra," tutur Nia. "Bukankah itu yang kau inginkan? Bercerai dari Rei setelah anak itu lahir?" sambungnya. Dara menutup wajahnya dengan kedua tangan, lalu menangis sesenggukan. Nia tersentak kaget melihat sahabatnya itu tiba-tiba menangis.


Dara mengontrol napas lalu mengusap air mata di pipinya.

__ADS_1


"Nia, aku rasa aku tidak sanggup. Aku tidak mau berpisah dengan Rei," ujar Dara pilu. Nia melotot kaget. "Apa? maksudnya kau tidak mau bercerai dengab Rei?" Dara mengangguk.


"Apakah kau mulai mencintainya?" tanya Nia. Dara mengangguk lagi.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Nia, kenapa aku selalu seperti ini? Kenapa aku selalu tidak beruntung dalam cinta? Dosa apa yang sudah aku lakukan hingga Tuhan mempermainkan aku seperti ini?"


Nia terdiam, ia tidak tahu harus mengatakan apa pada sahabatnya itu. Dara wanita yang kuat, ia sendiri tidak tahu kuat atau tidak jika diberi cobaan seperti itu.


Nia tiba-tiba teringat saat Joseph menguping pembicaraannya dengan Dara di toilet kantor, sehari setelah pembicaraannya itu, Joseph memanggilnya dan bertanya, "Apakah yang aku dengar benar? Jika benar, aku masih belum kalah. Aku akan menunggunya, aku yakin dia akan kembali padaku," tutur Joseph sambil tersenyum sinis.


Nia mengerjap, ia rasa Dara harus tahu soal itu.


"Ra ... aku tidak tahu harus memberi tahumu bagaimana. Tapi, aku rasa kau harus tahu." Dara menoleh pada Nia sambil mengerutkan keningnya. "Kenapa?"


"Hm, sebenarnya Joseph juga sudah tahu masalahmu dengan Rei. Kau ingat pembicaraan kita saat di toilet? Waktu kau memberi tahu ibumu akan makan malam di apartemen? Jelas kita tidak hanya membicarakan hal itu saja, bukan? Kau tahu? Ternyata Joseph menguping pembicaraan kita."


Dara langsung melotot kaget. "Apa?"


"Maafkan aku, karena baru memberi tahumu sekarang. Kau tahu apa yang Joseph katakan padaku? Dia bilang, 'Aku masih belum kalah, aku akan menunggunya, aku yakin dia akan kembali padaku.'"


Dara terdiam. Kenapa masalah ini jadi serumit ini? Bagaimanapun perasaan Joseph padanya sekarang, Dara tetap tidak mau berpisah dengan Rei. Karena perasaan itu sudah lenyap untuknya.


"Nia, aku rasa aku juga harus bicara dengan Joseph."


"Iya, kau harus selesaikan masalahmu dengannya, Ra. Jelaskan padanya sekarang kau mencintai suamimu dan tidak mau berpisah dengannya."


***


"Kau kemana, Ra?" Rei mengacak rambutnya kasar.


Rei melihat arlojinya, sudah pukul sepuluh malam. Rei mondar-mandir tidak karuan di depan pintu apartemennya, ia cemas luar biasa. Kalau saja ponsel gadis itu aktif, ia tidak akan secemas itu.


Sudah satu jam Rei di luar menunggu Dara, ia kembali melirik arlojinya, sudah hampir jam sebelas. Rei tidak bisa berdiam diri saja seperti ini, ia harus mencarinya kemana pun. Saat Rei berbalik hendak mengambil kunci mobil ke dalam, ia mendengar pintu lift berdenting lalu melihat Dara berjalan dengan lemah keluar dari sana.


Rei langsung berlari menghampiri istrinya. "Dara ...!" seru Rei.


Dara mendongak menatap Rei dan berusaha menerbitkan senyum padanya. Sekarang perasaan Rei sedikit lebih baik ketika melihat senyuman itu.


Rei langsung merengkuh Dara ke pelukannya. Tubuh tinggi pria itu membuat tubuh mungil Dara tenggelam di dalamnya. Gadis itu mengehala napas panjang saat dipelukan Rei, rasa nyaman ini bisakah ia miliki selamanya?


"Ayo masuk!" Rei menuntun Dara ke dalam.


Sekarang mereka berada di kamar Dara, Rei menyuruhnya beristirahat karena gadis itu terlihat sangat lemah. Dara berbaring, dan Rei menyelimutinya.


"Aku tidak akan bertanya kau sudah dari mana, kita bicara besok saja. Sekarang tidurlah," tutur Rei lalu berbalik ke arah pintu. Saat Rei akan menekan gagang pintu, Dara memanggilnya.


"Rei ...."


Rei berbalik. Sebenarnya Rei bisa melihat raut wajah istrinya itu terlihat sedih dan seperti sudah menangis, tapi Rei enggan bertanya, ia ingin Dara beristirahat karena ia tidak mau terjadi hal buruk pada anaknya.


"Mmm?"

__ADS_1


"Tadi siang Nadine ke sini, dan kami bicara," ucap Dara dengan suara lemah. Rei langsung melotot kaget, dan hampir saja jantungnya seperti mau melorot ke bawah.


"Apa?!"


Dara duduk di tempat tidur, Rei kembali mendekat dan duduk di depan Dara.


"Iya, kami bicara," ulang Dara.


"Apa yang kalian bicarakan?"


"Nadine sudah tahu semuanya. Aku tidak tahu dia tahu dari mana. Dia terlihat hancur sekali, jadi aku mengatakan semua apa yang terjadi pada kita, bahwa kita menikah karena sebuah kesalahan, dan kau tidak mungkin menghianatinya karena aku tahu kau sangat mencintai Nadine. Tapi, sepertinya itu tidak cukup untuk meredakan luka Nadine, jadi aku meminta padanya untuk bersabar sebentar, karena setelah anak ini lahir aku akan bercerai denganmu. Lalu Nadine memintaku untuk menepati janjiku ini."


Rei menatap lurus-lurus ke mata Dara dengan tatapan berkilat-kilat, apakah gadis itu terlihat sedih oleh hal ini? Apakah dia tiba-tiba pergi dan membuatnya cemas karena hal ini? Jika memang benar karena hal ini, berarti Dara mempunyai perasaan padanya.


Bibir Rei bergetar tidak tahu harus mengatakan apa, yang pasti sekarang dadanya sesak luar biasa. Bagaimana bisa Dara mengatakan hal itu pada Nadine? Padahal Rei akan menutupi soal perceraian itu darinya. Tapi, Dara malah meniupkan angin segar pada Nadine, dan mengabaikan perasaannya sendiri dan juga perasaan Rei.


"Dasar Bodoh!" desis Rei tajam. Dara tersentak mendengar itu.


"Apakah itu yang kau inginkan? Apakah kau ingin bercerai denganku dan mengurus anak kita sendirian? Apakah kau mengabaikan bagaimana perasaan orang tua kita, hanya demi perasaan Nadine? Apakah kau tidak mencintaiku?"


"Apa?!" Dara melotot kaget.


"Jawab aku! Apakah kau tidak mencintaiku?" tanya Rei dengan suara bergetar menahan tangis. Dara menatap lurus ke mata Rei yang mulai berkaca-kaca, tapi ia tidak menjawab. Perlahan mata Dara mulai terasa panas dan air matanya memaksa keluar, tapi dengan cepat ia menghapusnya, manarik napas, lalu membuangnya sekaligus.


"Bagaimana denganmu? Apakah kau mencintaiku?" Dara malah balik bertanya. Rei mengerjap, membuat setitik air matanya terjatuh.


"Setidaknya pelukan tadi sudah menjadi sebuah jawaban. Kau tahu? Aku hampir mati karena mencemaskanmu!"


Dara terenyak, tapi ia ingin sebuah jawaban yang jelas.


"Apakah kau mencintaiku?" Dara kembali bertanya.


Rei masih belum menjawabnya, ia malah memandang wajah Dara dengan tatapan sendu, 'Apakah kau tahu aku sangat mencintaimu? Mencintaimu hingga rasanya ingin menangis.' batin Rei pilu.


Dara memalingkan wajah sambil mendengus, ia tahu Rei tidak akan semudah itu mengatakannya. Dengan diamnya Rei sekarang, Dara tahu di hatinya masih ada Nadine.


Saat Dara asik dengan pikiran-pikirannya, tiba-tiba tangannya ditarik oleh Rei membuat badannya condong ke depan, lalu sedetik kemudian ia mendapati bibirnya menempel dengan bibir Rei.


Hampir saja Dara melonjak kaget dan reflek akan menghindar, tapi Rei mencengkram pundaknya dengan kuat hingga kesulitan untuk meloloskan diri. Akhirnya sekarang Dara hanya bisa diam.


Perlahan Dara memejamkan matanya, ia mulai menikmati ciuman itu. Sekarang tidak hanya ciuman satu detik. Dengan ciuman itu, Dara bisa merasakan bagaimana perasaan pria itu terhadapnya. Kasih sayang, cinta, dan rasa ingin melindungi. Saat itu Dara mendapati pipinya basah, ternyata itu adalah air mata suaminya.


Rei menangis?


Rei melepas ciumannya, lalu berucap, "Ini adalah jawabanku kalau kau tidak yakin dengan pelukanku tadi. Aku mohon jangan pergi dan meninggalkan aku! Aku ingin kau memasak untukku setiap hari, aku ingin kau ada setiap aku pulang kerja, aku ingin kau selalu di sampingku kemana pun aku pergi, dan aku ingin melihat anak kita lahir lalu tumbuh dewasa, aku ingin melewati semuanya denganmu dan anak kita. Karena aku mencintaimu."


Mata Dara kembali berkaca-kaca, tapi perlahan senyuman terbit di bibirnya, lalu ia memeluk Rei dan berbisik di telinganya. "Aku akan mengabulkan semua keinginanmu. Aku mencintaimu."


Rei mempererat pelukan Dara sambil tersenyum. Gadis itu menghela napas lega, dan ia bersumpah tidak pernah merasa selega ini sepanjang hidupnya.


***

__ADS_1


__ADS_2