Menikah Tanpa Pacaran

Menikah Tanpa Pacaran
Part 11


__ADS_3

Pria itu memang benar-benar gila, jam setengah tujuh pagi supir utusannya sudah datang menjemput dan duduk santai di kursi teras ditemani secangkir kopi.


Dengan malas Dara menuruti seruan ibunya yang menyuruhnya bergegas, karena sebelumnya supir itu memberitahu maksud kedatangannya kepada ibu Dara. Dengan mata setengah melek, Dara masuk ke mobil dan pergi bersama supir Rei yang bernama Agus itu.


"Kita mau kemana, Pak?" tanya Dara setengah bergumam.


"Ke apartemennya Bos Rei," jawab Agus.


"Setelah itu?"


"Entahlah, tapi dari semalam Bos dan Mas Nino sangat sibuk. Mereka menelepon beberapa orang tanpa henti, lalu ada orang dari WO datang dan mereka mengobrol sampai larut malam." Agus tertawa sebentar. "Saya sebenarnya kasihan sama Mas Nino karena sebenarnya dialah yang paling sibuk."


Dara terenyak mendengar ucapan Agus, bukankah ia sudah keterlaluan? Rei dan Nino sangat sibuk mengurusi pernikahan ini, sedangkan ia dan keluarganya santai-santai saja.


'Baiklah, hari ini aku akan menuruti semua apa yang dikatakan pria itu.'


***


Agus memencet bel interkom di pinggir pintu apartement. Tak lama kemudian seorang pria mungil membukakan pintu. Agus dan Dara masuk. Tatapan pria mungil itu langsung tertuju pada Dara, ia memerhatikan Dara dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu ia tersenyum diam-diam. 'Bosku pintar memilih calon istri,' ucapnya dalam hati.


"Iban, Bos di mana?" tanya Agus. Iban yang tengah memerhatikan Dara terhenyak kaget.


"Oh, Bos sedang dibaju, dia baru saja selesai mandi. Kata Bos, kalau calon Nyonya Bos datang, disuruh sarapan dulu," tutur Iban sambil tersenyum pada Dara. Jantung Dara tersentak ketika mendengar pria mungil itu menyebutnya, 'calon Nyonya Bos'. Dengan berat Dara membalas senyuman Iban.


"Sarapan?" tanya Dara.


"Iya," jawab Iban. Benar, Dara belum sempat sarapan tadi di rumah. Inilah pertama kalinya ia tidak sarapan di rumah. Karena sarapan pagi adalah ritual khusus yang wajib dihadiri oleh seluruh anggota keluarga Salim Pratikno.


"Ayo ikut aku," sahut Iban, Dara mengangguk lalu mengikuti pria itu ke arah dapur.


Setelah sampai di dapur Dara melihat ke meja makan. Di sana hanya ada dua lembar roti panggang, selai kacang, dan segelas besar susu cokelat.


"Silahkan," ucap Iban dengan satu gerakan tangan. Dara terlohok, perkara sarapan ini sudah membuatnya merasa aneh. Biasanya ia mendapati meja makan yang penuh oleh berbagai menu, tapi pagi ini ia hanya menemukan dua lembar roti panggang, selai kacang, dan segelas susu.


"Bos, tidak pernah sarapan. Ia hanya minum kopi," kata Iban menjelaskan karena Dara diam saja dan terlihat bingung. Iban berpikir, mungkin Dara heran karena di meja hanya ada menu untuk satu orang.


"Oh begitu, baiklah," kata Dara lalu duduk. Setelah Dara duduk di meja makan, Iban pamit untuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan bosnya.


Dara menatap susu dalam gelas sambil berpikir. 'Apakah susu ini tidak apa-apa diminum oleh ibu hamil? Ah, apa peduliku dengan kehamilan ini.' Dara meraih susu itu hendak meminumnya, tapi saat gelas itu menempel di bibirnya, ia berhenti. 'Tapi, gimana kalau nanti aku merasa mual? Hari ini aku mau difoto, aku tidak boleh terlihat sakit.'


Dara menoleh ke belakang. Tepat di belakang kursinya ada kulkas. Mungkin ada jus buah di sana, pikirnya. Dara bangkit dan membuka kulkas.


"Astaga, pria itu benar-benar tidak punya apa-apa selain air mineral dan susu dalam karton. Tidak ada jus, buah, atau makanan yang lainnya," gumam Dara.


"Kau sedang apa?" Tiba-tiba ada suara yang sangat mengagetkan Dara. Gadis itu langsung berdiri dan menutup kulkas. Ia mendapati Rei sedang berdiri tepat di belakangnya. Rambut pria itu masih basah, dan ia hanya memakai kaus oblong warna putih serta kolor selutut. Pakaian itu mengingatkannya saat di Bali setelah tragedi malam itu.


"A__aku mencari jus," ucap Dara kikuk.


"Tidak ada jus di sini. Aku dan Iban tidak ada waktu untuk belanja kebutuhan dapur. Aku sibuk dengan jadwal dan Iban sebagai asisten artis terkenal sepertiku, sibuk mengikutiku kemana pun aku pergi." Pria itu berucap sombong seperti biasa.


Dara menghela napas kesal. "Hei, tapi aku tidak biasa memakan itu," sahut Dara sambil menunjuk menu di meja makan.


"Ini bukan rumahmu, makan saja yang ada," ujar Rei, lalu ia mengambil cangkir di lemari atas dan menyeduh kopi sashet.


"Sepuluh menit lagi kita berangkat," kata Rei, lalu pergi ke depan dengan santai. Dari caranya bicara, gestur tubuh, dan sorot mata, jelas terlihat Rei sebagai orang yang sombong dan menyebalkan.

__ADS_1


"Astaga, lihatlah sikapnya itu, benar-benar menyebalkan. Baiklah aku makan. Aku tidak mau tersiksa karena kelaparan," ucap Dara kesal. Ia kesal bukan karena makanannya, tapi lebih karena sikap pria itu.


***


Dara dan Rei menuju lokasi tempat foto preweding ditemani Iban dan Agus. Sebenarnya Dara penasaran di mana ia akan melakukan foto preweding, tapi ia malas bertanya. Sekarang mobil mereka perlahan masuk ke tol Jagorawi, mau tidak mau Dara pun bertanya, "Kita mau foto di mana?"


"Puncak," jawab Rei seperti orang mengigau karena matanya terpejam.


"Puncak?" Suara Dara meninggi. Lagi-lagi pria itu memutuskan tanpa berdiskusi dulu dengannya. Benar-benar keterlaluan.


"Mmm ... semuanya sudah menunggu kita di sana," kata Rei masih seperti orang yang mengigau. Dara merubah posisi duduknya menghadap Rei.


"Hei, apakah pernikahan ini harus terlihat mewah dan menghabiskan banyak uang? Padahal ini cuma pernikahan pura-pura," kata Dara.


Iban yang duduk di jok depan, dan Agus yang sedang konsentrasi menyetir, langsung terduduk tegak, saling mengedipkan mata mendengar pertengkaran kecil majikan mereka. Rupanya ada yang aneh di sini, pikir mereka.


"Pura-pura atau bukan, pernikahan kita akan tetap sah di mata agama dan negara, kau tahu itu. Dan jangan pura-pura peduli dengan masalah uang, semua ini aku yang tanggung. Karena aku tahu ibumu sangat matrealistis," tutur Rei masih dengan gayanya yang santai dan menyebalkan.


Dara menggertakan gigi menahan emosi, kalau saja ini bukan di jalan tol, ia akan minta berhenti dan pergi, masa bodoh dengan foto preweding.


"Kenapa semua ibu dari seorang gadis selalu matrealistis? Aku tidak mengerti." Kini Rei membuka matanya dan bertanya serius pada Dara masih dengan raut wajah menyebalkan.


Mendengar pertanyaan itu, membuat Dara semakin emosi. Ia tidak terima ibunya dibilang matrealistis.


"Ya, kau benar. Semua ibu seorang gadis memang harus matrealistis. Kau tahu kenapa? Itu karena mereka tidak mau anak gadisnya yang sudah ia besarkan dengan kasih sayang, menderita diambil oleh pria melarat," sahut Dara sebal lalu memalingkan wajah ke luar jendela. Rei mengangguk-nganggukan kepala. Menurutnya itu masuk akal.


"Dan kau termasuk gadis yang beruntung diambil oleh pria kaya sepertiku." Rei kembali menyombongkan diri. Dara hanya melirik Rei antara sebal dan jijik. Ia baru tahu, di bumi ini ada spesies menyebalkan seperti dia.


Entah apa yang akan terjadi nanti ke depannya, Dara hanya berharap bisa kuat dan tahan menghadapi spesies langka ini.


***


Namun ada yang aneh, seperti ada sesuatu yang entah apa, semacam pergerakan dari alam bawah sadar yang mengharuskan Dara tidak bisa menolak apapun yang diarahkan oleh Fotografer. Salah satunya ketika Dara diarahkan berpose sangat dekat dengan Rei, yaitu back hug atau dipeluk dari belakang oleh Rei, dan Dara harus mendongakkan kepala menatap wajah pria itu, hingga bibir mereka nyaris bersentuhan. Ternyata pose itu banjir pujian dari sang Fotografer. Katanya chemistry yang ditampilkan Dara dan Rei sangat bagus. Foto itu mempunyai nyawa, dan siapa pun yang melihatnya pasti akan merasakan dahsyatnya cinta di antara mereka.


Dara bergidik sendiri. 'Astaga yang benar saja, lucu sekali. Fotografer itu benar-benar sok tahu. Cinta apanya? Siapa yang cinta siapa?' desis Dara dalam hati.


Bagaimanapun reaksi Dara soal foto itu, berbeda dengan Rei. Pria itu terlihat senang ketika melakukannya. Bahkan dia ingin mengulangnya lagi. Fotografer itu bisa melihat bagaimana tatapan Rei begitu dalam kepada Dara, sebenarnya itulah yang membuat Fotografer itu melontarkan pujian. Dara tidak mengerti hal itu.


Saat itu pula Rei melupakan satu hal, bahwa sebenarnya ada seseorang nun jauh di sana tengah merindukannya.


***


"Kau haus?" tanya Rei.


"Tidak!" jawab Dara ketus.


"Kau lapar?"


"Tidak," jawab Dara bohong, padahal ia lapar dan haus.


"Kau mungkin tidak lapar dan haus, tapi seseorang di perutmu membutuhkan asupan itu."


Dara mengerjap. Ia bahkan tidak peduli kepada bayi di perutnya, namun Rei malah sebaliknya. Dengan patuh Dara mengambil sebotol air mineral di meja. Diam-diam Rei tersenyum melihat Dara bangkit dan mengambil air.


"Rei, Dara ... ayo siap-siap lagi," seru Wahyu sang fotografer, masuk ke ruang makeup Dara dan Rei.

__ADS_1


"Mas, kapan selesainya ini?" tanya Dara sedikit kesal. Ia sudah kelelahan.


"Ini yang terakhir. Ayo siap-siap, nanti keburu malam," tutur Wahyu lalu kembali ke luar.


Rei bangkit menghampiri Dara. "Kau lelah?" tanyanya.


"Tidak!" Dara menjawab jutek.


Rei tersenyum. "Sandara, kau itu banyak berkata bohong hari ini. Aku tahu," ucap Rei lalu ngeloyor pergi. Dara memandang punggung Rei yang menjauh lalu menghilang. 'Bohong? Apa ia punya semacam sensor pendeteksi kebohongan?'


***


Pemotretan pun berakhir menjelang malam. Dara menelepon ibunya supaya mengirim supir untuk menjemputnya, ia tidak mau harus semobil lagi dengan pria menyebalkan itu. Rupanya Rei mendengar obrolan Dara di telepon. Dengan Cepat ia merebut ponsel Dara lalu bicara pada calon ibu mertuanya.


Dara terenyak kaget tiba-tiba Rei ada di dekatnya dan mengambil alih ponselnya. Ia memberengut sebal.


"Halo ... Ma," seru Rei.


"...."


"Tidak perlu, Ma. Biar Dara pulang denganku saja, dan akan aku pastikan Dara pulang dengan selamat ke rumah."


"...."


"Iya, tidak perlu."


Rei menutup telepon dan memberikan ponsel itu ke Dara. Dara masih memberengut sebal. Sejak kapan pria itu memanggil ibunya dengan sebutan, 'Ma?' Sok akrab sekali dia.


"Kau tidak mau pulang denganku? Kau akan mempermalukan aku di depan orang tuamu? Kau itu pergi denganku, jadi pulang pun harus denganku, kau tahu! Tindakan bodohmu tadi sudah mempermalukanku ke mereka. Aku harap kau bisa menjaga nama baikku di depan orang tuamu. Mengerti?! Aku pun sama, akan menjaga nama baikmu ke keluargaku."


Deg! Hati Dara seperti tertonjok balok beton. Ia merasa tidak enak. Apakah tindakannya tadi sudah mempermalukan Rei?


Dara melihat Rei mengemasi barang-barangnya dengan perasaan bersalah. Entah kenapa di hatinya mulai ada rasa simpatik. Perlahan Dara menghampiri Rei. "Maafkan aku," katanya pelan.


Sudut bibir Rei sedikit tertarik ke atas. Namun, ia tidak mengatakan apapun.


***


Sesampainya di rumah Dara, Rei mengobrol dulu dengan orang tua dan kakak-kakak Dara. Dalam diam Dara memerhatikan calon suaminya itu. Ternyata Rei itu type orang yang mudah akrab dengan siapa pun, bahkan dengan ayahnya sekali pun. Dara sedikit terkesan. 'Ah iya, diakan seorang artis, pastinya ia akan dengan sangat mudah membaur dengan siapa pun, bukan?'


Setelah makan malam, Rei baru pulang.


Andi menghampiri Dara di kamarnya. "Ra, Rei itu laki-laki yang baik, kakak harap kau juga bersikap baik padanya," tutur Andi seraya duduk di tempat tidur.


Dara menutup buku yang sedang dibacanya. "Kakak tidak tahu saja, Rei itu bersikap baik cuma sama kalian, kalau sama aku dia menyebalkan."


"Masa, sih?"


"Iya!"


"Kakak tidak percaya. Rei itu baik dan sopan, kok."


"Ah, terserah deh. Kakak keluarlah, aku mengantuk, mau tidur." Dara menyimpan buku ke atas nakas, lalu menarik selimut.


Andi mendengkus sambil geleng-geleng kepala, lalu keluar kamar.

__ADS_1


***


__ADS_2